Trouble Maker

Trouble Maker
Bab 57



Butuh waktu sekitar setengah jam untuk sampai di tempat yang dimaksud.


"Nov, sekali lagi aku ucapkan terima kasih, kamu udah bersedia bantuin aku dan Hilsa, kita berdua merasa terbantu banget dengan adanya kamu" Gita tersenyum.


"Iya, Git, sama-sama, aku juga senang bisa membantu" kata Novri.


"Ya udah, aku balik yah, kalau misalkan butuh bantuan, jangan sungkan untuk hubungi aku, aku pasti bakal bantuin, okey, see you, girls!" Mobil Novri beranjak pergi dari hadapan Gita dan Hilsa.


"Eh... Gita! Ngapain disini? Terus bawa tas gede kayak gini?" Tanya seseorang yang menghampirinya.


"Gena! Udah lama gak ketemu. Ini, Gen, aku baru aja diusir sama Tante Hanun, aku udah gak punya tempat tinggal lagi, terus aku kesini mau nyari ibu kandung aku, Andini namanya" terang Gita.


"Andini? Dia kan yang semalam di booking sama om Mike, apa Andini itu yang dicari Gita?" Gena bertanya dalam hatinya. Gena merogoh kantong celananya dan mengeluarkan selembar foto, lalu menunjukkannya pada Gita.


"Yang ini bukan orangnya, Git?" Tanyanya, untuk memastikan.


"Iya, Gen, benar ini orangnya, dia ibu kandung aku" Gita membenarkan.


"Ibu kandung Gjta ternyata wanita panggilan, bikin malu aja deh Gita ini punya ibu yang kerja seperti itu, aku gak mau lagi deh temenan sama dia, apa kata orang nanti kalau aku berteman sama anak dari seorang ibu yang bekerja sebagai wanita panggilan, apalagi Gita sekarang udah jatuh miskin dan bakal nyusahin aku" Gena sepertinya sudah tidak ingin berteman lagi dengan Gita dan berniat untuk jauh-jauh darinya.


"Kamu tahu kan, Gen, dimana ibuku?" Tanya Gita.


"Gak tahu, Git, udah yah aku buru-buru" Gena langsung pergi begitu saja dari hadapan Gita. Gita tampak heran dengan sikap Gena. Gita melihat ada yang berubah dari sahabatnya itu.


"Kak, kok kak Gena sikapnya gitu yah, kayak ada yang beda dari sikapnya dia" kata Gita.


"Iya, Sa, aku merasa seperti itu, gak kayak biasanya" Gita membenarkan ucapan Hilsa. Namun, Gita mengesampingkan gak itu dan fokus dengan tujuan utamanya, bertemu dengan ibunya. Gita dan Hilsa melangkah masuk ke tempat tersebut.


"Maaf, kalian berdua mau ngapain yah?" Tanya seseorang yang mencegat keduanya.


"Mas, aku mau nyari seseorang, katanya dia kerja disini, ini fotonya" terang Gita dan menunjukkan sebuah foto. Pria itu mengerutkan dahinya dan seperti berpikir. Selang beberapa saat, dia menjawabnya.


"Saya tahu wanita ini, dia emang disini tiap malam, tapi, dia tidak kerja disini, dia cuma menunggu pelanggannya itu disini" jelasnya. Gita tampak bingung dengan ucapan pria dihadapannya. Pria itu membisikkan sesuatu pada Gita, untuk memperjelasnya. Gita benar-benar terkejut mendengarnya.


"Apa itu benar, mas?" Tanya Gita, yang seolah masih belum percaya. Pria itu mengangguk, untuk menegaskannya.


"Aku boleh tahu alamat kost-nya gak, aku perlu banget ketemu dia" pinta Gita. Pria itu menunjukkan arah ke kost yang ditinggali Andini. Gita pun berpamitan, lalu beranjak pergi. Gita dan juga Hilsa jalan beriringan menuju ke tempat yang dimaksud. Dalam hatinya, jantung Gita terasa berdebar-debar. Ini adalah kali pertamanya dia bertemu lagi dengan Andini, setelah terakhir kali mereka bertemu tiga tahun yang lalu, saat kelulusan SMP. Tapi, saat itu dia belum mengetahui kalau Andini itu ibu kandungnya.


"Ibu, anakmu datang menemuimu, aku sangat rindu padamu, ibu" rintih Gita dalam hati. Selang dua puluh menit kemudian, mereka berdua sampai dan berhenti di depan rumah berwarna merah.


"Kak, benar ini tempatnya?" Tanya Hilsa.


"Kalau menurut petunjuk dari mas yang tadi, harusnya yang ini sih tempatnya, Sa" kata Gita.


"Maaf, adik-adik ini, mau cari siapa? Atau mau nge-kost?" Tanya seseorang yang menghampiri keduanya karena melihat mereka seperti kebingungan.


"Ini, pak, kita berdua lagi nyari seseorang, katanya dia nge-kost disini" jawab Gita.


"Oh... Gitu, kalau boleh tahu, namanya siapa?" Tanyanya lagi.


"Andini, pak" kata Gita singkat.


"Oh... Dia, iya, memang benar dia kost disini, kalian langsung naik aja di lantai dua, kamar keempat sebelah kiri" jawabnya. Setelah mendapat izin, mereka berdua langsung masuk dan segera menemui Andini. Gita hendak mengetuk pintu kamar yang dimaksud. Namun, Gita mendengar suara wanita mendesah dan sesekali terdengar suara laki-laki. Gita mengira-ngira apa yang sedang terjadi dalam kamar itu. Gita pasang telinga baik-baik, mendengarnya dengan sejelas-jelasnya. Gita makin yakin kalau di dalam sedang ada aktivitas hubungan intim sepasang pria dan wanita. Setelah suara itu tidak ada lagi, baru Gita akan mengetuk pintunya. Namun, sebelum dia mengetuk pintunya, terdengar suara anak kunci di putar dari dalam dan pintu pun terbuka. Seorang pria yang membuka pintu, terkejut melihat Gita dan Hilsa yang berdiri depan pintu, lalu segera pergi tanpa berkata apa-apa. Dugaan Gita memang benar. Dia melihat Andini tanpa sehelai benangpun, tengah berbaring di tempat tidurnya, mengatur nafasnya sambil memejamkan mata sejenak. Gita mengetuk pelan pintu kamar. Andini membuka mata perlahan. Seketika Andini menarik selimut di depannya, untuk menutupi tubuhnya, saat melihat Gita berdiri di depan pintu.


"Sejak kapan kamu disitu?" Tanya Andini, yang terlihat panik.


"Dari tadi" jawab Gita singkat. Andini segera mengenakan piyamanya kembali.


"Kamu tahu darimana, kalau aku tinggal disini? Terus apa pula tujuan kamu kesini?" Andini bertanya-tanya.


"Aku diberitahu sama salah satu orang yang bekerja di Zona dan tujuanku datang kemari untuk menemui ibu, aku kangen sama ibu" terang Gita dengan mata berkaca-kaca. Andini yang mendengar hal itu, seketika meneteskan air matanya. Namun, Andini sudah bertekad untuk menyerahkan Gita sepenuhnha pada Yanto serta Tina dan tidak akan mengingatnya lagi. Karena, semakin dia mengingatnya, bayangan masa lalu yang kelam itu muncul kembali.


"Ternyata, kamu sudah mengetahuinya" kata Andini dengan sikap dingin.


"Bu, boleh kan, aku tinggal bareng ibu disini, aku udah gak punya siapa-siapa lagi, selain ibu" pinta Gita dengan wajah memelas.


"Ayah Yanto dan ibu Tina udah meninggal, tante Yeni juga sekarang udah menetap di Australia sejak menikah dan tante Hanun malah usir aku dan adik sambung aku ini dari rumah dan menguasainya" lanjut Gita. Andini miris mendengar cerita anak kandungnya itu, namun, sepertinya dia tetap pada pendiriannya.


"Maaf, Gita, ibu tidak bisa terima kamu untuk tinggal disini, ibu hanya ingin hidup sendiri saja, tanpa ada siapapun, termasuk kamu!" kata Andini dengan tegas