
Selang beberapa menit kemudian, saat pria itu sudah pergi dari hadapan mereka berdua. Mereka tersadar dari pengaruh hipnotis tersebut.
"Gen, kok kita berdiri disini aja sih, ayo, sejam lagi pesawat kita take off" kata Gita dan menarik tangan Gena. Gita dan Gena masuk ke pintu keberangkatan.
"Tolong, tiketnya" kata salah satu petugas yang berjaga di pintu keberangkatan. Gita dan Gena merogoh kantong mereka, hendak mengeluarkan tiket miliknya. Namun, tiket mereka justru tidak ketemu.
"Kok gak ada yah, perasaan tadi aku simpan di kantong bagian depan" Gita kebingungan tiketnya tidak ketemu.
"Iya, Git, aku juga, kok gak ada yah, aku udah masukin tadi sebelum berangkat" Gena juga sibuk mencari tiketnya tersebut.
"Maaf, sebaiknya kalian berdua keluar dulu dari antrian, karena dibelakang ada penumpang lain yang juga mau masuk" katanya. Gita dan Gena menyingkir. Mereka masih sibuk mencari tiketnya. Tapi, tidak ketemu juga.
"Git, gimana nih, tiketnya gak ada, padahal tadi tiketnya udah aku masukkan ke tas, aku ingat banget" kata Gena dengan yakinnya.
"Aku juga udah masukkan ke tas, terus sebelum turun dari taksi, aku simpan di kantong depan, supaya nanti gampang gitu ngambilnya, aku gak mungkin lupa, tiketnya aku masukkan bareng dompet dan handphone...." Gita baru sadar, ternyata dompet dan juga handphone miliknya tidak ada.
"Dompet dan handphone aku juga gak ada nih" Gita terlihat panik.
"Gen, tolong dong, kamu tolong telpon ke handphone aku, siapa tahu akunya yang salah simpan atau nyelip dimana gitu" pinta Gita. Gena merogoh tasnya, namun, handphone miliknya juga tidak ada.
"Git, handphone aku kok gak ada juga sih" Gena juga panik, karena handphone-nya tidak ada.
"Udah pasti ini, kita dicopet orang" kata Gena dengan yakin.
"Tapi, gimana caranya, kita pakai tas kita terus, waktu kita ke mau kesini juga kan naik taksi, kapan kita di copet" Gita tampak bingung.
"Kamu ingat gak, tadi ada cowok yang nanya pintu kedatangan pada kita? Pasti dia tuh yang nyopet kita, gak salah lagi" Gena merasa yakin sepenuhnya.
"Tapi, gimana caranya, dianya juga gak lama kan, terus kalau dia buka tas aku, pasti bakal ketahuan, soalnya tadi waktu dia nanya itu, posisinya dia di depan aku, bukan di sampingku, aku jadi ragu kalau laki-laki itu pelakunya" Gita meragukan pernyataan Gena. Gena terdiam dan mencoba berpikir siapa yang mengambil handphone dan dompet miliknya dan juga milik Gita.
"Git, tunggu dulu deh, tadi sebelum laki-laki itu pergi, dia pegang pundak kita, makanya kita kayak mematung gitu kan, kita tiba-tiba tersadar lagi laki-laki itu udah gak ada" Gena masih mengingat-ingat rangkaian kejadian yang dialaminya.
"Maksudnya, tadi itu kita gak dicopet melainkan di hipnotis dan kita menyerahkan barang-barang milik kita termasuk tiket kita juga ke laki-laki tadi" Gita menerka.
"Tepat! Itulah yang kita alami tadi" Gena membenarkan.
"Duh.... Kenapa kita sial kayak gini sih, mau pergi berlibur malah dapat musibah kayak gini" Gita meneteskan air mata atas musibah yang menimpanya.
"Apa kata anak-anak kalau tahu kita berdua gak jadi pergi berlibur, mana mereka nitip oleh-oleh lagi, gimana ini. Terus sekarang aja, gak tahu mau pulang naik apa, uang ada di dompet semuanya" Gita terlihat kebingungan. Gita dan Gena yang terlihat bingung, tiba-tiba dihampiri oleh seseorang.
"Gita, Gena!" Sapanya. Gita mengangkat wajahnya.
"Loh... Dito! Kamu kok bisa disini?" Guta tampak terkejut melihat Dito.
"Aku mau jemput saudara aku yang datang dari Palembang, dua puluh menit lagi kayaknya udah landing" terang Dito.
"Terus kalian sendiri ngapain disini, bukannya seharusnya udah berangkat yah sekarang ke Bali" kata Dito.
"Harusnya sih kita udah berangkat sekarang, cuma ti...." Gena baru akan menjelaskan tentang kejadian yang sebenarnya, namun Gita menyimpan mulut Gena dengan tangannya.
"Ada apa sih ini?" Dito bingung melihat tingkah keduanya yang sedikit aneh.
"Gak ada apa-apa kok, ini juga baru mau check-in" Gita berbohong, karena gengsi mengatakan yang sebenarnya.
"Git, udah deh, gak usah gengsi, ngomong apa adanya aja susah banget sih" Gena tampak kesal dengan sikap Gita.
"Kita cuma butuh tumpangan aja" jawab Gena.
"Kalian tunggu di parkiran aja, aku mau kedalam dulu, mobilku yang warna putih plat 1422 MJ" Dito berlalu meninggalkan Gena dan Gita.
"Git, kamu tuh kenapa sih, kayaknya gengsi banget ngomong apa adanya ke Dito" Kata Gena, sambil jalan beriringan dengan Gita menuju parkiran. Gita hanya diam saja, tidak menanggapi omongan Gena.
"Sekarang kamu pikir deh, kalau misalkan kita berdua ikuti gengsi kamu itu dan gak numpang di mobilnya Dito, mau naik apa kita balik! Jalan kaki? Atau nginap sekalian di Bandara? Ingat, kita itu abis kena musibah dan gak pegang uang sepeserpun, dompet dan handphone kita diambil orang tadi" Gena mengomeli Gita.
"Udah, untuk kali ini aja, kamu kesampingkan dulu gengsi kamu itu supaya kita bisa pulang ke rumah" lanjut Gena.
"Iya, iya! Udah deh aku capek dengar ocehan kamu dari tadi" Gita kesal dibuatnya.
"Eh... Eh...! Ini kalian kenapa sih, mukanya pada tegang gini" Dito datang, lalu memandangi Gita dan Gena bergantian.
"Loh! Kak Faiz?" Gita terkejut saat memandangi seseorang yang datang bersama Dito.
"Kamu Gita? Adik kelas aku dulu itu, bukan" terkanya.
"Iya, kak, ini aku Gita, adik kelas kak Faiz, yang dulu naksir kakak" terang Gita.
"Kalian udah saling kenal yah ternyata, jadi, aku gak usah capek-capek kenalin kalian" Dito tersenyum melihatnya.
"Kamu sendiri kenal Gita dimana, Dit?" Tanya Faiz pada Dito.
"Gita ini teman SMA aku, kak" jawab Dito singkat.
"Dunia ini sempit banget yah, waktu SMP satu sekolah sama aku, terus SMA malah satu sekolah dengan adik sepupuku" Faiz tersenyum dan merasa itu cukup lucu. Dito dan Gita pun juga ikut tersenyum.
"Ehem....! Aku dicuekin aja nih!" Gena mendehem.
"Eh... Sorry, kita keasikan" Dito berpaling pada Gena.
"Kak Faiz, kenalkan ini Gena, sahabatnya Gita" Dito memperkenalkan Gena pada Faiz. Faiz dan Gena berjabat tangan sambil mengangguk dan tersenyum.
"Ya udah, yuk, kita balik sekarang, nanti mama nunggunya lama, kak, mana harus antar mereka berdua dulu ke rumahnya masing-masing" kata Dito mengingatkan.
"Oh iya, bukannya seharusnya hari ini pergi berlibur ke Bali yah? Kok kalian malah gak berangkat?" Tanya Dito saat Diperjalanan menuju rumah mereka.
"Tadinya kita berdua mau berangkat, tapi, kita malah kena musibah, kita di hipnotis orang, terus kita serahkan dompet, handphone dan juga tiket itu secara gak sadar. Pengaruh hipnotisnya itu hilang setelah orang itu pergi" terang Gena.
"Untung aja kita ketemu, Dit, kalau gak, kita berdua gak tahu mau pulang naik apa, karena kita udah gak pegang uang sepeserpun, semua uang ada di dompet kita" lanjut Gena.
"Terus tadi, kenapa kamu bilang gak ada apa-apa, Git?" Dito menyodorkan pertanyaan pada Gita.
"Biasa, Dit, Gita gengsi, kamu kayak gak tahu Gita aja" jawab Gena.
"Nah... Itu dia yang gak pernah berubah dari dulu, sifat gengsi itu terbawa dari jaman SMP sampai sekarang" Faiz menyela.
"Gita.... Gita, kalau kamu butuh bantuan atau apa, tinggal bilang aja apa susahnya sih, gak usah ada kata gengsi gitu deh, kalau bukan karena Gena tadi yang bilang, aku gak tahu kalau kalian terkena musibah gini dan butuh tumpangan balik ke rumah kalian" celoteh Dito.
"Duh... Ini si Dito ngomong panjang lebar, mana omongannya gitu lagi, ada kak Faiz juga yang dengar, kan tengsin juga jadinya, Arrghh! Kenapa hari ini semuanya serba menyebalkan sih" Gita kesal dalam hatinya.