
Selang tiga puluh menit kemudian, Gita dan Gena pun sampai di rumah Hilsa. Hilsa yang sudah menunggu dari tadi, terkejut saat melihat ibunya dibawa turun oleh Gita dan Gena dalam keadaan pingsan. Hilsa segera menghampiri, membantu Gita membawa ibunya ke dalam rumah.
"Git, ini ibu kenapa?" Tanya Hilsa dengan raut wajah terkejut. Mereka membaringkan Riana di kursi ruang tamu.
"Sa, ada minyak angin, gak, atau apa gitu, biar ibumu bisa cepat sadar" kata Gita. Hilsa beranjak ke kamarnya dan kembali dengan membawa sebotol minyak angin dan memberikannya pada Gita. Gita mengoleskan minyak angin ke hidung Riana, agar bisa cepat terbangun.
"Git, kamu belum jawab pertanyaan aku tadi, ibu kenapa? Kok bisa pingsan kayak gini? Apa yang terjadi?" Hilsa melontarkan pertanyaan pada Gita dan tidak sabaran untuk mendengar penjelasan dari Gita.
"Ibu kamu tadi diculik sama seseorang, terus dia dibawa ke sebuah rumah kosong yang jauh dari keramaian, sepertinya ibu kamu dibius oleh laki-laki yang membawanya, karena aku lihat ibumu digendong ke mobilnya" jelas Gita.
"Kebetulan banget aku melihatnya, saat laki-laki itu berjalan ke parkiran cafe atau apa gitu. Aku udah punya firasat buruk dalam hatiku, ya udah aku ikuti aja mobil itu kemana dia membawa ibu kamu, sampai pada akhirnya aku ada kesempatan, aku segera masuk ke rumah itu, menyelamatkan ibumu dan bawa dia pergi dari tempat itu" lanjut Gita.
"Makasih banget yah, Git, kamu udah selamatkan ibu, kalau gak ada kamu, aku pasti bingung banget sekarang" kata Hilsa, dengan mata berkaca-kaca dan menggenggam kedua tangan Gita. Gita hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Oh iya, aku lupa kenalin, ini Gena sahabat aku sejak SMP" Gita memperkenalkan sahabatnya itu pada Hilsa. Keduanya berjabat tangan sambil tersenyum. Selang beberapa saat kemudian, secara perlahan Riana membuka mata.
"Alhamdulillah! Ibu akhirnya sadar juga" Hilsa senang melihatnya.
"Ibu ada dimana, Sa? Terus kenapa ada Gita juga?" Tanya Riana yang sepertinya kebingungan.
"Ini dirumah, Bu, tadi ibu pingsan. Ada laki-laki yang bius ibu waktu di cafe dan bawa ibu ke suatu tempat yang entah dimana itu" jelas Hilsa.
"Untung aja Gita kebetulan ada di dekat situ dan melihat ibu dibawa oleh laki-laki itu dan ikutin dia, kemana dia membawa ibu" lanjut Hilsa.
"Gita, makasih yah, nak, kamu udah selamatkan tante, kalau gak ada kamu, gak akan ada yang tahu kalau tante diculik" Riana menoleh pada Gita.
"Iya, tante, sama-sama" jawab Gita.
"Terus yang ini siapa? Teman kamu?" Riana menangkan seseorang yang duduk disamping Gita.
"Ini Gena, tante, sahabat aku, dia tadi bersamaku juga" kata Gita. Gena menganggukkan kepala sambil tersenyum.
"Tapi, ibu baik-baik aja kan? Gak ada yang luka atau apa?" Tanya Hilsa yang terlihat cemas.
"Ibu gak apa-apa, nak, ibu baik-baik aja" kata Riana untuk menenangkan putrinya itu. Entah kenapa mata Gita berkaca-kaca saat melihat Hilsa dan Riana. Dia seolah merindukan sosok seorang ibu. Dia teringat mendiang Tina, meskipun sebenarnya dia bukanlah ibu kandung Gita.
"Gita, kamu kenapa, kok tiba-tiba nangis gitu?" Tanya Riana, yang melihat Gita menangis. Gita segera menghapus air matanya dan berusaha menyembunyikannya dari Riana.
"Gak kok, tante, gak apa-apa" Gita berusaha agar terlihat baik-baik saja.
"Gita kenapa yah, tiba-tiba nangis gitu, apa dia lagi ada masalah kali yah? Cuma dia malu untuk mencurahkan isi hatinya itu" batin Riana.
"Bu, aku penasaran deh sama laki-laki yang bius ibu, dia emang siapa sih? Apa ibu sempat lihat wajah laki-laki itu gak?" Tanya Hilsa yang terlihat sangat penasaran dengan orang yang menculik ibunya. Riana mencoba mengumpulkan ingatannya dan mengingat urutan kejadian yang dia alami. Namun akhirnya, Riana menggeleng dan tidak mengingat semua yang terjadi tadi.
"Yang ibu ingat, tadi ketemuan dengan ayahnya Gita di cafe, mau obrolkan sesuatu, tapi, ayahnya Gita buru-buru karena ada urusan penting dan belum sempat ngobrol banyak, terus ibu langsung pergi dari situ dan sempat berpapasan dengan Haris, setelah itu ibu gak ingat apa-apa lagi dan tahu-tahu udah dirumah" terang Riana.
"Aku lihat sih tadi, orang yang nyulik itu, tinggi, badannya agar kekar gitu dan rambutnya klimis" Gita menyela.
"Kamu masih ingat gak, Git, warna baju yang dia pakai?" Tanya Riana.
"Kemeja kotak-kotak warna biru, tan" jawab Gita singkat.
"Iya, Git, benar, gak salah lagi, itu Haris" Riana membenarkan perkataan Gita.
"Haris itu siapa, tan? Apa dia musuh tante di kantor atau apa gitu?" Gita semakin penasaran.
"Bukan, Haris itu ayah kandungnya Hilsa. Tante sama om Haris berpisah saat Hilsa masih bayi, dia lebih memilih untuk pergi dengan wanita simpanannya dan meninggalkan tante, juga Hilsa" terang Riana.
"Bu, ayah dimana sekarang, aku mau ketemu sama dia, meskipun cuma sekali aja, sejak aku kecil sampai sekarang aku belum pernah melihat wajah ayahku seperti apa, boleh yah, Bu, aku mohon" pinta Hilsa dengan wajah memelas.
"Sa, sebaiknya kamu tidak usah bertemu dia, karena dia bukan laki-laki yang baik, bahkan tega menculik ibu" Riana terpaksa menolak permintaan Hilsa.
"Ibu bukannya gak mau mempertemukan kamu dengan ayahmu, cuma ibu takut kalau ayahmu berbuat nekat, misalnya bawa kamu lari dan jauh dari ibu, ibu tidak mau berpisah dengan kamu, nak" Lanjut Riana, mencoba memberi pengertian pada Hilsa. Hilsa mengangguk dan paham akan ketakutan ibunya itu.
...*****...
Setelah kejadian buruk yang di alaminya beberapa hari yang lalu, Riana meminta Yanto agar mempercepat pernikahannya, agar dia bisa terbebas dari Haris, mantan suaminya. Yanto menyetujuinya dan tidak keberatan pernikahan itu dipercepat dari rencana awal. Akhirnya, seminggu berselang, pernikahan itu pun dilaksanakan.
"Aku senang deh lihat kalian berdua nikah" ucap Gita dengan senyum semringah.
"Karena kita berdua udah nikah, mulai sekarang, Gita panggil ibu, jangan tante lagi loh" Riana melirik kearah Gita.
"Begitu juga Hilsa, panggil om Yanto dengan sebutan ayah" lanjut Riana dan berpaling pada Hilsa.
"Okey!" Jawab Gita dan Hilsa bersamaan, lalu mereka pun tertawa.
"Aku sangat bahagia mendapatkan keluarga baru. Meskipun dua puluh dua tahun yang lalu, aku harus menderita dan berderai air mata saat ditinggal mas Haris, berjuang sendirian membesarkan Hilsa. Sampai pada akhirnya, aku bertemu dengan mas Yanto yang kini mengubah segala kesedihan yang telah ku alami menjadi kebahagiaan dan menyempurnakan hidupku saat ini" Riana benar-benar sangat bahagia dengan pernikahan keduanya ini. Riana menjalani hari-hari baru dengan status sebagai istri Yanto dan menjadi ibu sambung untuk Gita.
"Pagi, sayang" Yanto menghampiri Riana yang tengah sibuk di dapur, memeluknya dari belakang.
"Eh... Mas, pagi juga, kamu udah bangun" Riana menoleh ke belakang.
"Oh iya, sayang, aku mau ngasi tahu kalau besok itu kita akan berangkat ke Bali, kira-kira seminggu lah kita disana, kamu kemasi baju yang mau kamu bawa nanti" terang Yanto.
"Kita berdua aja? Anak-anak gak ikut?" Tanya Riana.
"Kan kita mau honey moon disana, kita nikmati waktu kita berdua" jawab Yanto.
*Pagi yah, Bu" sapa Gita dan Hilsa bersamaan.
"Eh... Anak-anak ibu udah bangun, pagi juga, sayang, ini sarapannya yah" Riana menaruh sarapan yang dibuatnya di depan keduanya.
"Aku tadi sempat dengar, ibu sama ayah mau ke Bali yah?" Tanya Hilsa.
"Haah! Ke Bali! Aku ikut dong, aku mau banget liburan kesana" pinta Gita.
"Ayah sama ibu perginya berdua aja, kita mau bulan madu disana" kata Yanto.
"Nanti deh, kita liburan berempat, ayah masih ada jatah cuti yang belum ayah ambil" Yanto janji pada putri sulungnya itu.
"Iya, yah, gak apa-apa, aku ngerti kok, yang penting ayah bahagia" jawab Gita dengan penuh pengertian.