
Gita tampaknya takut, takut Haikal marah padanya kalau dia berkata jujur.
"Git, jawab!" Haikal memelototi Gita.
"Okey, aku jujur sama kamu, iya, aku yang lakukan itu semua, aku yang ancam Marni kalau dia tidak putus sama kamu dan beri dia imbalan seperti yang kamu bilang" Gita akhirnya mengakui perbuatannya.
"Tapi, aku punya alasan kenapa aku lakukan itu, aku suka sama kamu, aku cinta sama kamu dan jujur, aku cemburu lihat kamu jalan berdua dengan Marni, aku gak rela kamu jadian sama Marni" Gita mengutarakan alasan dibalik perbuatannya tersebut.
"Aku gak mau tahu alasannya apa, apa kamu pikir dengan kamu lakukan hal ini, aku bakal suka sama kamu? Nggak! Malahan aku makin benci sama kamu" Haikal terlihat makin kesal dan pergi meninggalkan kelas.
"Kok bisa jadi kayak gini sih! Makin sulit ini jadinya kamu dapatkan hatinya Haikal kembali" kata Gena.
"Ini semua gara-gara Marni, Haikal jadi makin benci sama aku, berani-beraninya dia adukan itu ke Haikal, lihat aja kamu, Marni, aku akan berbuat hal yang lebih nekat lagi" Gita mengepalkan tangannya, saking marahnya dia pada Marni.
"Gimana kalau kita samperin dia aja, biasanya kalau kamu segini, dia di kantin tuh bantuin ibunya" Gena memberi saran.
"Ya, kamu benar, Gen" Gita mengangguk kesal. Gita dan Gena beranjak menuju ke kantin dengan tergesa-gesa.
"Mau kemana kalian berdua" Dito mencegat langkah keduanya.
"Oh... Aku tahu, kalian mau samperin Marni kan, mau gangguin Marni lagi ini pasti" Dito tampaknya bisa menebak.
"Iya! Kenapa emangnya? Abisnya dia sendiri yang cari masalah sama kita, berani-beraninya dia bilang semuanya ke Haikal, tentang yang kita perbuat pada dia" Gita begitu geram pada Marni.
"Iya, benar, kita mau kasi dia pelajaran sedikit ke dia, biar dia gak berani macam-macam" Gena menambahkan.
"Asal kalian berdua tahu, yang kasi tahu Haikal tentang perbuatan kalian berdua itu bukan Marni, tapi aku, aku yang lihat gimana perlakuan kalian terhadap Marni selama ini" terang Dito.
"Jadi, kalian berdua, berhenti gangguin hubungan Haikal dan Marni. Khusus buat kamu, Gita, udahlah relakan aja Haikal sama Marni, Haikal itu cintanya sama Marni, mau kamu lakukan apapun, gak akan bisa mengubah pilihan Haikal" Dito mencoba membuka pikiran Gita, agar dia bisa terima kenyataan kalau hati Haikal hanya untuk Marni. Dito pun berlalu dari hadapan Gita dan Gena.
"Git, gimana, kamu jadi gak samperin si Marni itu di kantin?" Tanya Gena. Gita menggeleng.
"Kenapa? Apa karena ucapan Dito tadi? Biasanya kamu gak pedulikan, kok sekarang malah kayak gini" Gena terheran-heran melihatnya.
"Kamu tenang, Gen, aku ada ide yang jauh lebih baik dari sekedar samperin dia di kantin" dala otak Gita sudah tersusun sebuah rencana baru.
"Ide aku kali ini, dijamin akan bikin Haikal dan Marni benar-benar putus" Gita begitu yakin akan keberhasilannya.
...*****...
Entah bagaimana caranya, Gita berhasil menjalin komunikasi dengan mantan pacar Marni sewaktu masih di kampungnya dulu, Darto. Hari Minggu sore, Gita janjian ketemu dengan Darto di taman kota.
"Permisi, apa kamu yang namanya Gita?" Tanya seseorang yang menghampiri Gita yang tengah duduk sendirian di bangku taman.
"Darto yah?" Gita berbalik bertanya padanya. Laki-laki itu mengangguk.
"Kamu tahu darimana nomor aku? Terus bagaimana kamu tahu, kalau aku dulu pernah pacaran dengan Marni? Kamu tenang sekampungnya Marni atau apa?" Darto bertanya-tanya.
"Jadi, gini, aku mau kamu dekati Marni, ratu dia supaya mau ngedate sama kamu, ajak dia makan atau nonton di bioskop atau apalah terserah kamu, terus kamu foto berdua sama Marni dan fotonya kamu kirim sama aku" Gita mengutarakan rencananya itu pada Darto.
"Aku ingin Haikal putusin Marni, karena aku tuh suka sama Haikal dan aku gak mau ada cewek lain yang jadian sama Haikal" Gita menambahkan.
"Oke, aku akan lakukan apa yang kamu mau, tapi tentunya tidak gratis dong, aku kan ngeluarin uang kalau ajak Marni ngedate, rugi dong kalau gak ada bayarannya" Darto meminta imbalan.
"Ini bayaran kamu, di dalamnya ada yang dua juta, cukup kan" Gita menyodorkan sebuah amplop berisi uang dengan nominal yang disebutkan.
"Nah... Gitu dong, ini baru pas, thanks yah" Darto menerimanya sambil tersenyum.
"Tapi, ingat, rencana ini harus berhasil dan aku gak mau dengar kata gagal!" Gita menegaskan.
"Pokoknya dijamin semuanya akan berjalan sesuai dengan rencana, janji terima beres deh" Darto meyakinkan Gita. Gita mengangguk dan percaya kalau Darto akan berhasil menjalankan rencananya itu.
Selang beberapa hari kemudian, Darto berhasil membujuk Marni untuk jalan berdua dengannya.
"Bagus, rencana berjalan dengan baik, tinggal aku teruskan sampai selesai" batin Darto. Marni tidak merasa curiga dengan ajakan Darto, karena Marni berpikir tidak ada salahnya jalan berdua dengan Darto. Toh, juga Darto sekarang udah jadi sahabatnya.
"Oh iya, To, ngomong-ngomong kamu tinggal sama siapa disini?" Tanya Marni sambil menikmati makanannya.
"Aku tinggal sama kakaknya ibuku, dia satu-satunya keluarga ibuku yang terdekat, yang lainnya kan tinggal di Kalimantan, ada juga yang menetap di Padang, paling juga ketemunya setahun sekali pas lebaran" terang Darto.
"Yah... Paling tidak sampai aku lulus SMA aku tinggal sama dia, nanti juga aku mau ajak ibuku untuk tinggal disini, biar ibu gak kesepian, sendirian tinggal di kampung" lanjutnya.
"Bagus itu, To, kasihan juga ibumu kalau tinggal sendirian, gak ada yang temenin" kata Marni. Darto mengangguk-angguk mendengarnya.
"Oh iya, Marni, kita foto berdua, yuk, buat kenang-kenangan aja, boleh kan" pinta Darto.
"Boleh dong, masa gak boleh sih" Marni bersedia. Mereka berdua senyum di depan kamera. Darto secara refleks merangkul Marni, tapi, Marni sepertinya tidak keberatan. Mereka terlihat begitu mesra layaknya orang yang pacaran.
Setelah membayar makanan, Darto mengantar Marni kembali ke rumahnya.
"Makasih yah, To, untuk makan malamnya" ucap Marni sambil tersenyum.
"Makasih juga, Marni, berkat kamu rencanaku berjalan sempurna" batin Darto.
"Iya, Marni, sama-sama, ya udah aku balik yah, bye" Darto pun beranjak pergi dari hadapan Marni.
Satu jam berselang, saat Darto sudah sampai dirumahnya, dia pun mengirim fotonya berdua dengan Marni pada Gita.
"Oke, misi selesai" tulis Darto pada pesan yang dikirimkan pada Gita.
"Good job, Darto, aku suka cara kerja kamu" balas Gita. Gita tersenyum bahagia, karena rencananya berjalan dengan sempurna.