
Keesokan harinya, Yanto dan Riana menaikkan semua barang yang ingin dibawa, ke dalam mobil. Gita dan Hilsa turut membantu membawa barang bawaan ayah dan ibunya. Setelah semuanya masuk ke mobil, Yanto Riana pun bersiap untuk berangkat menuju Bandara.
"Semua udah siap, yah? Gak ada lagi yang ketinggalan kan?" Tanya Gita untuk memastikan.
"Sepertinya udah semua, Git" jawab Yanto dengan pasti.
"Ya udah, ayah dan ibu berangkat yah, kalian berdua baik-baik dirumah, jangan berbuat macam-macam selama ayah dan ibu pergi" Yanto berpesan pada kedua putrinya.
"Iya, ayah tenang aja, kita gak akan macam-macam kok" Gita berjanji. Yanto dan Riana masuk ke mobil dan perlahan beranjak dari halaman rumah. Gita dan Hilsa melambaikan tangannya sampai mobil berjalan menjauh dari hadapan keduanya.
"Ya udah, yuk, kita siap-siap berangkat kuliah" Gita menutup pintu rumah dan bersiap berangkat kuliah.
"Eh... Sa, aku punya ide deh, gimana kalau besok kita party, kita panggil teman-teman kita kesini" Gita mengutarakan idenya.
"Aku sih mau, kak, cuma kan kata ayah kita gak boleh macam-macam, nanti ayah bisa marah loh, kak" kata Hilsa mengingatkan.
"Udah, Sa, kamu tenang aja, ayah gak akan marah kok, lagian ini party biasa aja kok, gak sampai yang gimana-gimana gitu" jawab Gita dengan santai.
"Ya udah deh kalau seperti itu, terserah kak Gita aja" Hilsa pasrah.
"Nah... Gitu dong" Gita terlihat senang.
"Kamu jangan lupa panggil teman-teman kamu juga, biar tambah rame" Gita mengingatkan. Hilsa hanya menganggukkan kepalanya
Jam sembilan pagi, Gita dan Hilsa sudah sampai di kampusnya. Setelah memarkir mobilnya, Gita turun dan menyusul Hilsa yang sudah berjalan duluan. Seisi kampus terkejut melihat Gita dan Hilsa begitu akrab. Padahal sebelumnya mereka tidak seakrab itu. Mereka hanya saling sapa kalau tidak sengaja bertemu di kantin atau di parkiran. Kini, mereka sangat akrab layaknya seorang sahabat. Gena, sahabat Gita, melihatnya dari kejauhan. Dia terkejut melihat Gita dan Hilsa jalan bersama. Padahal yang dia ketahui, Gita tidak sedekat itu dengan Hilsa, bahkan cenderung membencinya.
"Ini Gita, tumben banget jalan bareng Hilsa, mana terlihat akrab gitu lagi? Aneh aja lihatnya, karena Gita itu benci banget sama Hilsa, kalaupun mereka gak bermusuhan lagi, tapi, gak sampai segitunya" batin Gena.
"Apa karena sekarang mereka udah jadi saudara yah, makanya bisa seperti itu" pikir Gena. Setelah melewati ruang dekan, mereka berpisah. Gita berjalan lurus, sedangkan Hilsa membelok ke kanan. Gita dan Hilsa saling melambaikan tangan.
"Hai, Gen! Kamu ngapain bengong disitu? Bukannya langsung masuk kelas juga" Gita terheran-heran.
"Aku yang harusnya nanya, ada apa dengan kamu? Tiba-tiba aja kamu sama Hilsa akrab banget, padahal setahu aku, kamu gak sedekat itu sama Hilsa" Gena heran melihatnya.
"Yah... Biar gimanapun juga, aku dan Hilsa udah tinggal serumah kan, apalagi kan sekarang dia adik aku, meskipun adik sambung sih dan menurutku sih, wajar-wajar aja kalau aku sama Hilsa akrab sekarang" terang Gita. Gena mengangguk-angguk, menerima penjelasan Gita.
"Oh iya, besok kamu ke rumahku yah, aku sama Hilsa mau bikin party, mumpung ayah dan ibuku pergi nih" kata Gita.
"Mereka berdua pergi ke Bali selama seminggu, mereka sekalian honey moon juga disana" lanjut Gita.
"Ya udah, yuk, kita ke kelas" ajak Gita dan menarik tangan Gena.
"Sa, aku tadi lihat kamu bareng sama si cewek trouble maker itu, kalian berangkat bareng?" Tanya Novri saat mereka makan di kantin.
"Oh... Maksudnya Gita? Iya, aku berangkat bareng Gita, eh... Maksudnya kak Gita" jawab Hilsa.
"Kak Gita? Kamu panggil Gita dengan sebutan kak? Gak salah tuh, Sa? Kamu panggil kak sama cewek trouble maker itu?" Novri heran dan merasa aneh mendengarnya.
"Nov, kamu bisa gak sih, gak panggil kak Gita dengan sebutan cewek trouble maker? Gak enak didengarnya" Hilsa sepertinya tidak menyukai, kalau Novri memanggil Gita dengan sebutan itu.
"Emang kenapa? Kenyataannya dia memang seperti itu, selalu membuat masalah, sepupu aku, Marni, salah satu korbannya dia itu, sampai-sampai dikeluarkan dari sekolah karena ulahnya itu" kata Novri dengan raut wajah kesal, saat mengingat kejadian yang dulu dialami oleh Marni.
"Nov, setiap orang itu pasti pernah melakukan kesalahan. Dulu, kak Gita emang seperti itu, dia juga pernah menceritakannya sama aku, tapi, sekarang dia itu udah berubah menjadi lebih baik" Hilsa bersikap membela Gita.
"Bahkan kak Gita itu pernah selamatkan ibu aku, waktu ibu aku diculik seseorang, sebelum ibu aku dan ayahnya Gita menikah, yang ternyata ayah kandungku sendiri pelakunya" lanjut Hilsa.
"Haah! Gita menyelamatkan ibumu yang diculik? Seorang cewek seperti Gita melakukan perbuatan yang heroik seperti itu? Gak masuk akal menurutku" Novri tidak mempercayai omongan Hilsa, mengenai kebaikan yang dilakukan Gita.
"Yah... Terserah sih, kamu mau percaya atau tidak, yang jelasnya aku udah mengatakannya, sesuatu dengan kenyataannya" Hilsa pasrah.
"Oh iya, Nov, besok aku sama kak Gita mau bikin party gitu, kamu mau ikutan juga gak, aku ngajak anak-anak yang lain juga" ajak Hilsa.
"Aku pikir-pikir dulu deh, Sa, soalnya besok aku udah janjian sama sepupuku dan juga temannya untuk ngajarin mereka melukis, kalau misalkan sempat dan aku juga gak terlalu capek, aku pasti datang" kata Novri.
"Oh... Gitu, ya udah gak apa-apa kok, Nov" jawab Hilsa tersenyum .
"Maafin aku, Sa, aku sebenarnya mau, karena kamu yang ajakin, cuma berhubung ada si cewek trouble maker itu dan party dirumahnya pula, aku terpaksa berbohong deh" batin Novri.
"Oh iya, Nov, ngomong-ngomong soal melukis, aku jadi ingat, bentar yah" Hilsa seperti teringat akan sesuatu dan mengambil sebuah selebaran dalam tasnya.
"Nih... Nov" Hilsa memberikan selebaran tersebut pada Novri.
"Jadi, kemarin, waktu aku dijalan menuju pulang ke kampus, aku gak sengaja ketemu teman SMA aku dulu, dia yang ngasi selebaran ini, siapa tahu aja ada yang minat, karena dia kan sekarang aktif di komunitas pelukis gitu dan kebetulan komunitasnya itu yang mengadakan lomba melukis ini. Aku teringat sama kamu, makanya aku ambil selebaran ini untuk kamu" terang Hilsa.
"Makasih yah, Sa, kamu perhatian banget. Tapi, kayaknya aku belum siap deh untuk ikut lomba kayak gini, gak pede aku" kata Novri.
"Nov, gak ada salahnya kamu coba, lagian bisa nambah pengalaman kan dan bertemu dengan teman-teman komunitas pelukis dan siapa tahu, kamu bisa belajar dari mereka itu dan nambah wawasan kamu juga, ayolah, kamu ikut yah" Hilsa membujuk Novri, agar mau mengikuti lomba lukis itu.
"Ya udah deh, aku coba, ini demi kamu" jawab Novri. Hilsa mengacaukan jempol sambil tersenyum.