Trouble Maker

Trouble Maker
Eps. 1 Perjodohan



"What?? Oh no, Pa. Papa ngga bisa seenaknya gini. Pokoknya Rasya ngga mau dijodohin sama dia. Titik," protes gadis berambut pirang yang memiliki kelopak mata berwarna hazel green dengan kesal pada Ayahnya yang saat ini sedang duduk di hadapannya dengan tatapan yang sulit diartikan, ia melirik dengan sinis pria yang hendak dijodohkan dengannya. Di samping kanan gadis yang dipanggil Rasya, atau yang memiliki nama lengkap Rasya Eurika Lee itu tengah duduk sepasang suami-istri dengan seorang anak lelakinya yang berada di tengah-tengah mereka. Kedua suami istri itu hanya diam melihat perdebatan antara Ayah dan anak yang tak lain adalah sahabat karib Ayahnya sejak SMA. Sang anak lelaki diam menatap wajah gadis yang saat ini sedang menghentakkan kakinya sebal akibat keputusan Sang ayah yang tak mau mendengar pendapatnya terlebih dahulu. Anak lelaki yang duduk bersama orang tuanya berusaha bersikap setenang mungkin menyaksikan kelakuan gadis di hadapannya meski hatinya ingin sekali memaki sikap Rasya. Childish sekali, cibir si pria dalam hati.


"Dengar sayang, kau tahu bukan bahwa ini semua keinginan Ibumu sejak dulu. Jadi Papa mohon menurut lah, oke." Ujar Alexander Lee, Ayah Rasya yang juga seorang CEO LA group, sebuah perusahaan properti yang amat sangat terkenal di Korea. Dengan sabar ia mencoba memberikan penjelasan kepada Sang putri yang sedari tadi terus saja melayangkan protesnya tanpa henti. Sejenak ia membenarkan letak kacamata yang sedikit melorot di hidung mancungnya dan kembali fokus pada percakapan mereka.


Helaan napas berat terdengar dari Rasya, ia tak tahu lagi harus dengan cara apa menolak perjodohan gila yang dibuat oleh kedua orang tuanya tanpa sepengetahuan dirinya. Dengan tubuh yang sudah lelah, ia menyenderkan punggungnya pada sandaran sofa yang saat ini ia duduki.


"Dengar Nak Rasya, Tante yakin kalian akan sangat cocok dan lama kelamaan rasa cinta itu pasti akan tumbuh seiring berjalannya waktu," kali ini Nadia bersuara sambil menggenggam telapak tangan Rasya.


Rasya menolehkan kepalanya menatap rekan orang tuanya yang sedang menatap ke arahnya dengan teduh. Hanya beberapa detik saja sebelum akhirnya ia kembali mengalihkan pandangannya pada Sang ayah yang masih setia menunggu jawabannya.


"Tapi Rasya ngga kenal Gerald, Pa. Ihh... bisa ngga sih ngertiin Rasya bentarr aja." Keluh Rasya dengan suara yang terdengar memohon. Alex tersenyum hangat menatap tepat ke manik mata Rasya, meyakinkan Sang anak semata wayangnya itu jika semuanya akan baik-baik saja ke depannya.


"Papa yakin kalian pasti bisa, Sayang. Dan lagi, bukankah kalian satu sekolah? Mana mungkin kalian tak saling mengenal, Sya?" Ujar Alex setenang mungkin. Ia tahu sifat anaknya dengan baik, semakin dipaksa maka Rasya akan semakin berontak tak terima. Pikirnya.


Rasya mengendikkan bahunya pasrah.


Tiba-tiba saja ia bangkit berdiri lalu menyambar tas sekolah yang ia letakkan di samping tempat duduknya. Tanpa sepatah kata pun ia melangkah meninggalkan Ayah dan kedua orang tua Gerald, lelaki yang dijodohkan dengannya.


Saat baru menginjakkan kakinya di anak tangga pertama, tiba-tiba saja Sang ayah membuka suaranya yang membuat Rasya seketika menegang.


"Mulai minggu depan kamu akan tinggal bersama Gerald agar kalian bisa mengenal satu sama lain lebih dalam lagi," suara Alex sedikit meninggi agar Rasya yang posisinya sudah agak jauh dari ruang tamu dapat mendengar perkataannya.


Tanpa menjawab ucapan Sang ayah, Rasya langsung menaiki anak tangga dengan hentakan kaki yang terdengar cukup keras.


Alex kembali menatap kedua sahabatnya yang saat ini tengah tersenyum menyaksikan adegan antara dirinya dengan Rasya.


"Anakmu itu sungguh mirip dengan ibunya saat muda dulu ya," ucap Nadia dengan sedikit terkekeh sembari menggelengkan kepalanya tak percaya.


"Benar itu, apalagi sifat keras kepalanya. Tidak jauh berbeda dengan kau, Alex." Sambar Miko, suami Nadia sekaligus teman Alex.


"Ah kalian ini bisa saja," jawab Alex sekenanya.


Gerald hanya diam sesekali tersenyum mendengar percakapan orang tua di hadapannya itu.


Rasya Pov


Aku menghempaskan tubuhku di atas ranjang setelah sampai di dalam kamarku yang bercat biru. Dengan tubuh tertelungkup aku menggerutu karena sikap Ayahku yang seenaknya sendiri. Aku baru saja pulang les piano dan langsung menerima kabar yang sangat mengejutkan bagiku.


"Welcome to the jungle, Sya. Arghh... kenapa Papa harus menjodohkan ku dengannya, ya Tuhan..." aku berteriak di balik bantal tidurku yang sengaja kupakai untuk menutupi wajahku.


Bukannya aku tak mengenal siapa orang yang hendak dijodohkan denganku, aku sangat mengenalnya. Bahkan aku sangat tahu bagaimana tabiatnya selama ini. Aku hanya berbohong pada Ayahku jika aku tak mengenalnya. Siapa sih yang tidak mengenal Gerald Stefan Hardjoko. Cowok sok kegantengan yang mencetuskan dirinya sebagai cowok tertampan di sekolah dengan fans yang begitu banyaknya itu, sungguh membuatku muak. Bukan hanya karena sifatnya tapi juga karena tingkahnya yang suka seenaknya sendiri memperlakukan wanita tanpa perasaan sedikit pun. Setiap saat bergonta-ganti pasangan seperti mengganti ponsel saja. Cowok angkuh dengan gaya yang sungguh jauh dari kata keren menurutku.


Dia memiliki tiga orang teman akrab yang bernama Revan, Gio, dan Jun. Sikap ketiga temannya pun tak jauh berbeda dengan Gerald. Pembuat onar... mungkin itulah julukan yang pantas untuk mereka berempat. Setiap hari hanya bisa membuat ulah saja seperti anak kecil. Revan si anak pemilik sekolah, Gio si anak pengusaha tambang nomor satu di Indonesia dan Jun si anak pemilik perkebunan kelapa sawit. Mereka semua menggunakan kekuasaan orang tuanya hanya untuk bersenang-senang dan melakukan apapun semaunya sendiri, sama seperti Gerald.


"Kau sudah tertipu dengan tampang polosnya itu, Pa." Aku bermonolog.


☘☘☘


Author Pov


Miko memandangi arloji berwarna gold yang melingkar di lengan tangan kanannya. Sedetik kemudian ia mendongak dan menoleh ke arah Alex yang sedang meminum secangkir teh.


"Mmm... sepertinya kita harus pamit sekarang, Lex." Ucap Miko sedikit ragu.


Alex yang awalnya menatap ke arah minumannya mendongak dan menatap Miko dengan alis yang menyatu. "Kenapa buru-buru, tinggallah lebih lama lagi. Bukankah kita sudah lama tak bertemu, dan lagi ini pertama kalinya bukan kita bertemu semenjak kau menetap di Amerika mengurus bisnismu itu." Ujar Alex tak rela jika sahabatnya harus pergi sekarang.


Miko terkekeh, ia lalu membenarkan dasinya yang sedikit tak membuatnya nyaman. "Bagaimana jika weekend kita bermain golf bersama seperti dulu?" Tawar Miko pada Alex yang masih menatap ke arahnya.


Alex nampak menimang-nimang tawaran yang diberikan Miko.


"Baiklah, kau atur saja waktunya."


Akhirnya Alex setuju dengan tawaran sahabatnya itu.


Miko dan keluarganya pun akhirnya pamit meninggalkan rumah Alex. Awalnya Alex menyuruh Rasya mengantar keluarga Miko sampai depan namun Rasya menolak dengan alasan dia kelelahan hingga akhirnya hanya Alex yang mengantar mereka semua sampai depan rumahnya.