Trouble Maker

Trouble Maker
Eps. 8 Kejutan



"Selamat siang," sapa orang diambang pintu dengan senyum mengembang.


Gerald mengangguk dengan wajah tak mengerti.


"Ini Tuan, saya mengantarkan pesanan atas nama Rasya Eurika Lee." Ujar seorang lelaki yang mengenakan jaket berwarna merah.


Senyum Gerald langsung mengembang begitu mendengar ucapan orang di hadapannya. Dengan segera ia meraih kotak makanan yang sedari tadi disodorkan oleh pengantar makanan.


"Oh iya, terima kasih. Tunggu sebentar ya." Gerald langsung berlari menuju meja depan televisi dan meraih dompetnya mengambil beberapa uang lembaran. Rasya hanya melirik nya acuh saat Gerald tengah sibuk dengan kegiatannya itu.


Beberapa menit kemudian Gerald kembali berdiri di depan pintu dan menyerahkan uang yang tadi ia ambil kepada pengantar makanan di depannya.


"Ini, ambillah kembaliannya. Oiya, sini biar aku tanda tangani sekalian tanda terimanya agar kau tak harus menunggu." Cerocos Gerald panjang lebar.


Si pengantar makanan hanya tersenyum kaku menanggapi tingkah aneh orang di hadapannya. Apakah dia sehat? Batinnya.


Usai menandatangani tanda terima, Gerald langsung menutup pintu apartemen tanpa mengucapkan apa-apa. Dengan kotak makanan yang ada di tangannya ia berjalan dengan wajah berbinar menghampiri Rasya yang tak menanggapi tiap gerak-geriknya.


"Na... na... na... aku punya makanan lezat... na... na... na..." Ledek Gerald sembari membuka kotak makanan yang saat ini berada di atas meja.


"Na... na... na... baunya sangat menggoda," godanya lagi.


Rasya hanya memanyunkan bibirnya sambil merubah posisinya menjadi terduduk di sofa.


"Bagi aku juga," pinta Rasya dengan manja sambil menarik-narik baju belakang Gerald.


"Sepertinya aku mendengar ada sayup-sayup suara yang melintas di telingaku. Apa kau juga mendengarnya kotak?" Tanya Gerald pada kotak makanan di hadapannya seolah-olah Rasya tak ada di belakangnya.


"Jahat," sindir Rasya sambil kakinya menendang-nendang udara seperti anak kecil yang tidak diberikan mainan yang ia mau.


Dengan kesal Rasya berdiri meninggalkan Gerald yang tengah tertawa puas dalam hati.


Lima belas menit Gerald menunggu Rasya keluar dari dalam kamar, namun sepertinya tak ada tanda-tanda dari gadis itu akan muncul di hadapannya. Gerald pun akhirnya mengambil inisiatif untuk menghampiri Rasya di kamarnya.


Sebelum masuk, ia mengetuk pintu terlebih dahulu. Tapi Rasya tak menjawab, dia pun lalu masuk dan mendapati Rasya yang tengah mendengarkan musik menggunakan earphone.


"Pantas saja senyap, rupanya sedang asyik sendiri." Gumamnya.


Ia lalu melangkah mendekati Rasya dengan makanan yang sudah ia siapkan di atas piring. Dengan perlahan ia membawa nampan berisi makanan dan minuman untuk Rasya.


"Hei," panggilnya sesaat setelah meletakkan nampan itu di atas nakas samping tempat tidur.


"Ah iya, dia kan tak mendengarnya. Bodohnya aku." Gerald langsung memukul dahinya karena sikap bodohnya itu.


Ia kemudian merangkak naik mendekati Rasya yang tengah memejamkan mata.


Saat wajahnya tepat di depan Rasya, tiba-tiba aksinya terhenti karena tiba-tiba saja jantungnya berdetak begitu cepat. Gerald diam sesaat sembari memegangi jantungnya yang tiba-tiba berulah. Apa ini? Kenapa jantungku seperti ini? Apa jantungku demam? Pertanyaan itu terus saja terlintas di otaknya. Hingga tanpa tiba-tiba saja Rasya menggeliat kecil dalam tidurnya.


"Ternyata dia cantik," tanpa sadar Gerald memuji ciptaan Tuhan yang ada di hadapannya saat ini.


Cukup lama ia memandangi wajah damai Rasya, hingga akhirnya kelopak mata Rasya pun terbuka membuat Gerald langsung salah tingkah dan refleks menjauhkan tubuhnya.


Rasya memicingkan matanya menatap Gerald yang terlihat aneh.


"Hyakk... sedang apa kau disini?" Teriak Rasya ketika menyadari Gerald berada di ranjang yang sama dengan dirinya, hingga tanpa sadar ia langsung menendang tubuh Gerald membuat lelaki itu jatuh terduduk di lantai.


"Eh... maaf aku tak sengaja," Rasya langsung menghampiri Gerald yang masih terduduk di lantai kamar. Ia merasa bersalah karena menendang lelaki itu sampai jatuh dari ranjang membuat Gerald kesakitan karena dirinya.


"Kau benar-benar jahat," omel Gerald seraya bangkit berdiri.


"Maaf," lirih Rasya seraya meraih tangan Gerald, namun Gerald langsung menepis sentuhan Rasya dengan kasar.


"Minggir, aku mau keluar." Ucap Gerald datar.


Rasya merasa bersalah akibat perlakuannya tadi, hendak mencegah Gerald tapi gengsinya terlalu tinggi hingga ia membiarkan Gerald pergi begitu saja meninggalkan kamar mereka.


"Dasar lelaki sensitif," Rasya menggumam seraya kembali bersandar di head board kasurnya. Saat ia hendak meraih ponsel yang diletakkan di atas nakas, tanpa sengaja matanya menangkap makanan yang tertata rapi di nakas itu.


"Apa dia kemari untuk ini?" Rasya bertanya dalam hati seraya meraih nampan yang ada di atas nakas.


Memandangi sejenak makanan yang tersaji disana dan juga minuman yang masih hangat. Tiba-tiba muncul rasa bersalah dalam benaknya. Tak seharusnya aku melakukan hal tadi. Sesalnya dalam hati.


Rasya lalu meletakkan kembali nampan itu di tempat semula, ia beranjak keluar kamar mencari keberadaan Gerald.


Butuh waktu 10 menit hingga ia bisa menemukan Gerald yang tengah menyelam di kolam renang pribadi mereka.


Sudut bibir Rasya melengkung ke atas melihat lelaki di hadapannya tak menyadari kehadiran dirinya. Ia kemudian beranjak menuju dapur membuatkan satu gelas jus jeruk untuk Gerald.


Lima menit kemudian, ia kembali ke tepi kolam renang. Rasya berjongkok meletakkan minuman buatannya setelah itu ia kembali berdiri dengan nampan merah yang masih ada dalam dekapannya. Rasya mengamati tiap gerakan yang Gerald lakukan, hingga tanpa sadar ia melamun memperhatikan lelaki yang dijodohkan dengannya itu.


"Sedang apa kau disini?" Pertanyaan Gerald langsung membuat Rasya tersadar dari lamunannya. Ia tersenyum malu sembari berpura-pura merapikan anak rambutnya yang sedikit berantakan.


"A-ah ini, aku buatkan ini untukmu," balas Rasya gugup menunjuk satu gelas jus yang ia letakkan di pinggir kolam renang.


Gerald menatap gadis di hadapannya dengan tatapan datar dengan mata memicing, ia masih kesal dengan sikap gadis itu yang menendangnya hingga terpental jatuh ke lantai.


Tanpa sepatah kata pun ia menyambar minuman di depannya dalam sekali tegukan. Rasya yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya takjub. Haus apa doyan? Batinnya.


Setelah minumannya habis, Gerald lalu membalikkan badannya memunggungi Rasya, ia kembali melanjutkan aktivitas berenangnya lagi.


☘☘☘


Hawaii


Miko, Alex, dan Nadia kini sudah berada di Hawaii. Dengan wajah bahagia mereka mengelilingi kota itu tanpa pengawalan dari bodyguard.


Tujuan mereka kemari bukan karena urusan bisnis, melainkan untuk berlibur.


"Aku merasa seperti menjadi muda kembali," kata Alex yang saat ini tengah menikmati waktunya berjemur di pinggir pantai dengan mengenakan kacamata hitamnya.


"Ini sungguh menyenangkan bukan?" Tanya Miko yang tengah memeluk Sang istri dengan mesra.


Alex menoleh ke arah dua temannya dan mendengus sebal," hei kalian. Apa kalian tidak bisa memesan kamar saja. Kalian tak kasihan padaku huh," kesal Alex yang mengundang kekehan dari kedua orang disampingnya itu.


"Makanya carilah bule Hawaii, kencani dan bawa pulang sebagai oleh-oleh untuk Rasya." Canda Miko yang dihadiahi pukulan manja di dadanya oleh Sang istri.


Sedangkan Alex hanya mengerucutkan bibirnya menanggapi candaan sahabatnya itu.


"Kalian jahat," rajuknya sembari menyilangkan kedua lengan tangannya.