Trouble Maker

Trouble Maker
Eps. 6 Kucing dan Tikus



"Te-tentu aku sangat yakin," ucap Rasya gugup sambil mendorong tubuh Gerald menjauh darinya. Tapi usahanya percuma, Gerald tak bergerak sedikit pun dari tempatnya berdiri.


Rasya berusaha memutar otaknya mencari cara agar bisa lepas dari lelaki di hadapannya saat ini. Hingga entah angin dari mana ia akhirnya mendapatkan ide.


"Astaga... dia bukankah idolamu, Rald." Pekik Rasya sembari menunjuk ke arah belakang tubuh Gerald.


Dengan segera Gerald mengikuti arah jari Rasya, tapi sialnya saat ia lengah dengan segera Rasya menggigit lengan kanannya membuat Gerald mengaduh kesakitan akibat gigitan Rasya yang sedikit membuat kulit lengannya tersobek.


Melihat ada kesempatan untuk kabur, Rasya lalu berlari ke arah jalan raya dan melambaikan tangannya pada taksi yang lewat. Sebelum pergi ia melihat ke arah belakang tempat dimana Gerald berada.


"Rasakan itu," ucap Rasya sembari menjulurkan lidahnya ke arah Gerald yang tengah meringis kesakitan akibat ulahnya tadi.


Ia segera masuk ke dalam taksi sebelum Gerald berhasil mengejarnya.


"Ke jalan Sakura ya, Pak." Ucap Rasya pada sopir taksi yang ia tumpangi, Sang sopir mengangguk lalu melajukan mobilnya ke tempat yang dituju oleh Rasya.


☘☘☘


Malam harinya keluarga Rasya dan Gerald saat ini tengah berkumpul di restoran yang menyajikan berbagai macam masakan ala Jepang.


"Kau tahu, Lex. Anakmu itu benar-benar mewarisi sifat ibunya aku sangat yakin itu." Ungkap Nadia saat mereka telah selesai menikmati hidangan makan malam mereka.


Alex mendongak dengan dahi berkerut," bagaimana bisa?" Tanyanya tak mengerti.


"Lihatlah ini, dia seperti ibunya saat ada lelaki yang mengusiknya pasti dia akan melakukan hal yang sama seperti putrimu itu," jelas Nadia seraya membuka lengan tangan Gerald yang tertutup jas hitam.


Gerald menarik tangannya sambil mendengus sebal," Ih Mama apa-apaan sih. Malu tahu," protes Gerald dengan suara yang terdengar seperti bisikan di telinga Nadia.


Semua yang ada disana tertawa melihat tingkah Gerald kecuali Rasya. Ia tetap diam sambil mengaduk minuman di hadapannya tanpa selera sedikit pun.


"Apa minumannya tidak enak, Sayang?" Tanya Alex yang menyadari Rasya yang lebih banyak diam.


Rasya menggeleng cepat," ngga kok, Pa. Rasya cuma sedikit lelah aja." Bohong Rasya.


Sebenarnya ia saat ini tengah merasa bosan dengan acara yang dilakukan oleh kedua belah orang tua di hadapannya itu.


"Oiya, Sya. Bagaimana les piano kamu? Apakah ada hal yang menarik untuk diceritakan pada kami?" Kali ini Miko mulai membuka suaranya.


"Engga, Om. Ngga ada yang spesial kok kecuali pengganggu yang tiba-tiba muncul tanpa permisi." Sindir Rasya melirik tajam Gerald.


Gerald yang kebetulan tengah melirik Rasya pun  tiba-tiba tersedak mendengar penuturan gadis yang mengenakan mini dress berwarna merah maroon itu.


Orang tua Rasya dan Gerald terkekeh mendengar ucapan Rasya dan melihat Gerald yang salah tingkah, seolah mereka mengetahui siapa pengganggu yang Rasya maksud.


"Terus apa yang dilakuin pengganggu itu, Sya? Dia ngga ngapa-ngapain kamu kan?" Pancing Alex yang masih tertawa di sela ucapannya.


Rasya menggeleng singkat, "engga kok, Pa. Tapi Rasya risih aja diikutin terus sama dia." Jawab Rasya dengan nada kesalnya.


"Dih, ge-er amat jadi orang." Gumam Gerald.


"Terus-terus, kamu hajar ngga pengganggu itu? Pasti kamu pukul dia kan?" Ujar Nadia memanas-manasi.


Rasya menggeleng untuk kesekian kalinya, "engga, Tan. Aku gigit aja tuh lengannya sampe robek dikit. Biar tahu rasa tuh orang," jawab Rasya diiringi senyum evilnya.


"Ooo... jadi lengannya digigit ya, Sya." Ucap Alex pura-pura tak mengerti.


Rasya mengangguk mantap, "iya dong. Siapa suruh jadi stalker," balas Rasya santai.


"Siapa juga yang jadi stalker," gumam Gerald tak terima.


"Eh kamu tadi bilang apa, Sayang?"


"Engga, Ma. Ngga ngomong apa-apa," jawab Gerald seadanya.


Mereka mengangguk mengerti.


"Mmm... sebenernya, kita disini mau ngasih satu kabar buat kalian berdua," ucap Alex menatap Rasya dan Gerald secara bergantian dengan tatapan serius. Mereka berdua menatap penuh tanya pada Alex.


"Mulai besok kalian akan tinggal satu rumah," terang Alex yang mengundang teriakan dari kedua anak di depannya.


"Apa!" Teriak mereka bersamaan.


"Bukannya masih minggu depan ya, Pa? Kok dimajuin sih, ihh... sebel." Rajuk Rasya melipat kedua tangannya di dada.


Helaan napas terdengar dari mulut Alex, ia lalu mengangkat tangannya mengelus pucuk kepala Sang anak.


"Dengerin ya, princess. Lusa Papa sama om Miko dan tante Nadia harus pergi ke Hawaii untuk menghandle perusahaan kita disana. Salah satu anak cabang kita ada yang bermasalah, jadi mau ngga mau kita bertiga harus pergi kesana." Jelas Alex lembut.


"Tapi ngga harus tinggal bareng juga kan, Om?" Protes Gerald tak terima.


"Kalian pikir kita akan biarkan kalian tinggal sendiri-sendiri selama kami pergi? Jangan mimpi, Boy. Rasya cewek, ngga baik tinggal sendirian di rumah. Nanti kalau ada yang melakukan hal-hal yang ngga diinginkan ke Rasya gimana? Kamu mau tanggung jawab?" Omel Miko pada Sang anak yang tengah menatapnya.


"Ya ngga lah, masa orang lain yang jahatin dia, aku yang disuruh tanggung jawab. Enak di dia ngga enak di aku kalau gitu," tolak Gerald mentah-mentah.


Diam-diam Alex tersenyum mendengar jawaban anak muda di hadapannya itu.


"Kalau gitu, ngga ada pilihan. Tinggal bareng atau kalian terpaksa kami nikahin detik ini juga," ancam Miko.


"Apa-apaan itu," protes Rasya tak terima.


"Kalau aku sih yes..." jawab Gerald santai tanpa menatap Rasya.


"Kalau aku, no... big no!" Tolak Rasya tanpa mau dibantah.


"Yaudah, Lex. Telpon penghulu sekarang, biar kita nikahin mereka sekalian." Suruh Miko pada Alex yang langsung mengangguk mantap.


Alex lalu mengeluarkan ponsel yang berada di saku jasnya. Ia men scroll kontak nama yang ada di ponselnya itu, lalu menempelkan di daun telinganya.


"Stop... stop... Pa. Rasya ngga mau, oke. Rasya mau tinggal sama dia, tapi cuma sampe kalian balik lagi kesini. Deal?" Tawar Rasya yang mengundang senyuman kemenangan dari pihak orang tua yang merasa menang melawan anaknya yang keras kepala itu.


Gerald terkekeh melihat tingkah Rasya yang seperti orang sedang kebakaran jenggot saat ini, ia menutupi mulutnya dengan punggung tangan kanannya agar Rasya tak melihatnya menertawai dirinya.


"Kalau mau ketawa ya ketawa aja, jangan sok-sokan ditutup gitu, ganteng engga, jelek iya." Sarkas Rasya melirik Gerald lewat ekor matanya.


Gerald menjulurkan lidahnya mengejek Rasya, "1-0," ucap Gerald dengan menggunakan bahasa tubuhnya membuat Rasya menatapnya dengan kedua bola mata yang terlihat seperti ingin keluar dari tempatnya.


"Oh iya, hampir saja aku lupa." Tiba-tiba saja Miko bersuara seraya merogoh saku celananya.


"Tangkap, Boy." Miko langsung melemparkan sebuah kunci motor ke arah Gerald membuat Sang anak menatapnya bingung.


"Apa ini, Dad?" Tanyanya.


Miko meraih gelas minumannya dan menyeruputnya setelah itu ia baru menatap Sang anak intens.


"Itu untukmu. Pakailah saat hendak berangkat sekolah ataupun saat pergi dengan Rasya. Jangan bonceng gadis lain," kata Miko dengan tatapan tajam.


Gerald mengangguk lemah dan menaruh kunci itu ke dalam saku jasnya.