
"Oh... Hihihi.... Soal itu, kamu gak usah khawatir" Hilsa tertawa kecil.
"Aku sama Novri itu gak ada hubungan apa-apa, Novri tadi bilang kalau kita berdua itu udah jadian, padahal yang sebenarnya tidak" lanjut Hilsa.
"Maksudnya gimana? Aku gak ngerti" Gita terlihat bingung.
"Iya, aku sama Novri itu gak jadian, dia lakukan itu untuk menghindar dari kamu aja, supaya kamu menjauh dari dia dan gak gangguin dia lagi" terang Hilsa.
"Kamu beneran, kan? Kamu gak lagi bohong sama aku kan?" Gita masih terlihat ragu.
"Iya, Git, beneran, lagian aku juga gak mungkin jadian sama Novri, soalnya aku udah punya pacar dan rencananya setelah aku wisuda, aku bakal nikah sama dia, bulan lalu aku udah tunangan sama dia" Hilsa meyakinkan Gita dan menunjukkan cincin yang melingkar di jarinya. Gita tertunduk sedih, karena masih teringat dengan rencana lamaran itu yang dibatalkan secara tiba-tiba oleh Novri pasca wisuda.
"Eh... Sorry, Git, aku gak ada maksud untuk bikin kamu sedih" Hilsa meminta maaf dan merasa tidak enak pada Gita.
"Gak apa-apa kok, Sa, mungkin udah takdir aku seperti ini" katanya pasrah.
"Jangan ngomong kayak gitu, Git, aku yakin kok, suatu saat kamu pasti akan bertemu dengan seseorang yang benar-benar tepat buat kamu, yang penting kamu jangan patah semangat" Hilsa menyemangati Gita. Gita pun tersenyum.
"Aku ada satu pertanyaan lagi, bunga yang dibawa Novri itu buat kamu?" Gita kembali mengajukan pertanyaan.
"Bukan, aku cuma minta tolong Novri buat beliin bunga terus aku kasi ke ibuku di hari ulang tahunnya, makanya waktu itu aku senang banget, Novri bisa dapat bunga seperti yang aku inginkan" jawab Hilsa.
...*****...
Diruang tanu tampaknya Yanto dan Diana sedang mengobrol serius mengenai hubungan mereka. Yanto tampaknya ingin hubungan mereka itu secepatnya melangkah ke jenjang pernikahan.
"Riana, kamu bersedia gak, menikah denganku?" Yanto menggenggam kedua tangan Riana.
"Aku tahu ini terlalu cepat, tapi, entah kenapa, aku merasa bahwa kamu adalah sosok yang tepat untuk menjadi pendamping hidupku" Yanto menambahkan.
"Gimana, Riana? Apa kamu bersedia?" Yanto bertanya sekali lagi.
"Mas, aku gak bisa jawab sekarang, aku butuh waktu untuk berpikir, karena jujur aja masih ada rasa trauma dalam hatiku tentang masa laluku, kuharap kamu mengerti" ucap Riana.
"Iya, gak apa-apa, aku ngerti apa yang kamu rasakan, aku akan sabar menunggu jawaban darimu" Yanto tersenyum. Gita dan Hilsa keluar dari kamar dan menghampiri Yanto dan Riana yang tengah mengobrol di ruang tamu. Yanto melihat raut wajah Gita dan Hilsa tampak senang. Yanto senang melihat keduanya tampak akrab satu sama lain.
"Ayah sama tante Riana lagi ngobrolin apa sih, kayaknya serius banget" Gita terlihat penasaran.
"Iya, kasi tahu dong!" Hilsa menimpali.
"Aku tahu nih, pasti ayah ngelamar tante Riana, memintanya untuk jadi istri ayah kan!" Gita menerka.
"Apa benar, Bu,yang dikatakan Gita?" Hilsa menatap Riana.
"Iya, nak, apa yang dikatakan Gita itu benar. Barusan om Yanto ngelamar ibu untuk jadi istrinya" Riana membenarkan.
"Ibu butuh waktu untuk berpikir dan belum bisa kasi jawaban sekarang" jawab Riana. Hilsa dan Gita saling pandang. Tampaknya keduanya sedikit kecewa dengan jawaban Riana.
"Ibu mikirin apa sih, om Yanto ini sosok lelaki yang baik banget loh, Bu, penyayang pula dan aku yakin om Yanto bisa bikin ibu bahagia" kata Hilsa.
"Udah, nak, gak apa-apa kok, om akan menunggu jawaban ibumu, om juga gak mau menikah dengan ibu kamu, kalau ibu kamu belum siap sepenuhnya. Harus dengan hati yang mantap dan penuh keyakinan, agar pernikahan bisa langgeng dan awet sampai akhir hayat, ini juga berlaku untuk kalian berdua nih, sebelum melangkah ke jenjang yang lebih serius, harus dipikirkan baik-baik, jangan sampai ada kata penyesalan, ingat loh itu" Yanto memberikan wejangan pada Gita dan Hilsa. Keduanya mengangguk.
"Padahal aku tadinya berharap, tante Riana langsung terima dan secepatnya menikah dengan ayah, terus aku sama Hilsa bisa jadi saudara, kemana-mana jalan berdua, ke kampus juga bisa bareng berangkatnya, semuanya deh, karena jujur aku pengen banget punya saudara" kata Gita, mengutarakan isi hatinya.
"Maaf yah, Gita, Hilsa, kalian tampaknya kecewa banget dengan jawaban aku terhadap mas Yanto, tapi, aku juga tidak mau cepat-cepat mengambil keputusan, aku gak mau gagal untuk kedua kalinya" dalam hati, Riana masih bimbang.
Sampai detik ini, Riana belum juga memberikan jawaban pada Yanto. Masih ada keraguan dalam hati Riana. Dia hanya takut kalau apa yang dia alami dulu, terulang lagi dan membuat batinnya tersiksa. Sudah hampir dua minggu setelah kedatangannya ke rumah Yanto, Riana belum berkomunikasi lagi dengannya sejak itu.
"Ri, kamu kenapa? Aku perhatikan dari tadi, kamu melamun gitu, lihat tuh kertas, kamu nulisnya tidak karuan" teman kerja Riana, Rindi, memperhatikan dari mejanya.
"Kalau kamu ada masalah, kamu cerita aja sama aku, aku siap kok dengerin" lanjutnya.
"Eh... Gak kok, Rin, gak ada apa-apa" Riana memaksakan tersenyum, berusaha menyembunyikan masalahnya.
"Udah deh, Ri, kamu gak usah bohong, kita itu udah kerja bareng selama tujuh tahun, tuh lihat kamu perlihatkan senyum palsu itu lagi, aku udah hafal banget deh" Rindi sepertinya tahu kalau Riana berbohong padanya.
"Rin, dua minggu yang lalu, mas Yanto yang aku ceritakan ke kamu itu, dia melamar aku waktu undang aku kerumahnya buat makan malam" kata Riana.
"Terus jawaban kamu apa? Kamu terima dong pasti, secara kalian kan udah lumayan lama pacarannya" terka Rindi.
"Aku belum kasi dia jawaban, aku bilang ke dia kalau aku butuh waktu dan dia tidak keberatan sama sekali, aku belum bisa memutuskan waktu itu, antara menerima lamaran mas Yanto atau justru harus menolaknya" terang Riana.
"Karena jujur aja, Rin, aku masih trauma dan masih terbayang-bayang dengan luka di masa laluku, aku hanya takut aja, itu akan terjadi lagi" lanjut Riana.
"Ri, aku tahu, kamu masih menyimpan perasaan trauma itu, tapi, perlu kamu ingat, Ri,gak semua laki-laki memiliki sifat yang sama, siapa tahu aja, mas Yanto ini adalah laki-laki yang benar-benar tepat untuk kamu" Rindi seolah bisa merasakan apa yang dirasakan Riana.
"Kamu jangan kelamaan mikirnya, yang ada nanti Mas Yanto bosan nunggu tanpa kepastian dan berpaling ke wanita lain, nanti kamu malah menyesal loh" lanjut Rindi.
"Oh iya, Ri, kemarin itu ada paket yang dikirim untuk kamu, gak tahu sih siapa yang ngirim, soalnya Melani yang terima paketnya" Rindu memberikan sebuah kotak besar pada Riana. Riana membuka isi dalam kotak tersebut. Di dalamnya ada sebuah gaun berwarna hitam dan terdapat sepucuk surat disamping gaun tersebut.
"Riana, aku sengaja mengirimkan ini ke kamu, aku ingin kamu pakai gaun itu dan dinner denganku malam ini, kuharap kamu mau datang, sekali ini saja kamu turuti permintaan aku ini. Tertanda, Haris".
"Ini orang mau ngapain lagi sih, bulan lalu dia memintaku temani dia berlibur, sekarang ngajak dinner, nggak ada habisnya dia ganggu hidup aku" Riana kesal dibuatnya.
"Makanya itu, kamu secepatnya terima lamaran mas Yanto dan segera menikah, dengan begitu, mas Haris pasti gak akan ganggu kamu lagi, percaya deh sama aku" kata Rindi dengan penuh keyakinan.
"Apa yang dikatakan Rindi, benar, aku harus temui mas Yanto dan bilang ke dia kalau aku bersedia menikah dengannya" batin Riana.