Trouble Maker

Trouble Maker
Eps. 3 Hukuman



Di tengah pertengkaran dua orang yang tak lain adalah Gerald dan Rasya, tiba-tiba muncul seseorang yang langsung menghentikan perdebatan keduanya.


"Hei kalian," seru orang yang saat ini tengah berdiri di hadapan mereka dengan berkacak pinggang. Rasya dan Gerald langsung menoleh secara bersamaan ke arahnya. Rasya memutar bola matanya sedangkan Gerald menatap orang itu tanpa ekspresi.


"Kalian tidak bisakah tak membuat onar di pagi hari yang cerah ini. Apa perlu kalian aku bawa ke ruang kesiswaan agar mendapat siraman rohani di awal hari kalian, huh?" Oceh orang di hadapan mereka.


Gladys Aurora, seorang ketua OSIS di sekolah tempat Gerald dan Rasya bersekolah itu saat ini masih menatap kedua sejoli yang menatapnya dengan tatapan jengah.


"Guys," panggil Gerald pada ketiga sahabatnya. Jun, Gio, dan Revan yang merasa dipanggil pun menghampiri Gerald.


"Kalian sudah tahu bukan apa yang harus kalian lakukan?" Tanya Gerald pada ketiga temannya itu. Seolah mengerti apa maksud Gerald, ketiga lelaki itu pun mengangguk dan langsung memutar badan mereka menghadap Gladys yang masih berdiri sambil berkacak pinggang.


Tanpa berkata apapun ketiga orang itu meraih tubuh Gladys dan membawanya menjauh dari Gerald dan Rasya membuat gadis itu berteriak tak terima akan perlakuan Revan dan kawan-kawan.


"Hei... turunkan aku, apa kalian tak takut aku adukan ke guru kesiswaan, hah!" Bentak Gladys yang tak dijawab oleh Revan dan yang lainnya. Adegan itu disaksikan oleh penghuni sekolah yang sudah mulai berdatangan, mereka ada yang iba, ada juga yang justru bersorak gembira menyaksikan Sang ketua OSIS saat ini tengah dijahili oleh ketiga lelaki most wanted di sekolah itu.


Tanpa memperdulikan sekitarnya mereka melanjutkan langkahnya menjauh dari kerumunan dan membawa Si ketua OSIS ke lapangan basket.


"Kalian mau apa?" Tanya Gladys saat dirinya sudah berada di tengah-tengah lapangan basket.


"Kau cerewet sekali," protes Jun sambil menutup kedua telinganya.


Sedangkan kedua sahabatnya saat ini tengah bersiap-siap mengambil selai nanas dan coklat dari dalam tas mereka.


Gladys menatap Revan dan Gio dengan alis berkerut. "Kalian mau apa?" Tanya Gladys bingung.


Tanpa menjawab pertanyaan Gladys, Revan dan Gio berjalan mendekati gadis itu yang sekarang kedua tangannya tengah ditahan oleh Jun.


"Diamlah gadis cerewet," perintah Revan yang saat ini telah berdiri tepat di hadapan Gladys.


Gadis itu berusaha memberontak namun tenaganya tak cukup kuat melawan tenaga Jun.


Dengan gerakan slow motion, Revan mengoleskan cokelat cair ke bibir bawah Gladys. Gadis itu masih berusaha berontak, namun usahanya itu justru membuat Jun semakin mengeratkan cengkeraman nya di tangan Gladys.


"Lepaskan aku!" Teriak Gladys sembari menghempas-hempaskan tangan Jun yang berada di lengannya.


"Diam bawel," kali ini giliran Gio yang mengoleskan selai nanas di bibir atas Gladys. Gadis itu berusaha menolak aksi Gio, namun lagi-lagi usahanya itu tak membuahkan hasil sedikit pun.


"Sekarang kau makanlah roti ini," perintah Jun saat telah melepaskan cengkeraman tangannya dari Gladys. Si ketua OSIS menatap tak percaya akan adegan yang baru saja ia alami.


"Kalian..." tunjuk Gladys pada ketiga sekawan yang tengah santai mengoleskan selai di roti tawar yang entah sejak kapan sudah berada di tangan mereka masing-masing.


"Kalian membawaku kesini hanya untuk ini?" Gladys berucap seraya mengangkat roti yang berada di tangannya dengan tatapan tak percaya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya terkejut dengan tingkah absurd laki-laki di depannya itu.


Mereka bertiga pun duduk melingkar di tengah-tengah lapangan sambil menyantap roti yang sudah mereka olesi selai.


Gladys yang masih berdiri terdiam di tempatnya. Ia terlalu terkejut saat ini. Tanpa ketiga lelaki itu ketahui, diam-diam Gladys menjilat dengan secepat kilat selai dan cokelat yang berada di bibirnya sebelum akhirnya ia ikut duduk bersama ketiga lelaki itu.


Revan melirik Gladys yang duduk disamping kirinya. "Kupikir kau akan pergi," ujarnya tanpa menatap Gladys.


Si gadis bersurai hitam panjang itu diam tak menanggapi ucapan Revan, ia lebih memilih menghabiskan roti yang ia dapat secara cuma-cuma itu.


"Kupikir kalian akan melakukan hal yang tidak-tidak padaku, ternyata aku salah." Batin Gladys. Ia tersenyum tipis mengingat kejadian yang baru saja menimpanya. Mereka baik juga ternyata, pikirnya.


☘☘☘


"Kau apakan dia?" Tanya Rasya pada Gerald yang masih menatapnya.


"Aku?" Gerald menunjuk dirinya sendiri.


Rasya mengangguk sebagai jawaban.


"Aku tak melakukan apapun padanya, kau lihat sendiri tadi bukan?" Ujar Gerald santai. Ia lalu berbalik memunggungi Rasya yang masih menatapnya dengan tatapan membunuh.


"Dasar biang kerok!" Ucap Rasya dengan nada sedikit tinggi. Gerald yang awalnya hendak menyusul ketiga sahabatnya pun berbalik menatap Rasya yang tengah menatapnya dengan dagu yang sedikit terangkat ke atas.


"Apa?" Tantang Rasya.


"Gadis rempong," ejek Gerald kemudian berlalu meninggalkan Rasya yang tengah meneriakinya.


Tak berapa lama kemudian bel tanda masuk pun berbunyi, semuanya langsung bergegas memasuki ruang kelas mereka tak terkecuali Rasya. Saat ini ia tengah duduk manis di bangku paling depan. Sepuluh menit kemudian, muncullah Gerald dan teman-temannya yang berjalan sambil bersenda gurau tanpa memperhatikan bahwa guru yang mengajar saat ini sudah berada di dalam kelas tengah menatap mereka berempat.


"Kalian," geram Guru berkepala sedikit botak saat Gerald dan yang lainnya berjalan menuju meja mereka.


Sadar akan ada yang janggal, Gerald dan geng nya pun menoleh ke sumber suara. Dengan senyum canggungnya mereka berempat menatap ke arah guru yang tengah menatap mereka dengan bola mata yang hampir keluar.


"Cepat keluar!" Perintahnya dengan nada tinggi.


"Tapi, Pak..." ucap Gerald tertahan karena pelototan Sang guru.


"Pilih keluar atau nilai kalian Bapak beri di bawah nilai rata-rata." Ancam nya. Tanpa menjawab ke-empat lelaki itu langsung pergi meninggalkan kelas.


"Sukurin," ucap Rasya tanpa mengeluarkan suara saat tanpa sengaja matanya dan mata Gerald bertemu. Gerald mengangkat kepalan tangannya ke arah Rasya bertingkah seolah-olah akan memukul gadis itu namun sebelum itu terjadi Guru di kelas itu berdehem membuat Gerald langsung berlalu tanpa menanggapi ucapan Rasya. "Awas saja kau gadis kecil," ucap Gerald dalam hati dengan perasaan yang begitu dongkol karena harus meninggalkan kelas di jam pertama. Sebenarnya itu bukan menjadi masalah untuknya, ia justru sangat senang karena saat ini bisa bersantai di kantin tanpa harus menunggu jam istirahat tiba.