Trouble Maker

Trouble Maker
Bab 41



Pukul 7:20, Haikal dan Marni sampai di sekolah.


"Syukurlah kita sampai tepat pada waktunya, ayo, cepat, bentar lagi bel masuk berbunyi" Haikal menarik tangan Marni, berlari masuk menuju ke kelas. Haikal dan Marni merasa heran melihat tatapan para siswa dan siswi. Mereka menatap keduanya, seperti membenci mereka


"Kalian semua kenapa sih, tatap aku sama Marni kayak gitu?" Tanya Haikal.


"Ada yang habis senang-senang nih semalam, main berapa ronde kalian" celetuk salah satu siswa.


"Aku gak nyangka, kalau Marni cewek yang bisa digituin, semalam tarifnya berapa nih" yang lain ikut menyahut.


"Woy! Kalian jangan sembarang ngomong yah" Haikal pun marah dibuatnya.


"Kita gak sembarang ngomong, tuh lihat di mading sana" katanya, menunjuk kearah mading sekolah.


"Tampang aja alim, kelakuannya liat juga" sindirnya. Haikal dan Marni segera melihatnya di mading. Mereka sangat terkejut melihat foto-foto mesum mereka berdua.


"Ini siapa yang foto dan tempel di mading sih!" Haikal terlihat kesal dan langsung mencabut foto-foto yang ditempel, lalu membuangnya ke tempat sampah.


"Haikal, Marni, ke ruangan saya sekarang!" Kepala sekolah menghampiri keduanya dan memintanya ikut ke ruangan kepala sekolah. Kepala sekolah memandangi Haikal dan Marni bergantian.


"Kalian berdua ini benar-benar bikin malu, saya gak percaya kalau ternyata begini perbuatan kalian di luar sana" mata kepala sekolah melotot, saking marahnya.


"Bu, kita berdua gak tahu sama sekali, kenapa itu bisa terjadi, seolah kejadiannya cepat banget, pas kita berdua bangun, kita udah dalam keadaan tanpa pakaian" Haikal mencoba memberikan penjelasan.


"Ini pasti ada yang sengaja menjebak aku dan Marni, Bu" kata Haikal dengan begitu yakin.


"Iya, Bu, apa yang dikatakan Haikal itu semuanya sesuai dengan kenyataannya dan aku juga yakin, kalau ada seseorang yang tidak suka dengan kita berdua, lalu menjebak kita dengan cara seperti ini" Marni menimpali.


"Sudah, saya gak mau dengar alasan apapun dan foto itu sudah cukup, untuk menjadi bukti" katanya dengan tegas.


"Ibu benar-benar kecewa dengan kalian berdua!" Kepala sekolah menggelengkan kepalanya.


"Haikal, saya tahu ayah kamu itu teman dekat ibu, tapi, jangan kamu pikir, ibu akan mentolerir perbuatan kamu ini dan tidak memberimu sanksi, ibu akan bertindak tegas pada siapapun yang berbuat hal yang mencoreng nama baik sekolah" pandangan kepala seolah tajam pada Haikal. Lalu, berpaling pada Marni.


"Marni, kamu itu sekolah disini karena beasiswa yang ibu berikan ke kamu. Ibu tidak menyangka kamu jadi anak yang liar begini. Kamu memang murid terbaik di sekolah ini, tapi, dengan adanya kejadian ini, kamu telah mempermalukan kita semua yang ada di sekolah ini".


"Sesuai dengan konsekuensinya, terpaksa kalian berdua, ibu keluarkan dari sekolah ini secara tidak hormat dan mulai hari ini juga, kalian bukan lagi siswa dan siswi di sekolah ini!" Kepala sekolah telah mengambil keputusan untuk mengeluarkan Haikal dan Marni.


"Bu, ini bukan sepenuhnya kesalahan kita berdua, kita dijebak, Bu, tolong kasi kita kesempatan untuk buktikan kalau semua ini tidak benar" Haikal mencoba membujuk, agar memberinya kesempatan untuk mencari kebenarannya.


"Sudah! Saya tidak mau lagi mendengarkan apapun, sekarang harap kalian berdua keluar dari ruangan saya" kepala sekolah meminta Haikal dan Marni, untuk segera keluar dari ruangan.


"Haikal, Marni, apa kata kepala sekolah?" Tanya Dito, saya keduanya keluar dari ruangan kepala sekolah.


"Aku sama Marni dikeluarkan dari sekolah, padahal aku udah minta kesempatan untuk membuktikan kebenarannya, tapi, kepala sekolah tetap pada pendiriannya" terang Haikal.


"Makasih sebelumnya, Dit, kamu benar-benar sahabat terbaikku, tapi, sebaiknya gak usah deh, toh gak akan merubah semuanya" Haikal menepuk pundak Dito dan beranjak pergi dari hadapannya.


"Gak sia-sia aku bayar orang mahal-mahal buat menjebak Haikal dan Marni dan membuat mereka dikeluarkan dari sekolah ini" dalam hatinya, Gita benar-benar merasa sangat puas.


...*****...


Selang tiga Minggu setelah kejadian yang menggemparkan seantero sekolah, pengumuman kelulusan para siswa dan siswi di tempel di mading sekolah.


"Anak-anak sekalian, ibu minta perhatiannya sebentar" para siswa dan siswi menoleh dan mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh kepala sekolah.


"Saya selalu kepala sekolah turut bangga dengan kalian semua. Tahun ini presentase kelulusan naik menjadi 99%, saya ucapkan selamat untuk kalian semua yang lulus. Sesuai dengan janji, ibu akan memberikan hadiah bagi siswa atau siswi yang lulus dengan nilai terbaik, yaitu tiket berlibur ke Bali satu hari dua malam dan yang terbaik adalah Brigitta Valencia!" Kepala sekolah mengumumkan satu nama yang dinobatkan sebagai siswi terbaik. Seluruh siswa maupun siswi tepuk tangan dan turut bahagia dengan terpilihnya Gita sebagai siswi terbaik.


"Ibu ucapkan selamat untuk kamu, ibu bangga sama kamu" kepala sekolah menyalami Gita dan langsung memberikan hadiah yang dijanjikan pada Gita.


"Terima kasih, Bu, aku juga bangga dengan dirimu sendiri, dengan pencapaian aku ini" Gita tersenyum semringah, menjabat tangan kepala sekolah.


"Selamat yah, Git, kamu berhasil jadi siswi terbaik, aku bangga punya sahabat yang cerdas seperti kamu" Gena tersenyum bahagia.


"Makasih yah, Gen" Gita merangkul Gena.


"Aku bakal kesepian nih gak ada kamu, kamu kan pergi liburan" Gena merengut.


"Gen, aku boring juga kalau liburan sendirian, maka dari itu, aku booking satu tiket lagi untuk kamu, kita liburan bareng di Bali" kata Gita dan menunjukkan tiket yang sudah dibookingnya pada Gena. Mendengar hal itu, raut wajah Gena berubah ceria.


"Git, makasih banget yah, aku senang banget loh, bisa merasakan liburan juga" Gena tersenyum bahagia


Keesokan harinya, Gita dan Gena pun berangkat menuju bandara dengan menggunakan taksi yang sudah menunggunya. Semua keperluan yang mereka butuhkan selama di Bali nanti, sudah dimasukkan kedalam ransel.


"Gen, kamu ngapain bawa-bawa boneka kayak gitu?" Tanya Gita.


"Ini boneka kesayangan aku, Git, aku gak bisa tidur, kalau gak peluk boneka ini, makanya aku bawa boneka ini juga" terang Gena.


"Aduh!" Gita terkejut karena tiba-tiba ada seseorang yang menabraknya.


"Mas, kalau jalan itu lihat-lihat dong!" Gita kesal pada seseorang tersebut.


"Saya minta maaf yah, saya gak sengaja" katanya.


"Oh iya, sekalian mau nanya, pintu kedatangan dimana yah?" Tanyanya pada Gita.


"Mas lurus aja kesana, kira-kira dua ratus meter, pintu kedatangan ada disebelah kiri" terang Gita.


"Makasih yah, sekali lagi saya minta maaf" katanya sambil menyentuh pundak Gita dan juga Gena. Entah kenapa, saat pria itu menyentuh pundak Gita dan Gena, keduanya seperti terhipnotis dan mengikuti setiap perkataannya dan mengikuti semua yang diinginkannya. Pria itu berhasil mendapatkan dompet, handphone, serta tiket pesawat milik keduanya dan pria itu langsung beranjak pergi dari hadapan Gita dan Gena yang masih berdiri mematung.