Trouble Maker

Trouble Maker
Bab 55



Dikamarnya, Hanun seperti sedang merencanakan sesuatu, untuk menyingkirkan Gita dan juga Hilsa dari rumah ini, agar bisa menguasai semua harta yang dimiliki oleh kakaknya tersebut.


"Aku harus menyingkirkan si anak pungut itu dan juga anak sambung mas Yanto dari rumah ini, aku gak rela kalau mereka berdua yang menikmatinya, sementara aku menderita selama beberapa tahun ini" batin Hanun. Hanun mondar mandir di dalam kamar, sambil memikirkan rencana yang jitu. Namun, sebelum rencananya itu matang, ada sesuatu hal yang terjadi, yang menguntungkan bagi dirinya. Namun, terasa sangat menyedihkan juga baginya. Hanun mendapatkan kabar kalau taksi yang ditumpangi Yanto bersama Riana, mengalami kecelakaan saat di perjalanan dari bandara menuju kembali ke rumahnya. Kedua penumpang serta supir taksi tidak bisa diselamatkan dan mereka dinyatakan meninggal. Gita dan Hilsa menangis histeris saat mendengar kabar tersebut. Baru saja merasakan kebahagiaan karena memiliki keluarga yang utuh lagi, kini harus hidup tanpa orang tua.


"Ayah, ibu, kenapa kalian pergi begitu cepat, andai aku tahu kalau ini bakal terjadi, aku gak akan biarkan kalian pergi" Hilsa menangis tersedu-sedu. Gita hanya terdiam dan larut dalam kesedihannya.


...*****...


Banyak orang yang turut hadir dan mengiringi Yanto serta Riana menuju ke tempat peristirahatan mereka yang terakhir. Mulai dari keluarga, teman-teman terdekat Yanto dan Riana, beberapa teman kuliah Gita dan Hilsa.


"Hilsa, Gita, kalian yang sabar yah, kalian jangan lupa senantiasa mendoakan kedua orang tua kalian, agar mendapatkan tempat terindah disisi-NYA" salah satu teman Yanto mendekat dan menguatkan Hilsa serta Gita. Keduanya mengangguk. Diantara semua yang hadir dalam pemakaman itu, cuma Hanun saja yang tampak senang, karena dia merasa inilah kesempatannya untuk mengusir Gita dan Hilsa dari rumahnya itu.


Setelah semuanya selesai dan para pelayat yang berdatangan, satu persatu pergi dan pulang ke rumah masing-masing. Gita dan Hilsa juga beranjak pulang ke rumahnya, diantar oleh Novri.


Setengah jam kemudian, mereka sampai dirumah. Namun, mereka terkejut saat melihat barang-barangnya berada di teras rumah. Gita dan Hilsa segera turun menghampiri dan mempertanyakan perihal barang-barangnya yang ada di teras.


"Tante, ini kenapa barang aku dan Hilsa ada diluar, ada apa ini?" Tanya Gita yang terlihat bingung.


"Kalian berdua bawa barang-barang kalian dan segera pergi dari rumah ini" kata Hanun.


"Tante kok usir kita berdua, Tante gak ada hak untuk usir kita berdua dari rumah ini, harusnya Tante yang pergi dari rumah ini, bukannya kami! Dasar gak tahu diri!" Gita memelototi Hanun.


"Heh! Asal kamu tahu aja, kamu itu cuma anak pungut yah, kamu bukan anak kandung mas Yanto. Kamu hanya dirawat dan dibesarkan saja, membiayai kamu dari kecil sampai sekarang ini, karena ibu kandung kamu tidak sanggup biayain kamu saat itu dan akhirnya dia memutuskan untuk buang kamu di jalanan" Hanun mengungkap rahasia yang sudah tersimpan selama bertahun-tahun.


"Udah, kalian buruan pergi deh, aku males lihat muka kalian lagi" Hanun memberi isyarat agar keduanya segera pergi dari rumah itu.


"Gita dan Hilsa ini lagi berduka, Tante, orang tuanya baru aja dikebumikan, malah diusir dari rumah ini, dasar gak punya hati" Novri marah dengan sikap Hanun terhadap Gita dan Hilsa.


"Diam kamu! Ini bukan urusan kamu! Lebih baik kamu jangan ikut campur" Hanun mengarahkan telunjuknya pada Novri.


"Udah, Git, Sa, kita pergi aja dari sini, biarin aja dia nikmati rumah ini, suatu saat dia pasti akan dapat karma atas perbuatannya hari ini" Novri menatap Hanun dengan pandangan marah dan membantu keduanya memasukkan barang-barangnya ke dalam mobil, lalu beranjak pergi dari rumah itu. Hanun tersenyum bahagia, karena telah berhasil mengusir Gita dan Hilsa. Dengan begitu, Hanun berhasil menguasai rumah milik Yanto itu.


Setelah diusir oleh tantenya itu, Gita sekarang bingung mau tinggal dimana. Dia tidak punya siapa-siapa lagi, selain Hilsa, adik sambungnya.


"Kamu itu cuma anak pungut, bukan anak kandung!". Gita terngiang kembali dengan perkataan Hanun tadi.


"Aku bukan anak kandung ayah Yanto dan ibu Tina? Aku cuma anak pungut, lantas siapa orang tua kandung aku? Kenapa mereka tega membuang aku di jalanan dan membiarkanku dirawat oleh orang lain" Gita bertanya-tanya dalam hatinya.


"Aku gak tahu lagi, mau tinggal dimana sekarang, aku udah gak punya siapa-siapa lagi" kata Gita dengan raut wajah sedih.


"Kak Gita, jangan ngomong gitu, kan masih ada aku, kita akan selalu bersama apapun yang terjadi" Hilsa menyela.


"Terus sekarang tujuan kalian ini kemana? Biar aku anterin" tanya Novri.


"Nov, aku mau minta tolong, antar aku untuk ketemu Marni, aku mau minta maaf sama dia, selama ini aku punya banyak salah sama dia, aku udah berbuat yang buruk terhadapnya" pinta Gita. Novri agak terkejut dengan permintaan Gita itu.


"Tumben nih Gita kayak gini, ada angin apa ini?" Tanyanya dalam hati.


"Aku gak salah dengar nih, Git, kamu mau minta maaf sama Marni?" Tanya Novri, yang seolah ragu. Gita mengangguk, untuk menegaskan kalau dia benar-benar serius dengan ucapannya.


"Aku sekarang baru menyadari, kalau aku udah banyak menyakiti orang dan apa yang aku alami sekarang ini adalah karma atas perbuatan aku sendiri" Gita menyesali perbuatannya selama ini.


"Syukurlah, Git, kalau kamu sudah sadar sekarang dan mau mengakui kalau apa yang kamu lakukan itu salah" Novri tampaknya senang, Gita mau berubah jadi lebih baik.


"Aku salut sama perubahan sikap kamu ini, yang dulunya bersikap angkuh dan semena-mena sama orang lain, kini, bisa lebih rendah hati dan menghargai orang lain, semoga ini bisa jadi awal hidup kamu yang baru lagi, belum terlambat kok, Git, untuk kamu memperbaiki semuanya dan memulai dari awal lagi" lanjut Novri.


"Iya, Nov, aku juga selama ini belajar banyak dari Hilsa dan Hilsa yang selalu mengajariku untuk senantiasa berbuat baik" Gita menoleh ke arah Hilsa.


"kak Gita bisa aja, aku cuma sekedar memberitahukan aja, selebihnya kan kak Gita yang melakukan, jadi, kak Gita melakukan itu semua dengan usaha dari kak Gita sendiri, aku cuma berusaha memberitahu yang baik menurut aku" kata Hilsa.


"oke, aku sekarang udah percaya sepenuhnya sama kamu, sekarang aku akan turuti permintaan kamu dan mengantar kamu untuk bertemu dengan Marni" Novri langsung bergegas menuju ke rumah Marni.