
Setahun kemudian, Novri akhirnya lulus dan di wisuda. Novri Sangat bahagia, apalagi dihadri oleh orang-orang yang dia cintai.
"Selamat yah, nak, kamu udah lulus dengan nilai yang memuaskan" ayahnya menangis terharu sambil memeluk Novri.
"Iya, yah, aku juga mau bilang makasih sama ayah dan ibu yang udah mati-matian cari uang demi biayain kuliahku" Novri tersenyum bahagia.
"Selamat yah, mas, aku senang banget, mas Novri udah wisuda" Marni turut mengucapkan selamat pada Novri.
"Makasih banyak, Mar, kamu juga harus rajin belajar, biar bisa lulus dengan nilai yang memuaskan" Novri berpesan pada Marni, sambil mengacak-acak rambut Marni. Tapi, dibalik kebahagiaannya, Novri seolah mencari seseorang. Namun, seseorang yang dicarinya itu tidak datang.
"Mas kok, kayak lagi nyari seseorang, nyari siapa, mas?" Marni sedari tadi memperhatikan Novri.
"Aku nyari Gita, kok dia gak datang yah, padahal aku udah ngasi ke dia semalam, tapi, ini malah gak datang" Novri memandang berkeliling, berharap Gita datang.
"Mungkin Gita kuliah kali, mas, jadinya dia gak bisa datang kesini" Marni menerka-nerka. Novri tampak terlihat kecewa, karena orang yang dia sayangi itu tidak hadir di momen yang membahagiakan bagi dirinya.
"Hei, Novri, congrats yah, bro, udah wisuda aja nih" salah satu teman Novri menghampirinya.
"Makasih, bro" Novri menyalaminya sambil tersenyum.
"Oh iya, dengar-dengar kamu pacaran sama Brigitta Valencia yah? Waktu itu aku pernah lihat kamu jalan berdua sama dia" katanya.
"Kok kamu bisa kenal sama Gita? Kenal dimana emang?" Tanya Novri yang terlihat penasaran.
"Dia teman SMA adik aku, Gena, dia sering main ke rumahku juga dulu, bahkan waktu ujian nasional dia minta dibikinin contekan dan yang parahnya dia menjebak dia orang temannya, seolah-olah sedang berbuat mesum gitu, tapi, tentu saja aku dibayar dengan bayaran yang setimpal. Aku terpaksa menerima tawaran Gita, karena waktu itu aku butuh uang banyak" jelasnya panjang lebar.
"Saran aku, mending kamu berhati-hati aja, sama cewek licik seperti si Gita itu" lanjutnya.
"Eh... Kok aku malah cerita panjang lebar gini yah, ya udah yah, Nov, aku mau samperin anak-anak yang lain" katanya dan berlalu dari hadapan Novri.
"Oh... Berarti Gita pelakunya dan menyebabkan aku sama Haikal dikeluarkan dari sekolah, aku sudah duga dari awal" dalam hatinya, Marni benar-benar geram.
"Tapi, mau gimana lagi, udah gak ada artinya sekarang, udah berlalu tiga tahun juga, aku yakin Gita akan dapatkan ganjaran setimpal sesuai dengan semua perbuatannya itu, karena karma itu ada" Marni pasrah dan sudah mengikhlaskan semua yang pernah terjadi.
"Aku baru tahu semua tentang Gita yang sebenarnya, untung aja aku belum menikah dengan Gita" batin Novri dan berpikir berkali-kali untuk menjadikan Gita pendamping hidupnya.
"Sepertinya aku harus pikirkan lagi deh niatku untuk melamar Gita itu" pikir Novri.
...*****...
Tiga bulan berselang pasca dia di wisuda, Novri akhirnya mengambil keputusan. Hari itu Novri menulis sebuah surat dan mengirimnya ke Gita melalui pos. Novri juga memohon agar dirinya di izinkan untuk tinggal dirumahnya untuk sementara waktu dan Marni pun bersedia.
"Git, kamu kenapa sih, dari tadi aku lihat kamu mondar mandir gitu" Gena pusing melihatnya.
"Ini nih, Gen, Novri, dia gak ada kabar, katanya dia mau datang melamar aku, aku juga udah kabari ayah aku dan besok udah nyampe sini. Si Novri sudah wisuda dari tiga bulan yang lalu, sekarang malah hilang tanpa kabar" Gita terlihat tidak sabaran. Selang beberapa saat, ada motor yang berhenti di depan rumah Gita.
"Permisi, mbak, apa betul ini dengan mbak Gita?" Tanyanya.
"Iya, aku Gita" jawab Gita singkat.
"Ini ada surat buat mbak Gita" pria itu menyerahkan sebuah amplop kecil pada Gita.
"Dari siapa yah, mas?" Gita bertanya dan mencari-cari nama pengirim surat tersebut.
"Kalau menurut aplikasi, nama pengirimnya Novri" jawabnya.
"Kalau gitu saya permisi, mari, mbak" pria itu pun beranjak pergi dari hadapan Gita. Gita langsung membuka amplop dan membaca surat itu.
"Gita, maafkan aku karena menghilang tanpa kabar, aku tahu kamu kesal dengan sikapku ini. Mengenai rencanaku melamar kamu setelah aku wisuda, maaf, sepertinya aku harus membatalkannya. Kamu tidak perlu tahu apa alasannya, ku harap kamu bisa menerima keputusan aku ini, aku yakin suatu saat kamu akan dipertemukan dengan seseorang yang lebih baik dariku, selamat tinggal Gita, tertanda, Novri!"
Seketika itu juga Gita meneteskan air matanya dan meremas surat itu lalu melemparnya ke lantai.
"Git, kamu yang sabar yah, aku tahu kamu sakit banget, tapi, mau gimana lagi, mungkin Novri itu bukan jodoh kamu, kamu harus terima ini dengan ikhlas" Gena mencoba menenangkan Gita.
"Aku gak ngerti kenapa dia tega lakukan ini sama aku. Awalnya aku merasa bahagia, apalagi waktu mengatakan ingin menikahiku, tapi, kenapa akhirnya malah menyakitkan seperti ini" Gita memandang dengan tatapan kosong dan mata berkaca-kaca.
"Baru kali ini, aku lihat Gita merasa begitu sedih kayak gini, tampaknya dia begitu menyayangi Novri dan benar-benar berharap Novri menjadi pendamping hidupnya, tapi, semuanya itu sirna saat Novri membatalkan niatnya itu dan pergi menjauh dari Gita, kasihan juga sih si Gita" Gena turut bersedih, melihat sahabatnya itu bersedih.
"Git, udah, kamu ikhlaskan aja, aku yakin kok, suatu saat kamu akan dipertemukan dengan seseorang yang benar-benar tepat untuk kamu, gak usah nangis lagi, air mata kamu itu terlalu berharga untuk tangisi dia itu" kata Gena sambil merangkul Gita.
"Gak, Gen, aku harus cari tahu, apa alasan Novri yang tiba-tiba membatalkan rencananya untuk melamar aku" Gita beranjak dan hendak menghampiri Novri di rumahnya, ingin mempertanyakan alasan dibalik pembatalan rencananya itu secara tiba-tiba.
"Git, kamu mau kemana, udah, kamu jangan kayak gini" Gena berlari dan berusaha menahan Gita.
"Lepasin aku, Gen, aku belum puas kalau belum dengar sendiri dari Novri" Gita melepaskan genggaman tangan Gena dan berlari.
"Gita...! Tunggu!" Gena berteriak memanggilnya dan segera menyusulnya. Sepanjang perjalanan menuju rumah Novri, Gita meneteskan air matanya dan tidak pernah menyangka kalau Novri akan pergi meninggalkannya.
"Kenapa kamu tega pergi begitu saja, disaat aku mencintai kamu dan sangat berharap kamu akan jadi pendamping hidupku, tapi, sekarang impian aku itu seakan sirna dan hancur semua angan-anganku" rintih Gita dalam hati.
"Gen, apa menurut kamu, Novri seperti ini, gara-gara Marni? Dia pengaruhi Novri agar membatalkan niatnya itu?" Tanya Gita, yang menerka-nerka. Gena hanya mengangkat bahunya.