Trouble Maker

Trouble Maker
Eps. 7 Pindah



Hari kepindahan Rasya dan Gerald pun akhirnya tiba. Dengan wajah malas mereka berangkat menggunakan mobil yang sudah disediakan oleh ayah Gerald ditemani sopir pribadi keluarganya.


"Harusnya hari ini aku bersantai ria, bukan malah pergi satu mobil denganmu. Menyebalkan," gerutu Rasya seraya menatap keluar jendela mobilnya. Saat ini dia dan Gerald berada di kursi penumpang di belakang yang mengharuskan mereka duduk berdampingan. Baik Rasya maupun Gerald tak ada satu pun yang mau menoleh ke salah satu lawan bicaranya membuat Sang sopir yang melirik mereka dari kaca spion depan menggelengkan kepalanya heran.


Setelah mereka dan barang-barang keduanya sampai di mansion yang sudah disediakan oleh orang tua mereka, Gerald dan Rasya langsung bergegas menuju ruang tengah mansion tersebut. Kebetulan hari ini adalah weekend dan sekolah mereka libur, jadi mereka punya banyak waktu untuk beres-beres di tempat baru mereka.


Dengan langkah santai Gerald dan Rasya menyusuri tiap bagian dalam mansion tersebut. Mewah... kata itulah yang pas untuk menggambarkan mansion pemberian orang tua mereka ditambah lagi lokasi mansion itu yang menghadap langsung ke pantai yang begitu indah membuat tempat tinggal baru mereka terlihat sangat sempurna. Di halaman belakang mansion itu terdapat kolam renang pribadi yang ukurannya cukup luas, dan di pojok kiri terdapat kursi goyang, sangat cocok untuk bersantai. Mereka lalu beranjak ke sisi lain dimana terdapat satu ruang khusus yang di dalamnya terdapat alat musik yang cukup lengkap. Melihat hal itu, Gerald langsung berdecak kagum dengan mata berbinar.


"Woah... ini keren, mereka memang sangat mengerti apa yang dibutuhkan oleh anaknya," puji Gerald saat menyentuh satu persatu alat musik di hadapannya. Rasya hanya mengamati dengan tatapan malasnya.


Kedua orang itu lalu melangkahkan kakinya lagi ke sudut lain, kali ini mereka beranjak ke pantry di mansion tersebut, kali ini giliran Rasya yang menatap girang benda-benda di hadapannya.


"Astaga... ini sempurna... ternyata mereka juga memikirkanku," kata Rasya dengan suara bahagia.


"Tapi tunggu dulu," Rasya menjeda ucapannya sejenak, menoleh ke arah Gerald yang berada tak jauh dari sisinya.


"Apa kau menyadari sesuatu?" Tanyanya, sedangkan Gerald hanya mengangkat alis kanannya dengan tatapan bertanya.


"Disini tak ada Asisten Rumah Tangga, Gerald..." seru Rasya yang membuat Gerald menepuk dahinya.


"Ah iya kau benar, bagaimana ini?" Gerald bertanya dengan nada putus asa sedangkan Rasya hanya mengembuskan napas lelah.


"Beli mi instan lah," ucap Rasya tanpa beban.


"Kau gila, kau harusnya masak makanan untuk kita. Bukan malah menimbun penyakit, terlalu banyak makan mi tak baik untuk kesehatan kau tahu?" Omel Gerald.


"Terserah," Rasya lalu melanjutkan langkahnya menyusuri mansion baru itu.


"Astaga... ini petaka," gerutu Rasya saat dirinya sampai di pintu kamar.


"Ada apa?" Tanya Gerald tak mengerti saat ia menyusul Rasya.


Rasya menunjuk ke arah depan menggunakan dagunya pada Gerald.


"Astaga... ini anugerah!" Pekik Gerald dengan mata berbinar saat melihat apa yang ditunjukkan oleh Rasya.


Rasya memutar bola matanya malas, dasar omes. Batinnya berteriak.


"Siapa cepat dia dapat," ucap Rasya lalu berlari menuju kamar di apartemen tersebut yang hanya tersedia satu kamar saja. Sepertinya para orang tua itu sudah merencakan hal ini jauh-jauh hari. Pikir Rasya.


Seiring dengan Rasya, Gerald pun berlari menuju kamar barunya yang sama dengan Rasya. Sampai di pintu masuk kamar, mereka berdua harus sama-sama tersangkut disana karena tak ada satupun dari mereka yang mau mengalah untuk membiarkan salah satu masuk lebih dahulu.


"Aku dulu yang masuk"


"Tidak aku dulu yang masuk"


Seperti itulah perdebatan antara keduanya yang tersangkut di pintu kamar barunya tanpa ada yang mau mengalah.


"Kau yakin tak mau mengalah?" Tanya Rasya menatap Gerald di sampingnya. Gerald mengangguk mantap.


"Baiklah lihat ini," Rasya langsung menginjak kaki Gerald dengan keras membuat lelaki itu mengaduh kesakitan akibat injakan Rasya.


"Hahaha, rasakan itu." Pekik Rasya dengan senangnya saat berhasil memasuki kamar barunya.


Ia langsung menaiki kasur king size dan berguling-guling disana mengabaikan Gerald yang masih meringis kesakitan.


Ia menghentikan aktivitasnya sejenak lalu menatap ke arah Gerald yang masih berdiri di pintu kamar.


"Apakah masih sakit?" Tanya Rasya memastikan.


Gerald mendongak dan menatap mata Rasya dengan wajah memelas nya ia mengangguk.


Rasya yang merasa iba akhirnya turun dan berjalan mendekati Gerald, sebelum akhirnya Gerald berlari ke arah kasur yang baru saja ditempati Rasya.


"Yess... kau kalah, jadi tidurlah di luar." Ucap Gerald bangga dengan smirk nya.


"Curang!!!" Teriak Rasya tak terima, ia lalu naik ke atas kasur dan memukul cukup keras tubuh Gerald yang tengah telentang menggunakan bantal guling.


"Ampunn... ampun... Sya, jahat banget sih." Gerald memohon dengan telapak tangan yang menyatu di atas kepalanya.


Rasya tak menggubris, ia tetap memukul Gerald tanpa ampun. Sampai ia lelah dan akhirnya mengakhiri aktivitasnya itu.


Ia menjatuhkan tubuhnya di samping Gerald yang tengah mengelus-elus bagian tubuh yang dipukul oleh Rasya.


"Jangan manja," ucap Rasya yang tengah menatap langit-langit kamar mereka.


"Kau tidur di sofa," ucap Rasya yang terdengar seperti perintah itu.


Dengan cepat Gerald langsung memiringkan tubuhnya menatap Rasya yang masih menatap ke atas.


"Aku tak mau," tolak Gerald.


"Yasudah, cari penginapan sana." Usir Rasya dengan nada santainya.


"Kau itu kejam sekali sih," gerutu Gerald lagi mendengar ucapan Rasya yang seenaknya sendiri.


"Atau kau ingin aku yang pergi?" Rasya menoleh menatap Gerald yang tengah mengangkat sebelah alisnya.


"Jangan keras kepala," saran Gerald.


"Jangan memaksaku," balas Rasya santai.


Gerald menghela napasnya sejenak. "Baiklah, biar aku tidur di sofa saja. Kau tidurlah disini, puas?" Ucap Gerald dengan kesal tepat di depan wajah Rasya.


Dengan senyum simpul nya, Rasya mengangguk. "Tentu."


"Ini," Rasya melemparkan satu bantal dan satu selimut ke arah Gerald yang saat ini sedang berdiri di ujung ranjang. Dengan sigap Gerald menangkap lemparan Rasya seraya menggerak-gerakkan bibirnya geram.


"Andai kau bukan wanita, sudah kupastikan kau sekarang akan di rumah sakit dengan keluhan patah tulang," sarkas Gerald.


Rasya menggerak-gerakkan bibirnya mengikuti kata-kata yang terlontar dari bibir Gerald.


"Dasar anak manja. Mana jiwa sok jantanmu itu, di depan wanita lain saja sok-sokan tebar pesona giliran disuruh tidur di sofa saja menggerutu seperti anak kecil. Dasar bayi," cibir Rasya membuat Gerald membulatkan matanya.


"Apa?" Tanya Gerald tak terima.


"Kau... bayi besar yang super manja. Kenapa kau tak adukan saja perlakuanku pada orang tuamu agar kita bisa dipisahkan secepatnya," ujar Rasya menunjuk-nunjuk wajah Gerald.


Lelaki di hadapannya tersenyum remeh menatap gadis yang tengah menampakkan wajah tengilnya. "Jangan mimpi, aku justru akan membuatmu tak bisa berkutik di dekatku," smirk jahat tercetak di wajah Gerald saat mengucapkan kata-kata itu membuat Rasya bergidik melihatnya.


☘☘☘


Saat ini Gerald tengah menonton televisi di ruang tengah apartemen barunya, sedangkan Rasya tengah menikmati tidur siangnya dengan sangat nyaman hingga bunyi perutnya memaksa dirinya harus membuka mata.


"Hoammm, aku lapar." Ujar Rasya seraya merenggangkan otot-otot tubuhnya.


Ia menengok ke kanan dan kiri menyesuaikan penglihatannya dengan lingkungan baru di hadapannya saat ini.


"Aku dimana?" Batinnya.


"Ah iya, aku diculik." Gumamnya santai lalu bangkit menuju wastafel di kamar itu untuk membersihkan wajahnya.


"Hei... sedang apa kau disini?" Ucapan Rasya barusan mengejutkan Gerald yang tengah fokus melihat berita di televisi, lelaki itu menggerakkan kepalanya menatap Rasya yang berada di belakangnya.


"Dasar pengganggu!" Desis nya lalu kembali fokus menyaksikan siaran televisi lagi.


Rasya berjalan mendekat ke sofa tempat dimana Gerald berada. Ia lalu duduk dengan santai di samping Gerald.


"Aku lapar," katanya dengan mata yang fokus menatap lurus ke depan.


Gerald menoleh bingung, "kau sedang berbicara padaku?" Ucapnya memastikan.


"Tidak, aku sedang berbicara pada rumput yang bergoyang," ketus Rasya yang mengundang gelak tawa dari Gerald.


"Yasudah makanlah rumput yang bergoyang itu saja, bukankah mereka akan membuatmu kenyang." Ucap Gerald santai, ia lalu menekan tombol off pada remote televisi. Kemudian ia berdiri melangkah ke kamar mereka.


"Dasar laki-laki tidak peka." Cibir Rasya kesal.


Saat ia tengah menggerutu akan sikap Gerald padanya, tiba-tiba saja bel apartemennya berbunyi. Rasya yang merasa tak mengundang siapa pun ke tempatnya hanya diam seraya memainkan ponselnya.


Sudah beberapa kali bel apartemen itu berbunyi, tapi Rasya masih asyik tiduran di sofa depan televisi membuat Gerald yang baru saja selesai mandi harus buru-buru berjalan ke arah pintu depan.


"Hei, apa kau tidak mendengar jika bel rumah berbunyi. Huh?" Gerald bertanya dengan kesal karena mendapati Rasya yang dengan santainya memainkan ponsel sedangkan bel terus saja berbunyi tanpa henti.


"Na... na... na... aku tak mendengarnya," Rasya bernyanyi asal menanggapi celotehan Gerald.


Gerald lalu membuka pintu apartemennya setelah berjalan beberapa langkah dari tempatnya semula.


"Selamat siang."