
Hari berganti bulan, dan kini bulan sudah berganti tahun. Tak terasa perjodohan Rasya dan Gerald sudah hampir mendekat. Kurang satu tahun lagi setelah kelulusan mereka, maka pernikahan antara Rasya dan Gerald akan digelar. Tak tanggung-tanggung pernikahan mereka direncanakan akan digelar di kota Swiss, dan tamunya pun tak sembarang orang. Hanya pejabat, rekan kerja orang tua keduanya dan juga teman-teman Rasya dan Gerald.
☘☘☘
Rasya menghela napasnya pelan, saat ini ia sedang berada di kantin. Duduk sendirian dengan earphone serta jus alpukat yang menemani waktu sendirinya. Ia menunduk mengaduk tanpa selera menatap gelas di meja di hadapannya itu. Tatapannya kosong, tak ada senyum atau pun rona bahagia dari wajah gadis itu. Pertemuan keluarganya dan keluarga Gerald minggu lalu sungguh benar-benar membuat semangat hidupnya menghilang entah kemana.
Ia menghela napas lagi sebelum akhirnya seseorang duduk di kursi yang berhadapan dengan nya. Membuat fokusnya teralihkan untuk melihat sosok yang tiba-tiba muncul tanpa permisi itu.
Rasya menatap kosong ke arah pemuda di hadapannya sedangkan pemuda yang duduk berseberangan dengannya saat ini justru tengah tersenyum simpul padanya. Gadis itu lalu menarik earphone yang menyumpal telinganya dan menaruhnya di meja samping minumannya.
"Semuanya udah berakhir," lirihnya dengan suara yang sangat menyayat hati.
Sosok pemuda di hadapannya lalu berdiri, ia bergeser duduk disamping Rasya. Tanpa mengucap sepatah kata pun pemuda itu langsung merengkuh tubuh Rasya ke dekapannya.
Rasya tak menolak pelukan pria itu, ia justru menyandarkan kepalanya di dada bidang pria di hadapannya saat ini.
Dengan pelan si pria menepuk-nepuk bahu Rasya mencoba menenangkan gadis yang saat ini tengah rapuh.
"Menangislah, Sya... aku ada disini untukmu. Jangan takut, ada aku yang akan selalu menemanimu." Ucap pria itu tulus.
Rasya tak menjawab, ia justru diam terisak di dada lelaki yang mendekapnya.
"Sudah... jangan menangis lagi, mana Rasya yang aku kenal. Aku tahu kamu itu gadis tangguh, ngga mungkin masalah kecil kayak gini bisa ngehancurin kamu." Ujarnya namun Rasya masih saja bungkam.
"Wohooo... ada yang tengah bermain drama di kantin, guys..." tiba-tiba saja Gerald muncul di tengah-tengah mereka mengejutkan sepasang muda-mudi yang sedang duduk di meja kantin.
Gerald mengangkat kaki kanannya dan menaruhnya di kursi tempat Rasya. Dengan tatapan penuh amarahnya, dia menatap Rasya dan lelaki yang masih setia mendekap calon istrinya itu.
"Hei lepaskan pelukanmu itu, apa kau tak sadar jika ini masih di area sekolah!" Bentak Gerald dengan mata yang terlihat seperti ingin keluar dari tempatnya.
Dengan kasar Rasya melepaskan diri dan menatap tajam ke arah Gerald tanpa mengeluarkan kata sedikit pun.
"Apa?" Tantang Gerald sembari mengangkat dagunya. Tatapannya dan tatapan Rasya saling beradu tak ada tatapan manis ataupun lembut, yang ada hanya tatapan kebencian dan amarah yang ditunjukkan oleh keduanya.
"Apa? Mau ngomong apa?" Tantangnya lagi. Tanpa ia sadari, di bawah sana tangan kanan Rasya mengepal begitu kuat menahan amarah yang kapan saja bisa meledak seperti bom atom.
"Hei kau, tidak bisakah kau baik pada wanita, huh?" Tanya lelaki yang sedari tadi diam menatap kedua orang di hadapannya itu.
Gerald menoleh dan menampilkan smirk nya. "Kau itu cuma pengganggu," desisnya.
Si lelaki tetap tenang tak ingin terbawa suasana, ia tetap berusaha menguasai dirinya sendiri agar tak terpancing emosi. Ia justru tersenyum hangat menepuk bahu Gerald.
"Kau tak perlu takut, jika dia memang jodohmu tanpa aku rebut pun dia pasti akan berlabuh padamu. Tapi sebaliknya, jika dia bukan jodohmu mau sekuat apapun kamu menjaganya, dia tetap akan lari dan pergi darimu boy. Bukankah seperti itu rumus cinta? Jadi untuk apa kau takut?" Si lelaki berucap seraya menepuk bahu Gerald pelan dengan nada yang begitu santai.
"Gerald!" Bentak Rasya dengan tatapan dingin menatap Gerald yang tengah bernapas naik turun akibat emosi yang meluap-luap.
Rasya langsung menghampiri lelaki yang saat ini tengah terbatuk kesakitan karena bantingan dari Gerald, dengan hati-hati ia membantu lelaki itu berdiri.
"Dasar lemah," ejek Gerald tanpa menatap ke arah Rasya dan lelaki yang ditolongnya.
"A-aku ngga papa, Sya." Ucap lelaki itu kalau Rasya menatapnya dengan tatapan penuh kekhawatiran.
Tanpa mereka semua duga, Rasya langsung menghampiri Gerald setelah ia mendudukan lelaki tadi. Dengan tatapan dingin serta rahang yang mengeras ia mendekat ke arah Gerald yang tengah menatapnya tak kalah datar.
Satu tamparan mendarat di pipi kiri Gerald namun dirinya tak bergeming, ia masih menatap Rasya dengan datar.
"Kau pecundang!"
"Kau payah!"
"Dasar pengacau!"
"Kenapa kau selalu mengusik hidupku!"
"Kenapa aku harus bertemu dengan monster sepertimu!"
Seperti itulah curahan hati Rasya, ia berkata dengan buliran air mata yang membanjiri pipinya, pukulan-pukulan kecil ia daratkan di dada bidang Gerald seolah melampiaskan kekesalan yang selama ini ia pendam.
Gerald tak menangkis tak juga melawan, ia tetap diam mematung meski Rasya terus menerus memukulinya.
Seluruh penghuni kantin sedari tadi menyaksikan pertengkaran yang terjadi disana. Tak ada yang berani ikut campur karena takut akan terkena imbas dari pertengkaran yang terjadi saat ini.
"Pergilah," satu kata meluncur dari mulut Gerald dengan suara datar.
Rasya menghentikan pukulannya, dia menatap Gerald lekat tak mengerti apa yang dimaksud oleh pria di hadapannya itu.
Dengan perlahan tangan Gerald terulur mengusap perlahan pipi Rasya yang masih basah terkena air mata.
Pandangan mereka bertemu, kini tatapan Gerald tak lagi dingin tanpa ekspresi. Gerald menatap Rasya dengan senyum hangat seiring tatapannya yang semakin melembut.
"Pergilah jika kamu merasa terbebani akan semua ini, menyerahlah jika memang kamu tak mampu. Aku tak ingin karenaku kamu menjadi terbebani. Jangan menyakiti dirimu, jika memang perlu biar aku saja yang tersakiti, biar aku saja yang menahan perihnya sebuah perpisahan tanpa adanya pertemuan. Biar aku saja yang diam meratap keheningan tanpa adanya bintang. Aku tak ingin kamu terluka ataupun terbebani. Aku siap terluka, tapi aku tak siap jika harus melihatmu terluka apalagi penyebab luka itu adalah aku, orang yang dipercayakan untuk menjaga kamu. Pergilah, Sya... cari kebahagiaanmu sendiri. Tapi ingat, kembalilah padaku jika kau tak menemukan kebahagiaanmu nanti. Aku tetap siap menunggumu, Sya... ingatlah itu, aku ada untukmu..."
Semua terdiam mendengar penuturan Gerald tak terkecuali Rasya. Gadis itu bungkam bak kehilangan semua kata-kata. Seorang Gerald yang terkenal sebagai biang onar, baru saja melontarkan kata-kata termanis mungkin jika penggemarnya yang mendengarnya mereka akan jatuh pingsan karena perlakuan Gerald barusan. Sekali lagi, Gerald mengusap pipi Rasya lembut menghapus cairan bening yang masih terlihat disana. Dengan senyuman manis yang tak pudar dari wajahnya.