Trouble Maker

Trouble Maker
Eps. 12 Biang Kerok Vs Biang Masalah



"Apa yang kamu lakukan, Gerald? Cepat kembali ke tempatmu lagi." Ujar Guru IPA dengan nada kesal.


Rasya yang berada di samping Gerald melirik lelaki itu sekilas namun kemudian ia mengabaikannya lagi.


Jeffrey yang ada di samping guru IPA pun nampak sebal dengan tingkah orang yang seenaknya saja merebut posisinya.


"Ini kursiku, biar dia duduk di dekat Gio saja." Ujar Gerald santai.


Guru IPA terlihat menghela napas sejenak sampai ia berujar lagi.


"Baiklah Jeffrey, silahkan kamu duduk di dekat Gio." Ucapnya seraya menunjuk kursi yang tadi di tempati Gerald.


Jeffrey mengangguk dengan sopan pada guru IPA itu dengan langkah cool dirinya berjalan melintasi jajaran bangku di kelas barunya. Ia sedikit melirik sengit ke samping Gerald ketika ia melintasi lelaki itu. Namun bukan Gerald namanya jika dia tidak bersikap menyebalkan.


☘☘☘


Bel istirahat kini telah berbunyi, Gerald menatap sekilas gadis di sampingnya yang sudah mulai sibuk dengan buku catatan yang berada di atas meja. Saat hendak membuka mulutnya, tiga kawan Gerald menepuk bahu pria itu dari belakang membuat Gerald mengurungkan niatnya.


"Ada apa?" Tanyanya pada ketiga sekawan itu.


"Ayo ke kantin." Ajak Revan namun dibalas gelengan oleh Gerald.


"Kalian duluan saja nanti aku menyusul," balasnya.


Wajah ketiga lelaki itu nampak kecewa namun dengan cepat Gerald memberi kode agar mereka segera keluar meninggalkan dirinya dengan Rasya.


Setelah kepergian tiga sekawan itu, Gerald kembali menoleh ke arah Rasya yang saat ini terlihat sedang menulis sesuatu di buku catatan dengan headphone yang selalu setia bertengger indah di telinganya.


Diam-diam Gerald mengamati struktur wajah Rasya dari samping, sudut bibirnya terangkat kala melihat wajah serius gadis di sampingnya itu. Kemudian dengan pelan Gerald mencolek bahu Rasya menggunakan jari telunjuknya.


"Apa?" Ketus Rasya menatap Gerald seraya melepas headphone nya.


Cengiran bodoh tercetak di bibir Gerald menunjukkan deretan giginya. "Kamu ngga ke kantin, Sya?" Ia bertanya dengan menatap Rasya lembut. Rasya menggeleng singkat lalu mengalihkan pandangannya seperti semula.


Gerald nampak mengembuskan napasnya sesaat melihat tingkah Rasya yang acuh padanya, hingga muncul seorang lelaki berdiri di depan meja mereka. Kedua sejoli itu menoleh bersamaan menatap sosok di hadapannya saat ini yang sedang tersenyum simpul seraya melambaikan tangannya.


"Ayuk ke kantin, Sya." Ajaknya penuh semangat.


Tanpa diduga Rasya langsung menutup buku catatannya dan merapikan headphone yang tadi ia gunakan. Kemudian bangkit menyambut ajakan orang yang menawarinya tadi meninggalkan Gerald yang tengah memberengut sebal.


"Yukkk..." jawab Rasya mengulum senyum.


Di kantin semua pasang mata menatap ke arah Rasya dan Jeffrey yang sedari tadi berbincang sambil sesekali terkekeh di tengah percakapan mereka. Sedangkan Gerald saat ini sudah berada di tengah-tengah tiga sahabatnya dengan wajah masam.


"Sejak kapan mereka dekat?" Alis Gio saling bertautan saat menyaksikan Rasya yang tengah tersenyum hangat di meja kantin dengan Jeffrey di hadapannya.


"Apa mungkin mereka ada hubungan sebelumnya?" imbuh Revan yang ikut menatap ke arah Rasya.


"Mungkin saja mereka pacaran," tambah Jun asal.


Tanpa sepengetahuan mereka, Gerald mengepalkan tangan kanannya di bawah meja dengan rahang yang mengeras menahan emosi.


"Aku yakin mereka bukan sepasang kekasih," celetuk Gerald datar ia lalu bangkit menuju meja dimana Rasya berada tanpa permisi langsung duduk di samping Rasya membuat kedua orang yang berada di meja itu langsung terdiam menatap ke arah Gerald yang tengah memasang wajah santainya.


"Permisi," ujar Gerald sebelum menyeruput minuman kalengnya.


"Sedang apa kau disini?" Tanya Jeffrey dingin, ia hanya melirik sekilas pria di hadapannya itu. Sedangkan Gerald justru memasang wajah tanpa dosa.


"Aku?" Tunjuk Gerald pada dirinya sendiri. Jeffrey mengangguk pelan.


"Ya makanlah, masa tidur." Sambungnya santai lalu mencomot makanan yang ada di piring Rasya tak memperdulikan tatapan tajam Si gadis di sampingnya.


"Kenapa kau selalu mengganggu hidupku, ish..." geram Rasya sebal. Ia menyudahi aktivitas makannya dan mendorong piringnya ke arah Gerald.


"Kita pergi, Sya." Tiba-tiba Jeffrey bangkit dan menarik tangan Rasya pelan menjauh dari meja dimana Gerald berada.


"Hyakk... apa yang kau lakukan, biarkan dia disini. Jika kau ingin pergi, pergilah sendiri tak usah menyeretnya juga." Cegah Gerald seraya melepaskan genggaman tangan Jeffrey.


Kilatan amarah terlihat dari dua lelaki yang berada di hadapan Rasya. Membuat Rasya memijat keningnya, pusing menghadapi tingkah keduanya. Satu saja sudah membuatku frustasi, apalagi dua. Ish... gerutu Rasya dalam hati.


Beruntung sebelum perdebatan mereka semakin panas, bel tanda masuk berbunyi membuat mereka terpaksa harus masuk ke dalam kelas.


"Aku tunggu kau sepulang sekolah di rooftop." Bisik Gerald pada Jeffrey dengan penuh penekanan. Jeffrey menatap lawan bicaranya sekilas sembari menyunggingkan senyum evil nya, "siapa takut." Ujarnya santai.


☘☘☘


Disinilah mereka berdua, di atas rooftop ditemani ketiga sahabat Gerald tanpa sepengetahuan Rasya. Secara diam-diam mereka bertemu menyelesaikan masalah yang tertunda saat di kantin tadi.


"Kau mau apa?" Tanya Jeffrey saat melihat Gerald dan ketiga temannya itu mendekat ke arah dirinya dengan stik golf di tangan mereka.


"Ambil ini," ucap Gerald seraya melemparkan satu stik golf kepada Jeffrey yang langsung ditangkap dengan mulus oleh lelaki itu.


"Untuk apa benda ini?" Tanya Jeffrey pada dirinya sendiri saat menatap stik yang berada di tangannya.


"Guys," panggil Gerald pada ketiga temannya yang berada di belakang lelaki itu.


Ketiga temannya mendekat sambil memberi hormat pada Gerald yang saat ini tengah melipat lengan di dada.


"Kalian tahu bukan tugas kalian apa?" Tanyanya santai yang dibalas anggukan serempak oleh temannya.


Dengan segera ketiga temannya mendekat ke arah Jeffrey yang sudah memasang kuda-kuda berjaga saat ia tiba-tiba diserang oleh tiga sekawan yang terkenal badung itu.


"Jika kau memang lelaki sejati, mari kita lakukan secara jantan. Satu lawan satu." Ucap Jeffrey dengan tenang menatap ketiga lelaki di hadapannya yang tengah tersenyum penuh arti.


"Oke baiklah," jawab Revan santai lalu maju selangkah dari dua temannya.


Ia mendekat ke arah Jeffrey yang masih menatapnya dengan tatapan waspada. Sembari menepuk-nepuk stik golf nya itu, Revan mendekat dengan santai ke arah Jeffrey. Sedikit mencondongkan wajahnya ke telinga Jeffrey sebelum akhirnya ia berucap yang membuat Jeffrey terkejut bukan main.


"Jika kau bisa memasukan bola ini ke dalam sana, maka kau akan kami loloskan. Kesempatanmu cuma ada tiga, jika kau berhasil semua maka kau bisa melawan Gerald sebagai babak penentuannya." Bisik Revan membuat Jeffrey ingin sekali tertawa terpingkal-pingkal, namun ia urungkan.


"Baiklah mari kita mulai," tantang Jeffrey dengan sikap santainya.


Jun lalu meletakkan satu gawang kecil sangat kecil bahkan lebih mirip seperti tempat korek api bukan gawang di ujung rooftop dan mengeluarkan satu bola bekel dari saku celananya.


"Pfftt... apa kalian sering bermain bola bekel disini?" Ejek Jeffrey dengan kekehan kecil.


"Apa kau bilang?" Tanya Gerald dengan nada tinggi.


"Sudah-sudah, ayo kita mulai daripada membuang waktu percuma." Lerai Gio yang dibalas anggukan oleh Revan dan Jun.


Lima belas menit mereka bermain dengan skor 3-2. 3 untuk tim Gerald dan 2 untuk Jeffrey.


"Bagaimana? Masih ingin berlanjut?" Tanya Gerald dengan nada mengejek diiringi tawa sumbang nya.


"Aish... bagaimana bisa aku kalah, aku yakin kalian curang." Ucap Jeffrey tak terima.


Mereka berempat tersenyum mengejek menatap Jeffrey yang tengah mengacak rambutnya sendiri menyesali kekalahannya.


Gerald melangkah mendekati Jeffrey yang masih tak percaya akan kekalahannya. Dengan lembut ia mengelus rambut cepak Jeffrey seperti memperlakukan anak kecil.


"Dengar ya, semua sudah selesai bahkan sebelum aku turun tangan. Jadi terima saja kekalahanmu dan terima saja konsekuensi nya. Jauhi Rasya seperti perjanjian kita di awal tadi." Ujar Gerald dengan nada mengejeknya. Teman-temannya tertawa melihat aksi sahabatnya itu.


Mereka berempat lalu pergi meninggalkan Jeffrey yang masih menatap gawang kecil berbentuk persegi empat buatan keempat badboy sekolah itu.