
Setahun kemudian, bisnis yang dirintis oleh Gita bersama adik sambungnya, Hilsa dan juga ibu kandungnya, Andini, kini sudah memiliki dua toko yang sudah dibuka sebelumnya dan hari ini launching toko ketiganya.
"Akhirnya toko ketiga ini bisa launching juga" Gita tersenyum semringah.
"Saya ucapkan selamat yah, mbak Gita, saya juga turut senang dengan dibukanya toko kue yang ketiga ini" salah satu karyawan toko memberi ucapan selamat pada Gita.
"Makasih yah, ini juga berkat kerja keras kamu dan juga teman-teman yang lain, sehingga toko kue kita laris manis dan memiliki banyak pelanggan, sampai akhirnya toko ketiga ini dibuka" kata Gita.
"Hai, sayang, selamat yah, ibu benar-benar bangga banget sama kamu, kamu sekarang udah jadi pebisnis muda yang sukses" Andini datang dan langsung memeluk putrinya.
"Selamat yah, kak, atas launching toko ketiga kakak ini, kak Gita emang hebat banget deh, aku doakan semoga bisa serame toko pertama dan kedua" Hilsa turut memberi ucapan selamat pada Gita.
"Amiiin...!" Jawab Gita dan Andini bersamaan.
"Oh iya, mumpung ada kamu disini, aku mau toko ketiga ini, kamu yang kelola dan gak pake nolak" kata Gita.
"Iya, nak Hilsa, Gita udah ceritakan semua dan menurut tante kamu adalah orang yang tepat, apalagi sewaktu Gita berada di masa-masa sulit, kamu selalu setia disampingnya dan selalu siap sedia membantu" Andini menimpali.
"Kalau memang tante Andini dan kak Gita maunya seperti itu, aku terima dengan senang hati dan makasih sudah mempercayakan toko ini, aku akan jaga amanah ini dengan sebaik-baiknya" Hilsa bersedia menerima tawaran Gita. Gita senang mendengar jawaban dari Hilsa. Namun, seketika senyuman di wajahnya, tiba-tiba menghilang saat melihat ada seseorang yang datang. Dia adalah Gena, seseorang yang selama ini Gita anggap sebagai sahabatnya. Tapi, saat Gita berada dalam masa sulit, Gena justru menjauh dari Gita, bahkan terkesan tidak peduli. Sekarang, saat Gita sudah meraih kesuksesan, Gena datang lagi padanya.
"Selamat yah, sahabatku tercinta, aku bangga deh lihat kesuksesan kamu sekarang" Gena tersenyum semringah.
"Apa kamu bilang, sahabat? Apakah pantas seseorang itu dikatakan sahabat, disaat sahabatnya kesulitan dan membutuhkan bantuan,malah pergi menjauh, tidak peduli sama sekali, apa itu yang namanya sahabat!" Gita menatap Gena dengan tatapan tajam. Hilsa yang berada disamping Gita, mencoba menenangkan Gita, yang terlihat sedikit emosi.
"Git, aku bukannya mau menghindar atau apa, cuma waktu itu situasinya tidak memungkinkan, aku benar-benar sibuk dan gak bisa bantuin kamu" Gena beralasan.
"Udahlah, Gen, aku gak mau dengar apa-apa lagi, aku baru sadar ternyata kamu hanya ada disaat aku senang aja, disaat aku kesusahan, kamu malah menghilang, itu yang kamu sebut sahabat! Menurut aku, sosok yang pantas dijadikan sahabat adalah Hilsa, hanya dia yang selalu ada dalam situasi apapun, dia yang selalu siap sedia membantu semampu yang dia bisa" kata Gita sambil merangkul Hilsa.
"Kalau misalkan kamu mau masuk ke dalam, silahkan saja, tapi, jangan lupa bayar yah, karena di dunia ini gak ada yang gratis" Gita menegaskan. Mendengar perkataan Gita, Gena pun beranjak pergi dari tempat itu. Gena mengakui kalau dirinya salah, karena dia meninggalkan Gita dan menjauh darinya saat Gita berada di masa yang sulit dan butuh support dari seorang sahabat, tapi, Gena malah menghilang. Harusnya sebagai sahabat yang baik, dia membantu Gita untuk keluar dari masalah yang dihadapinya, bukan malah berpaling darinya. Gena berusaha untuk memperbaiki kesalahannya dan berharap Gita mau memaafkannya, agar persahabatannya bisa kembali membaik. Namun, Gita sepertinya sudah tidak bisa lagi menerima Gena sebagai sahabatnya, setelah apa yang dulu dia lakukan. Gena tidak pernah menyangka hubungan persahabatannya dengan Gita, yang sudah terjalin sejak SMP, harus berakhir begitu saja.
"Git, udah, jangan kamu pikirkan, kamu udah ambil keputusan yang tepat, untuk apa pertahankan sahabat yang hanya ada saat kamu senang aja, disaat susah dia malah menghilang entah kemana" kata Andini.
...*****...
Beberapa hari pasca launching toko ketiganya, Gita ingin mengutarakan sesuatu yang cukup serius. Di meja makan, Gita menyampaikan kalau ada seseorang yang akan datang melamar. Andini dan juga Hilsa terkejut mendengarnya.
"Yang benar kamu, nak?" Andini terlihat terkejut.
"Siapa orangnya, kak? Ganteng gak? Terus dia kerja dimana?" Hilsa bertanya-tanya penasaran.
"Sabar, akan aku jelaskan. Jadi, saat acara launching toko kita itu, aku diminta seseorang untuk menemuinya di suatu tempat dan dia ingin mengutarakan sesuatu" Gita mulai menjelaskan.
"Awalnya aku juga gak tahu, hal apa yang ingin dia sampaikan ke aku, pas aku udah nyampe disana, tanpa ada basa basi, dia langsung to the point dan dia lamar aku di hadapan banyak orang dan tanpa ragu aku terima lamarannya itu, karena aku juga sayang sama dia" lanjut Gita.
"Siapa orangnya, nak? Namanya siapa?" Andini kian penasaran.
"Dia adalah Faiz, senior aku dulu dan dia juga merupakan salah satu pelanggan aku juga, Bu, dia cukup sering pesan kue di toko aku, untuk rapat dengan kliennya, untuk acara ulang tahun perusahaannya dan sebagainya" jawab Gita.
"Ibu senang dengarnya, kamu akhirnya ketemu dengan jodohmu dan sebentar lagi akan menikah" Andini tampak senang, Gita akhirnya mendapatkan tambatan hatinya.
"Hmm..... Aku mau menyampaikan sesuatu juga dan ini menyangkut masa depan aku" Hilsa angkat bicara.
"Apa itu, Sa?" Tanya Gita yang terlihat penasaran.
"Aku sama kayak kak Gita, aku juga udah di lamar seseorang dan akan secepatnya menikah, cuma belum tentukan tanggal dan bulannya sih" jawab Hilsa.
"Gimana kalau kamu dan aku, nikah kembar aja, kayaknya seru tuh" Gita memberikan usul.
"Ide yang bagus sih, nanti aku coba minta pendapat dia deh" kata Hilsa. Dua minggu berselang, pernikahan kembar Gita dan Hilsa dilangsungkan dengan meriah. Terlihat dari raut wajah keduanya sangat bahagia bisa dipersunting oleh lelaki dambaan hatinya.
"Dari serangkaian hal yang telah aku lalui dulu dan yang pernah aku lakukan di tahun-tahun sebelumnya, yang membuat orang lain terluka karena sikapku yang selalu ingin menindas orang lain dan merusak kebahagiaan mereka, aku mendapatkan pelajaran bahwa setiap perbuatan yang dilakukan pasti suatu saat akan ada balasannya, baik maupun buruk, aku sendiri sudah pernah mendapatkan balasan yang jauh lebih menyakitkan dari apa yang aku perbuat dan kini, aku ingin menjalani hidupku dan berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi" batin Gita.