Trouble Maker

Trouble Maker
Bab 31



Hari ini belum ada aktivitas belajar yang padat. Hanya satu atau dua pelajaran saja, karena hari ini masih ada beberapa guru yang belum pulang dari kampungnya pasca hari raya Idul Fitri. Ada yang kehabisan tiket, ada pula yang keluarganya sakit dan ada juga yang masa cutinya belum selesai. Karena masih jam satu siang, Gita mengajak Gena untuk jalan-jalan di mall. Namun, Gita tiba-tiba terpikirkan sesuatu untuk menjahili Marni.


"Aku jadi kepikiran, Gen, gimana kalau kita ajak Marni hangout bareng kita" Gita memberi usul.


"Ngapain sih, Git, pake ajak cewek kampung itu segala, gak mau ah!" Gena terlihat keberatan dan tidak setuju dengan usul Gita tersebut.


"Dengerin dulu, kita ajak dia, untuk kita kerjain di mall nanti, aku udah siapkan rencana jitu dan dijamin Marni bakal malu banget setelah itu" terang Gita. Gena akhirnya setuju dengan usul tersebut, setelah mendengar alasan Gita mengajak Marni pergi bersama mereka.


"Emang apa idenya? Kasi tahu dong" Gena terlihat penasaran. Gita membisikkan idenya itu ke telinga Gena. Gena tersenyum saat mendengarnya.


"Wah... Itu sih ide yang brilian banget, Git, jadi, seolah-olah Marni itu cewek liat kalau diluar sekolah" kata Gena.


"Nah... Itu dia maksud aku" Gita menjentikkan jarinya. Gita dan Gena pun bergegas menemui Marni dan mengajaknya pergi bersama keduanya. Marni awalnya menolak ajakan itu dengan alasan ingin membantu ibunya di kantin. Namun, Gita dan Gena berusaha membujuk Marni agar dia mau ikut.


"Oke... Oke, aku mau ikut sama kalian" Marni akhirnya bersedia mengikuti keinginan Gita dan Gena, hanya untuk sekedar menghentikan keduanya merengek terus dihadapannya. Meskipun sebenarnya dia tidak ingin ikut dan hanya ingin dirumah saja, melakukan hal yang bermanfaat.


"Eh... Kalian bertiga jalan bareng gini, mau kemana?" Tanya Haikal saat berpapasan dengan Gita, Marni dan Gena.


"Kita bertiga mau hangout, mumpung masih siang kan" kata Gita. Haikal hanya mengangguk, lalu mereka bertiga pun berlalu dari hadapannya.


...*****...


Mobil Gita meninggalkan parkiran sekolah dan langsung menuju ke tempat tujuannya.


"Git, kita gak ganti baju dulu, masa iya kita ke mall pake seragam sekolah gini, nanti kita dikiranya bolos sekolah lagi" kata Marni.


"Tenang aja, aku udah siapkan baju ganti, aku memang selalu prepare" jawab Gita santai. Mereka mampir di SPBU dan ganti baju dalam toilet. Gita kebetulan hari itu membawa tiga pasang pakaian dan bisa dipakai oleh kedua temannya. Gita dan Gena memakai kaos polos dan celana pendek sedangkan Marni kebagian baju Gita yang sangat minim dan membuat Marni risih mengenakannya.


"Git, ini gak ada baju yang lain yah, aku risih kalau pake baju seperti ini, malu diliatin orang" Marni tampak tidak nyaman dengan pakaian tersebut.


"Udah, gak apa-apa, kamu kelihatan kece kok pake baju itu, kamu bisa jadi pusat perhatian" kata Gita.


"Iya, Mar, benar itu, kalau mskmi dilihatin orang itu karena sudah keluar dan orang jadi kagum gitu lihat kamu" Gena menimpali.


"Lagian kamu harus terbiasa untuk berpakaian kayak gini, apalagi di kota kayak gini" Gena menambahkan.


"Udah, yuk, kita cabut, nanti keburu sore lagi" Gita menarik tangan Marni dan Gena, lalu segera masuk ke mobil dan melanjutkan perjalanan. Marni baru pertama kalinya memakai pakaian terbuka seperti ini.


"Semoga aja di mall nanti, aku gak ketemu dengan orang yang aku kenal, kalau sampai ada kenali aku, bisa malu banget jadinya" harap Marni dalam hati. Dua puluh menit kemudian, mereka pun sampai. Marni tetap merasa tidak percaya diri mengenakan pakaian milik Gita tersebut, karena tidak terbiasa dengan pakaian seperti yang dikenakannya sekarang ini. Namun, Gita dan Gena sepertinya tidak peduli, malahan ibu sengaja mereka lakukan, karena sesuai dengan rencana mereka dari awal.


"Kayaknya udah semua nih, ya udah kita langsung bayar di kasir" kata Gita. Gena dan Marni mengikuti langkah Gita. Setelah membayar belanjaannya, mereka bertiga pun beranjak pergi. Tapi, saat berjalan keluar dari swalayan, alarm swalayan itu berbunyi dan membuat semua orang tertuju pada mereka bertiga. Saat itu juga, petugas keamanan datang.


"Maaf, adik-adik ini mengambil barang dan belum dibayar di kasir yah! Soalnya ini alarmnya berbunyi" kata satpam tersebut.


"Yang kita ambil tadi, udah dibayar semua kok, pak" jawab Gita dan menunjukkan belanjaannya pada satpam tersebut.


"Kalau begitu, boleh saya periksa tas kalian, sebagai pembuktian aja" katanya. Satpam tersebut memeriksa tas ketiganya satu persatu. Satpam tersebut menemukan satu bungkus mi instan dan satu kotak coklat di dalam tas Marni. Marni sangat terkejut melihat barang tersebut ada dalam tas miliknya.


"Ini buktinya, kalian ini mencuri!" Satpam tersebut marah pada mereka bertiga.


"Pak, kita berdua ini gak tahu menahu, kalau dia ambil barang ini dan memasukkannya kedalam tasnya" Gita membela diri.


"Iya, pak, benar, kita tadi juga sibuk ambil barang yang mau kita beli" Gena menimpali.


"Kamu tuh bikin malu aja deh, Marni! Kita dilihatin orang banyak ini gara-gara kelakuan kamu, kalau kamu mau, bilang ke kita, jangan pake nyuri gitu dong, mana yang diambil cuma mi instan sama coklat aja lagi, yang harganya gak seberapa, tapi, memalukan!" Gita memarahi Marni.


"Git, Gen, beneran aku gak lakuin ini semua, aku juga bingung, kenapa barang-barang ini ada dalam tas aku" Marni kebingungan, melihat barang-barang itu ada di dalam tasnya. Marni ingat betul kalau dia tidak memasukkan barang itu kedalam tasnya.


"Udah deh, Mar, kamu gak usah ngelak, kalau kamu butuh sama ini, bilang dong ke kita berdua, jangan nyolong gini, lihat tuh, orang-orang semua ngeliatin kita!" Bentak Gena.


"Pak, aku minta maaf yah, atas kelakuan teman aku ini, tapi, aku mohon sama bapak, jangan bawa kita ke kantor polisi" pinta Gita.


"Baiklah, dek, bapak maafkan, bapak harap kejadian ini tidak terulang lagi dan kalian sekarang boleh pergi" katanya. Gita menjabat tangan satpam tersebut sebagai ucapan terima kasihnya. Gita, Gena serta Marni pun beranjak pergi. Marni benar-benar malu diliatin banyak orang saat ada barang curian dalam tasnya. Dalam hati, keduanya tampak senang karena rencananya berhasil dan sesuai dengan yang diinginkannya. Belum cukup sampai disitu, ternyata mereka bertiga malah berpapasan secara tidak sengaja dengan ibu Dea, wali kelasnya.


"Loh.... Kalian bertiga ngapain disini? Terus ini lagi Marni, kenapa kamu pake pakaian kayak gini ke mall, kamu mau pamer tubuh kamu, kenapa gak telanjang aja sekalian!" Wali kelasnya tersebut memarahi Marni.


"Bu, ini bukan baju aku, ini bajunya Gita, dia yang kasi ini ke aku, aku tadinya gak mau, cuma katanya gak apa-apa dan aku harus terbiasa, gitu katanya" Marni menjelaskannya.


"Benar begitu, Gita?" Tanyanya.


"Gak, Bu, itu baju, Marni sendiri yang bawa dari rumahnya, kalau misalkan ini baju aku, pasti kan model bajuku dan bajunya Gena pasti sama kan, ini kan tidak, Bu, beda banget" Gita mengingkari, kalau baju tersebut miliknya.


"Iya, Bu, Marni bohong, itu bajunya Marni sendiri" Gena ikut menimpali.


"Kamu itu Marni bikin malu aja! Nanti dikiranya di sekolah kamu gak diajari untuk berperilaku baik, apa kata orang kalau tahu kamu anak murid ibu" Dea menggelengkan kepala terlihat kecewa. Wali kelasnya tersebut pun beranjak pergi. Gita dan Gena tertawa saat melihat Marni dimarahi oleh wali kelasnya itu. Marni bisa melihat, bagaimana marahnya wali kelasnya itu dan Marni tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi besok di sekolahnya. Saat ini, Marni menyesal telah menerima ajakan Gita tadi, kalau akan seperti ini akhirnya.