
"Non... Non Rasya, bangun, Non." Panggil Bibi yang saat ini tengah berada di tepi ranjang Rasya.
Dengan perlahan Rasya membuka matanya, "syukurlah cuma mimpi." Ucapnya lega.
Bibi yang melihatnya pun menatap Rasya dengan tatapan bingung. Rasya yang menyadari itu langsung menoleh ke arah Si bibi dengan cengiran di bibirnya, "eh ada Bibi. Kenapa, Bi?" Tanya Rasya mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Engga apa-apa, Non. Cuma mau ngingetin kalo sebentar lagi Non Rasya harus berangkat les privat piano, Non." Ucap Bibi mengingatkan.
Rasya langsung menepuk keningnya cukup keras," astaga... Bi... untung aja Bibi ngingetin aku. Yaudah makasih, Bi. Rasya mau siap-siap dulu." Rasya langsung bangkit dari tempat tidurnya berlari menuju kamar mandi.
☘☘☘
Setelah 30 menit perjalanan akhirnya Rasya sampai di tempat les nya. Ia langsung masuk setelah memberi salam pada satpam yang menjaga di depan tempat lesnya.
Gerald Pov
Saat ini aku tengah bersantai di cafe favoritku bersama ketiga sahabatku. Lokasi cafe ini cukup strategis sehingga menjadikan cafe ini banyak diminati pelanggan selain itu, di sisi kanan cafe juga terdapat tempat les privat piano yang membuatnya semakin terkenal di kalangan remaja.
Aku duduk di kursi dekat jendela yang dapat melihat secara langsung kondisi di luar cafe ini. Saat aku tengah sibuk mengamati aktivitas orang-orang di luar cafe, tiba-tiba saja mataku menangkap sosok yang amat sangat aku kenal. Rasya... nama itulah yang langsung muncul di kepalaku saat melihat sosok di seberang sana, karena penasaran aku langsung bergegas keluar cafe meninggalkan sahabatku yang masih tengah berteriak memanggil namaku.
"Permisi, Pak." Sapaku pada satpam penjaga tempat les piano.
Sekarang aku sedang berdiri tepat di pintu masuk ruang les dimana Rasya berada.
Satpam yang tadinya tengah bersenda gurau dengan penjual makanan di sampingnya pun menoleh dan menatapku dengan tatapan penuh tanya.
"Ada apa ya?" Tanyanya langsung tanpa basa-basi.
"Apa Bapak kenal dengan gadis yang baru saja masuk ke dalam barusan?" Tanyaku dengan sopan.
Kulihat satpam itu mengangguk, "oh Nak Rasya maksud kamu?" Ia bertanya dengan mengelus-elus jenggot tipisnya.
Aku mengangguk cepat dan satpam itu pun tersenyum. "Kamu pacarnya ya?" Tebak satpam tadi.
Aku hanya bisa menggaruk belakang leherku tanpa membuka suara.
Mengerti akan situasi saat ini, Si satpam tadi berucap kembali. "Eh... maaf-maaf, saya ngga bermaksud menyinggung perasaan kamu. Nak Rasya memang les disini, Nak." Ujar satpam dengan wajah menyesal akibat candaannya tadi.
Aku hanya tersenyum tipis menatapnya, "ah Bapak santai saja. Saya ini malah calon suaminya, Pak. Tapi Bapak jangan bilang ke siapa-siapa ya," aku sedikit merapatkan tubuhku saat berbicara pada satpam di hadapanku ini dengan suara berbisik agar tak ada seorang pun yang mendengar ucapanku barusan.
Satpam mengangguk paham lalu ia memundurkan tubuhnya menjauh dariku,"lalu apa yang kamu lakukan disini, Nak?" Ia bertanya dengan antusias.
"A-aku juga ingin ikut les piano, Pak. Apakah masih bisa tempat ini menerimaku?" Kilahku.
Bukannya menjawab satpam tersebut hanya senyum-senyum dengan tatapan yang menurutku terlihat sangat aneh.
"Kau yakin ingin mendaftar? Atau kau hanya ingin berkencan di dalam sana?" Godanya.
Aku pun mengibas-ibaskan tangan kananku dengan kepala sedikit ke belakang, "ah Bapak ini bisa saja. Engga lah Pak, saya benar-benar ingin belajar piano. Sungguh," aku mengangkat jari telunjuk dan tengah ku membentuk lambang peace.
"Baiklah-baiklah, dasar anak muda. Jika kau ingin mendaftar, kau masuk lah ke dalam lalu isi form pendaftaran disana," Satpam itu menunjuk tempat dimana resepsionis berada.
Aku tersenyum seraya mengangguk kepadanya, "terima kasih, Pak. Permisi," ucapku tulus lalu kulangkahkan kakiku memasuki tempat les piano tempat Rasya berada.
☘☘☘
Setelah mengisi form pendaftaran dan menyelesaikan segala keperluan yang dibutuhkan, akhirnya Gerald pun berjalan menuju ruang les piano. Sebelum masuk ia menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya lewat mulut.
"Masuklah,"
Setelah mendapatkan izin Gerald memegang gagang pintu dengan hati-hati lalu mendorongnya. Dengan cengiran bodohnya Gerald memasuki ruangan itu seperti seorang murid yang tengah ketahuan mencontek.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya guru les privat itu.
"Mmm... saya murid baru di kelas Anda." Ucap Gerald tanpa basa-basi, ia langsung berjalan menuju kursi kosong yang kebetulan berada di dekat tempat Rasya.
Guru piano itu menggeleng-gelengkan kepalanya heran akan tingkah Gerald yang terkesan tak punya sopan santun.
"Hei kamu, kemarilah. Kau bahkan belum memperkenalkan dirimu, dan apa itu... tanpa permisi kau berlalu begitu saja. Hebat..." sindir guru piano seraya menepuk telapak tangannya.
"Bodoh," bisik Rasya dengan suara yang cukup rendah namun masih bisa di dengar oleh Gerald, membuat lelaki itu memalingkan pandangannya ke arah Rasya dengan tatapan nyalang.
"Hei apa kau tak mendengarku, cepat maju dan perkenalkan dirimu atau kau terpaksa kukeluarkan dari kelas ini." Ancam Si guru piano membuat Gerald mau tak mau harus kembali berdiri dan berjalan ke arah guru di depan sana.
"Oke... perkenalkan namaku Gerald," ucap Gerald singkat dengan tampang yang terlihat menyebalkan.
"Hanya itu?"
Gerald mengangguk. Guru di sampingnya mengembuskan napasnya lelah menghadapi tingkah murid baru di hadapannya saat ini.
"Oke baiklah, Gerald. Perkenalkan saya Suzy Narae, guru les yang akan mengajar kamu selama kamu disini." Terang guru yang bernama Suzy itu.
Gerald melingkarkan jari telunjuk dan jempolnya kemudian berlalu ke tempat duduknya semula.
"Benar-benar tidak sopan." Gumam Suzy kesal.
"Oke class, mari kita mulai belajarnya. Lihat ke depan semuanya," perintah Suzy dengan tegas membuat seluruh penghuni ruangan menatap ke arahnya dengan tatapan serius.
☘☘☘
"Hei kau, untuk apa kau mengikutiku?" Tanya Rasya to the point pada Gerald yang sama-sama tengah berjalan ke parkiran tempat les mereka. Saat ini mereka telah selesai melaksanakan les hari ini.
Gerald menoleh sesaat kemudian kembali menatap ke arah depan memunggungi Rasya. Ia mengendikan bahunya menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh orang yang akan dijodohkan dengannya itu.
"Apa kau mengikutiku sampai kemari?" Tebak Rasya dengan mata menyipit. Tapi Gerald lagi-lagi hanya mengangkat bahunya tanpa membuka suaranya.
"Dasar stalker!" Tuduh Rasya dengan nada sedikit tinggi membuat Gerald langsung menatapnya sengit.
"Apa? Kau bilang apa tadi?" Tanya Gerald sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Rasya.
"Stalker," desis Rasya sengit. Ia menatap Gerald dengan tatapan menantang sedangkan lelaki dihadapannya pun sama seperti Rasya, ia menatap gadis itu tak kalah sengit sembari berkacak pinggang.
"Sejak kapan ikut les piano dibilang stalker?" Tanya Gerald kini ia mengetuk-ngetukkan telunjuk tangan kanannya di dagu dengan tangan kiri memegang siku lengan kanannya.
"Sejak tadi," balas Rasya tak mau kalah.
"Kau yakin?" Gerald berjalan mendekati Rasya yang sudah mulai berjalan mundur menjauhi Gerald sedikit demi sedikit.
"Apa kau yakin Nona Rasya?" Ulang Gerald dengan tatapan mengintimidasi.
"Sial," pekik Rasya dalam hati saat tubuhnya sudah tidak bisa berkutik karena tak ada ruang untuk bergerak lagi.
"Apa kau yakin My wifey?" Tanya Gerald lagi, kali ini tangan kanannya ia letakkan di mobil yang berada di belakang tubuh Rasya membuat Rasya berada dalam kungkungannya.