Trouble Maker

Trouble Maker
Bab 34



"Nak, ibu mohon, kamu mengalah aja dan ikuti apa yang diinginkan Gita, ini supaya ibu aman jualan di kantin dan tidak terusik ulahnya dia" pinta ibunya pada Marni.


"Apa yang dikatakan ibu ada benarnya, mungkin sebaiknya aku mulai jaga jarak dari Haikal, demi keamanan ibu, karena itu jauh lebih penting untuk kelangsungan hidup aku dan ibu, cuma hasil dari jualan di kantin aja, yang jadi sumber penghasilan ibu" pikir Marni.


"Kal, aku minta sama kamu, mulai saat ini kita jaga jarak yah, aku gak mau hal ini terulang lagi dan Gita melakukan hal yang lebih nekat dari ini terhadap ibu, aku harap kamu bisa mengerti dengan keadaan ini" pinta Marni.


"Mar, kamu jangan mau mengikuti keinginannya Gita itu, yang ada nanti dia malah menjadi-jadi dan menindas kamu terus menerus" kata Haikal.


"Masalah yang tadi, kita harus laporkan ini ke guru soal perbuatan Gita ini, biar dia dapat pelajaran dan seenaknya menindas orang" lanjut Haikal.


"Iya, aku setuju tuh sama idenya Haikal, mending dilaporin aja daripada dia semakin semena-mena sama semua siswa siswi disini kan" celetuk salah satu siswa dan menyetujui usul Haikal tersebut.


Setelah kejadian yang menimpa ibunya itu, mau tidak mau Marni mengikuti keinginan Gita dan mulai jaga jarak dengan Haikal. Bukan karena dia takut dengan Gita, tapi, semata-mata untuk mencegah Gita berbuat semena-mena lagi pada ibunya.


"Bagus Marni, kamu ternyata memilih jadi anak yang penurut yah, aku suka ini, anak manis" Gita menepuk pundak Marni sambil tersenyum.


"Kalau bukan karena ibu, aku juga gak sudi ikuti apa yang kamu inginkan itu, gak usah terlalu besar kepala karena merasa menang telah berhasil menjauhkan aku dari Haikal" runtuk Marni. Hari-hari berikutnya, setelah berhasil menjauhkan Marni dari Haikal, Gita makin gencar mendekati Haikal dan memberikan perhatian padanya, agar bisa mendapatkan hati Haikal lagi. Namun, Haikal tidak pernah merespon sedikitpun dan terkesan cuek. Dia seolah tidak peduli dengan apa yang dilakukan Gita untuknya. Tentu saja, Gita kesal pada akhirnya, karena apapun yang dilakukan Gita, tidak mampu meluluhkannya.


"Gen, udah ah, aku menyerah aja, semua yang aku lakukan itu gak ada hasilnya, Haikal gak merespon sama sekali, aku capek" Gita sudah merasa putus asa.


"Sia-sia deh usaha kita selama ini untuk membuat Haikal neci dan menjauhi Marni" lanjut Gita.


"Kamu jangan menyerah, Git, suatu saat Haikal bakal luluh juga, cepat atau lambat" Gena mencoba menghibur hati Gita.


...*****...


Entah sudah berapa banyak siswa yang dimusuhi oleh Gita dan terlibat dalam suatu masalah. Sudah beberapa kali Yanto mendapat laporan dari Tina terkait perilaku Gita di sekolahnya. Tina sudah merasa lelah menasehati Gita. Bahkan tidak membekas sama sekali di hati Gita dan menganggapnya seperti angin lalu.


"Ibu gak ngerti lagi, nak, harus berkata apalagi, agar kamu mau berubah" kata Tina.


"Bu, aku juga lakukan ini hanya untuk mendapatkan hati Haikal aja dan aku gak rela Marni dapatkan perhatian Haikal yang harusnya buat aku" Gita angkat bicara.


"Apa dengan cara mencari masalah sama teman-teman kamu, akan bisa mendapatkan hati Haikal? Malah sebaliknya, Haikal jadi benci dan bakal jauhi kamu, karena kami gadis yang hanya bisa berbuat onar saja" Tina beradu argumen dengan Gita.


"Kalau mereka gak ikut campur, aku juga gak akan cari masalah sama mereka" Gita menentang, membela dirinya.


"Udahlah, Bu, aku capek dengar ibu ceramah, ibu sama aja seperti teman-teman aku, gak ngertiin aku" Gita kesal dan beranjak masuk ke kamarnya. Tina hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap Gita tersebut.


"Gita, sampai kapan kamu bersikap seperti ini terus, hati kamu benar-benar mengeras seperti baru, biarlah dia seperti itu, percuma juga aku nasehati" Tina sudah pasrah sekarang dan mungkin akan membiarkan Gita seperti itu. Tina seperti tidak sanggup lagi menghadapi sikap Gita. Tina pingsan secara tiba-tiba saat dia ingin berdiri menuju dapur dan hendak menyiapkan makanan untuk suaminya yang sebentar lagi pulang kerja. Tina tergelatak di lantai dan tidak ada siapapun yang melihatnya.


Tak berapa lama berselang, Yanto pun datang. Yanto terkejut mendapati istrinya terbaring di lantai, tak sadarkan diri. Yanto segera menghampirinya.


"Tina, bangun, kamu kenapa, sayang!" Yanto mengguncang pelan tubuh Tina, tapi, tidak ada reaksi sama sekali. Yanto ingin segera membawa Tina ke rumah sakit, karena takut terjadi apa-apa terhadapnya. Yanto berteriak memanggil Gita dan langsung menggendong tubuh istrinya, lalu membawanya segera ke rumah sakit. Yanto terlihat sangat cemas dan berharap keadaannya akan baik-baik saja.


"Kamu sabar yah, sayang, kamu harus bertahan, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit" batin Yanto, yang mencoba untuk tetap fokus menyetir, walaupun ada rasa cemas dalam hatinya. Sementara Gita yang ada disamping Tina, tidak berhentinya menangis. Sesaat Gita merasa menyesal, karena gara-gara dirinya, ibunya itu pingsan secara tiba-tiba.


"Bu, maafkan Gita, Gita menyesal sudah membuat ibu pingsan seperti ini, aku janji, akan menjadi anak yang baik, yang penting sekarang ibu bangun, Bu, Gita mohon" pinta Gita dalam hati.


Sesampainya di rumah sakit, Yanto yang dibantu oleh suster, langsung membawa Tina ke ruang ICU, untuk segera ditangani oleh dokter. Gita terlihat panik dan takut, kalau ibunya tidak tertolong lagi, akibat dari amarahnya yang terpendam, setelah bertengkar dengan Gita beberapa jam yang lalu. Yanto segera mengabari keluarga Tina dan memberitahukan tentang kondisinya saat ini. Yanto mengirimkan alamat rumah sakit tersebut pada ibunya Tina melalu WhatsApp.


"Ya Allah, tolong selamatkan istri hamba, hamba belum siap kehilangan dia, hamba begitu sayang padanya" Yanto berdoa dalam hatinya. Yanto memeluk Gita dan menangis, agar dirinya bisa sedikit tenang.


"Yah, apa ibu akan baik-baik aja?" Tanya Gita, yang terlihat begitu cemas.


"Kita doakan saja yah, semoga ibu kamu baik-baik saja" kata Yanto, yang berusaha untuk tenang. Selang beberapa menit, ibu dan juga adiknya Tina datang dan langsung menghampiri Yanto serta Gita yang menunggu di depan ruang ICU.


"Yanto, gimana keadaan Tina? apa sudah ada kabar dari dokter?" Tanyanya.


"belum, Bu, dokter yang menangani Tina belum keluar dari ruang ICU" jawab Yanto.


"Kenapa bisa seperti ini sih, Yanto? Apa yang terjadi sebenarnya?" ibunya mempertanyakan kronologi kejadiannya.


"Aku juga gak tahu, Bu, pas aku balik dari kantor, aku udah lihat Tina pingsan di lantai dan aku segera bawa dia kesini, aku gak tahu apa yang sebenarnya terjadi" jelas Yanto.


"Terus, kamu, Gita, kemana kamu saat ibu kamu ini pingsan?" Ibunya Tina berpaling menatap Gita.


"Tadi pas aku pulang sekolah, aku langsung ke kamar, ganti baju, terus aku gak tahu apa yang terjadi, aku tahunya pas ayah teriak manggil aku dan aku lihat ibu udah digendong sama ayah" kata Gita. Gita menyembunyikan soal dia bertengkar dengan ibunya sebelum dia masuk ke kamarnya. Dia takut neneknya itu marah besar padanya.


"Ya sudah, kita berdoa saja untuk kesembuhan Tina dan semoga dia bisa melewati masa kritisnya" kata Yanto. Semuanya pun duduk dan menunggu dokter keluar, menanyakan tentang apa yang terjadi pada Tina sampai tiba-tiba pingsan seperti itu.