
"Pak, bukan aku yang mulai duluan, Gita yang nyerang aku secara tiba-tiba" Marni membela dirinya.
"Marni yang duluan nyari masalah sama aku, pak!" Gita pun angkat bicara.
"Loh... Sejak kapan aku nyari masalah sama kamu, Git, aku gak pernah nyari masalah sama sekali" Marni membantah pernyataan Gita.
"Udah deh, gak usah ngeles kamu, bikin kesal aja kamu tuh!" Amarah Gita seolah kembali naik dan hendak mencakar wajah Marni.
"Udah! Stop! Jangan berantem lagi!" Sang guru memukul meja.
"Saya gak tahu ada masalah apa diantara kalian berdua, yang jelasnya saya tidak mau lihat kejadian ini terjadi lagi, mengerti!" Katanya dengan tegas.
"Kalau sampai terulang lagi, kalian berdua akan saya berikan skorsing" tambahnya. Keduanya hanya mengangguk.
"Dan untuk kamu, Gita, sampaikan surat ini pada kedua orang tuamu dan minta mereka untuk menemui saya besok" katanya dan memberikan surat tersebut pada Gita. Keduanya pun beranjak keluar dari ruang guru.
"Itu akibatnya kalau kamu berani nyari masalah sama aku, makanya, jangan macam-macam sama aku!" Kata Gita dengan tatapan tajam, lalu setelah itu, berlalu pergi begitu saja. Gita merasa tidak bersalah sama sekali, malahan dia merasa puas sudah melampiaskan amarahnya itu pada Marni.
"Aku senang sekarang, aku bisa lampiaskan amarahku itu, sekali lagi dia nyari masalah sama aku, aku akan lakukan yang sama atau bahkan yang lebih dari yang tadi" Gita tersenyum puas.
...*****...
Saat perjalanan menuju kerumahnya, setelah mengantar Gena pulang, Gita melihat seseorang tengah berdiri sendirian di pinggir jalan. Dari perawakan seseorang tersebut, Gita seperti mengenalinya.
"Kalau aku gak salah, itu kayaknya tante Andini deh" kata Gita.
"Walaupun udah lama gak ketemu, tapi, aku masih ingat betul sama wajahnya" Gita tampaknya cukup yakin. Untuk menjawab rasa penasarannya itu, Gita pun segera menghampirinya dan berhenti tepat dihadapan seseorang tersebut. Gita turun dari mobil.
"Tante Andini kan?" Tanya Gita, saat menghampiri seseorang tersebut. Wanita itu hanya mengangguk.
"Kamu siapa?" Wanita itu berbalik bertanya.
"Tante mungkin udah lupa sama aku, aku Gita, yang dulu sering dibawa oleh tante Yeni waktu aku masih kecil" jelas Gita.
"Oh... Kamu Gita, kamu udah gede sekarang yah, kamu makin cantik aja, sayang" Andini mengelus lembut kepala Gita.
"Tante ngapain disini? Lagi nungguin taksi atau apa?" Tanya Gita.
"Aku harus jawab apa, gak mungkin aku bilang yang sebenarnya pada Gita tentang kerjaan aku sebagai wanita panggilan dan aku berdiri menunggu pelanggan disini" batin Andini. Andini belum menemukan alasan yang tepat dan masuk akal. Tampak kebingungan dan tak mampu berkata apa-apa. Gita melambaikan tangannya ke depan wajah Andini dan seketika membuyarkan lamunannya.
"Tante kok diam sih, mengkhayal yah" kata Gita.
"Gak kok, Git, gak mengkhayal, cuma berpikir sejenak, hehehe...." Andini tertawa kecil.
"Oh iya, tan, temani aku makan siang yuk, soalnya aku lagi bosan makan dirumah, pengen makan yang lain gitu, aku yang traktir deh, gimana" ajak Gita.
"Boleh, sekalian melepas rasa kangen tante sama kamu" Andini menerima ajakan Gita. Gita dan Andini masuk ke mobil dan segera bergegas menuju ke tempat tujuannya.
...*****...
"Git, ini ibu kandung kamu, nak, ibu yang telah melahirkan kamu" rintihnya dalam hati.
"Maafkan ibu, nak, ibu telah membuang kamu di jalanan dan membiarkan kamu untuk diasuh oleh om Yanto dan tante Tina, karena keadaannya saat itu tidak memungkinkan untuk ibu merawat kamu, saat itu ibu mengalami kebangkrutan dan harus kehilangan butik, rumah dan semua harta benda yang ibu punya" batin Andini. Tanpa dia sadari, Andini meneteskan air matanya. Gita menoleh sejenak dan terkejut, melihat Andini yang tiba-tiba menangis.
"Loh... Tante kenapa, kok nangis sih" Gita melihat Andini meneteskan air mata.
"Ini tissue, tan, untuk hapus air mata tante, gak enak dilihat orang" Gita menyodorkan tissue yang ada dihadapannya pada Andini untuk menghapus air matanya.
"Tante kenapa? Lagi ada masalah? Kalau ada masalah, ceritakan aja ke aku" tanya Gita perhatian.
"Gak kok, sayang, tante gak apa-apa, ini tangis bahagia karena bisa ketemu kamu lagi dan karena udah kangen banget sama kamu, makanya sampai nangis gini" Andini beralasan. Mereka menikmati makan siang di sebuah cafe yang dulu biasa mereka datangi bareng Yeni.
"Oh iya, Git, tante Yeni mana? Tumben gak bareng kamu, biasanya kan kalian selalu barengan, apalagi kalau ke tempat ini?" Tanya Andini.
"Tante Yeni udah gak disini lagi, tan, dia udah ikut suaminya ke Sidney, kalaupun nanti kesini lagi, paling cuma setahun sekali" jawab Gita.
"Loh... Tante Yeni udah nikah yah, kok tante Yeni gak bilang apa-apa yah sama tante soal pernikahannya itu" kata Andini.
"Yah... Mungkin aja, Tante Yeni gak sempat, karena saat itu yang datang juga cuma keluarga Tante Yeni dan keluarga suaminya, gak sempat bikin pesta pernikahan, katanya si suaminya tante Yeni itu gak bisa lama-lama disini, karena harus mengurusi bisnisnya disana" jelas Gita. Andini mengangguk-angguk. Selang 30 menit kemudian, Andini dan Gita terpisah. Andini pergi dengan menggunakan taksi dan Gita pulang kembali kerumahnya. Gita merasa ada sesuatu yang aneh yang dia rasakan tiap kali bertemu dengan Andini. Dia merasa nyaman ketika ngobrol dengan Andini dan merasa sangat dekat dengannya.
"Aku kok merasa, udah kayak dekat banget sama tante Andini dan merasakan ada kontak batin gitu, kayak ibu dan anak, sementara ibu aku sendiri, aku gak merasakan ada kontak batin gitu, kayak biasa aja gitu, ini aneh sih" batin Gita kebingungan.
"Aku harus tanyakan ini ke ayah sama ibu, tentang yang aku rasakan ini" pikir Gita.
Sesampainya dirumah, Gita ingin segera mengutarakan hal yang dia rasakan belakangan ini setiap kali bertemu Andini.
"Kamu darimana aja sih, Git? Jam segini baru pulang?" Tanya Tina, begitu Gita masuk ke rumah.
"Tadi abis antar Gena kerumahnya, dijalan aku gak sengaja ketemu tante Andini, terus kita berdua makan siang di cafe yang sering di datangi dulu sama tante Yeni, abis itu langsung balik deh" jelas Gita. Tina mengangguk, menerima penjelasan Gita.
"Bu, aku boleh nanya sesuatu?" Gita menatap dengan tatapan serius. Tina menganggukkan kepala.
"Kenapa yah akhir-akhir ini, aku merasakan hal yang aneh gitu, Bu" kata Gita.
"Aneh gimana maksud kamu, Git?" Tanya Tina, yang seolah masih bingung.
"Gak tahu kenapa, setiap kali ketemu sama tante Andini, aku merasakan ada kenyamanan, terus seperti ada kontak batin gitu, jadi seolah aku itu bisa merasakan apa yang dirasakan tante Andini, sedangkan kalau dengan ibu, aku justru tidak merasakan itu, biasa aja" jelas Gita.
"Padahal kan aku anak ibu, bukan anaknya tante Andini" lanjut gitu.
"Kalau kamu bilang ada kontak batin, itu karena Andini adalah ibu kandung kamu, nak" batin Tina
"Apa aku kasi tahu Gita aja kali yah, soal rahasia ini?" Pikir Tina.