Trouble Maker

Trouble Maker
Bab 43



Selang satu jam kemudian, mereka sampai di depan rumah Gita.


"Dit, thanks yah untuk tumpangannya, kak Faiz, aku duluan yah" Gita mengucapkan terima kasih dan turun dari mobil Dito.


"Gen, kamu nginap dirumahku aja, aku kesepian tinggal dirumah" kata Gita.


"Ya udah deh, Dit, aku turun disini aja" Gena ikut turun dan memutuskan untuk menginap di rumah Gita malam ini.


"Ya udah, girls, aku jalan yah, see you again!" Dito membunyikan klaksonmya pelan dan menjalankan mobilnya. Gena dan Gita melambaikan tangannya.


Meskipun hari ini Gita mengalami kejadian yang membuatnya jengkel sekaligus menyedihkan. Tapi, setidaknya ada satu momen yang cukup membahagiakan bagi dirinya. Pertemuannya kembali dengan Faiz, setelah tidak bertemu lagi sejak lulus SMP, membuat hati Gita senang.


"Git, kamu tuh kenapa sih, dari tadi aku perhatikan kamu senyum-senyum terus" Gena heran melihatnya.


"Aku tuh bahagia banget, Gen, bisa ketemu lagi sama cowok yang aku taksir waktu SMP" Gita tersenyum lebar, sambil memeluk gulingnya erat, saking bahagianya dia.


"Kalau dihitung-hitung, sekitar tiga tahu aku gak ketemu dia lagi, karena pas dia lulus, dia sama orang tuanya pindah ke Palembang untuk urusin bisnis keluarganya dan ayahnya kak Faiz yang di percayakan" terang Gita.


"Kalau kamu disuruh milih nih, kamu milih Haikal atau kak Faiz?" Tanya Gena.


"Aku pilih kak Faiz lah, setidaknya dia itu tidak se-cuek Haikal dan aku merasa nyaman aja gitu, ada di samping kak Faiz" " jawab Gita sambil tersenyum.


"Ya Allah, aku berharap suatu saat nanti, aku punya kesempatan untuk jadi pendamping hidup kak Faiz, semoga engkau mengabulkan doaku ini" harap Gita dalam hatinya.


...*****...


"Permisi, paket!" Seseorang berteriak di depan rumah Gita. Tak salam berselang, asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Gita keluar.


"Iya, mas, ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya.


"Ini, Bu, saya mau antarkan paket atas nama Brigitta Valencia" kurir itu membaca nama yang tertera pada paket yang dibawanya.


"Oh... Iya, emang benar disini, mas, makasih yah" katanya dan menerima paket tersebut, lalu membawanya ke dalam.


"Siapa, Bi?" Tanya Gita saat asisten rumah tangganya itu masuk dari pintu garasi.


"Kurir, non, anterin paket buat non Gita" katanya dan meletakkan paket itu diatas meja makan.


"Paket? Dari siapa yah ini?" Gita mencari-cari nama pengirimnya.


"Coba di buka aja, Git, siapa tahu ada keterangan tentang pengirimnya" kata Gena. Gita pun membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah mug besar, bertuliskan"Gita My Love".


"So sweet banget sih, ciee.... Gita" Gena tersenyum memainkan alisnya. Gita memandang Gena sebentar, lalu mengalihkan pandangannya melihat isi lainnya dalam paket tersebut.


"Ada surat juga nih" Gita mengambil sebuah amplop dan membuka isinya.


"Dear Gita, saat kamu baca surat ini, berarti kamu sudah menerima paket ini. Kamu pasti bingung, siapa yang kirim ini kan? Kamu gak usah takut, aku gak berniat jahat kok, kalau kamu mau tahu, kamu datang aja sore di taman kota jam empat, aku pakai baju cokelat, kuharap kamu datang menemuiku. Sekian. Your secret admirer".


"Ini orang siapa sih, sok misterius banget, kenapa gak langsung bilang aja gitu namanya" Gita sedikit kesal.


"Perasaan aku gak punya secret admirer deh, atau mungkin akunya aja yang gak nyadar, ada seseorang yang suka aku tapi diam-diam, mengagumi dari jauh" tanya Gita dalam hati.


"Ya udahlah, aku temui dia aja, aku juga pengen tahu siapa dia" pikirnya.


...*****...


Jam empat sore, Gita ke taman kota. Sesuai petunjuk dalam surat itu, dia mencari laki-laki yang memakai baju cokelat.


"Mana sih dia, gak kelihatan batang hidungnya" Gita mencari-cari keberadaannya, namun tidak ketemu juga.


"Mencari aku?" Tanya seseorang yang berdiri di belakang Gita. Gita menoleh ke belakang.


"Jadi, kamu yang kirim paket itu dan tulis surat, meminta aku datang kesini?" Tanya Gita. Laki-laki itu mengangguk.


"Tapi, kamu tahu darimana alamat rumahku? Terus, seingatku kita gak saling kenal deh" Gita bingung., Karena merasa tidak mengenali laki-laki itu sebelumnya.


"Iya, memang kita belum sempat kenalan waktu itu, tapi, kita sempat ngobrol-ngobrol gitu" terangnya.


"Kamu ingat gak, setahun yang lalu kita ketemu di pameran lukisan, kita saling sharing juga masalah lukisan dan kamu juga bilang kalau kamu itu suka melukis" lanjutnya.


"Iya, iya, aku ingat sekarang, kamu mahasiswa kesenian dan itu pameran pertama kamu kan" Gita sudah mengingatnya kembali.


"Oh iya, aku Novri" laki-laki itu memperkenalkan dirinya. Gita menjabat tangannya.


"Tapi, yang bikin aku bingung itu, kamu tahu darimana namaku dan juga alamat rumahku?" Tanya Gita yang masih terlihat bingung.


"Waktu itu aku dalam perjalanan pulang ke rumah, terus gak sengaja tabrakan dengan seseorang, kayaknya orang itu terburu-buru atau gimana, gak tahu juga, terus aku lihat ada dompet yang jatuh, aku buka dan lihat identitasnya, aku lihat foto kamu disitu, jadi, yah... Aku ngirim paket itu deh dan sengaja minta kamu datang kesini, ada yang mau aku sampaikan juga" lanjut Novri.


"Oh iya, ini dompet kamu" Novri memberikan dompet tersebut pada Gita. Entah kenapa hati Gita berdebar-debar saat Novri memegang kedua tangannya.


"Git, memang sih, ini baru dua kali ketemu, termasuk Hari ini, tapi, jujur aja, aku suka sama kamu sejak pertama kali kita bertemu di pameran lukisan itu, aku begitu menyayangimu dengan sepenuh hatiku, aku tahu ini terlalu cepat untuk mengatakan semuanya, tapi, aku gak bisa menahan gejolak dalam hatiku" Novri mengutarakan isi hatinya dan menatap Gita dalam-dalam.


"Duh... Hatiku kok makin deg-degan gini yah, aku harus jawab apa nih, masa iya aku terima, kan aku sama Novri juga belum lama saling mengenal, belum tahu pribadi masing-masing juga" dalam hatinya, Gita bimbang antara menerima Novri atau justru menolaknya.


"Git, gimana, kamu mau gak terima aku jadi pacar kamu?" Tanya Novri, yang menunggu jawaban dari Gita.


"Gini, Nov, aku hargai kejujuran hati kamu, tapi, untuk sekarang aku belum bisa kasi kamu jawaban, kasi aku waktu untuk berpikir" kata Gita.


"Iya, Git, gak apa-apa kok, aku akan menunggu jawaban dari kamu" Novri menerima keputusan Gita dan tersenyum.


"Oh iya, Nov, sorry yah, aku gak bisa lama, soalnya aku ada janji sama teman, aku balik yah dan makasih juga udah temuin dompet aku ini" Gita berpamitan dan beranjak pergi.


"Mau aku antar?" Novri menawarkan diri.


"Gak usah, Nov, makasih sebelumnya, aku balik naik taksi aja, bye, Nov" Gita menolak tawaran Novri dan segera pergi dari hadapannya.


"Gita, di mataku, kamu itu cewek yang istimewa dan ada bagian dari diri kamu yang begitu aku sukai, itulah mengapa aku menyukaimu, kuharap kamu memberi jawaban yang sesuai dengan harapan aku" batin Novri.