
Tiga puluh menit kemudian, Gita sampai di depan rumah Novri.
"Git, kamu ngapain sih kesini?" Tanya Gena.
"Aku mau tahu, apa alasan Novri membatalkan rencananya melamarku, itu aja" kata Gita dengan raut wajah kesal. Gita mengetuk pintu rumah Novri. Gita menunggu beberapa saat, tidak ada seorangpun yang membukakan pintu. Gita mengetuk lagi sampai beberapa kali, tapi, tidak ada jawaban.
"Neng cari Novri yah?" Seseorang yang kebetulan lewat depan rumah Novri, bertanya pada Gita. Gita menoleh dan berjalan mendekati seseorang tersebut.
"Iya, pak, aku ketuk-ketuk dari tadi gak ada yang bukain, pada kemana yah?" Gita berbalik bertanya.
"Dua hari yang lalu, Novri sama kedua orang tuanya pindah, aku tahu karena aku lihat mereka angkut barang pake mobil pick up" jelasnya.
"Novri pindah kemana? Bapak tahu gak, mereka pindah kemana? Bapak tahu alamat rumahnya yang baru?" Tanya Gita seperti tidak sabaran.
"Waduh... Soal itu saya gak tabu, neng, saya gak sempat nanya sama Novri, ya udah yah, neng, saya duluan, mari" katanya, lalu beranjak pergi dari hadapan Gita dan Gena.
"Terus, gimana sekarang, Git?" Tanya Gena.
"Aku juga gak tahu, Novri juga gak bisa dihubungi dari tadi" Gita tampaknya sudah mulai menyerah.
"Ya udah, yuk, kita balik sekarang" Gena mengajak Gita kembali ke rumahnya. Dengan langkah lunglai, Gita mengikuti Gena. Gita berjalan sambil melamun dan tiba-tiba ada motor yang melintas ke arahnya dan nyaris saja menabrak Gita. Gena secara refleks menarik tangan Gita dan seketika membuat Gita terkejut.
"Git, kamu jangan jalan sambil melamun gitu dong, hampir aja kamu tertabrak motor, untung aja aku langsung narik kamu" omel Gena.
"Mbak, maaf yah, aku tadi buru-buru, soalnya yang punya paket ini minta diantar cepat-cepat" pria tersebut turun dari motornya dan menghampiri Gita dan juga Gena.
"Mbak gak apa-apa kan? Gak ada yang luka atau apa?" Tanyanya untuk memastikan keadaan Gita. Gita hanya menggelengkan kepala tanpa menoleh pada pria itu.
"Temanku gak apa-apa kok, mas, maaf juga yah, tadi temanku jalan gak lihat-lihat" Gena menyela.
"Gita yah? Kamu Gita kan? Terus ini Gena kan?" Pria itu sepertinya mengenali keduanya. Gita mengangkat wajahnya dan menatap pria itu.
"Kamu siapa? Kok kenal sama kita berdua?" Tanya Gena dengan raut wajah bingung.
"Aku Riko, teman SMP kalian, dulu kita sering banget belajar bareng dirumah Gita" katanya.
"Bentar... Bentar, kamu Riko yang anaknya pak Majid, guru kesenian itu, bukan?" Gita bertanya untuk memastikannya. Pria itu mengangguk.
"Ya ampun! Aku sampai gak kenalin kamu tadi, beda banget sama yang dulu" Gena kaget dengan perubahan Riko.
"Iya lah, Gen, masa sama terus sih, lagian itu udah sembilan tahun yang lalu kali, pasti udah banyak berubah" kata Riko.
"Sekarang kamu kerja jadi kurir?" Tanya Gita.
"Gak juga sih, Git, cuma ini kebetulan ada kurir aku yang lagi sakit, jadi, mau gak mau, aku yang gantikan sementara sampai dianya sembuh" terang Riko.
"Aku kebetulan punya coffee shop gitu, yah gak besar-besar amat, tapi, lumayan lah, kalau yang ini kebetulan pesanan online" lanjut Riko.
"Eh... Sampai lupa, aku kan harus antar kopi pesanan pelanggan aku, ya udah yah, Git, Gen, aku duluan, ini kartu namaku, kalau kalian mau pesan kopi atau apa, hubungi aku aja, oke, see you" Riko beranjak pergi dari hadapan Gita dan Gena. Mereka berdua pun kembali ke rumah Gita.
"Git, itu kayaknya ayah kamu deh" Gena menunjuk seseorang yang duduk di teras rumah Gita.
"Kalian berdua darimana?" Tanya Yanto, saat Gita dan Gena datang.
"Aku sama Gena abis dari rumahnya Novri, yah" jawab Gita, sambil membuka pintu rumah.
"Oh iya, ngomong-ngomong soal Novri, kapan rencananya dia mau datang melamar? Tadi kamu udah sempat nanya kan?" Tanya Yanto penasaran. Gita langsung tertunduk sedih dan air matanya mengalir di kedua pipinya.
"Loh... Kamu kenapa, sayang, kok tiba-tiba nangis, apa yang terjadi, coba kamu ceritakan sama ayah" Yanto duduk disamping Gita, menatapnya khawatir. Seketika Gita memeluk ayahnya dan menangis dalam pelukannya.
"Ada apa ini sebenarnya? Gena, ini kenapa, kok Gita tiba-tiba kayak gini?" Yanto bertanya-tanya dan menatap kearah Gena.
"Gini, om, tadi Gita dapat kiriman surat dari Novri, dalam surat itu, Novri bilang kalau dia batal untuk datang melamar Gita" terang Gena. Yanto mengangguk-angguk.
"Setelah baca surat itu, Gita langsung deh ke rumah Novri, mau cari tahu tentang alasannya Novri membatalkan rencana lamaran itu, pas sampai di rumahnya, ternyata Novri sama kedua orang tuanya udah pindah" lanjut Gena.
"Gita, udah, kamu jangan sedih gitu, mungkin Novri bukan jodoh kamu, udah yah nangisnya" Yanto mencoba menenangkan Gita.
"Tapi, aku udah terlanjur cinta banget sama Novri, ayah" Gita masih terisak.
"Iya, Git, ayah ngerti, tapi, mau gimana lagi, ini sudah takdir dari Allah, mau gak mau kita harus terima kenyataannya, meskipun itu pahit" Yanto memberi nasehat pada Gita.
"Oh iya, gimana liburan kalian berdua di Bali waktu itu, seru dong pasti" Yanto menatap Gita dan Gena bergantian.
"Apanya yang seru, om, yang ada kita berdua malah apes" kata Gena. Yanto mengerutkan dahinya, bingung.
"Iya, yah, kita cuma sampai Bandara aja, di Bandara aku sama Gena kena hipnotis sama orang, tiket, handphone dan juga dompet kita berdua tahu-tahu udah hilang begitu aja, tanpa kita sadari" Gita menambahkan.
"Ya udah, nanti ayah gantiin yang baru sekalian sama handphone Gena juga di gantiin yah" kata Yanto.
"Ya udah, ayah mau ke kamar dulu, mau ganti baju, udah gerah banget soalnya" Yanto beranjak dari duduknya dan berlalu menuju kamar.
...*****...
"Gen, abis dari kampus kamu ada acara gak?" Tanya Gita, sembari mereka berjalan menuju tempat parkir.
"Gak ada sih, Git, paling dari kampus langsung balik ke rumah, kenapa emangnya, Git?" Gena berbalik bertanya.
"Kita jalan-jalan ke mall yuk, udah lumayan lama nih gak nginjek mall" ajak Gita.
"Tapi, nanti kan, ayah kamu ada janji dinner di rumahmu sama temannya, masa iya kamu gak dirumah sih, apa kata ayah kamu nanti" Gena mengingatkan.
"Itu kan malam, lagian ini juga masih sore, masih tiga jam lagi, bisa lah, kamu tenang aja" kata Gita santai.
"Eh... Git, itu Novri bukan sih" Gena melihat seseorang berjalan dari arah koridor.
"Iya, Gen, benar itu Novri, ngapain dia disini? Pake bawa bunga segala lagi?" Gita bertanya-tanya.
"Kita ikuti, yuk, aku jadi penasaran" Gita langsung menarik tangan Gena dan mengikuti Novri. Gita dan Gena mengikuti langkah Novri. Mereka berhenti, saat Novri berhenti tepat di hadapan seorang perempuan yang tampaknya menunggunya. Novri memberikan bunga yang dibawanya pada perempuan tersebut dan dia pun tersenyum saat menerima bunga pemberian Novri itu.
"Jadi, ini alasannya, Novri batalkan rencana lamarannya, ternyata gara-gara cewek itu yah, benar-benar keterlaluan kamu, Novri, udah bikin hatiku sakit seperti ini" Gita benar-benar geram melihatnya.