Trouble Maker

Trouble Maker
Bab 58



"Maaf, Tante, bukannya aku mau ikut campur masalah ini, cuma aku berharap Tante mau mengubah keputusan Tante itu, kasihan Gita, cuma Tante keluarga Gita satu-satunya yang tersisa" Hilsa menyela.


"Apa Tante tidak kasihan, kalau Gita luntang lantung di jalanan, apa Tante tega membuang anak kandung Tante sendiri, coba pikirkan baik-baik, Tante, jangan sampai Tante menyesal dengan keputusan Tante ini" Hilsa mencoba menyadarkan Andini. Hatinya seolah teriris saat Hilsa berkata seperti itu padanya. Di tengah ketiganya sedang mengobrol, datang lagi seseorang, yang mendengar dengan jelas, pembicaraan mereka bertiga.


"Jadi, kamu pernah punya anak, Din? Terus sekarang mau kamu buang lagi?" Virel bertanya-tanya, seolah belum percaya sepenuhnya.


"Kalau misalkan Andini gak mau terima anaknya ini, mending aku aja yang ambil, bisa jadi ladang uang buat aku" pikir Virel.


"Kalau aku lihat, wajah anaknya Andini ini cantik juga, bodynya okelah, aku yakin pelanggan aku bakal suka dan bersedia bayar mahal" batin Virel, sambil memandangi Gita.


"Siapa nama kamu?"


"Gita!".


"Oke, nak Gita, gimana kalau kamu tinggal sama Tante aja, Tante akan penuhi semua kebutuhan kamu dan juga akan biayai kuliah kamu sampai selesai, gimana kamu mau gak" Virel memberikan tawaran pada Gita.


"Gita, ibu minta kamu jangan ikut sama Tante Virel, dengarkan ucapkan ibu" pinta Andini.


"Kamu kenapa, Din? Kamu larang Gita untuk ikut dengan aku, tinggal bersamaku, sedangkan kamu juga gak izinkan Gita tinggal bareng kamu disini, apa kamu mau Gita ini luntang lantung di jalan?" Virel memelototi Andini. Gita memandang penuh arti pada Hilsa dan meminta pendapatnya. Namun, Hilsa memberi isyarat dan menyerahkan semua keputusan pada Gita.


"Mungkin memang lebih baik aku ikut Tante itu, toh ibu juga gak mau terima aku tinggal disini" pikir Gita.


"Gimana, nak? Apa kamu mau terima tawaran Tante?" Virel menunggu jawaban Gita.


"Iya, Tante, aku mau" Gita bersedia untuk tinggal bersama Virel. Setelah mendengar jawaban Gita, Virel pun beranjak pergi dan membawa Gita ke rumahnya. Gita dan Hilsa terpaksa terpisah. Hilsa sendiri akan tinggal bersama adik dari ibunya, yang bersedia menampungnya.


"Sedih juga sih, harus berpisah dengan kak Gita, walaupun dia bukan kakak kandung aku, tapi, aku menyayangi dia" batin Hilsa.


...*****...


"Oke, kita sudah sampai, yuk, turun" Virel mematikan mesin mobilnya, lalu turun.


"Ini rumah tante? Besar banget, sama kayak rumah ayah Yanto dulu" Gita kagum melihat rumah Virel yang mewah dimatanya. Saat Gita melangkah masuk, Gita kagum dengan penataan rumah yang rapi, hiasan yang bernilai artistik dan terlihat begitu elegan.


"Tante, rumah ini Tante sendiri yang beli?" Tanya Gita yang tampak penasaran.


"Iya, Git, ini hasil dari kerja keras Tante selama ini, Tante nabung sedikit demi sedikit, sampai akhirnya bisa kebeli deh rumah ini" jawab Virel.


"Kamu juga bisa kok beli rumah yang mewah seperti ini, asalkan kamu mau kerja keras" kata Virel.


"Aku mau banget, Tante, siapa sih yang gak mau, kerja apapun aku mau, yang penting aku bisa beli rumah kayak gini" Gita sepertinya tergiur dengan ucapan Virel. Virel membisikan sesuatu ke telinga Gita. Mata Gita terbelalak saat mendengarnya dan menganggapnya sesuatu hal yang gila.


"Tante gak main-main kan? Tante serius kan ini!" Gita seolah tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.


"Beneran lah, Tante gak main-main loh ini, kamu bayangin aja nih yah, sehari kamu minimal bisa dapat diatas sepuluh juta, sebulan berapa coba, kalau di kumpulkan selama setahun, kamu bakalan busa beli rumah hanya dalam hitungan setahun saja, kalau mau cara cepat, pakai cara yang Tante beritahu tadi, gak ada cara yang lain lagi" kata Virel, menegaskan pernyataannya.


"Iya juga sih, apa yang dikatakan Tante Virel itu benar, bisa cepat bikin kaya raya kalau pakai cara yang disarankan Tante Virel, tapi, konsekuensinya mahkota yang selama ini aku jaga, akan direnggut oleh laki-laki hidung belang yang bayar aku dengan tarif tinggi" batin Gita. Cukup lama Gita memikirkannya, langkah mana yang sebaiknya dia ambil. Kalau dia ambil cara yang seperti dilakukan orang banyak dengan bekerja dan menabung tiap bulan saat gajian, akan lama prosesnya. Tapi, jika Gita mengikuti cara cepat yang disarankan oleh Virel, apapun yang dia inginkan bisa dibeli dengan cukup cepat, tapi, konsekuensinya sekali lagi, dia harus rela mahkotanya direnggut oleh laki-laki asing. Namun, pada akhirnya Gita sudah memutuskan untuk menerima tawaran Virel dan bersedia melakukan pekerjaan itu. Meskipun itu pekerjaan yang tidak halal, bahkan sangat memalukan kalau sampai ada temannya yang melihat dirinya. Namun, Gita sepertinya tidak ada pilihan lain, apalagi di tengah kondisi yang sulit mendapatkan pekerjaan.


"Good girl, Tante senang mendengarnya. Nanti malam, Tante akan pertemukan kamu dengan pelanggan Tante itu dan dia bersedia bayar mahal loh" kata Virel dengan senyum semringah.


"Akhirnya aku dapat solusi juga untuk bisa melunasi utang aku pada rentenir dan gak akan dikejar-kejar lagi, bebas dari mereka" dalam hatinya, Virel senang karena sebentar lagi utangnya tersebut akan terbayarkan. Begitu dia menerima uang itu, Virel akan langsung membayar utangnya itu dan terbebas dari rentenir itu. Gita di dandani secantik mungkin, agar pelanggan Virel tersebut senang. Dalam hatinya, Gita merasa berdebar-debar menjalani pekerjaannya ini. Gita tidak pernah membayangkan kalau pada akhirnya Gita akan menghadapi jalan hidup seperti ini, sebagai wanita panggilan. Namun, demi kelangsungan hidupnya, mau tidak mau harus dia lakukan, karena tidak mungkin Gita bergantung terus menerus pada Virel. Gita merasa tidak enak hati, apalagi biaya kuliahnya Virel yang menanggungnya.


"Git, kamu ingat yah, kamu harus layani pelanggan Tante itu dengan sebaik mungkin, kamu nurut aja sama apa yang mau dia lakukan terhadap kamu, karena dia udah bayar mahal kamu dan kamu sudah jadi miliknya malam ini, jangan kecewakan dia" Virel berpesan pada Gita, sambil tetap sibuk mendandani Gita. Gita hanya mengangguk-angguk dan mengikuti kemauan Virel.


"Oke, Tante rasa sudah cukup, dandan juga udah cantik dan yakin deh, pelanggan Tante akan sangat senang melihat penampilan kamu yang seperti ini" Virel tersenyum puas, dengan dandan Gita yang menurutnya sudah cukup menggoda.


"ya udah, sekarang saatnya kita berangkat" Virel beranjak dan segera membawa Gita pada lelaki yang sudah menunggunya di hotel. Perasaan yang kini dirasakan Gita campur aduk antara rasa canggung bercampur rasa malu, karena ini pertama kali dalam hidupnya melakukan pekerjaan yang hina ini.