Trouble Maker

Trouble Maker
Bab 56



Butuh waktu sekitar tiga puluh menit untuk bisa sampai di rumah Marni, karena jarak dari rumah Gita menuju rumah Marni cukup jauh. Sesampainya disana, setelah memarkirkan mobilnya, Novri langsung masuk ke dalam rumah dan mencari keberadaan Marni, memberitahukan padanya kalau Gita datang dan ingin meminta maaf padanya, atas semua perbuatan Gita selama ini terhadapnya. Marni terkejut mendengarnya dan seolah ada rasa ragu dengan yang diucapkan Novri. Marni merasa trauma, karena dulu Gita pernah melakukan itu. Gita meminta maaf padanya dan menerima dirinya sebagai temannya. Tapi, tahu-tahunya dibalik itu, ada sebuah rencana yang sudah disiapkan oleh Gita, sehingga Marni masuk dalam jebakan Gita tersebut. Marni belum bisa melupakan kejadian yang menyakitkan itu. Namun, Novri berusaha meyakinkan Marni dan mengatakan kalau situasinya ini jauh berbeda. Novri bisa melihat dari sorot mata Gita, kalau Gita benar-benar tulus ingin meminta maaf pada Marni. Pada akhirnya, mau tidak mau Marni pun bersedia menemui Gita yang sudah menunggu di ruang tamu dan berharap apa yang dikatakan Novri padanya itu benar. Melihat Marni keluar, Gita langsung berdiri, menghampirinya dan segera memeluk Marni.


"Apa ini benar-benar tulus dari dalam hatinya atau hanya berpura-pura saja? Seperti yang pernah dia lakukan dulu" batin Marni.


"Duh... Marni, jangan berprasangka buruk dulu, siapa tahu aja, dia benar-benar tulus ingin meminta maaf, setiap manusia kan bisa saja berubah, termasuk Gita juga" Marni menepis prasangka buruknya terhadap Gita. Mereka duduk berhadapan dan Gita pun langsung mengutarakan maksud dan tujuannya datang ke rumah Marni.


"Mar, aku mau minta maaf sama kamu atas perbuatan aku selama ini ke kamu, aku benar-benar menyesal dengan apa yang aku lakukan dulu" Gita mengutarakan permintaan maafnya. Marni menatap mata Gita dan dia bisa melihat dari sorot mata Gita, bahwa apa yang diucapkannya ini benar-benar lahir dari dalam hatinya dan kali ini tidak ada kebohongan dibaliknya.


"Git, sebelum kamu minta maaf sama aku, aku udah maafkan kamu kok" Marni menanggapi.


"Makasih banyak yah, Mar, setidaknya sekarang beban aku udah berkurang" Gita merasa lega, mendengar jawaban Marni dan mau memaafkannya.


"Oh iya, Git, aku juga sekalian mau ucapkan turut berduka cita atas meninggalnya ayah kamu dan juga ibu sambung kamu, aku minta maaf, tadi aku gak bisa datang, karena aku kebetulan ada jadwal mengajar, gak mungkin juga aku batalin, gak enak sama anak-anak murid aku, ini aja aku baru pulang dari mengajar" jelas Marni. Gita mengangguk pelan dan tampak memahaminya.


"Terus sekarang kamu tinggal berdua aja dong sama adik sambung kamu, Hilsa, di rumah yang sebesar itu, pasti terasa lengang banget" kata Marni.


"Aku sama Hilsa sudah diusir dari rumah dan dikuasai oleh saudara ayah aku, karena katanya aku gak berhak atas rumah itu, soalnya aku bukan anak kandung ayah Yanto dan ibu Tina" jelas Gita dengan raut wajah sedih.


"Git, apa yang dikatakan oleh saudara ayah kamu itu memang benar adanya, kamu bukan anak kandung om Yanto dan Tante Tina" Marni membenarkan pernyataan yang disampaikan pada Gita.


"Maksud kamu, Mar?" Tanya Gita yang masih terlihat bingung. Marni berpikir sejenak. Mungkin memang sebaiknya Gita tahu tentang rahasia yang bertahun-tahun disembunyikan oleh Yanto dan Tina serta Andini juga.


"Mar, kok kamu malah diam sih! Jawab dong!" Gita terlihat tidak sabaran menunggu jawaban Marni.


"Sabar, kak" Hilsa yang duduk disamping Gita, mencoba menenangkannya.


"Jadi, gini, Git, orang tua kandung kamu adalah Tante Andini, kalah ayah kamu sih, gak tahu yah" Marni membuka rahasia tersebut.


"Kamu tahu darimana soal itu? Sejak kapan kamu tahu semua itu? Terus kenapa kamu gak pernah cerita apa-apa sama aku? Kenapa kamu malah bungkam aja?" Gita menghujani Marni dengan beberapa pertanyaan yang dilontarkannya. Marni memberi isyarat pada Gita untuk tenang dan dia akan menjelaskannya secara detail.


"Jujur aja, aku tahu soal ini tuh udah lama dan aku sebenarnya mau banget ceritakan langsung ke kamu, cuma Tante Andini sendiri yang minta aku dan juga Haikal, yang kebetulan dengar juga, untuk tidak menceritakan rahasia ini ke kamu, karena akan terasa menyakitkan saat kamu tahu yang sebenarnya" Marni mengutarakan alasan dirinya menyimpan rahasia itu selama bertahun-tahun. Marni pun melanjutkan ceritanya lagi. Dia mengutarakan semuanya pada Gita, sesuai dengan yang dia dengar dari Andini, tanpa ada yang dia tutup-tutupi lagi. Gita pun akhirnya tahu, kalau dia adalah anak dari hasil hubungan gelap Andini dengan pria asing, yang sama sekali tidak dikenalinya.


"Berarti, aku ini anak haram! Karena tidak tahu siapa ayah kandung aku, kenapa aku harus terlahir dengan cara seperti itu" Gita benar-benar shock, dengan kenyataan pahit yang diterimanya, yang menjadi takdir hidupnya.


"Git, kamu yang sabar yah dan harus tegar menerima kenyataan ini meskipun terasa pahit" Marni mencoba menenangkan Gita.


"Aku juga yakin, bahwa ibu kamu gak menginginkan hal itu terjadi, tapi, mau gimana lagi, ini semua udah takdir dan kita sebagai manusia tidak bisa berbuat apa-apa selain menerimanya dengan ikhlas dan tetap menjalaninya meskipun itu berat" lanjut Marni.


"Mar, apa kamu tahu, dimana ibuku sekarang?" Tanya Gita.


"Kalau alamat rumahnya sih aku gak tahu, cuma aku waktu itu gak sengaja berpapasan dengan Tante Andini di jalan, dia bilang kalau dia kerja di Zona, kamu kesana aja, siapa tahu kamu ketemu ibu kamu" jawab Marni.


"Eh.... Satu hal lagi, kamu juga tadi bilang, kalau kamu ngajar, ngajar dimana?" Tanya Gjta yang terlihat penasaran.


"Oh... Itu, aku cuma ambil sambilan aja sih, ngajarin les private untuk anak-anak, dosen di kampus yang rekomendasikan aku sama kenalan-kenalannya dan Alhamdulilah dari situ bisa aku sisihkan untuk bayar uang kuliah juga" jelas Marni.


"Wah.... Hebat kamu, Marni, aku salut sama kamu dan wajar kalau kamu bisa jadi tenaga pengajar, kamu kan emang pintar" puji Gita. Marni hanya tersenyum. Setelah mendapat informasi dari Marni tentang ibunya dan berbasa basi sebentar, Gita dan juga Hilsa berpamitan pada Marni.


"Aku jalan yah, Mar, mau temui ibu di tempat yang kamu bilang itu, see you" Gita melambaikan tangannya dari dalam mobil yang ditumpanginya.


"Bu, aku udah gak sabar untuk ketemu ibu, aku udah kangen banget ketemu sama ibu" batin Gita.


"Aku tahu, kak, gimana perasaan kak Gita bisa bertemu dengan ibu kandung kakak, setelah tidak bertemu bertahun-tahun" Hilsa seperti bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Gita. Gita tersenyum semringah.