Trouble Maker

Trouble Maker
Bab 38



Gita terlihat sangat bahagia pagi itu saat berangkat menuju sekolahnya. Gena sedari tadi memperhatikannya dan terlihat heran melihat Gita senyum-senyum sendiri.


"Git, aku perhatikan dari tadi, kamu senyum-senyum terus, kayaknya lagi bahagia banget, cerita kali sama aku" ucap Gena.


"Aku senang aja, karena bentar lagi Haikal dan Marni bakalan putus" jawab Gita dengan tersenyum semringah.


"Haah! Yang benar? Kok bisa sih? Emang kamu punya cara jitu gitu, sampai kamu yakin banget kalau Haikal dan Marni bakal putus" Gena bertanya-tanya kebingungan.


"Udah, nanti juga kamu tahu sendiri, pas udah nyampe sekolah" Gita masih merahasiakannya dan membuat Gena kian penasaran.


Sesampainya di sekolah, Gita tidak langsung ke kelasnya, tetapi dia tetap di tempat parkir dan terlihat sedang menunggu seseorang.


"Git, ayo kita masuk, kok malah tinggal disini" ajak Gena dan menarik tangan Gita.


"Bentar, Gen, aku nunggu Haikal, aku tunjukkan sesuatu sama dia dan ini penting" Gita menahan Gena yang ingin melangkah ke kelas. Tak berapa lama kemudian, seseorang yang ditunggunya pun datang.


"Kalian berdua ngapain disini? Kenapa gak langsung masuk ke kelas?" Tanya Haikal.


"Lagi nungguin kamu, ada hal yang ingin Gita tunjukkan sama kamu, katanya penting" celetuk Gena.


"Hal apa yang mau kamu tunjukkan sama aku, Git" Haikal berpaling pada Gita.


"Nih, coba kamu lihat" Gita menyodorkan handphone-nya pada Haikal. Seketika raut wajah Haikal berubah, saat melihat sebuah foto di handphone Gita.


"Ini foto asli atau cuma editan?" Tanya Haikal yang terlihat ragu.


"Asli kok ini, kalau kamu gak percaya dan menganggap aku ini bohong, kamu silahkan tanyakan sendiri sama Marni" kata Gita. Saat itu juga, Haikal beranjak dan bergegas menemui Marni.


"Git, kamu kok bisa dapat foto Marni berduaan dengan cowok itu? Gimana caranya? Terus cowok yang di foto itu siapa?" Gena begitu penasaran.


"Jadi, gini, aku berhasil mencari tahu tentang mantannya Marni dulu waktu di kampung, cowok yang difoto itulah mantannya si Marni itu, aku kerjasama dengan dia untuk bikin Haikal dan Marni putus, aku suruh dia ajak Marni dinner dan minta dia untuk foto berdua semesra mungkin" terang Gita.


"Kamu lihat aja nih, bentar lagi hubungan Haikal dan Marni benar-benar berakhir" Gita terlihat sangat yakin. Haikal menghampiri Marni yang sudah terlebih dulu ada di dalam kelas, setelah melihat foto yang tadi dia lihat di handphone Gita.


"Marni, aku mau ngomong hal yang penting, ikut aku sekarang!" Haikal menarik tangan Marni. Marni menurut, tangannya ditarik oleh Haikal.


"Coba kamu jelaskan, ini apa!" Haikal menunjukkan foto tersebut. Marni benar-benar terkejut, foto itu ada pada Haikal.


"Kok kamu bisa dapat foto ini? Dapat darimana?" Tanya Marni.


"Kamu gak perlu tahu, yang jelas kenapa kamu foto berduaan gini sama cowok lain, bahkan semesra ini, siapa dia?" Terlihat dari raut wajah Haikal, kalau dia benar-benar marah.


"Haikal, kamu jangan salah paham dulu, aku bisa jelaskan semuanya, kamu tenang dulu yah" Marni mencoba menjelaskannya pada Haikal.


"Cowok itu bukan siapa-siapa aku, emang dulu dia itu pacar aku waktu di kampung, lima tahun yang lalu, tapi, sekarang aku udah gak ada hubungan apa-apa lagi" lanjutnya.


"Kalau kamu gak ada hubungan apa-apa lagi, kenapa harus foto berduaan dan mesra seperti ini!" Bentak Haikal.


"Udahlah, aku gak mau dengar apa-apa lagi, aku udah pernah bilang sama kamu, kalau sampai aku dapat kamu sama cowok lain, saat itu juga hubungan kita berakhir dan sekarang malah terjadi! Detik ini juga hubungan kita berakhir sampai disini" Haikal mengakhiri hubungannya dengan Marni dan beranjak pergi dari hadapan Marni.


"Akhirnya hubungan Haikal dan Marni, benar-benar berakhir, aku senang banget lihatnya" Gita tersenyum.


"Ini kesempatan kamu untuk dekati Haikal, siapa tahu dengan adanya kejadian ini, Haikal mau membuka hatinya untuk kamu" Gena memberikan saran.


"Tapi, aku kok gak yakin yah, kalau Haikal mau buka hatinya buat aku, kemungkinannya Haikal gak mau cepat-cepat menjalin hubungan baru lagi" Gita kini terlihat ragu.


"Aku tahu Haikal seperti apa, butuh waktu yang cukup lama untuk mengobati rasa sakit hatinya di khianati" lanjut Gita.


"Paling tidak kamu bisa mengambil hatinya dengan menghibur dia gitu" kata Gena.


"Iya juga sih, Gen, benar kata kamu, akan aku coba" Gita mengangguk.


Haikal tidak pernah menyangka kalau hubungannya akan berakhir secepat ini. Haikal tadinya berharap kalau Marni adalah yang terbaik untuknya. Namun, kenyataannya Marni mengkhianatinya.


"Aku tadinya mengira kalau Marni itu cewek terbaik, tapi, nyatanya dia sama saja dengan cewek lainnya, yang bisa mendua dengan orang lain ketika sudah mulai bosan dengan pasangannya" Haikal benar-benar merasa kecewa pada Marni.


"Haikal, aku tahu kamu sedih, kamu kecewa sudah diduakan, tapi mau gimana lagi, emang seperti itu adanya" Gita datang menghampiri Haikal dan duduk disampingnya.


"Aku juga udah pernah bilang ke kamu, bahwa Marni itu gak sebaik yang kamu kira dan sekarang udah terbukti" lanjut Gita. Haikal tetap terdiam, tanpa menanggapi ucapan Gita.


"Atau gini deh, gimana kalau pulang sekolah nanti kita jalan, aku ada tempat yang pas untuk meluapkan kesedihan, kekecewaan dan kekesalanmu itu, biasanya aku kesitu kalau aku lagi ada masalah, gimana, kamu mau gak" ajak Gita.


"Gita, please, aku lagi pengen sendirian aja, gak mau diganggu, lebih baik kamu pergi, tinggalin aku sendiri" Haikal menoleh pada Gita dan memintanya untuk pergi.


"Tapi, Kal, aku cuma mau bantuin kamu aja kok" ucap Gita.


"Aku bilang pergi, ya pergi!" Haikal bertambah kesal. Gita pun akhirnya pergi dengan perasaan kesal.


"Marni, aku tuh sayang banget sama kamu, tapi, kenapa kamu tega khianati aku kayak gini, apa salahkah sampai kamu mendua kayak gini" ucap Haikal lirih.


"Ihh....! Ngeselin banget si Haikal itu!" Gita menggerutu.


"Kamu kenapa sih, Git, datang-datang marah kayak gitu?" Tanya Gena keheranan.


"Tuh... Haikal ngeselin banget, aku niatnya mau bantuin dia supaya gak larut dalam masalahnya, eh.... Dia malah marah-marah dan nyuruh aku pergi, bikin bete tahu gak" Gita memanyunkan bibirnya.


"Udahlah, Git, gak usah kamu ambil hati dengan ucapan Haikal, dia cuma lagi pusing aja sama masalah yang dia hadapi" ucap Gena.


"Udahlah, Gitu, gak usah kamu pikirkan" lanjut Gena.


Sejak kejadian itu, Haikal selalu memalingkan muka setiap kali berpapasan dengan Marni dimana saja. Di kantin, di perpustakaan di gerbang sekolah. Tiap kali Marni menyapa Haikal, Haikal selalu cuek dan tidak menanggapinya sedikitpun. Tapi, hari itu, Haikal tidak bisa menghindari Marni, karena Marni menahannya.


"Haikal, kamu tuh kenapa sih, kamu menghindar terus dari aku?" Tanya Marni.


"Kamu masih bertanya kenapa! Setelah apa yang kamu lakukan" Haikal menatap Marni tajam.