Trouble Maker

Trouble Maker
Eps. 19 Hari Tanpamu



Sudah dua hari Rasya dan Gerald tak bertegur sapa. Meski Gerald masih setia menjemput dan mengantar Rasya pulang, tapi tak ada obrolan yang mereka bicarakan. Mulut keduanya seolah terkunci.


Hingga pagi ini, seperti biasa Gerald menjemput Rasya menggunakan motor pemberian orang tuanya dan Rasya. Begitu sampai di halaman depan rumah Rasya, dahi Gerald berkerut karena mendapati sebuah sepeda terparkir disana. Tanpa membuang waktu, ia pun memasuki rumah itu tanpa mengucap sepatah katapun ia melihat pemandangan yang begitu membuatnya terluka.


Di depan sana, nampak seorang pemuda tengah berjongkok dengan kaki kanan sebagai tumpuan nya. Di tangan kanan lelaki itu ada satu bouquet bunga mawar merah dan juga sekotak cincin. Apa-apaan mereka itu? Batin Gerald.


Dia menatap ke seluruh sudut ruangan mencari sosok pria dewasa yang tak lain adalah Om Alex, ayah Rasya. Tak ada tanda-tanda keberadaannya, rumah itu tampak sepi.


"Will you be mine, Sya?" Tanya pemuda itu dengan lembut menatap Asya yang berada di hadapannya.


Gerald belum beranjak dari posisinya semula, ia ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya pada dua insan di depannya itu.


Disana, Rasya tengah menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


"Ma-maksud kamu apa, El?" Tanya Rasya masih dalam keterkejutan nya.


Lelaki yang dipanggil El itu tersenyum simpul, dia masih berjongkok dengan tenang menatap teduh gadis yang dicintainya. "Aku tahu kamu masih belum bisa buka hati kamu, tapi ijinkan aku sekali aja Sya, buat ngetuk hati kamu dan membuka kunci yang entah kapan telah hilang dari genggaman kamu." Ujarnya panjang lebar.


Rasya kemudian menarik pelan tangan El, membuat lelaki itu berdiri tepat di hadapan Rasya. Dengan gemas Rasya menarik hidung El membuat empunya mengaduh.


Rasya terkekeh lalu meraih bunga serta cincin yang diberikan oleh El.


Sedangkan di ujung sana, Gerald tengah menatap sendu kejadian di depannya itu. Tak terasa air matanya meluncur tanpa permisi, hatinya bak dirobek paksa membuatnya langsung memegang tepat di depan dadanya.


"Kenapa kamu setega ini, Sya?" Lirihnya sebelum akhirnya pergi meninggalkan rumah Rasya dan juga motor yang terparkir di halaman rumah itu.


☘☘☘


Bel tanda masuk telah berbunyi, namun tak ada tanda-tanda jika Gerald akan masuk mengikuti pelajaran. Hal itu membuat ketiga temannya saling bertatapan bingung.


"Dia kemana sih?" Tanya Revan yang duduk di depan Jun dan Gio.


Mereka berdua hanya mengangkat bahu tak tahu keberadaan Gerald.


Revan kembali menghadap ke depan karena guru telah masuk.


Sekitar tiga jam pelajaran akhirnya bel tanda istirahat berbunyi, tapi hingga detik ini Gerald masih tak menampakkan batang hidungnya.


Ketiga sahabatnya pun menghampiri Rasya yang duduk tak jauh dari mereka.


"Gerald kemana, Sya?" Tanya Jun saat mereka sampai di depan meja Rasya.


Rasya mendongak dengan alis yang saling bertautan hingga detik berikutnya ia menggeleng.


"Haduh... gimana nih, dia ngilang. Chat kalian udah dibalas belum?" Tanya Revan menatap kedua temannya. Tapi lagi-lagi hanya gelengan kepala yang didapatnya membuatnya mengusap wajahnya kasar karena frustasi.


"Bocah udah gede aja di pusingin, ntar sore kalo laper juga balik." Celetuk Jeffrey dengan nada mengejek.


Ketiga serangkai itu menoleh dengan tatapan tajam tak terima dengan apa yang Jeffrey ucapkan.


"Punya mulut bisa dijaga ngga?" Kesal Jun menarik kerah baju Jeffrey dengan kasar.


Rasya berdiri dan melerai keduanya agar tak terjadi pertengkaran.


"Kalian bisa ngga sih ngga bikin masalah sehari aja," keluh Rasya pada tiga serangkai.


Tatapan Rasya beralih pada Jeffrey, "dan kamu... bisa ngga, ngga usah mancing-mancing. Bikin masalah makin keruh aja," omel Rasya sembari menunjuk hidung Jeffrey.


"Minggir," usir Rasya pada tiga serangkai yang menghalangi jalannya.


☘☘☘


Rasya Pov


Aku sudah mengelilingi sekolah ini sebanyak lima kali, tapi aku masih belum menemukan sosok Gerald. Arggh... dasar biang onar, selalu saja membuatku tak bisa hidup dengan tenang.


Ngomong-ngomong soal Gerald, tadi pagi aku menemukan sepeda motornya terparkir di halaman rumahku, tapi aku tak menemukan si biang onar itu. Entahlah, aku tak ingin ambil pusing akan hal itu.


Makin kesini, pikiranku makin kacau saja. Bebanku bertambah banyak, padahal aku masih SMA tapi sudah harus memikirkan hal-hal yang membuat kepalaku rasanya ingin meledak.


Aku mengambil ponsel di saku seragam ku mencoba menghubungi Gerald. Tapi sudah kucoba beberapa kali ponselnya tetap saja tidak aktif. Ada apa dengan pria itu...


Aku pun memutuskan untuk kembali ke kelas dan melanjutkan pencarian ku nanti setelah jam pelajaran terakhir usai.


☘☘☘


Gerald tengah duduk sembari memejamkan matanya di bangku bawah pohon rindang di sebuah danau.


Tempat ini adalah tempat ternyaman yang baru saja ia temukan saat pikirannya sedang suntuk beberapa waktu lalu. Dengan tenangnya ia menikmati embusan angin yang menerpa tubuhnya. Ia lalu merubah posisi menjadi tiduran di bangku panjang itu. Sejuknya... serunya dalam hati.


Hanya di tempat ini dia bisa merasakan ketenangan. Danau ini sepi dan belum ada pengunjung yang datang kemari, tapi itu justru membuat Gerald bersyukur. Karena ia butuh suasana tenang seperti saat ini.


Cukup lama ia memejamkan mata hingga ia teringat akan sesuatu. Dengan segera ia bangkit dan merubah posisinya menjadi duduk seperti semula. Ia lalu mengacak-acak tas punggungnya dan meraih ponsel yang sedari pagi sengaja ia nonaktifkan.


Banyak sekali pesan masuk dari ketiga temannya dan juga panggilan tak terjawab dari mereka. Ia memilih mengabaikan pesan mereka dan men-scroll pesan yang masuk di ponselnya ke bawah hingga muncullah nama gadis yang menjadi sumber rasa sakitnya sekarang. Lagi... rasa sakit itu muncul tanpa permisi di hatinya membuatnya tersenyum miris. Cinta memang gila... pikirnya.


Ia lalu membuka pesan dari Rasya dan membaca pesan singkat yang menanyakan keberadaannya. Ia memilih tak membalasnya dan menaruh lagi ponselnya ke dalam tas sampai akhirnya hpnya bergetar menandakan ada telepon masuk disana.


"Hm"


"..."


"Ya"


"..."


"Ngga usah"


Pip


Gerald langsung mematikan panggilan secara sepihak.


"Untuk saat ini hanya ini yang aku inginkan," gumamnya menatap danau yang berada di depannya.


Ia lalu berdiri dan melemparkan kerikil-kerikil yang ia cari di sekitar danau sebagai pelampiasan akan kemarahannya.


"Arggghhh..."


Teriakan Gerald menggema di danau yang tampak sepi itu.


"Berisik!" Tiba-tiba saja muncul seseorang dari balik punggung Gerald membuat lelaki itu sedikit terhenyak kaget.


"Kau mengagetkanku!" Omel nya pada orang yang kini mengambil kerikil yang ada di tangannya.


"Bagaimana kau tahu tempat ini?" Tanya Gerald penasaran.


"Ini juga tempatku untuk menenangkan pikiran," jawab orang di samping Gerald dengan santai.