
Hari ini Davi dan Yeni memutuskan untuk berangkat ke Sidney. Davi ingin memboyong Yeni dan mengajaknya tinggal disana. Selain untuk bulan madu, Davi juga harus mengurus bisnisnya disana.
"Mas, mbak, kita berdua pamit sekarang yah, soalnya dia jam lagi pesawat kita take off, Insya Allah, lebaran nanti kita akan kesini lagi" Davi berpamitan pada Yanto dan Tina.
"Jaga diri kalian baik-baik yah" kata Yanto.
"Yaah....! Rumah bakal sepi gak ada tante Yeni, gak ada teman buat hangout lagi" Gita merengut.
"Gita sayang, kamu jangan sedih gitu dong, walaupun kita berjauhan, kan masih bisa video call, kamu bisa hubungi tante kapanpun kamu mau" Yeni mengelus lembut kepala Gita.
"Kamu harus janji sama tante, kamu harus sekolah yang benar dan bikin ayah sama ibu bangga, oke!" Yeni berpesan pada Gita. Gita menganggukkan kepala dan langsung memeluk Yeni. Setelah memasukkan semua barang bawaannya, mereka pun berangkat menuju bandara, menggunakan taksi yang sudah menunggu mereka.
...*****...
Gita merasa makin hari, Haikal makin sulit ditemui. Di sekolah, Haikal sibuk mengerjakan tugas kelompok dan mengikuti kegiatan OSIS. Dirumahnya pun, Haikal juga tidak ada. Dia sibuk latihan basket untuk persiapan turnamen antar sekolah yang akan diselenggarakan bulan depan. Bahkan sudah seminggu belakangan ini, Gita tidak lagi berangkat bareng Haikal ke sekolah.
"Loh... Git, tumben pakai mobil lagi, emang kamu gak bareng Haikal lagi?" Tanya Tina.
"Gak, Bu, Haikal sekarang susah ditemui, di sekolah maupun dirumahnya, jadinya, aku berangkat sendirian" jawab Gita dengan wajah cemberut.
"Gita sayang, kamu jangan gitu dong, mungkin aja Haikal banyak kegiatan dan gak bisa selalu ada waktu untuk kamu, kamu harus pahami itu, sayang" kata Tina.
"Tapi, ini udah seminggu, Bu! Masa iya sehari aja gak ada waktu sih, dia udah ingkari komitmen yang dia bikin sendiri!" Gita kesal.
"Kamu jangan marah-marah gitu, saran ibu, kamu bicarakan baik-baik sama Haikal, jangan seperti ini, masalah gak akan selesai kalau gak dibicarakan" Tina memberi saran. Gita mengangguk. Setelah berpamitan dan salim pada ibunya, Gita pun berangkat menuju ke sekolahnya. Gita sekarang merasa ada jarak antara dirinya dan Haikal. Gita tidak tahu pasti, apa penyebabnya, sehingga Haikal seperti ingin menghindarinya. Seketika pandangan Gita terarah pada dua orang yang berboncengan dan Gita amat terkejut, ternyata mereka adalah Haikal dan Marni, yang berhenti saat lampu merah, tidak jauh dari mobilnya. Gita menurunkan kaca mobilnya dan langsung saja memanggil Haikal.
"Haikal!" Gita memanggilnya. Haikal menoleh dan terkejut bertemu Gita di jalan. Haikal langsung pergi, menyalip ke sela-sela mobil.
"Haikal! Tunggu!" Gita berteriak-teriak memanggil Haikal. Gita memukul stir mobilnya karena kesal. "Jadi, itu alasannya kenapa Haikal susah ditemui dan gak lagi jemput aku, bahkan udah gak punya waktu buat aku, semua ini gara-gara Marni, awas kamu, Marni, berani-beraninya dia merebut semua perhatian Haikal, aku akan bikin perhitungan sama kamu" Gita mengepalkan tangannya, saking marahnya dia.
Sesampainya Gita di sekolah, dia langsung menghampiri Marni di kelasnya. Masih ada rasa marah yang tersimpan dihatinya. Gita langsung saja menarik tangan Marni dan menyeretnya keluar dari kelas. Teman-teman Marni ikut keluar dari kelas. Marni terkejut, karena Gita tiba-tiba menariknya keluar dan membuat lututnya terbentur meja.
"Git, kamu kenapa sih, narik-narik aku kayak gitu" Marni bingung dengan tindakan Gita barusan.
"Kamu rebut Haikal dari aku! Kamu sengaja cari masalah sama aku!" Gita menatap Marni dengan tatapan tajam.
"Jadi, kamu jangan berpikiran, kalau aku akan merebut Haikal dari kamu, karena aku gak akan lakukan itu" lanjut Marni.
"Lantas tadi, kamu boncengan sama Haikal, maksudnya apa coba! Itu yang kamu bilang gak ada niat untuk rebut Haikal!" Gita memelototi Marni.
"Soal itu, aku gak sengaja ketemu Haikal di jalan, waktu aku lagi nungguin angkot, terus dia nawarin tumpangan, ya udah aku terima tawaran Haikal dan bareng dia deh ke sekolah, aku juga gak nyangka kalau bakal ketemu kamu di jalan" jelas Marni. Gita seolah tidak terima dengan alasan Marni dan langsung mendorong badan Marni hingga menempel ke dinding kelas. Salah satu teman Marni mencoba untuk melerai.
"Kamu gak usah ikut campur, ini urusan aku dan dia!" Cegah Gita. Marni pun memberi isyarat padanya untuk mundur, agar masalahnya tidak bertambah.
"Kamu dengar baik-baik, aku minta kamu jauhi Haikal, aku gak mau tahu apapun alasannya, yang jelasnya aku gak mau lihat kamu dekat-dekat lagi sama Haikal, kalau sampai aku lihat kamu dekat-dekat sama Haikal, bahkan jalan berdua dengan Haikal, awas aja, aku akan berbuat yang lebih dari ini" ancam Gita dan mengarahkan telunjuknya kearah wajah Marni. Haikal melihat ada keramaian di depan kelasnya dan disana ada Gita juga. Haikal segera berlari menghampiri, karena Haikal takut Gita berbuat onar di kelasnya.
"Gita, stop! Apa-apaan ini!" Haikal datang melerai. Teman-temannya yang sedari tadi ada disitu, merasa lega karena akhirnya dilerai oleh Haikal.
"Kamu gak apa-apa kan?" Tanya Haikal pada Marni.
"Git, apa yang kamu lakukan? Ini sekolah, bukan di jalanan! Berbuat onar depan kelas aku lagi!" Haikal marah pada Gita.
"Kalian masuk ke kelas, Gita biar aku yang urus" pinta Haikal pada teman-temannya. Mereka menurut dan masuk kembali ke kelas. Haikal menarik tangan Gita menjauh dari kelasnya.
"Git, mau kamu tuh apa sih! Mau sok jagoan di sekolah ini! Apa kamu gak capek bikin onar terus di sekolah dan selalu saja Marni yang kamu jadikan target untuk kamu tindas! Apa salahnya Marni sama kamu, sampai kamu lakukan ini ke dia!" Haikal memelototi Gita.
"Abisnya dia berani-beraninya dekati kamu, kamu kan pacar aku, jelaslah aku cemburu lihat kamu bonceng cewek lain, jadi, gak salah dong kalau aku berbuat gitu" Gita membela diri.
"Lagian kamu, belakangan ini sulit banget ditemui, di sekolah ataupun dirumah gak bisa aku temui kamu dan kamu juga gak pernah lagi jemput aku dirumah" lanjut Gita.
"Kamu kan tahu, aku punya banyak kegiatan, mulai kegiatan OSiS, kerja kelompok, terus latihan basket juga, jadi, kamu ngerti dong, lagian aku juga gak ada kewajiban untuk prioritaskan kamu, harap kamu bisa mengerti, jadi, maaf kalau aku gak punya waktu buat kamu" jelas Haikal. Haikal terdiam dan seolah berpikir, apakah dia harus tetap melanjutkan hubungannya dengan Gita atau memilih untuk mengakhirinya, agar dia fokus dengan tugas-tugasnya sebagai ketua OSIS.
"Atau gini aja deh, mending kita akhiri hubungan kita ini, aku merasa hubungan kita ini udah gak sehat, kamunya juga terlalu over protektif dan selalu harus ikuti kemauan kamu, tanpa bisa mengerti keadaan orang lain, detik ini juga kita putus!" Haikal pun mengambil keputusan, untuk mengakhiri hubungannya dengan Gita, yang baru berjalan dua bulan itu.
"Haikal, please jangan putusin aku, kasi aku kesempatan, aku janji gak akan over protektif dan akan lebih ngertiin kamu" Gita mencoba membujuk, agar Haikal mau mengubah keputusannya itu.
"Maaf, Git, keputusan aku udah bulat, udah yah, kita gak ada hubungan apa-apa lagi, udah kamu masuk kelas sana, bentar lagi bel masuk berbunyi" Haikal tetap pada keputusannya itu dan langsung beranjak pergi dari hadapan Gita. Gita menghentak-hentakkan kakinya dan seolah tidak terima dengan keputusan Haikal itu.