Trouble Maker

Trouble Maker
Bab 32



"Git, Gen, kok kalian malah ngomong kayak gitu sih ke ibu Dea, ini kan emang baju kamu, kenapa kamu malah bilang ini baju yang aku bawa dari rumah, kalian kok berbohong sama ibu Dea" Marni menatap Gita dan Gena, dengan pandangan bertanya-tanya.


"Kita berdua sengaja, supaya ibu Dea marah dan mencap kamu sebagai siswi yang berperilaku buruk dan liar" jawab Gita.


"Lagipula, rencana kita sebenarnya adalah kita sebar foto kamu di sekolah dengan pakaian kamu yang seperti sekarang ini dan biar gempar satu sekolah, tapi, karena kita ketemu dengan ibu Dea secara tidak sengaja, itu sih malah lebih bagus" Gena menambahkan.


"Kamu ternyata tidak berubah, Git, selalu saja membuat masalah, aku gak nyangka kalian tega berbuat seperti ini sama aku" Marni meneteskan air matanya dan segera beranjak pergi. Gita dan Gena tertawa melihatnya dan seolah tidak peduli pada Marni. Yang terpenting bagi mereka, mereka puas telah berhasil menjalankan rencananya itu dengan baik


"Udah ah, kita balik, biarin aja tuh si gadis kampung itu pulang sendirian, itu juga kalau dia tahu jalan pulang" Gita tersenyum.


Pasca kejadian memalukan yang dialaminya di mall kemarin, teman-teman sekelasnya bahkan satu sekolah memandang Marni dengan pandangan benci padanya. Ada yang berbisik-bisik saat Marni lewat, ada juga yang memelototinya. Marni bingung melihat perubahan yang begitu singkat. Padahal di hari kemarin, tidak seperti ini.


"Nah... Ini dia nih, si maling" salah satu siswa angkat bicara.


"Mar, nanggung banget kalau sedikit yang kamu curi, sekalian aja kamu curi emas atau apa gitu, kalau barang receh gitu sih, gak ada artinya" celetuk yang lainnya.


"Maksud kalian ini apa sih! Bilang aku maling segala lagi!" Marni kesal mendengar ucapan kedua siswa itu.


"Udah deh, Mar, gak usah kamu tutupi, kita tahu apa yang terjadi kemarin di swalayan yang di mall itu, mana pake baju yang seksi banget lagi, mau jual diri yah, dasar cewek murahan!" Katanya dengan ucapan yang lebih pedas lagi, yang membuat Marni meluap amarahnya dan secara refleks menampar siswa dihadapannya tersebut.


"Jaga ucapan kamu yah!" Marni mengarahkan telunjuknya kearah wajahnya.


"Kalau kamu bukan cewek udah aku hajar kamu" siswa itu menggeram sambil mengepalkan tangannya.


"Udah, bro, tinggalin aja, kalau dia marah gitu, malah semakin menunjukkan kalau apa yang kamu bilang itu benar" celetuk teman disampingnya dan langsung beranjak pergi dari hadapan Marni. Wajah Marni memerah, saking marahnya dia. Marni yakin, kalau Gita dan Gena yang sudah menyebarkan itu semua, sehingga dia dihina seperti tadi. Marni segera bergegas ke kelas dan menemui Gita serta Gena. Marni memukul meja Gita dan membuat Gita kaget, menoleh kearah Marni.


"Apa-apaan kamu, Marni! Datang-datang langsung mukul meja, mau nyari masalah!" Gita menatap Marni tajam.


"Apa maksud kamu menyebar berita seperti itu! Kamu yang jebak aku, kamu juga yang menyebar berita bohong itu di seantero sekolah!" Marni memelototi Gita.


"Berita bohong apa! Barang buktinya jelas-jelas ada dalam tas kamu dan ditemukan sama satpam swalayan itu, apa itu semua bohong! Terus waktu pesta perpisahan SMP dirumah aku, ayah aku temukan jam tangan miliknya dalam tas kamu dan dilihat oleh teman-teman kita semua, apa itu bohong juga!" Gita berbalik marah dan tolak pinggang. Teman-teman sekelasnya mengerumuni keduanya dan salah satu diantara mereka mencoba untuk melerai.


"Kamu gak usah ikut campur, ini urusan aku sama si cewek kampung ini, mundur!" Gita menunjuk kearahnya dan memintanya untuk mundur. Marni dan Gita saling tatap-tatapan tanpa berbicara. Secara refleks Marni langsung menyerang Gita, karena sudah tidak tahan dengan sikap Gita. Marni menjambak rambut Gita. Gita membalas menjambak rambut Marni. Mereka berdua bergumul dan terlibat perkelahian. Teman-temannya tidak tinggal diam dan langsung maju untuk memisahkan keduanya.


"Apa kamu, cewek kampung!" Mata Gita melotot kearah Marni. Wali kelas mereka datang dan segera menghampiri, melihat anak muridnya berkelahi dalam kelas.


"Sudah, hentikan! Marni! Gita!" Teriak Dea. Akhirnya keduanya pun berhenti dan semua murid kembali ke tempat duduknya masing-masing.


"Kalian berdua ada masalah apa! Sampai berkelahi dalam kelas, mau jadi jagoan!" Bentak Dea, sambil memukul meja.


"Si Marni yang nyerang duluan, Bu, jadi ya udah, aku ladeni dia, masa iya aku tinggal diam" Gita membela diri.


"Iya, Bu, benar, Marni yang duluan nyerang Gita, aku saksinya, Bu" Gena menimpali.


"Gita yang duluan, Bu, dia nyebar berita tentang kejadian kemarin ke semua murid disini, padahal belum tentu aku yang lakukan, karena barang itu semua tiba-tiba aja ada dalam tas aku, aku pasti dijebak sama Gita dan Gena" Marni pun membela dirinya dan menuding Gita serta Gena.


"Gak usah nuduh deh, kamu, ngomong seenaknya aja, emang kamu ada buktinya, kalau aku sama Gena yang lakukan!" Bantah Gita.


"Tahu nih si Marni, jangan fitnah kamu!" Gena ikut membantahnya.


"Sudah...! Kalian bertiga diam!" Dea kembali memukul meja, agar Gita, Gena dan Marni berhenti bertengkar.


"Ibu tidak tahu siapa yang salah, siapa yang benar dan ibu juga tidak lihat kejadian itu, cuma ibu benar-benar malu kemarin, saat melihat Marni berpakaian seperti wanita panggilan saat ke mall kemarin bersama Gita dan Gena" Dea angkat bicara.


"Ibu tidak menyangka, kalau murid selugu Marni ini bisa berbuat liar dan memalukan seperti kemarin" Dea menggelengkan kepala, seolah tidak percaya.


"Bu, ibu percaya sama aku, aku dijebak sama mereka berdua, baju itu punya Gita, aku pinjam ke dia kemarin, aku udah sempat bilang ke dia dan minta baju yang lain, cuma Gita bilang kalau itu bagus dan aku harus terbiasa memakai pakaian itu" terang Marni.


"Udah deh, Marni, kalau salah mah salah aja, gak usah orang lain dijadikan kambing hitam" Gena menyela. Marni hanya menatapnya sekilas, lalu memalingkan pandangannya.


"Kalau kamu bisa buktikan, baru ibu akan percaya sama kamu, tapi, kalau tidak, ibu anggap semua yang ibu lihat sesuai dengan kenyataannya" kata Dea dengan tegas.


"Sudah, jangan ada lagi yang bahas masalah ini dan ibu gak mau lihat kalian bertengkar lagi karena masalah ini! Sekarang kalian duduk tenang, karena sebentar lagi guru yang mengajar akan masuk kelas, selamat pagi!" Dea beranjak meninggalkan kelas. Melihat Marni dimarahi oleh wali kelasnya, Gita tampak begitu senang, karena rencana yang telah disusunnya berhasil dan berjalan sesuai dengan yang dia inginkan.


"Rasain kamu cewek kampung, setidaknya reputasi kamu di mata ibu Dea sudah jelek, aku senang pokoknya" batin Gita. Gena melihat raut wajah Gita yang tampak senang rencananya itu berhasil dan dia pun ikut tersenyum. Gena selalu setia mengikuti kemanapun Gita pergi, melakukan apapun yang dikatakannya, dan tidak pernah sekalipun dia menolak permintaan sahabatnya sejak SMP itu, sekalipun itu perbuatan yang tidak baik dan membuat orang lain menderita.