Trouble Maker

Trouble Maker
Bab 39



"Kal, dengar penjelasanku dulu, aku sama dia itu cuma....."


"Cuma apa! Udah deh, semuanya udah jelas banget!" Potong Haikal dengan kasar.


"Udah! Aku buru-buru" Haikal beranjak pergi dan mendorong Marni pelan.


"Percuma aja kamu jelasin ke Haikal, Haikal udah terlanjur benci sama kamu, gara-gara foto itu" Gita tiba-tiba datang menghampiri Marni.


"Kamu tuh kenapa sih, gak pernah berhenti gangguin aku, aku salah apa sampai kamu sebenci ini sama aku" ucap Marni.


"Aku cuma gak suka aja lihat kamu bahagia, aku lebih suka kamu sedih, susah, gitu" Gita tersenyum kecut.


"Aku akan lakukan apapun, biar kamu gak merasakan kebahagiaan, termasuk merusak hubungan kamu dengan Haikal. Kamu mau tahu yang sebenarnya, aku yang nyuruh Darto buat ajak kamu jalan, terus foto berdua dengan mesra dan meminta dia untuk kirim foto itu ke aku dan aku tunjukkin deh ke Haikal" lanjut Gita.


"Oh... Jadi, kamu lagi yang bikin ulah, aku gak nyangka otak kamu picik seperti itu" Haikal berbalik dan menghampiri keduanya.


"Ha.... Haikal, aku... Aku bisa jelasin" Gita terbata-bata.


"Udah yah, Git, cukup!" Haikal pun langsung pergi dan menarik tangan Marni, ikut bersamanya.


Dalam hatinya, Haikal menyesal karena telah bertindak tanpa mencari tahu kebenarannya terlebih dulu.


"Marni, maafin aku yah, aku udah putusin kamu tiba-tiba, aku juga udah marah-marah sama kamu, bodohnya aku percaya gitu aja sama foto itu" sesal Haikal.


"Kamu mau kan maafin aku dan balikan sama aku, aku masih sayang sama kamu" Haikal menatap Marni dalam-dalam, sambil menggenggam kedua tangan Marni.


"Iya, Kal, soal itu aku udah maafin kamu, tapi, kalau untuk balikan, maaf yah, sepertinya aku gak bisa, aku udah capek dengan semua masalah selama kita pacaran, aku gak nyaman aja, sekali lagi maafin aku" Marni melepaskan tangannya dari genggaman tangan Haikal dan beranjak pergi dari hadapannya.


Malam harinya, Haikal diajak pergi oleh ayahnya ke rumah salah satu rekan bisnisnya untuk memenuhi undangan makan malam. Tadinya Haikal menolak ajakan ayahnya, tapi, akhirnya dia pun bersedia menemani ayahnya.


"Selamat malam pak Yanto!" Sapanya saat sampai di depan rumahnya.


"Pak Gandi, selamat datang di rumah saya, mari, silahkan masuk" Yanto menyambutnya hangat dan mempersilahkannya masuk.


"Loh... Haikal yah? Jadi, ini anak pak Gandi?" Yanto tampak terkejut.


"Pak Yanto udah kenal sama anak saya?" Tanya Gandi.


"Iya, dulu, waktu mendiang istri saya masih hidup, dia pernah kemari, waktu dia anterin anak saya, Gita, yang tiba-tiba pingsan dijalan dan membawanya kerumah sakit, terus dulu juga sering antar jemput Gita" jelas Yanto. Gandi hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum, mendengar perkataan Yanto.


"Hadeh.... Kalau tahu rekan bisnis ayah itu ayahnya Gita, aku gak bakalan mau ikut, malas banget kalau harus ketemu dengan Gita, aku udah gak mau lagi berurusan dengan si cewek trouble maker itu" runtuk Haikal dalam hati.


"Oh iya, anak pak Yanto yang namanya Gita itu, mana? Dari tadi aku gak lihat?" Tanya Gandi dan mencari anak dari Yanto.


"Ayo silahkan dimakan, pak Gandi, nak Haikal, nanti keburu dingin makanannya" Yanto mempersilahkan Gandi dan Haikal menyantap makanan yang sudah tersedia diatas meja.


Tak berapa lama kemudian, yang ditunggu pun keluar juga dari kamarnya.


"Maaf yah, om, nunggunya lama" kata Gita saat menuruni tangga. Gandi hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Loh.... Haikal! Kok ada kamu juga! Kamu anaknya om Gandi yah!" Seru Gita yang terlihat terkejut.


"Iya, nak Gita, Haikal ini anak om, om juga baru tahu kalau kalian udah lama saling kenal" kata Gandi.


"Iya, om, kita udah berteman sejak SMP, bahkan pernah pacaran sih, meskipun gak bertahan lama, tapi, kita berdua tetap berteman baik kok, apalagi sekarang di SMA kita satu kelas, iya kan, Kal!" Terang Gita dan melirik kearah Haikal. Haikal hanya mengangguk. Gandi tampaknya senang, mendengar Haikal dan Gita sudah saling mengenal dan akrab satu sama lain.


"Kalau seperti itu, bagus dong, gimana kalau kalian berdua kita jodohkan, mau gak?" Tanya Yanto, menatap Haikal dan Gita bergantian. Mendengar hal itu, Haikal yang tengah menikmati hidangan di hadapannya, tersedak karena kaget.


"Ide yang bagus itu, pak Yanto, kita bisa besanan nantinya, Ha...Ha...Ha...!" Gandi menimpali sambil tertawa. Yanto pun ikut tertawa mendengarnya.


"Tapi, kembali lagi sama Haikal dan Gita, bersedia atau tidak dijodohkan, karena kelak, mereka berdua yang menjalani" lanjut Gandi.


"Kalau aku sih bersedia, om, mungkin ini yang terbaik untuk aku nantinya, apalagi aku dan Haikal juga sudah saling mengenal" Gita bersedia menerima perjodohan tersebut.


"Kalau kamu sendiri, gimana, Kal?" Tanya Gandi pada Haikal. Agak lama Haikal berpikir, namun, akhirnya dia telah memutuskan.


"Sebelumnya aku minta maaf sama om Yanto dan juga ayah, dengan berat hati, aku katakan, kalau aku gak bisa menerima perjodohan ini, karena aku gak cinta sama Gita" Haikal menolaknya. Saat mendengar jawaban Haikal, Gita meninggalkan meja makan dan berlari ke kamarnya dan membanting pintu kamarnya.


"Haikal, kamu ini gimana sih, lihat apa yang kamu lakukan, ayah gak enak sama pak Yanto" Gandi berbisik.


"Ee.... Pak Gandi, Haikal, saya minta maaf atas sikap Gita barusan yang membuat pak Gandi dan Haikal tidak nyaman" Yanto meminta maaf pada Gandi dan Haikal.


"Justru saya yang minta maaf, gara-gara Haikal, Gita jadi kecewa dan marah seperti tadi, sekali lagi saya minta maaf yang sebesar-besarnya" ucap Gandi dengan perasaan tidak enak.


"Aku juga mjnta maaf, om, aku gak bermaksud menyakiti hati Gita, aku hanya mengutarakan apa yang ada di dalam hatiku" Haikal jjga meminta maaf atas sikapnya tadi.


*Saya berharap kejadian ini tidak mempengaruhi hubungan kerjasama kita" Gandi harap-harap cemas.


"Pak Gandi tenang saja, saya tidak akan mencampur aduk antara masalah pribadi dan pekerjaan, saya harus tetap bersikap profesional" kata Yanto dan meyakinkan Gandi kalau hubungan kerjasamanya akan tetap berlanjut.


"Kalau soal perjodohan tadi, kembali lagi pada anak-anak kita, karena cinta tidak bisa dipaksakan, kita hanya mengusulkan saja, selebihnya mereka yang memutuskan" lanjut Yanto. Gandi merasa lega mendengar pernyataan Yanto tadi. Setelah selesai makan malam dan berbincang-bincang sebentar, Gandi dan Haikal berpamitan pulang.


"Pak Yanto, sekali lagi saya ucapkan terima kasih untuk jamuan makan malam ini, saya dan Haikal pamit yah" Gandi menjabat tangan Yanto dan berpamitan pulang. Yanto menganggukkan kepala dan menunggu sampai mobil Gandi pergi menjauh, lalu masuk kembali.