Trouble Maker

Trouble Maker
Eps. 11 Musuh



Hari Senin telah tiba, tak ada yang spesial di awal hari ini. Rasya masih sibuk dengan aktivitasnya sendiri begitu juga dengan lelaki yang kini telah tinggal satu atap dengannya, siapa lagi kalau bukan Gerald.


Lelaki itu saat ini masih bersantai ria di dalam selimut tebalnya. Matanya masih tertutup rapat meskipun mentari telah menampakkan dirinya.


Sedangkan Rasya, gadis itu tengah bersiap untuk berangkat ke sekolah.


Sebelumnya ia sudah mencoba membangunkan Gerald di pagi buta agar lelaki itu tak terlambat, namun bukannya bangun Gerald justru semakin mengeratkan pelukannya pada bantal yang berada di dekapannya membuat Si gadis berdecak sebal.


"Hei... bangunlah, apa kau tak ingin berangkat sekolah?" Rasya berucap sambil membuka tirai jendela di samping sofa tempat Gerald tidur.


"Bentar lagi, Bi." Balas Gerald tanpa membuka matanya.


"Yakk... apa kau bilang? Bangun cepat atau aku akan menyeretmu dengan paksa ke kamar mandi." Ancam Rasya dengan kesal memukul tubuh Gerald.


Gerald membuka dengan malas kelopak matanya. Dengan pandangan yang masih remang-remang, ia menatap Rasya kesal.


"Ah gadis penyihir ini lagi," gumamnya malas lalu kembali ke posisinya semula. Tapi dengan segera Rasya langsung menariknya paksa membuat Gerald mau tak mau terbangun dengan kesal.


"Cepat mandi dan berangkat," perintah Rasya dengan tegas.


"Iya bawel." Jawab Gerald malas.


Dengan langkah gontai ia berjalan menuju ke dalam kamar mandi.


10 menit kemudian, ia kembali dengan wajah segarnya.


"Ayo berangkat," ajaknya pada Rasya yang tengah menikmati roti bakarnya dengan segelas susu di tangan.


Rasya menghentikan aktivitasnya sejenak lalu menatap Gerald. "Kau duluan saja, aku pergi dengan temanku." Jawab Rasya santai.


Gerald melangkah mendekati Rasya dengan tatapan kesalnya.


"Hei, bukankah kau tak boleh berangkat ataupun pergi bersama lelaki lain? Kenapa kau sekarang justru ingin pergi ke sekolah dengan teman lelakimu itu." Protes Gerald dengan nada sedikit tinggi.


Rasya hanya melirik nya sambil mengunyah roti bakarnya. Setelah menelan makanannya, ia baru berucap pada Gerald.


"Bukannya kau yang pergi dengan gadis lain? Lagian siapa bilang aku akan pergi dengan laki-laki? Asal kau tahu saja, aku sedang menunggu teman wanitaku," jawabnya seraya menjulurkan lidah.


Gerald nampak salah tingkah mendengar jawaban Rasya, ia mengetuk-ngetuk meja makan untuk mengurangi rasa malunya.


☘☘☘


Sesampainya di sekolah, Rasya langsung mengambil buku komik favoritnya dengan earphone yang selalu menemaninya, ia duduk dengan santai bersandar di dinding pembatas koridor tak memperdulikan kekacauan yang tercipta akibat kehadiran Gerald beserta teman-temannya.


"Hyakkk... apa yang kau lakukan!" Bentak Rasya kesal saat Gerald tanpa permisi mengambil komik yang tengah Rasya baca.


Dengan senyuman mengejeknya, Gerald membalik buku itu membaca cover buku yang menjadi candu bagi Rasya.


"What?? Kau sudah besar tapi menyukai komik seperti ini? Oh ayolah, Sya... apa tak ada bacaan lainnya?" Ejek Gerald, teman-teman Gerald tertawa cukup keras saat Gerald selesai mengucapkan kata-kata itu pada Rasya.


"Cepat kembalikan," desis Rasya menatap tajam empat sekawan yang masih menertawakannya.


"Jika aku tak mau bagaimana?" Tanya Gerald memajukan wajahnya menantang Rasya.


Dengan tatapan tak kalah nyalang, Rasya memajukan wajahnya tepat beberapa senti dari Gerald.


"Kembalikan atau..."


Belum sempat Rasya menyelesaikan ucapannya, seseorang muncul mendekati mereka.


"Maaf, permisi..." ucapnya seraya berjalan di tengah-tengah Rasya dan Gerald.


"Hei kau!" Teriak Gerald kesal.


Lelaki itu menoleh dengan tatapan santainya sembari menunjuk dirinya sendiri. "Aku?" Tanyanya.


"Iya kau! Siapa lagi!" Bentak Gerald mendekat ke arah anak itu.


Lelaki yang ada di hadapannya berdecak sembari menggenggam tas punggungnya yang berada di pundak kirinya.


"Kau tak perlu tau aku siapa," jawabnya santai.


Tatapannya lalu beralih ke arah Rasya yang kini sedang membaca bukunya lagi.


"Hei kamu," sapa lelaki itu berjongkok di hadapan Rasya.


Rasya mendongak, sesaat dirinya mematung namun kemudian ia kembali tersadar.


"Ka-kau?" Tunjuk Rasya dengan wajah yang sangat kaget.


Lelaki di depannya tersenyum manis menatap Rasya, ia mengusap lembut ujung kepala Rasya.


"Apa kabar?" Tanya lelaki itu masih dengan senyuman manisnya.


"Hei, kau siapa sebenarnya!" Gerald menarik paksa kerah bagian belakang Si lelaki tadi dengan amarah yang sudah menguasai dirinya.


Bukannya takut, lelaki itu justru memalingkan wajahnya menatap kembali Rasya yang masih terdiam di posisi semula.


"Nanti juga kau akan tahu," balasnya kemudian melepas paksa tangan Gerald yang ada di kerah bajunya.


Lelaki itu kembali melangkah mendekat ke arah Rasya, sedikit membungkuk menyamakan tingginya dengan Rasya yang tengah terduduk diam. Tangannya terulur mengusap kembali pucuk kepala Rasya dengan penuh kasih sayang.


"See you, jelek..." ucapnya tersenyum manis yang membuat wajah Rasya langsung merona karena ulahnya.


☘☘☘


Gerald Pov


Suara hentakan langkah kaki terdengar semakin mendekat ke pintu ruang kelas dimana aku berada.


Tak berapa lama kulihat pintu terbuka dan terlihat guru IPA memasuki ruang kelas kami. Tapi tunggu dulu, dia tak sendiri saat masuk kemari. Kulihat disana ada seorang anak yang juga berjalan di sampingnya. Siapa dia? Itulah pertanyaan pertama yang langsung terlintas olehku.


Dia menunduk, membuat wajahnya tak jelas saat aku melihatnya. Hingga guru IPA kami menyuruhnya memperkenalkan diri yang mengharuskannya mengangkat kepalanya.


Dengan perlahan Si anak baru itu mendongak dan langsung tersenyum memperlihatkan deretan giginya. Apa-apaan itu. Batinku kesal.


Tunggu dulu... bukankah dia yang tadi pagi? Aku bertanya-tanya dalam hati, sampai ia pun mengeluarkan suaranya.


"Perkenalkan nama Saya Jeffrey Michael Romero, saya pindahan dari London..."


Ohh... jadi namanya Jeffrey... aku mengangguk-anggukan kepalaku tanpa sadar saat mendengar dia memperkenalkan diri.


Tapi tunggu dulu... sedari tadi kulihat dia hanya fokus pada satu pandangan saja dengan senyuman yang terlihat sangat bodoh.


Akupun mengikuti kemana arah ia memandang, mataku membola kala mengetahui siapa yang sedari tadi memandangnya.


Ternyata sedari tadi kalian saling pandang, huh....


Tanpa kusadari aku meremas buku catatan yang ada di mejaku dengan kesal.


"Hei... apa yang kau lakukan," tegur Gio yang menyadarkanku dari sikapku tadi.


Aku pun menoleh masih dengan wajah masamku, "diam..." geramku padanya membuat Gio tak berani berkata lagi.


Kualihkan padanganku kembali pada dua sejoli di depan sana yang masih saling pandang.


"Baiklah Jeffrey, silahkan kamu duduk di bangku yang kosong sebelah Rasya." Perintah Guru IPA membuat darahku lagi-lagi mendidih.


Tanpa mengucap apapun, aku langsung bangkit menyambar tas milikku dan melangkah ke kursi sebelah Rasya. Kulihat semua yang ada di dalam kelas terkejut dengan aksi ku. Ahh masa bodo dengan mereka.


"Apa!" Ketusku menatap keseluruh penjuru kelas membuat mereka semua terdiam sedangkan guru IPA di depan sana hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuanku.