Trouble Maker

Trouble Maker
Eps. 14 Sosok Dari Masa Lalu



Rasya menatap tiap buliran hujan yang jatuh membasahi kaca di samping kamarnya. Perlahan sudut bibirnya terangkat kala melihat embun yang tercipta dari air hujan itu. Pikirannya menerawang jauh di masa itu, ketika dirinya terjebak hujan di halte bus dekat sekolahnya.


Flasback


Rasya Pov


Aku mengulurkan tangan di ujung koridor memeriksa seberapa lebat hujan di siang ini. Ah ini cukup deras... batinku menggerutu. Aku semakin mengeratkan pegangan ku pada tas punggung yang tengah kugendong. Udara sudah mulai dingin karena hujan sedangkan aku tak membawa jaket ataupun sweater membuat badanku sedikit menggigil kedinginan.


Jika tahu akan seperti ini lebih baik tadi kuterima saja tawaran Gerald untuk pulang bersamanya.


Padahal menurut ramalan cuaca harusnya hari ini cerah berawan, tapi kenapa siang ini justru hujan begitu lebat. Tak ada cara lain, aku harus menerobos hujan ini agar bisa pulang. Setidaknya aku harus berada di halte depan sana supaya bisa naik bus pulang ke rumah.


Dengan berpayung kan tas punggung aku berlari sedikit cepat agar tak basah kuyup saat menerobos hujan lebat ini. Beruntung letak halte dengan gedung sekolah tak cukup jauh sehingga aku tak perlu memakan banyak waktu agar sampai di halte.


Saat aku sibuk mengelap lengan tanganku serta bahuku yang terkena air, tiba-tiba saja kurasakan sebuah jaket menyentuh bahuku.


Sontak akupun menoleh ke orang yang menyampirkan bajunya di tubuhku ini. Aku terdiam sesaat menatapnya yang tengah memasang senyuman manis andalannya.


"Belum pulang?" Tanyanya saat kami sama-sama mendudukan diri di bangku halte. Aku menggeleng menanggapi pertanyaannya.


"Jika aku sudah pulang, tak mungkin kan aku ada disini dan mengobrol denganmu." Jawabku santai seraya menatap percikan hujan di depan kami.


Kudengar dia terkekeh setelah mendengar jawabanku tadi.


"Kamu belum berubah ya," ucapnya dengan nada santai. Tanpa menoleh ke arahku.


Aku menarik napas dalam sebelum akhirnya menjawab ucapannya lagi.


"Seseorang ngga akan berubah jika tak ada yang berubah dalam kehidupannya."


Lagi, dia terkekeh mendengar jawaban dariku. Perlahan dia menoleh hingga sesaat kemudian kurasakan usapan di pucuk kepalaku.


"Alasan klasik, Sya." Balasnya enteng.


Lalu keheningan terjadi di antara kami. Dia masih menatap ke arahku sedangkan aku masih fokus pada air hujan.


"Bisakah aku memilikimu, Sya?" Ia bersuara setelah keheningan menyapa kami.


Aku hanya mengangkat bahu tak tahu harus mengatakan apalagi padanya.


Aku menoleh menatap wajahnya yang juga tengah menatapku dengan tatapan sendu. Aku ingin mengatakan sesuatu padanya namun lidahku terasa kelu sehingga kata-kata yang ingin ku lontarkan hanya berhenti di tenggorokanku saja dan berakhir dengan adegan saling tatap menatap.


Author Pov


Cukup lama mereka bertatapan hingga sosok dihadapan Rasya tiba-tiba mengulum senyum manisnya lalu tangan kanannya terulur mengusap lembut pucuk kepala Rasya.


"Maafkan aku yang selalu menanyakan hal sama setiap kita bertemu. Aku akan menunggumu bahkan jika perlu sampai rambutku beruban dan gigiku mulai hilang." Sosok dihadapan Rasya kali ini berucap dengan tenang tak ada lagi tatapan penuh luka atau pun suara sendu.


Rasya memicingkan matanya dengan tatapan meledek, "bahkan jika kadar kecantikanku ini berkurang?" Tanyanya, sosok di depan Rasya mengangguk lucu.


"Bahkan jika wajahku seperti ini, apa kau masih mau denganku?" Tanya Rasya lagi kali ini ia memasang wajah paling jelek namun bukannya kesal ataupun jijik, orang di hadapan Rasya justru mengangguk antusias.


"Berarti kau bukan mencintaiku, kau hanya terobsesi padaku," ujar Rasya datar ia lalu mengalihkan pandangannya menatap lurus ke depan.


Hujan sudah mulai reda meski masih terlihat rintikan kecil yang turun dari langit.


"Mau ku antar pulang, Sya?" Tawar orang yang masih setia menemani Rasya.


"Tak usah, biar aku menunggu bus saja. Ini belum terlalu sore jadi masih banyak bus yang lewat." Tolak Rasya halus.


Tanpa Rasya duga, tiba-tiba saja orang di hadapannya langsung menarik bahu Rasya dan merengkuh tubuh kecil itu masuk dalam dekapannya.


Rasya hanya diam karena ia cukup kaget dengan kejadian yang tak ia sangka.


"Ijinkan aku tetap menunggu sampai kau siap, Sya... aku mungkin bodoh yang tak tertolong karena terus menunggumu dan membiarkan hati ini terus-terusan menahan sesak saat kau bersama lelaki lain selain diriku. Tapi biarkanlah rasa ini tetap berada di hati sampai tiba saatnya kamu membuka pintu yang terkunci itu. Kuharap saat itu tiba, namaku lah yang ada disana. Namun jika bukan aku maka biarkan aku tetap memelihara rasaku untukmu, Sya." Bisik orang yang tengah memeluk Rasya erat seolah gadis yang ada di dekapannya akan menghilang jika ia melepas pelukannyapelukannya suaranya lirih sangat lirih bahkan.


Sedangkan Rasya, dia masih diam mencerna tiap kata yang terucap dari bibir lelaki yang sedari dulu mengejarnya tanpa bosan. Ia tak membalas pelukan itu, namun ia juga tak melepas pelukan orang di hadapannya.


"Kamu berhasil membuatku jatuh, Sya. Jatuh sejatuh-jatuhnya orang jatuh. Kamu berhasil mengunci pandangku agar terus tertuju padamu. Aku gila karena mencintaimu seperti ini, tapi aku menikmati kegilaan ku ini, Sya. Jika kamu menyuruhku menjauh, maka dengan tegas aku akan menolaknya. Setidaknya biarkan aku tetap di dekatmu atau minimal di kehidupanmu, di sekitar jangkauan pandangku. Jujur, Sya. Aku tak bisa jika harus menjauh darimu. Cukup dua tahun aku merasakan sesaknya hilang dari pandanganmu, tolong jangan suruh aku menjauh lagi, Sya. Cinta untukmu membuatku candu, bahkan itu lebih candu dari morfin yang kata orang bisa membuat melayang. Kau tahu, Sya... hanya melihatmu tersenyum saja aku bahagia. Jadi tolong, biarkan aku ada di sekitar dirimu." Ujar si pria panjang lebar dengan nada lembutnya.


Rasya mendongak, menatap pria yang lebih tinggi darinya, "Apa alasan kau ada disini juga karenaku?" Tanya Rasya dengan posisi yang masih sama.


Pria di depannya mengangguk dengan cengiran di bibirnya.


"Maka kau memang benar-benar bodoh jika begitu," Rasya berucap seraya mengurai pelukan si pria membuat lelaki di depannya itu cemberut dengan wajah yang imut.


Tanpa si pria sadari, jauh di lubuk hati Rasya yang paling dalam ia merasa bahagia mendengar penuturan lelaki yang sudah lama hadir di hidupnya. Namun ia belum siap membuka hatinya, entah karena apa Rasya pun tak tahu alasannya.