Trouble Maker

Trouble Maker
Bab 26



Pasca kejadian tersebut, secara perlahan Gita mulai merubah sikapnya di sekolah. Dia yang selama ini dikenal sebagai siswi pembuat onar, berubah drastis menjadi siswi yang berperilaku baik, hingga semua orang yang melihatnya menjadi heran dan menganggap seperti ada yang merasukinya sampai dia berubah seratus delapan puluh derajat.


"Git, apa yang terjadi sama kamu? Kenapa kamu berubah kayak gini, kayak bukan diri kamu yang sebenarnya?" Sahabatnya, Gena, keheranan melihat perubahan Gita.


"Namanya juga manusia, Gen, hari ini jahat, besok bisa berubah jadi baik, begitupun sebaliknya atau bisa juga yang jahat semakin jahat, yang baik akan semakin baik, begitu sih yang aku dengar dari ayah sama ibuku" kata Gita. Dalam benaknya, Gita sebenarnya tidak menyukai bersikap seperti ini, namun, karena sudah mendekati ujian nasional, dia mencoba bertahan, paling tidak sampai pengumuman kelulusan nanti.


"Aku juga gak mau bersikap kayak anak baik-baik gini, karena ini bukan diri aku, tapi, ini demi kelancaran kelulusan aku dari sekolah ini, agar bisa masuk ke SMA unggulan nanti" runtuk Gita.


"Hei, Git, aku senang deh lihat perubahan kamu yang seperti ini" Marni yang kebetulan lewat depan kelas Gita, menghampirinya dan tersenyum padanya.


"Iya, Mar, aku belajar dari kesalahan aku waktu itu dan mendengar nasehat ayah sama ibu aku, aku jadi sadar dan bisa seperti ini" jawab Gita.


"Aku mau memulai semuanya dari awal lagi dan ingin memperbaiki kesalahanku, mulai saat ini kita berteman dan kita lupakan masalah diantara kita, okey" Gita mengulurkan tangannya.


"Iya, Git, kita mulai dari awal lagi dan melupakan masalah yang telah terjadi" Marni menjabat tangan Gita.


"Ihh...! Sebenarnya aku gak mau kayak gini, gak banget deh berteman sama dia, aku juga terpaksa, biar aku dibilang anak baik-baik" batin Gita. Haikal yang kebetulan lewat, segera menghampiri keduanya yang tengah ngobrol berdua, takutnya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


"Ada apa lagi ini? Mau nyari masalah lagi kamu, Git?" Tanya Haikal ya g mengarahkan pandangannya pada Gita.


"Apa gak cukup kejadian kemarin, untuk bikin kamu sadar dan berhenti melakukannya" Haikal memelototi Gita.


"Kamu jangan berprasangka buruk dulu dong, Kal, aku gak mau cari masalah kok sama Marni, malah sebaliknya, aku mau berteman sama dia, mau perbaiki semuanya" kata Gita.


"Paling juga cuma pura-pura baik aja, pasti nanti ujung-ujungnya ada maunya, kalau udah kesampaian kemauannya, balik lagi ke penyakit lamanya" Haikal seolah tidak percaya dengan yang diucapkan oleh Gita, karena Haikal sudah terlalu mengenal Gita yang selalu berbuat onar.


"Kal, jangan gitu, gak ada salahnya kita kasi Gita kesempatan dan kita berharap semoga Gita bisa jadi lebih baik lagi, setiap manusia pasti pernah khilaf, gak ada manusia yang sempurna, malah bagus kan kalau Gita berubah menjadi lebih baik lagi, semuanya akan terasa damai" Marni mengambil sikap seperti membela Gita.


"Yah... Semoga aja apa yang kamu katakan itu benar" Haikal setengah berharap.


"Mar, nanti jam istirahat, kita ke kantin bareng yah, aku traktir kamu, untuk menandai awal pertemanan kita, okey, gak pake kata nolak loh" Gita menawarkan. Marni mengangguk pertanda dia menerima tawaran tersebut. Haikal menoleh sekilas kearah Gena dan memberi isyarat, seperti mempertanyakan tentang perubahan sikap Gita yang terkesan sangat mendadak. Gena hanya memberi jawaban dengan mengangkat bahunya, karena dia sendiri pun bingung dengan perubahan drastis Gita.


Haikal sepertinya masih menyimpan rasa khawatir dan masih belum bisa percaya bahwa Gita benar-benar sudah berubah sepenuhnya. Haikal takut kalau itu semua hanyalah rekayasa Gita semata.


"Aku takut aja Gita hanya berpura-pura dan ada maksud tertentu dibalik sikapnya yang baik seperti itu dan Marni percaya sepenuhnya dengan perubahannya Gita itu, aku takut kebaikannya dia malah dimanfaatkan oleh Gita untuk tujuan tertentunya dia" batin Haikal yang merasa khawatir, terutama pada Marni. Karena Marni belakangan ini terlihat sangat akrab dengan Gita. Kemana-mana selalu bersama.


"Kamu kan tahu sendiri, dia itu pembuat masalah dan seantero sekolah sudah tahu gimana si Gita itu" Haikal mengingatkan.


"Kal, percaya deh sama aku, Gita yang kemarin-kemarin suka mencari masalah dan suka berantem itu udah gak ada lagi dan itu hal yang sangat baik loh, udah yah, Kal, aku mohon kamu berhenti berprasangka buruk sama Gita" Marni terus berusaha meyakinkan Haikal kalau Gita sudah benar-benar berubah.


"Ya udah kalau gitu, terserah kamu aja, yang jelas aku udah peringatkan kamu" kata Haikal yang terlihat pasrah.


"Iya, Kal, makasih yah sebelumnya" Marni tersenyum. Haikal hanya mengangguk dan beranjak kembali ke mejanya.


Teman-temannya melihat Haikal begitu perhatian pada Marni dan beranggapan kalau Haikal memiliki perasaan suka pada Marni.


"Mar, kalau aku lihat-lihat nih, kayaknya Haikal suka deh sama kamu, terlihat dari perhatiannya dia" celetuk salah satu temannya.


"Iya, Mar, benar banget tuh, kalau gak ada perasaan apa-apa, gak mungkin segitu perhatiannya" temannya yang lain menyela.


"Ahh... Gak mungkin lah, Haikal suka sama aku, ada-ada aja kalian, lagian Haikal juga belum lama putus dari Gita dan gak mungkin secepat ini move on dari Gita" Marni menepis anggapan tersebut.


"Kalaupun dia membuka hatinya lagi, gak mungkin sama aku juga, aku sama Gita itu perbedaannya jauh banget dan aku merasa gak pantas untuk cowok seperti Haikal" Marni menambahkan.


"Gak ada yang gak mungkin, Mar. Siapa tahu aja, Haikal tiba-tiba nembak kamu, kan gak ada yang tahu, kalau Haikal nantinya bakal pilih kamu jadi pacarnya" temannya itu meyakinkan Marni. Yang lainnya mengangguk, setuju dengan pernyataan tersebut.


"Apa iya yah, yang dikatakan teman-teman aku itu, kalau Haikal suka sama aku? Tapi, ya udahlah, aku gak mau terlalu mikirin itu" batin Marni.


"Marni, andai saja kamu tahu, kalau aku tuh suka sama kamu, aku sayang banget sama kamu, aku gak mau ada seorangpun yang menyakiti kamu, termasuk Gita" batin Haikal, sambil memandangi Marni dari bangkunya. Marni menoleh dan menangkap pandangan mata Haikal, memperhatikan sejenak, lalu melempar senyum padanya. Haikal membalas senyuman Marni.


"Kalau suka sama Marni, langsung aja ungkapin, bro, gak usah saling pandang-pandangan gitu" kata Gery, teman sebangku Haikal.


"Apa sih, Ger, ngaco kamu" Haikal mencoba menepis.


"Udah deh gak usah ngeles, Kal, terlihat kok dari cara kamu mandang si Marni itu, beda gitu" Gery seolah tahu, kalau Haikal menyimpan perasaan suka pada Marni.


"Udah, lanjut aja tuh belajarnya, beberapa menit lagi kita ulangan" Haikal mencoba mengalihkan pembicaraan.