
Gerald Pov
Tak terasa sudah satu tahun aku kenal dengan gadis bernama Rasya, bicara tentang Rasya... aku tak tahu apa yang ada dalam pikirannya, sikapnya selalu berubah tiap kali bertemu denganku. Terkadang aku merasa dia menginginkan kehadiranku, namun terkadang dia juga bersikap seolah tak ingin melihat keberadaanku. Hhh... apa semua wanita seperti itu? Atau hanya dia saja yang sifatnya seperti bunglon yang kadang berubah-ubah?
Pikiranku melesak jauh ke satu minggu lalu tepat dimana pertemuan orang tuaku dengan orang tua Rasya di rumahnya. Waktu itu hari Minggu malam, aku dan orang tuaku datang ke rumahnya.
Pukul 08.00 malam, kami sampai disana. Dengan mengenakan setelan jas berwarna hitam aku berjalan di samping kedua orang tuaku. Jujur aku gugup saat itu, karena ini pertama kalinya aku datang dengan tujuan yang begitu membuatku kalang kabut dibuatnya.
Saat kami sampai di depan pintu rumah Rasya, kedatangan kami langsung disambut oleh Om Alex dan juga Rasya tentunya. Aku terpaku sesaat ketika memandang Rasya yang terlihat berbeda malam ini. Dia mengenakan dress selutut berwarna hitam dengan ujung warna putih. Bahunya ia biarkan terbuka membuatnya terlihat semakin cantik. Rambutnya ia biarkan tergerai indah serta dandanannya yang terlihat begitu elegan. Tanpa sadar detak jantungku memacu begitu cepat kala memperhatikannya. Sungguh... mungkin aku telah jatuh ke dalam pesona gadis yang memiliki sifat tak tentu itu.
Deheman dari Daddy ku akhirnya sukses membawaku kembali ke dunia nyata. Dengan kikuk aku menggaruk tengkuk ku yang tak gatal karena telah kepergok memandangi ciptaan Tuhan yang ada di hadapanku ini.
Mereka semua tertawa melihatku yang salah tingkah kecuali Rasya. Ah... gadis itu memang sulit di mengerti oleh logika. Sikap dan sifatnya bahkan mengalahkan rumus matematika yang begitu banyak dan membuatku bingung.
Setelah menyapa kami, akhirnya Om Alex mempersilahkan kami masuk dan menikmati hidangan yang sudah disediakan di meja makan.
Usai menyantap hidangan, kami pun beranjak menuju halaman belakang menghirup udara segar sembari membicarakan rencana perjodohanku dan Rasya.
"Bagaimana jika kita langsungkan acara pernikahannya usai mereka lulus?" Tanya Om Alex saat kami sudah duduk di kursi dengan meja bundar di tengahnya, sudah seperti konferensi saja.
"Bagaimana jika setelah mengerjakan ujian saja?" Usul Mamaku.
"Jangan... terlalu lama, bagaimana jika sebelum ujian mereka menikah dan setelah ujian mereka honeymoon?" Kali ini giliran Daddy ku yang mengeluarkan suara.
Aku menatap ketiga orang dewasa di hadapanku saat ini. Apa-apaan mereka, memutuskan hal sepenting ini semudah itu? Batinku memberontak tak terima.
"Aku tak setuju," itu bukan aku yang bicara, tapi Rasya. Ya... gadis itu sekarang tengah menatap satu persatu orang dewasa di hadapan kami dengan tatapan yang sulit diartikan. Tangannya bersidekap dengan dagu sedikit terangkat. Uhhh... gadisku tengah merajuk...
Para orang tua itu langsung menoleh saat mendengar penolakan dari Rasya. Om Alex langsung meraih jemari anaknya dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin. Astaga... sepertinya akan ada drama gratis...
"Hei princess, dengerin Papa." Ucap Om Alex lembut sembari mengusap jemari anaknya itu. Rasya tak bergeming ia masih diam tanpa berniat menatap Ayahnya. Hingga Om Alex menarik dagu Rasya, memaksanya menatap ke arah Om Alex.
Omongan Om Alex terpotong karena Rasya langsung menyela nya, "aku ngga lupa, Pa... ini wasiat Mama kan? Iya aku inget, tapi beri aku waktu Pa... aku butuh waktu untuk ngeyakinin hati aku, aku butuh waktu buat bener-bener nerima perjodohan ini. Aku juga pengin ngejar mimpi aku, Pa..." suara Rasya terdengar begitu sedih, aku yang mendengarnya saja merasakan sakit. Hatiku seperti tersayat saat dia berkata dengan nada terendahnya. Apa sesulit itu nerima aku, Sya? Pertanyaan itu langsung terlintas di otakku saat ini.
"Papa ngga bakal ngelarang kamu, Sya... Gerald juga bakal dukung semua mimpi kamu, dia bakal ngijinin kamu ngelakuin apa yang kamu mau. Bukan begitu, Rald?" Kali ini tatapan Om Alex beralih padaku. Aku mengangguk mengiyakan pernyataannya.
"Tapi, Pa..."
"Mau atau tidak, kau harus tetap menikah dengan Gerald. Titik... tak ada bantahan lagi!"
Aku tersentak mendengar volume suara Om Alex yang berubah meninggi, dapat kulihat Rasya tengah menahan air matanya disana sedangkan kedua orang tuaku, mereka mencoba menenangkan Om Alex agar tidak emosi.
Aku hanya bisa menghela napas berat melihat kejadian ini.
☘☘☘
Aku saat ini sedang berdiri di ambang pintu kantin di temani ketiga temanku tentunya. Aku terus menatap lurus ke arah dimana Rasya berada. Kurasakan darahku mendidih serta emosiku yang kini telah sampai di ubun-ubun. Entah mengapa aku merasa kesal dan marah saat ini menyaksikan Rasya tengah berada dalam dekapan pria lain.
Dengan penuh emosi, aku berjalan mendekati mereka yang sepertinya tak menyadari kehadiranku. Apa-apaan mereka, apa mereka tak malu menjadi tontonan seluruh penghuni kantin saat ini. Bahkan disini banyak pasang mata yang menatap mereka dengan tatapan yang sulit untuk kujabarkan.
Sontak itu membuat darahku semakin mendidih, amarahku butuh pelampiasan agar aku tak merasakan perasaan yang begitu menyesakkan.
Aku pun menghampiri mereka dengan penuh kekesalan. Kami bertiga terlibat adu mulut yang berujung aku membanting pria yang tadi sempat memeluk Rasya, dan hal mengejutkan terjadi. Rasya marah, dia benar-benar marah hingga dia tega menampar pipiku cukup keras, aku tak bergeming karena aku tahu hatinya saat ini sedang terluka.
Ia meluapkan isi hatinya diiringi isakan yang begitu membuat hatiku teriris dibuatnya. Apa sedalam itu kau terluka karena ku, Sya? Aku hanya bisa bertanya dalam hati.
Ingin rasanya aku menarikmu ke dalam pelukanku, tapi aku sadar aku bukanlah lelaki yang kau inginkan. Lelaki yang tadi terduduk lemas karena aku banting pun berdiri, dengan tertatih ia menghampiri Rasya dan langsung merengkuh nya, dengan langkah gontai ia menuntun Rasya keluar dari kantin ini. Beruntung ini jam istirahat jadi tak ada guru yang akan memergoki pertikaian kami tadi.
Aku menatap punggung mereka berdua yang semakin menjauh. Sejenak kutengadahkan kepalaku sekuat tenaga menahan air mata yang terus saja memaksa untuk keluar. Lalu aku menatap kembali mereka berdua yang sudah menghilang di balik tembok.
"Kalau saja penyesalan itu datang di awal bukan di akhir, maka dapat kupastikan tak ada lagi pepatah yang mengatakan lebih baik sakit hati daripada sakit gigi. Nyatanya sakit hati begitu menyiksa, sama seperti sakit gigi. Kenapa cinta harus diiringi dengan luka? Kenapa harus ada sakit jika cinta itu ada?" Batinku berteriak meluapkan kekesalan yang ada di benakku.