
Sepanjang hari itu, Gita cemberut dan tidak bisa disenangkan hatinya. Hari ini seolah menjadi hari terburuk dalam hidup Gita, karena diputuskan oleh Haikal. Yang paling menyakitkan, karena Haikal memutuskannya setelah Gita melihatnya berboncengan dengan Marni pagi tadi dan dia beranggapan bahwa ini ada sangkut pautnya dengan Marni.
"Aku gak terima diputuskan dengan cara seperti ini, aku tahu ini ada hubungannya dengan Marni, awas aja dia, udah merusak hubunganku dengan Haikal, sampai pada akhirnya Haikal putusin aku" Gita semakin geram. Dia bertekad untuk melabrak Marni dan bikin perhitungan padanya. Gita melihat Marni hendak keluar dari kantin sambil membawa makanan yang dibelinya. Gita mendekat pada Marni, dengan maksud ingin menjegal kaki Marni, agar dia jatuh. Gita sukses menjalankan aksinya itu dan membuat Marni jatuh, serta makanan yang dibeli jatuh berantakan. Tidak sampai disitu, Gita juga menginjak makanan tersebut sampai hancur.
"Upss...! Sorry, aku gak lihat, hancur deh makanannya" Gita berpura-pura meminta maaf.
"Makanya kalau jalan itu hati-hati, jangan meleng" kata Gita. Marni hanya diam dan menatap kearah Gita.
"Apa lihat-lihat, mau marah! Atau mau balas dendam? Silahkan, aku gak takut sama sekali" Gita menantang. Marni tidak berkata apa-apa, hanya menatap Gita sejenak, lalu setelah itu, Marni langsung beranjak pergi dari hadapan Gita. Gita tersenyum penuh kemenangan, melihat Marni yang berlalu dari hadapannya, dengan wajah yang sedih karena tidak bisa memakan makanan yang sudah dibelinya barusan.
"Itu baru peringatan kecil, akan ada hal yang lebih dari ini, yang bakal aku lakukan, tunggu saja kamu, Marni!" Batin Gita.
"Git, itu si Marni kenapa, aku lihat dia kayak sedih gitu mukanya?" Tanya Gena, sambil mereka duduk di kantin.
"Aku abis kasi si Marni itu pelajaran, biar dia tahu rasa dan kapok untuk berurusan dengan aku" jawab Gita.
"Emang si Marni ngapain, sampai kamu kayak gitu" Gena kian penasaran.
"Gara-gara dia, Haikal jadi gak punya waktu lagi buat aku, dia katanya sibuk dengan kegiatan OSIS, latihan basket, aku maklumi awalnya, tapi, tadi waktu di perjalanan menuju sekolah, aku lihat Haikal boncengan sama Marni, terus Haikal langsung menghindar gitu pas aku panggil, artinya kan udah bisa dipastikan kalau ada sesuatu diantara mereka" terang Gita.
"Bisa jadi sih, Git. Aku gak nyangka loh, cewek sepolos dia, bisa jadi perusak hubungan orang lain" kata Gena.
"Makanya itu, aku mau kerjain dia, kamu bantuin aku yah, Gen" pinta Gita. Gena mengangguk. Di hari-hari berikutnya pasca putus dari Haikal, Gita semakin menjadi-jadi menjahili Marni. Saat Marni lewat di hadapannya, Gita sengaja melempar kulit pisang dan membuat Marni terpeleset. Atau saat mereka berpapasan, Gita sengaja menabrak Marni dan menumpahkan minuman yang dipegangnya ke baju Marni, hingga baju Marni kotor. Bahkan juga, Gita juga sampai menggunting baju dan celana olahraga milik Marni dan membuatnya tidak bisa mengikuti pelajaran olahraga.
"Apa jangan-jangan, Gita yang lakukan ini semua? Tapi, aku gak punya bukti sama sekali kalau dia pelakunya" batin Marni.
"Sepertinya aku harus cari tahu dulu kebenarannya" pikir Marni.
"Mar, kamu kok gak ikut pelajaran olahraga sih, rugi loh kamu" kata salah satu temannya, menghampiri Marni di kelas.
"Aku bukannya gak mau ikut, tapi, lihat ini" Marni menunjukkan pakaian olahraganya yang digunting.
"Hah! Kok bisa? Kamu yang gunting ini?" Tanyanya.
"Gak lah, emang aku udah gak waras apa! Aku baru mau ganti pakaian, aku udah lihat baju dan celana olahragaku kayak gini" jelas Marni.
"Terus, siapa yang lakukan ini?" Tanyanya lagi.
"caranya?" tanyanya penasaran.
"Ada apa ini? Kayaknya tegang gitu?" Haikal menghampiri.
"Ini, Kal, ada orang yang gunting pakaian olahraganya Marni, sampai Marni gak ikut pelajaran olahraga tadi" jelasnya.
"Kamu tahu siapa pelakunya, Mar?" Tanya Haikal pada Marni. Marni menggeleng.
"Apa jangan-jangan, ini ada hubungannya dengan Gita? Karena gak ada lagi yang lain, yang selalu berbuat onar selain dia" Haikal menerka.
"Ya udah, Mar, nanti aku coba mintain pakaian olahraga yang baru buat kamu, udah gak usah kamu pikirkan itu" kata Haikal.
"Iya, Kal, makasih yah sebelumnya" Marni tersenyum. Marni merasa cukup senang, mendapatkan perhatian dari Haikal. Karena jujur saja, dia mulai menyukai Haikal, tapi, dia sadar diri kalau dia hanyalah gadis kampung dan merasa tidak pantas untuk Haikal. Gita dibuat geram, melihat Haikal dan Marni makin dekat.
"Marni ini benar-benar cari masalah sama aku, aku gak tahan lagi, aku harus labrak dia" amarah Gita sudah sampai di ubun-ubun dan menghampiri Marni.
"Eh... Hai, Git" sapa Marni. Tanpa berkata apapun, Gita langsung menarik rambut Marni, lalu mendorongnya sampai terjatuh.
"Kali ini, kamu benar-benar cari masalah yah sama aku, kamu udah bosan sekolah disini!" Bentak Gita.
"Git, kamu kenapa sih, tiba-tiba nyerang aku kayak gini" Marni terlihat bingung.
"Udah! Gak usah banyak bacot kamu!" Mata Gita membola. Gita menampar pipi Marni, mengacak-acak rambutnya, menarik seragam Marni sampai sobek. Marni mencoba melepaskan dirinya dari Gita. Namun, Gita lebih kuat memiting leher Marni, hingga Marni kesulitan bernafas. Marni berusaha sekuat tenaga, namun, tetap saja tidak berhasil.
"Heeh! Apa-apaan ini, Gita, Marni, berhenti!" Salah satu guru yang kebetulan melintas, melerai perkelahian keduanya. Gita pun melepaskannya. Marni merasa lega, akhirnya ada juga guru yang memisahkan.
"Gita dan Marni ikut saya ke ruang guru sekarang" katanya, sambil menarik Gita dan Marni menuju ke ruang guru. Gita dan Marni terdiam di ruang guru.
"Kalian ini mau jadi jagoan di sekolah ini! Biar dibilang wanita kuat, iya!" Sang guru menatap Gita dan Marni bergantian.
"Gita, kamu mau jadi apa sih, kerjaan kamu itu bikin onar. Dalam bulan ini saja, sudah ada beberapa laporan dari murid-murid perihal perbuatan kamu dan ini yang paling parah" tatapannya terarah pada Gita. Gita hanya menunduk dan tidak berani menatap gurunya tersebut.
"Dan kamu, Marni, jangan kamu mentang-mentang kamu titipannya pak kepala sekolah, kamu bisa berbuat seperti ini, aku berharap banyak dari kamu, kamu anak yang cerdas dan nantinya bisa mewakili sekolah kita di lomba cerdas cermat, tapi, dengan adanya kejadian ini, saya harus berpikir ulang untuk mengusulkan kamu, karena jangan sampai, kamu berbuat onar kalau misalkan kita kalah, kamu mengamuk di tempat lomba itu dan justru mempermalukan sekolah kita" katanya dengan raut wajah kecewa.