
Rasya berdiri di pinggir pantai dekat mansion nya menikmati deburan ombak di sore hari di temani langit jingga yang menandakan hari segera berakhir. Dia berjalan santai menyusuri bibir pantai seraya menendang-nendang air laut yang sesekali menghampirinya. Di sebuah batu karang yang ukurannya cukup besar, Rasya menghentikan langkahnya kemudian ia duduk dengan santainya di atas batu karang itu menikmati embusan angin sore.
"Nyamannya," suara seseorang mengagetkan aktivitasnya saat itu. Dengan segera ia menoleh ke sumber suara dan terlihatlah sosok Gerald yang sedang menatapnya sambil mengulum senyum.
"Bolehkah aku bergabung?" Tanya Gerald yang langsung duduk di samping Rasya.
"Bahkan sebelum aku setuju pun kau sudah duduk duluan." Decih Rasya.
Ia lalu memejamkan matanya menikmati angin yang berembus menyapa wajahnya.
"Cantik," lirih Gerald tanpa sadar kala dirinya menatap wajah Rasya dari samping.
"Terima kasih," Rasya berucap tanpa membuka matanya.
Kekehan kecil terdengar dari Gerald, lelaki itu lalu merapikan anak rambut Rasya yang ikut terbang terbawa angin.
"Bukan kamu, tapi lautnya." Dalih Gerald sebelum ia menarik tangannya kembali. Rasya hanya menjawab dengan deheman ringan.
Hening tiba-tiba menyapa mereka berdua. Rasya masih dengan posisinya sedangkan Gerald, lelaki itu masih setia menatap wajah Rasya dari samping.
"Bisakah kau hentikan tatapan menjijikanmu itu? Kau terlihat seperti Om mesum saja," keluh Rasya tiba-tiba tanpa membuka matanya membuat Gerald langsung salah tingkah dibuatnya.
Perlahan kelopak mata Rasya terbuka lalu Ian menoleh menatap Gerald lamat-lamat.
"A-apa yang kau lakukan, Sya?" Suara Gerald tiba-tiba terdengar gugup saat Rasya dengan tatapan intens nya mendekatkan wajah ke arah Gerald membuat lelaki itu mati kutu.
Bukannya menjawab, Rasya justru semakin mendekatkan wajahnya.
"Berhenti mengusik hidupku dan jalani saja hidupmu seperti semula," bisik Rasya tepat di telinga Gerald.
Ia lalu menjauhkan dirinya kembali setelah mengucapkan kata-kata itu pada Gerald yang saat ini masih diam di tempatnya.
"Jangan kau pikir aku tak tahu apa yang kau dan ketiga temanmu itu lakukan tadi saat di rooftop." Ujar Rasya dingin sambil menatap lurus ke arah pantai.
"Beruntung kau tak mengajaknya berkelahi, jika sampai itu terjadi maka aku pastikan kau takkan pernah bisa bertemu denganku lagi." Sambungnya lalu bangkit menepuk pelan tubuh bagian belakangnya.
"Memangnya ada hubungan apa kau dengan cecunguk itu?" Gerald mencegah langkah Rasya dengan memegang lengan tangan gadis berambut pirang yang hendak pergi meninggalkan Gerald disana.
Dengan kasar Rasya menghempaskan cekalan Gerald dan menatap lelaki itu tajam.
"Kau tak perlu tahu. Cukup bersikap biasa saja dan berhenti menggangguku." Rasya lalu melanjutkan langkahnya lagi.
"Apa aku harus berubah seperti dia baru kau mau berbicara denganku?" Teriak Gerald di belakang Rasya membuat gadis itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Gerald dengan wajah datarnya, "mungkin." Ujarnya santai lalu kembali membalikkan tubuhnya meninggalkan Gerald di posisi semula.
☘☘☘
Pagi telah tiba, seperti biasa Rasya tengah berada di tempat favoritnya dengan komik dan earphone yang menemaninya.
Sesaat kemudian Gerald dan teman-temannya datang yang mengundang keributan dari para gadis di sekolah itu.
Sapaan dari para penggemarnya yang biasa ia acuhkan pun kini ia balas dengan senyum sambil melambaikan tangannya membuat para fans fanatiknya semakin berteriak histeris. Jangan tanyakan bagaimana reaksi ketiga teman Gerald, karena sedari tadi mereka pun tampak heran dengan perubahan sikap yang Gerald lakukan. Dan jangan lupakan satu fakta lagi atas perubahan lelaki itu, Gerald kini lebih banyak diam dan terlihat sangat sopan jika berhadapan dengan orang yang lebih tua. Hal itu membuat ketiga temannya geleng-geleng kepala menyaksikan perubahan drastis dari pentolan geng mereka.
"Apa kau yakin dia tak sakit?" bisik Revan pada Jun yang berada di sampingnya. Jun hanya mengangkat bahunya tak mengerti.
Tepat di depan Rasya yang tengah lesehan di lantai koridor depan kelas mereka, Gerald menghentikan langkahnya dan berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Rasya.
Rasya yang tengah menunduk pun mengangkat kepalanya saat merasakan bau parfum pria yang begitu menyengat masuk ke dalam hidungnya.
"Astaga... bau sekali ini," gerutunya sambil menutup hidungnya tanpa membuka earphone yang masih menempel di telinganya.
"Aih... kenapa kau lagi sih..." ucapnya kesal kala melihat Gerald berada di hadapannya dengan senyum konyolnya.
Tangan Gerald terulur ke arah Rasya lalu melepas earphone yang ada di telinga gadis itu.
"Tak baik memakai benda ini terus-menerus," katanya sembari meletakkan earphone itu ke lantai samping Rasya.
Sedangkan gadis itu hanya bisa tercengang saat menyadari perubahan Gerald yang baru dilihatnya.
"Pfftt... hahaha, astaga... Rald, apa yang terjadi pada dirimu? Apakah kau salah makan tadi pagi?" Pecah sudah tawa Rasya di depan Gerald yang masih memandanginya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Menyadari tatapan itu, Rasya lalu menghentikan tawanya mengusap ujung matanya yang sedikit berair lalu terdiam menatap lelaki di depannya.
"Sudah puas?" Tanya Gerald dingin.
"Sudah," jawab Rasya diiringi anggukan kepala.
"Apa kau sedang bermain akting?" Tanya Rasya namun dijawab gelengan oleh Gerald.
"Kau sedang mendekati wanita?" Tebak Rasya tapi masih dibalas gelengan oleh Gerald.
"Ya sudah, baguslah kalau kau berubah atas kemauan mu sendiri. Sekarang pergi dari hadapanku," usir Rasya seraya menggerak-gerakkan tangan kanannya di depan Gerald.
"Dasar manusia tidak peka!" Omel Gerald cukup keras tepat di wajah Rasya membuat gadis itu terkejut karena ulah Gerald yang mengagetkan nya itu.
"Maksudmu?" Tanya Rasya tak mengerti dengan wajah tanpa dosa.
"Lupakan saja, sana urusi saja cecunguk kesayanganmu itu." Omel Gerald lagi sambil memungut earphone Rasya yang tergeletak di lantai.
"Hei kembalikan, itu punyaku." Pekik Rasya kesal karena Gerald lagi-lagi membawa earphone miliknya tanpa izin terlebih dahulu.
"Ini milikku," ucap Gerald tanpa menoleh pada Rasya membuat gadis itu menggerutu sebal.
"Awas saja kau nanti," gumamnya lalu berdiri meninggalkan kerumunan gadis yang tadi melihat adegan pertengakarannya dengan Gerald.
"Minggir," desis Rasya saat ingin melewati kerumunan gadis yang berada di depan pintu kelasnya.