Trouble Maker

Trouble Maker
Bab 61



Virel menyetop sebuah taksi yang kebetulan melintas, lalu menaikinya. Selang empat puluh menit kemudian, Virel pun sampai di rumahnya. Virel terkejut melihat orang-orang berkerumun di depan rumahnya. Dia juga melihat ada mobil pemadam kebakaran. Setelah membayar taksi, Virel segera turun dari taksi dan menghampiri kerumunan orang itu.


"Ada apa ini? Kenapa rame-rame disini? Terus ini rumah aku kenapa hangus seperti ini? Apa yang terjadi?" Virel bertanya-tanya dan terlihat bingung bercampur panik.


"Kamu tenang dulu, tadi rumah kamu abis kebakaran, gara-gara tabung gas di dapur meledak saat ART kamu lagi masak, untung saja ada bapak-bapak yang lagi ronda, yang kebetulan lewat depan rumah kamu dan lihat kejadian itu, sebagian dari mereka masuk ke dalam dan sebagian lainnya memberitahu warga yang lain untuk ikut membantu memadamkan api sembari menunggu petugas pemadam kebakaran datang" terangnya, selalu ketua RT setempat. Entah bagaimana perasaan Virel saat ini, melihat kondisi rumahnya yang sudah hangus terbakar dan tidak ada lagi barang-barangnya yang tersisa, semuanya sudah dilahap oleh api. Sore tadi, saat keluar dari bank, Virel dikejar oleh kawanan penodong dan mengambil mobil beserta semua barang yang ada di dalamnya termasuk handphone. Saat dia tiba dirumahnya, rumahnya itu justru mengalami kebakaran dan menghanguskan bangunan rumah dan tidak ada lagi yang tersisa, yang bisa diselamatkan. Saat itu pula, Virel tumbang dan terlihat stres dengan musibah yang bertubi-tubi menghantam dirinya. Semua hasil kerja kerasnya selama tiga tahun ini, habis tanpa sisa hanya dalam kurun waktu kurang lebih dua jam saja. Tak ada lagi yang bisa dia harapkan. Mau tidak mau dia harus pergi, meskipun dia sendiri belum tahu kemana dia harus pergi. Virel berpamitan pada semua warga sekitar dan beranjak pergi, berjalan tanpa tujuan. Beberapa dari warga menawarkan pada Virel untuk nginap dirumahnya malam ini, karena kasihan kalau Virel di jalanan malam-malam begini. Namun, Virel menolak tawaran itu dan mengucapkan terima kasih. Virel terus berjalan tanpa arah, menyusuri setiap jalan yang dilewatinya dengan jalan kaki, menjauh dari tempat tinggalnya yang telah hangus terbakar.


"Jeng Virel? Kok jalan kaki? Mobilnya mana?" Seseorang yang berpapasan dengan Virel bertanya-tanya.


"Jeng Indri!" Virel terkejut melihat.


"Duh... Kenapa malah ketemu jeng Indri sih, aku kan malu dengan keadaan aku sekarang yang udah jatuh miskin" runtuk Virel.


"Eh... Ini, jeng, aku cuma lagi kepengen jalan kaki aja, lagi malas nyetir, kalau jeng sendiri mau kemana?" Virel berbalik bertanya.


"Oh... Ini, aku mau nyari tanah buat bangun villa untuk keluargaku, kalau misalnya kita suntuk dengan suasana kita, bisa refreshing ke perkampungan seperti ini, yang udaranya sejuk, pemandangan asri, biar segar lagi saat kembali beraktivitas" jelasnya.


"Ya udah yah, jeng, aku masih ada urusan, sampai ketemu lagi" Virel berpamitan dan buru-buru pergi dari hadapan temannya itu. Virel terus berjalan dan tidak tahu harus tinggal dimana. Hari sudah semakin larut, namun, Virel masih luntang lantung di jalan. Tak lama berselang, ada sebuah mobil yang berhenti di depan Virel yang tengah duduk di pinggir jalan. Seseorang turun dan menghampiri Virel.


"Kamu ngapain disini sendirian?" Tanyanya.


"Aku gak tahu mau kemana, rumahku baru aja terbakar ditambah lagi semua barang aku diambil oleh orang-orang yang menodong aku, mulai dari mobil, handphone, dibawa semuanya" jelas Virel. Seseorang tersebut ikut sedih, mendengar cerita Virel. Tanpa berlama-lama seseorang itu menawarkan untuk tinggal di salah satu kamar kost miliknya dan Virel menerima tawaran itu tanpa berpikir lama, karena hari sudah hampir tengah malam.


"Oh iya, kenalkan aku Wahyu" seseorang itu memperkenalkan dirinya.


"Aku Virel" jawabnya singkat.


"Jujur aja, Rel, sampai saat ini aku masih tetap sayang sama kamu, sama seperti dua puluh tahun yang lalu dan tidak ada yang berubah" Wahyu mengutarakan isi hatinya. Virel terharu mendengar perkataan Wahyu, bahwa rasa sayangnya itu tetap sama dari dulu.


"Aku akan terima kamu apa adanya, aku gak peduli keadaan kamu sekarang seperti apa, aku akan tetap menyayangimu" lanjut Wahyu. Namun, Virel hanya membisu dan tidak merespon perkataan Wahyu itu. Virel merasa malu dengan keadaannya sekarang.


"Kuharap kamu mau menerimaku, aku janji akan bahagiakan kamu" Wahyu mencoba meyakinkan Virel.


"Aku juga sayang sama kamu, aku juga mau kalau seandainya kamu mau mempersunting aku jadi istrimu dan ada satu hal yang harus kamu tahu, bahwa aku sebenarnya tidak menikah dengan pria pilihan orang tuaku itu" Virel angkat bicara.


"Maksud kamu, Rel?" Tanya Wahyu yang terlihat bingung.


"Jadi, saat di perjalanan menuju ke tempat nikah kita, pria itu dan juga kedua orang tuanya mengalami kecelakaan dan pria itu meninggal, sedangkan kedua orang tuanya mengalami luka yang cukup berat, tapi, untungnya mereka masih bisa diselamatkan, jadi, pernikahan tidak jadi dilaksanakan" terang Virel.


"Apa mungkin ini yang dinamakan jodoh kali yah, kita dipisahkan dan akhirnya bertemu lagi setelah dua tahun lamanya" kata Wahyu. Virel hanya menganggukkan kepala.


Selang beberapa bulan kemudian, Virel dilamar oleh Wahyu menjadi istrinya dan segera melangsungkan pernikahan, seminggu setelah dia dilamar. Virel akhirnya menemukan kebahagiaan yang selama ini dia cari dan hidupnya sekarang bisa lebih bahagia. Dia berharap ini akan menjadi pernikahan pertama dan terakhir baginya.


"Finally, akhirnya aku bisa menikah dengan pria idamanku, Wahyu, bukan karena dia udah mapan sekarang, tapi, aku memang sayang sama dia, karena dia mampu menjadi pelindung bagiku dan aku bakal merasa aman berada di dekatnya" batin Virel.


"Wahyu, makasih yah, berkat kamu, aku bisa tersenyum bahagia seperti ini dan aku berharap kita bisa seperti ini terus, sampai maut memisahkan kita" kata Virel.


"Iya, Rel, aku juga bahagia, bisa memiliki kamu seutuhnya dan rasanya kebahagiaan aku lengkap sudah" Wahyu pun terlihat sangat bahagia.


Semua teman-teman Virel dan juga Wahyu datang ke pesta pernikahan mereka yang terbilang meriah. Wahyu sengaja cepat-cepat menikahi Virel, agar bisa memboyongnya ke Itali untuk urusan bisnisnya disana sekaligus bulan madu juga disana.