Trouble Maker

Trouble Maker
Eps. 10 Playboy



Gerald Pov


Aku saat ini tengah menikmati waktu kencan ku bersama Shella, gadis yang baru saja menyandang status sebagai kekasihku. Kami sedang duduk berdua di sebuah taman dimana terdapat banyak pasangan muda-mudi lainnya disini.


"Sayang, aku mau es krim." Pintanya manja padaku.


Aku yang tengah memeluknya dari samping menunduk menatap wajahnya yang saat ini tengah memajukan bibirnya cemberut, hal itu membuatku tak bisa menahan tawa karenanya.


"Haha, oke-oke honey. Kamu tunggu disini aku akan membelikanmu es krim," ujarku seraya melepas lengannya yang melingkar di perutku.


Shella mengangguk dengan wajah yang lucu membuatku gemas dibuatnya. Aku pun mencubit kedua pipinya yang membuatnya berdecak sebal karena ulahku.


"Ihh... baby, stop it. Nanti aku tambah chubby," ia merengek melepaskan tanganku dari pipinya lalu mengembungkan pipinya mirip seperti anak kecil yang tengah merajuk.


"Ya ampun... Sayang, itu pipi bikin aku makin gemes aja sih." Ucapku seraya memajukan tanganku hendak menyentuh kedua pipinya namun dengan cepat ia menyilangkan kedua tangannya tepat di depan wajahnya sendiri menghalangi aksiku.


"Sudah sana beli es krimnya, Baby..." usir nya dengan kesal.


Sambil terkekeh aku mengangguk lalu berjalan menuju kedai es krim yang terletak tidak jauh dari taman tempatku tadi.


"Es krim coklatnya satu," ucapku bersamaan dengan seorang gadis cantik di sampingku.


Si penjual es krim yang tengah mengambil es krim pun mendongak menatap ke arah kami.


"Wah... maaf es krim rasa coklatnya tinggal satu," ucapnya dengan nada sedikit menyesal.


Kudengar gadis di sampingku mendesah kecewa.


"Ah ya sudah, berikan saja padanya. Tolong beri aku dua es krim rasa vanilla," aku berucap seraya mengambil dua lembar uang kertas.


Kulirik gadis di sampingku tengah menatap ke arahku dengan tatapan tak enak. Aku pun menoleh menatapnya diiringi senyum termanisku.


"Tak apa, ambil saja. Aku bisa ambil yang ini." Jelasku seraya menunjukkan dua es krim rasa vanilla.


Kulihat dia tersenyum menyambut penuturanku barusan.


"Terima kasih," jawabnya singkat.


Aku mengangguk lalu mengulurkan tanganku padanya.


"Gerald." Ucapku menatapnya. Dia terlihat memicingkan matanya sejenak lalu mengulurkan tangannya juga menyambut uluran tanganku.


"Jessica," balasnya kemudian menarik tangannya kembali.


"Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanyaku yang mengundang kerutan di dahinya.


Ia menggeleng, "entahlah. Aku tak yakin akan itu." Jawabnya jujur.


Aku terkekeh menanggapinya.


"Aku yakin kita pernah bertemu sebelumnya." Ucapku mantap, dia masih menatapku tak mengerti.


"Dulu, di dimensi lain. Saat dimana manusia baru tercipta, aku dan kamu. Kita ditakdirkan untuk bersama selamanya. Disini," kataku seraya menunjuk hatiku.


Dia menggeleng diiringi kekehan kecil di bibirnya, "gombal..." jawabnya tersipu malu.


"Eh itu," aku berkata padanya menunjuk pada dirinya.


Dia menggeram bingung melihatku.


"Itu di hatimu, kelak pasti akan terukir namaku." Ucapku yang membuatnya tersenyum malu.


"Maaf Tuan, jika ingin menggombal jangan disini. Apa kalian tak kasihan pada pelanggan ku yang sedang mengantri panjang di belakang kalian," tegur Si penjual es krim yang membuat aku dan Jessica menoleh ke belakang. Dan benar saja, di belakang kami sudah banyak barisan orang dengan tatapan sebal ke arahku dan Jessica. Aku pun segera menarik Jessica menjauh dari kedai es krim tadi.


"Bolehkah aku meminta nomor teleponmu, Je?" Tanyaku saat kami tengah berjalan beriringan. Dia menoleh dengan alis yang saling bertautan.


"Untuk apa?" Tanyanya balik padaku.


Kulihat dia nampak berpikir hingga dering telepon dari ponselnya menghentikan langkah kami.


Kulirik dia sesaat yang sedikit menjauh dariku saat menerima telepon. Wajahnya nampak serius, berulang kali kudengar ia meminta maaf pada lawan bicaranya hingga beberapa saat kemudian kulihat panggilan ponselnya berakhir. Aku sedikit mencuri pandang pada Jessica yang kini terlihat muram setelah menerima telepon. Ingin bertanya tapi takut salah.


Hening tercipta di antara kami, hingga sebuah klakson mobil menyadarkan kami dari lamunan masing-masing. Kulihat dari ekor mataku seorang pria berjas tengah menatap Jessica dengan tatapan kesal dari balik kemudi. Sampai selanjutnya, tanpa berkata apapun padaku Jessica langsung masuk ke dalam mobil sport keluaran terbaru itu.


☘☘☘


"Enak sekali yang baru saja kencan dengan kekasih barunya," sindir Rasya ketika Gerald baru saja menginjakkan kakinya di ruang tengah.


Gerald berhenti sejenak lalu melirik Rasya tanpa mengeluarkan suara.


"Mana oleh-oleh untukku?" Kali ini Rasya berdiri di depan Gerald seraya menengadahkan tangannya.


Gerald sedikit menunduk menatap Rasya yang lebih pendek darinya.


"Nih..." Gerald menyodorkan satu kantong plastik berwarna putih.


Dengan semangat Rasya langsung duduk kembali di sofa seraya membuka isi kantong plastik dari Gerald.


"Hyakkk... kenapa sudah mencair semua!" Seru Rasya dengan kesal, teriakannya itu menggema di ruang tengah.


Sedangkan Gerald, lelaki itu sudah berlari ke toilet melarikan diri dari amukan Rasya.


"Makan saja, atau kau masukan saja ke lemari pendingin." Teriak Gerald dari dalam toilet.


Rasya mendengus sebal mendengar ucapan Gerald. "Lebih baik kau belikan aku makanan ringan saja daripada es krim yang sudah tak berbentuk ini." Gerutu Rasya seraya berjalan menuju lemari pendingin.


"Apa kau sudah makan malam, Sya?" Tanya Gerald saat dirinya duduk di sebelah Rasya.


Rasya menggeleng dengan tatapan yang masih fokus menatap layar televisi.


"Mau aku pesankan makanan?" Tanya Gerald lagi sembari membenarkan posisi duduknya.


Lagi, Rasya hanya menggeleng membuat lelaki di sampingnya mengembuskan napas kesal.


"Mau kumasakkan sesuatu?" Kini Gerald bertanya dengan suara yang penuh penekanan.


Dengan antusias Rasya menoleh dan mengangguk semangat menanggapi ucapan Gerald.


"Baiklah, tapi aku akan memasak sebisa ku oke? Jangan mengeluh ataupun protes jika masakanku tak enak." Ujar Gerald. Dengan semangat Rasya mengangguk.


Lima belas menit kemudian, masakan yang Gerald buat pun sudah tertata rapi di atas meja ruang makan.


Disana, Rasya juga tengah duduk manis melihat tiap gerak-gerik lelaki di hadapannya.


"Baiklah Nona Rasya, silahkan menikmati masakan ala kadarnya dari Chef Gerald yang tertampan sejagat raya." Gerald menepuk-nepuk telapak tangannya saat telah selesai menghidangkan makanan di depan Rasya.


Gadis itu tertawa geli melihat tingkah laku Gerald.


"Selain menggoda gadis, ternyata kau juga memiliki keahlian memasak ya Tuan cungkring, aku baru tahu." Ujar Rasya tanpa dosa.


Gerald memanyunkan bibirnya menanggapi ucapan Rasya. Rasya yang melihat itu hanya menatap lelaki di depannya dengan malas.


"Kenapa kau? " Tanya Rasya pura-pura tak mengerti.


Gerald hanya menggeleng lemah dengan wajah yang masih cemberut.


Tanpa diduga, Rasya menyodorkan satu sendok makanannya ke arah Gerald, membuat lelaki itu mengerutkan dahinya tak mengerti.


"Buka mulutmu." Ucap Rasya dingin.


Gerald hanya menurut dengan tatapan yang tak lepas dari Rasya.


"Itu sebagai ucapan terima kasihku karena kau sudah berbaik hati membuat makanan untukku. Padahal aku yakin kau pasti lelah setelah seharian berkencan dengan kekasihmu itu," ucap Rasya santai dengan tatapan yang masih fokus ke arah makanannya.