Trouble Maker

Trouble Maker
Eps. 2 Biang Onar



Setelah keluarga Miko pergi, Alex langsung berjalan menuju kamar Rasya. Ia mengetuk pintu kamar Rasya beberapa kali hingga akhirnya Rasya keluar dengan wajah yang ditekuk.


Alex tersenyum menatap wajah putri kesayangannya itu, ia kemudian mengacak gemas rambut Rasya yang dikuncir dengan asal.


"Anak Papa kok lucu banget sih mukanya," goda Alex seraya mencubit kedua pipi Rasya membuat Sang anak memekik sebal.


"Ish, Papa apaan sih. Aku kan bukan anak kecil lagi, jadi jangan kayak gitu deh." Protes Rasya dengan bibir yang ia majukan.


Alex tertawa menanggapi celotehan anak semata wayangnya sebelum akhirnya ia membuka suaranya lagi, "bolehkah Papa berbicara dengan Princess Papa ini? Sebentar saja," pinta Alex dengan wajah memohon. Jika orang lain yang melihatnya, mereka pasti akan sangat terpesona dengan wajah Alex sekarang yang terlihat sangat imut, tapi tidak dengan Rasya, dia sudah tak mempan dengan wajah Sang ayah saat ini yang terlihat seperti Om-om yang sedang merayu seorang anak kecil.


"Ihh... Papa, ini wajahnya jangan kayak gitu udah ngga pantes sama umur Papa." Omel Rasya dengan memukul pelan lengan Ayahnya.


Alex tersenyum menanggapi omelan Rasya, ia lalu merengkuh tubuh kecil Sang anak ke dalam pelukannya. Ia mengelus pelan punggung Sang anak memberi kenyamanan disana.


"Dengerin ya anak Papa yang paling cantik... Papa jodohin kamu sama Gerald itu karena Papa tahu dia adalah lelaki yang cocok untuk menjaga kamu sebelum Papa ninggalin kamu, umur orang kan ngga ada yang tahu, Sayang. Emangnya kamu mau Papa pergi dengan beban pikiran karena anak kesayangan Papa belum ketemu sama jodohnya." Terang Alex yang membuat Rasya merenggangkan pelukannya dan langsung menatap wajah Sang ayah dengan sebelah alis yang terangkat.


"Papa ngomong apa sih, belum apa-apa udah ngomongin umur aja, ish... Papa tuh masih muda mana mungkin Papa ninggalin Rasya secepet itu. Lagian Rasya kan masih sekolah, Pa... mana mungkin Rasya nikah muda, Papa mah tega." Keluh Rasya dengan wajah yang ditekuk.


Alex langsung membawa Rasya kembali dalam dekapannya lalu menepuk-nepuk pelan bahu Rasya, "dengerin ya Sayang. Namanya juga hidup ngga tau kapan akan pergi, jadi kita harus jaga-jaga sebelum nyesel." Ujar Alex lagi.


"Terserah lah, Papa mau ngomong apa. Rasya cape mau tidur." Rasya langsung melepas dekapan Sang ayah dan langsung menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal bergambar kartun berwarna kuning.


Alex menggeleng-gelengkan kepalanya dengan sudut bibir yang terangkat melihat kelakuan Sang anak semata wayangnya itu. Perlahan ia mendekatkan diri pada Rasya lalu mengulurkan tangan kanannya mencoba meraih ujung selimut yang tengah Rasya gunakan untuk menutupi wajahnya. Namun belum sempat Alex menarik selimut itu, Rasya sudah lebih dulu menepis tangan Sang ayah membuat Alex gemas dibuatnya.


"Sayang," panggil Alex seraya menyentuh ujung kepala Rasya yang tak tertutupi selimut, tapi Rasya langsung menepis sentuhan Ayahnya itu dan langsung berbalik memunggungi Ayahnya.


Alex mengembuskan napasnya perlahan, percuma jika aku terus memaksanya. Batinnya berucap.


"Baiklah, Papa pergi dulu ya. Kamu istirahat yang cukup. Good night my little princess."


Usai mengucapkan itu, Alex langsung bangkit dan berjalan menuju pintu. Tanpa ia sadari, sebenarnya sedari tadi Rasya tengah mengintipnya saat Alex membalikkan badannya menjauh dari Rasya. "Good night too, Pa." Gumam Rasya sebelum ia pergi ke alam mimpi.


☘☘☘


Keesokan paginya seperti biasa Rasya bangun tepat waktu. Ia langsung bergegas menuju kamar mandi pribadinya. Setelah 20 menit berkutat di dalam kamar mandi, akhirnya Rasya keluar dengan berpakaian seragam lengkap. Sebelum turun menuju meja makan, ia memastikan dandanannya kembali di depan meja rias nya. Dirasa cukup, ia pun segera turun menemui Sang ayah yang sudah berada di meja makan dengan pakaian formalnya.


Saat ini Alex tak menyadari kedatangan Rasya yang sudah duduk manis di kursi sebelah kanannya karena Alex tengah membaca koran harian dengan fokus.


Hingga akhirnya deheman Sang anak membuatnya mendongak dan menatap wajah Rasya yang sedang memangku dagunya dengan kedua tangan.


"Papa masih lama baca korannya?" Tanya Rasya memastikan. Alex menggeleng kemudian ia melepas kacamata bacanya dan kembali menatap anaknya.


"Engga, Sayang. Yuk sarapan," ajak Alex.


Rasya mengangguk kemudian bangkit meraih piring makanan Sang ayah lalu menuangkan nasi beserta lauk pauk ke dalam piring tersebut.


"Papa mau minum kopi, susu, jus atau air putih aja?" Tawar Rasya menatap Alex.


"Air putih aja. Kamu duduk biar Bibi aja yang ngambilin minumannya," titah Alex membuat Rasya mendengus sebal.


"Apa bedanya sih Bibi sama aku, sama-sama perempuan juga." Ia mendengus seraya menjatuhkan tubuhnya di kursi.


Alex terkekeh melihat kelakuan Sang anak yang terlihat menggemaskan itu sebelum akhirnya ia berucap kembali.


"Beda lah, kamu anak Papa. Bibi disini kan buat bantu-bantu, kalo ada Bibi ngapain juga Papa mesti nyuruh kamu." Kata Alex menjelaskan pada Sang anak yang tengah merajuk dengan kedua tangan dilipat di depan dada.


"Sama aja." Kekeuh Rasya.


Di tempat lain, seorang anak lelaki masih setia memejamkan matanya. Ia tak perduli akan cahaya yang masuk lewat celah-celah tirai kamarnya. Ia justru semakin mengeratkan pelukannya pada guling yang sedari tadi berada dalam dekapannya.


Good morning Mr. Perfect... good morning Mr. Perfect... time to wake up Boy...


Begitulah kira-kira bunyi alarm yang berasal dari ponselnya yang berada di atas nakas samping tempat tidurnya. Sudah sekitar empat kali alarm itu berbunyi, namun Sang pemilik kamar masih enggan membuka matanya.


Tanpa ia ketahui, di luar kamarnya sudah ada ketiga sahabatnya yang tengah mengendap-endap hendak masuk ke dalam ruangan pribadi Si pria yang tengah tertidur. Berbekal kunci cadangan yang mereka minta pada Asisten Rumah Tangga pemilik rumah tersebut, mereka berhasil membuka kamar sahabatnya yang masih setia di alam mimpi.


"Kau ambil air yang sudah kita siapkan, dan kau cepat buka bungkus tepung itu, biar nanti aku yang melemparkan telur busuk ini ke wajahnya." Perintah salah seorang dari ketiga teman lelaki itu.


"Satu... dua..." mereka menghitung menggunakan jari tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.


"Tiga..." ucap mereka bersamaan lalu melemparkan benda yang berada di tangan mereka membuat lelaki yang tengah tertidur langsung terduduk di ranjangnya dengan wajah bingungnya akibat terkejut dengan perlakuan tiba-tiba ketiga temannya.


"Aish... apa ini, ah kalian mengganggu tidurku saja." Keluh pria itu mengacak rambut pendeknya sedangkan ketiga sahabatnya hanya tertawa terbahak-bahak menyaksikan tampang temannya yang mirip dengan adonan kue.


"Haha... mukamu, Rald... sungguh sangat berantakan sekali," ejek salah satu teman Gerald yang bernama Jun. Ia tertawa sambil memegangi perutnya yang terasa sakit akibat tertawa terlalu keras.


Gerald hanya menatap ketiga sahabatnya yang tengah tertawa di hadapannya dengan tatapan sinis nya.


"Sudah?" Tanya Gerald datar membuat ketiga temannya itu langsung diam dengan kepala yang menunduk.


Tanpa berkata lagi, Gerald langsung bangkit dari tempat tidurnya lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Tepat sebelum ia masuk ke kamar mandi, ia menghentikan langkahnya sejenak tanpa menoleh sedikit pun ia berkata pada ketiga sahabatnya, "bersihkan kekacauan ini dalam lima menit atau kalian akan tahu akibatnya." Perintahnya.


Ketiga temannya langsung berlarian kesana kemari merapikan kamar Gerald sebelum Gerald menyelesaikan ritual mandinya.


Sepuluh menit berlalu, akhirnya Gerald keluar dengan wajah segarnya. Ia mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru kamarnya.


"Cukup bagus," monolognya.


"Kemana tiga serangkai itu?" Ia bertanya pada dirinya sendiri.


Gerald lalu berjalan menuju kaca yang terletak tak jauh dari pintu kamar mandi, kemudian menyisir rambutnya asal.


Setelah itu, ia langsung keluar dan berjalan menuju garasi tempat dimana mobil sport merah kesayangannya berada.


"Let's go..."


Ia lalu melajukan mobilnya menuju ke sekolah diikuti oleh teman-temannya.


☘☘☘


Sesampainya di sekolah, seluruh penghuni disana melihat ke-empat pria itu dengan tatapan kagumnya.


Satu-persatu dari mereka keluar dari mobil masing-masing dengan gaya coolnya yang mengundang teriakan histeris dari para penggemar mereka.


"Oppa saranghae..."


"Jun sayang, jadilah kekasihku..."


"Gerald milikku, Gerald milikku..."


"Hei... itu Revan... lihatlah wajah tampannya yang tak terkalahkan oleh siapapun... dia benar-benar sempurna,"


"Gio... hai..."


Seperti itulah teriakan para gadis yang dilewati oleh Gerald dan ketiga temannya. Pemandangan seperti itu sudah menjadi rutinitas pagi di sekolah mereka jika melihat Gerald dan geng nya, para gadis pasti akan berteriak histeris melihat mereka meskipun Gerald dan yang lainnya tetap tak menggubris teriakan-teriakan para gadis itu.


Rasya yang berada di lantai atas pun terasa terganggu dengan teriakan siswi di sekolahnya, ia lalu berjalan ke tepi koridor dan melihat ke bawah mencari penyebab dari kegaduhan yang membuatnya terganggu.


"Ah lagi-lagi mereka." Ucapnya sebal.


Ia lalu melanjutkan aktivitasnya yang tertunda sesaat. Dengan beralaskan lantai koridor yang dingin, ia duduk dengan santai sambil menyenderkan punggungnya di pembatas koridor. Ia memasang headphone miliknya yang tersambung ke ponsel berwarna gold dan memutar playlist lagu favorit untuk menemaninya membaca komik.


Saat tengah asyik membaca, tiba-tiba saja ada yang menaruh uang satu lembar tepat di atas roknya. Rasya yang tengah duduk bersila pun mengangkat kepalanya melihat siapa pelaku yang mengusiknya. Ia langsung melepas headphone nya dengan sebal.


"Apa maksudmu?" Tanya Rasya kesal.


Si pelaku mengangkat sebelah sudut bibirnya ke atas. "Untukmu, aku kasihan padamu yang duduk disitu." Ujar orang itu diiringi smirk di wajahnya.


"Kau menghinaku?" Rasya menatap nyalang orang yang tengah berdiri di depannya namun yang ditatap hanya mengendikan bahunya acuh.


"Siapa yang menghinamu, aku hanya kasihan padamu. Kau duduk disitu tanpa ada yang mengasihanimu, beruntungnya kau kuberi satu lembar uang saku milikku. Lalu apa salahnya aku?" Ujar Gerald tanpa rasa takut sedikit pun.


"Kau...." Tunjuk Rasya tepat di wajah Gerald dengan geram ia bangkit berdiri menatap sengit lawan bicaranya yang saat ini bersikap biasa-biasa saja seolah tak terjadi apa-apa.