Trouble Maker

Trouble Maker
Bab 30



"Aku tuh suruh kamu untuk ganti baju aja didalam, kenapa kamu malah ngambil jam tangan ayah aku juga, kenapa! Tahu gitu, aku suruh kamu ganti baju di kamar mandi tadi!" Gita memelototi Marni.


"Git, aku gak ngambil jam tangan ayah kamu, mana berani aku, aku bukan orang yang seperti itu, aku juga gak tahu kenapa jam tangan itu ada di tas aku. Om, tante, aku benar-benar tidak tahu menahu soal jam tangan itu, bahkan dalam hatiku, aku gak ada niat sedikitpun untuk ambil jam tangan itu" Marni membela dirinya.


"Udah deh, Mar, kamu gak usah bela diri gitu, malah semakin kelihatan salahnya kamu itu!" Gena ikut menimpali. Semua tatapan teman-temannya tertuju pada Marni dan mereka seolah tidak percaya, kalau Marni yang dikenal kalem, anak yang baik hati dan memiliki attitude yang baik, malah melakukan perbuatan yang tercela seperti itu. Beberapa temannya berbisik, membicarakan Marni. Ada yang membela Marni, ada juga yang menganggap bahwa Marni yang bersalah, karena hanya Marni yang tadi masuk ke kamar ayah dan ibunya Gita. Sementara itu, Yanto masih berpikir, keputusan apa yang harus dia ambil dan dia juga sepertinya tidak percaya sepenuhnya kalau gadis polos seperti Marni, sanggup melakukan perbuatan tercela seperti itu, tapi, barang buktinya ditemukan di dalam tas milik Marni. Ini sungguh situasi yang rumit.


"Kamu tuh, udah miskin, maling pula, mau jadi apa kamu! Malu-maluin aja, punya teman yang klepto gini!" Gita tolak pinggang sambil menatap Marni dari atas sampai bawah.


"Kalau kamu butuh uang untuk biaya hidup kamu sehari-hari atau apa, gak gini juga caranya kali!" Bentak Gita. Marni hanya tertunduk karena malu dan mulai meneteskan air mata.


"Udah, Git, gak usah kamu gituin Marni, jam tangannya juga udah ketemu kan, gak usah dibahas lagi" Yanto mencoba melerai.


"Kita lupakan saja masalah ini. Marni, kamu gak usah khawatir, om sudah maafkan kamu" lanjut Yanto.


"Gak bisa dibiarkan, yah, kalau dia ulangi perbuatannya ini lagi gimana? Kan bahaya, yah, aku mau Marni tetap harus pertanggung jawabkan perbuatannya ini, biar ada efek jera" Gita tampak ngotot. Namun, Yanto tidak mengikuti apa yang Gita mau. Yanto sudah memaafkan Marni dan berjanji tidak akan memperpanjang masalah tersebut. Marni dan semua teman-teman yang lain beranjak pergi dari rumah Gita. Dalam hatinya, Gita tampak cukup puas karena sudah berhasil mempermalukan Marni dihadapan teman-temannya yang datang.


"Git, tadi itu luar biasa sih, kamu gak lihat betapa malunya si Marni itu, aku yakin sih abis ini, dia bakal dijauhi sama anak-anak" kata Gena dengan cukup yakin.


"Iya, Gen, aku juga harapnya gitu, tapi, makasih loh kamu udah bantuin aku buat ngerjain si Marni" Jawab Gita.


...*****...


Setelah melewati tes dan mengikuti masa orientasi siswa selama seminggu lamanya, hari ini Gita sudah resmi jadi anak SMA. Wajahnya terlihat sangat semringah di hari pertamanya mengenakan seragam putih abu-abu.


"Rasanya senang banget sekarang udah jadi anak SMA" batin Gita.


"Hai, Git, kamu kayaknya terlihat senang banget" Gena datang menghampiri Gita.


"Gimana gak senang, sekarang kita sudah jadi anak SMA, Gen, udah gak sabar banget untuk belajar, apalagi bisa masuk di SMA yang aku idam-idamkan ini" Gita terlihat begitu antusias.


"Iya sih, Git, aku juga senang pastinya, karena katanya sekolah kita ini adalah salah satu SMA favorit, makanya itu banyak orang yang pengen banget sekolah disini dan kita termasuk beruntung karena bisa sekolah disini" terang Gena.


"Hah! Yang benar, Gen?" Tanya Gita yang terlihat terkejut.


"Iya, Git, beneran, aku sempat dengar Haikal cerita sama teman-temannya waktu di rumah kamu hari itu, bahwa dia sekolah disini" jawab Gena meyakinkan.


"Ini kabar yang menyenangkan banget, Gen, bisa satu sekolah sama Haikal dan punya kesempatan untuk dekati dia lagi" Gita tampak bahagia.


"Itu tandanya kamu sama Haikal berjodoh tuh, kalian kan gak saling tahu kalau bakal bersekolah disini dan tanpa diduga malah satu sekolah lagi kan" kata Gena. Gita hanya mengangguk, tanda dia sependapat dengan pernyataan Gena. Gita dan Gena segera beranjak menuju ke kelasnya, karena setengah jam lagi bel masuk berbunyi. Saat mereka tiba di depan kelas dan hendak masuk, keduanya justru berpapasan dengan Haikal yang juga ingin masuk kelas.


"Gena! Gita! Kalian sekolah disini juga" Haikal terkejut melihat kedua mantan teman SMP-nya tersebut. Gita dan Gena hanya mengangguk. Gita tampak senang bisa satu sekolah lagi dengan Haikal dan bisa setiap hari ketemu dengannya. Namun, disisi lain, Gita agak sedikit kecewa karena Marni juga satu sekolah dengannya, bahkan satu kelas pula. Gita kesal harus bertemu lagi dengan Marni, yang dianggapnya sebagai pengganggu dan menjadi penyebab berakhirnya hubungan dirinya dan Haikal.


"Kenapa si Marni harus ada disini juga sih, merusak kebahagiaan aja, bisa jadi penghalang aku untuk dapatkan hatinya Haikal, secara Haikal kayaknya udah mulai kepincut sama si cewek kampung ini" gerutu Gita dalam hati.


"Git, Gen, senang deh, ternyata kita satu sekolah dan bahkan satu kelas, semoga dengan begini, kita bisa makin akrab yah" kata Marni tersenyum. Gita dan Gena tersenyum kecut mendengar perkataan Marni.


"Informasi aja nih, Marni bisa sekolah disini itu karena dapat beasiswa dan menurut aku, itu sih hebat loh" Haikal sedikit memuji Marni.


"Yah... Aku bersyukur banget bisa dapat beasiswa untuk sekolah disini, aku senang banget dan ini juga sekolah yang aku impikan, selain itu, aku juga bisa bantuin ibu setiap hari di kantin" jelas Marni.


"Oh... Ibu kamu jualan dikantin ini yah, bagus dong kalau gitu. Hebat kamu, Mar, karena masih memikirkan untuk membantu ibu kamu, padahal kamu aja udah capek loh seharian belajar disekolah" Kata Haikal, seperti membanggakan Marni. Gita dan Gena tidak menanggapi percakapan keduanya. Malahan mereka mulai merengut, terutama Gita, karena Haikal sepertinya mulai perhatian sama Marni dan itu yang membuatnya kian kesal.


"Ihh.... Ngeselin banget sih, ngapain coba Haikal bersikap kayak gitu, kayak muji Si Marni segala di depan aku, bikin panas aja hati aku" dalam hatinya, Gita begitu kesal melihatnya.


"Yuk, Gen, kita masuk" Gita menarik tangan Gena dan tidak ingin berlama-lama dihadapan Marni. Yang ada hatinya makin panas mendengar percakapan keduanya, apalagi Haikal tidak berhentinya Haikal sepertinya tahu, kalau Gita cemburu saat dirinya memuji Marni di hadapan Gita.


"Aku tahu kalau Gita cemburu, tapi, biarkan aja lah, itu bukan urusan aku, toh sekarang juga dia udah bukan pacar aku lagi" batin Haikal, yang tampaknya tidak peduli.


memuji-muji Marni terus.