Trouble Maker

Trouble Maker
Bab 25



Tina berpikir sudah saatnya dia memberitahu rahasia itu pada Gita. Gita juga sekarang sudah berusia lima belas tahun dan dia harus tahu perihal ibu kandungnya.


"Bu! Ibu kok diam aja sih!" Gita membuyarkan lamunan Tina.


"Ehh.... Gak, nak, ibu lagi mikir aja, soal yang kamu bilang barusan" Tina terlihat sedikit salah tingkah.


"Gak ibu, gak tante Andini, pasti melamun gitu, ada apa sih, Bu? Apa ada yang ibu sembunyikan dari aku?" Tanya Gita.


"Gak ada kok, gak ada yang ibu sembunyikan dari kamu, beneran deh" Tina mencoba meyakinkan Gita. Gita mengangguk, menerima jawaban Tina.


"Oh iya, Bu, ada surat nih dari sekolah" Gita mengeluarkan sepucuk surat dari dalam tasnya. Tina membuka dan membaca isi surat tersebut. Disitu tercantum, agar dia atau Yanto selaku orang tua Gita diminta menghadap ke sekolah. Tina tidak ingin banyak tanya dulu dan akan memenuhi panggilan dari pihak sekolah.


Keesokan paginya, Tina datang ke sekolah Gita dan menemui gurunya, karena ada hal yang ingin disampaikan.


"Selamat pagi, pak" sapa Tina saat memasuki ruang guru.


"Selamat pagi, Bu, silahkan duduk" katanya dan mempersilahkan Tina untuk duduk.


"Saya ibunya Gita, saya sudah diberitahu oleh Gita kemarin, kalau bapak ingin bertemu dengan saya" kata Tina.


"Tapi, maaf, pak, saya cuma sendiri aja, soalnya suamiku ada meeting pagi ini, jadi, tidak bisa ikut kesini" lanjut Tina.


"Iya, Bu, tidak apa-apa, saya maklum kalau pak Yanto itu sibuk dan banyak kerjaan" jawabnya.


"Kita langsung saja. Ini soal Gita, Bu. Dalam sebulan ini, sudah ada beberapa laporan dari murid-murid lain perihal perilaku Gita. Gita itu sering banget membuat onar di sekolah ini, yang paling parah itu kemarin, dia menyerang murid baru disini, namanya Marni" jelasnya.


"Saya tidak tahu, ada masalah apa antara Gita dan Marni, sampai Gita seperti itu, terlihat sangat benci banget sama Marni, padahal, menurut keterangan Marni dan juga teman-teman sekelasnya, justru Gita yang selalu cari masalah gitu, maaf yah, Bu, saya bukan bermaksud menjelek-jelekan anak ibu, cuma itu memang kenyataannya. Saya sendiri sudah lelah mendengar laporan tentang ulah yang dibuat oleh Gita. Saya menyampaikan hal ini ke ibu selaku orang tua Gita, agar ibu bisa memberi nasehat pada Gita dan kedepannya dia bisa jadi lebih baik lagi" lanjutnya.


"Saya sebagai orang tua Gita, mewakili suami saya, meminta maaf atas kelakuan anak saya, saya janji akan menasehati Gita dan mudah-mudahan dia mau mendengarkan dan bisa berubah jadi lebih baik" kata Tina. Sang guru mengangguk-angguk.


"Oh iya, pak, saya boleh gak ketemu sama siswi yang bernama Marni itu, saya ingin meminta maaf sama dia atas kelakuan Gita" pinta Tina. Sang guru mengangguk dan segera memanggil Marni di kelasnya. Baru saja ingin meminta tolong seseorang untuk memanggil Marni di kelas, orang yang dimaksud pun kebetulan masuk ke ruang guru untuk mengambil spidol. Dia pun memberi isyarat pada Marni dengan lambaian tangan, agar segera ke mejanya.


"Marni, ini ibu Tina, ibunya Gita, beliau ingin ketemu kamu dan ingin menyampaikan sesuatu sama kamu" katanya.


"Nak Marni, tante selaku orang tua Gita, mau mengucapkan permintaan maaf ata perbuatan yang telah dilakukan Gita terhadap kamu, tante harap kamu mau memaafkan kesalahannya" Tina mengutarakan permintaan maafnya pada Marni.


"Iya, tante, aku udah maafin Gita kok, lagian aku juga gak pernah dendam atau bahkan benci sama dia, jadi, tante Tina tenang aja, aku udah lupain masalah yang kemarin" kata Marni tersenyum.


"Makasih banyak yah, nak, tante senang dengarnya" kata Tina. Marni hanya mengangguk sambil tersenyum.


...*****...


Sore itu Yanto sengaja pulang cepat, karena ingin membereskan masalah Gita di sekolahnya. Dia mau mencari tahu, alasan dibalik perbuatan onar yang dilakukannya belakangan ini. Gita hanya tertunduk diam dan mendengarkan omelan ayah dan ibunya.


"Ayah gak tahu yah, Git, kamu mau jadi apa nantinya, kerjaan kamu disekolah itu berbuat onar aja, apa sih yang ada dalam otak kamu itu!" Yanto terlihat marah kali ini.


"Ibu kamu sudah ceritakan semuanya sama ayah, banyak laporan yang masuk ke guru kamu tentang perbuatan kamu itu dan yang ini paling parah, kamu menyerang teman kamu, kamu pukul dia, sedangkan dia itu tidak punya kesalahan apa-apa sama kamu, kamu mau jadi preman sekolah atau bagaimana! Kamu itu sama aja dengan ibu kandung kamu itu, berbuat onar!" Mata Yanto melotot ke arah Gita. Gita melihat sekilas, betapa marahnya ayahnya kali ini, lalu menundukkan pandangannya lagi. Tina seperti memberi kode, untuk tidak membuka rahasia itu. Saking emosinya dia, Yanto tidak bisa mengontrol apa yang diucapkannya.


"Tunggu bentar, sama dengan ibu kandung aku? Maksud ayah apa nih, aku bukan anak kandung ayah sama ibu gitu?" Tanya Gita, menatap ayah dan ibunya bergantian.


"Bukan gitu maksud ayah, kamu anak kandung ayah sama ibu kok, cuma ayah kamu itu terlampau emosi, sampai mengeluarkan kata-kata seperti itu" Tina mencoba meluruskan dan berusaha untuk tetap menutup rahasia itu. Yanto pun terlihat lega, saat mendengar Tina menemukan alasan yang tepat. Yanto tidak ingin, Gita mengetahui yang sebenarnya, karena dia takut akan menyakiti hati Gita saat tahu, kalau ibu kandungnya itu Andini dan waktu masih bayi, dia membuang Gita di jalan dan membiarkannya diasuh orang lain. Yanto tidak tahu alasan pasti, mengapa Andini sampai tega membuang Gita saat itu. Yang jelas dia telah berjanji, akan menjaga rahasia ini. Nanti jika saat itu tiba, Andini sendirilah yang akan mengutarakannya pada Gita.


"Untung aja Tina menemukan alasan yang tepat dan masuk akal, hampir saja rahasia itu terbongkar dan Gita tahu kenyataan yang sebenarnya, bahwa dia bukan anak kandungku dan Tina" batin Yanto.


"Udah, kamu gak usah pikirkan ucapan ayah barusan, ayah hanya lagi emosi saja kok, sayang" kata Tina.


"Gita, maafin ayah karena telah mengeluarkan kata-kata seperti itu, ayah terlampau emosi, ayah gak suka dengan sikap kamu yang suka membuat masalah dan menyusahkan banyak orang, mungkin bagi kamu itu hanya bercanda atau apa, tapi, itu kelewat batas, nak. Jadi, ayah harapkan, kamu tidak ulangi kesalahan yang sama lagi yah" Yanto mengelus lembut kepala Gita.


"Iya, yah, bu, aku janji gak akan ulangi itu lagi, aku gak mau melihat ayah marah seperti tadi, aku takut melihatnya" Gita berjanji pada kedua orang tuanya. Mereka pun berpelukan dan saling menenangkan satu sama lain.