
"Kalau kamu mau aman sekolah disini, kamu tinggalin Haikal, minta dia untuk putusin kamu dan jangan bilang ke Haikal kalau aku yang nyuruh, kalau kamu gak lakukan, kamu akan tahu sendiri akibatnya, kamu tahu aku seperti apa kan" Gita mengancam Marni.
"Tapi, bukan aku yang ngejar-ngejar Haikal, Haikal yang dekati aku" Marni membela diri.
"Hei! Gak usah sok cantik deh kamu, kamu itu gak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan kita berdua" Gena mendorong Marni pelan.
"Aku gak mau tahu, pokoknya kamu jauhi Haikal, awas kalau gak nurut, akan aku pastikan kamu tidak nyaman disekolah ini, ingat baik-baik kataku ini" Gita mengarahkan telunjuknya kearah wajah Marni dan berlalu dari hadapannya.
Marni berpikir tentang ancaman Gita. Bukan karena Marni takut dengan Gita, tapi, dia tidak ingin punya musuh dan membuatnya tidak tenang di sekolah.
"Mending aku akhiri saja hubunganku dengan Haikal, aku cuma takut aja gitu kalau Gita berbuat hal yang nekat lagi, yang bikin aku dikeluarkan dari sekolah ini, aku gak mau itu terjadi" batin Marni.
"Pagi, sayang" Haikal menghampiri Marni.
"Kamu kenapa, Marni? Kayak ada masalah gitu, ada apa sih?" Tanya Haikal yang terlihat penasaran.
"Haikal, mending kita akhiri saja hubungan kita ini" Kata Marni dengan wajah yang serius.
"Akhiri hubungan kita? Kenapa, Marni? Aku salah apa, sampai kamu minta untuk akhiri hubungan kita yang baru berjalan tiga hari, apa ada perkataanku yang menusuk perasaanmu atau apa!" Haikal tampak bingung.
"Marni, aku sayang sama kamu, aku gak mau kita putus" Haikal memegang kedua tangan Marni.
"Kalau aku kasi tahu yang sebenarnya, kalau Gita yang ancam aku, pasti Haikal langsung memarahi Gita dan masalahnya akan bertambah panjang, gak.... Gak!" Marni menggelengkan kepalanya.
"Aku cuma mau fokus belajar aja, bentar lagi ujian nasional, aku ingin lulus dan gak ingin mengecewakan kepala sekolah yang sudah berikan beasiswa sama aku dan berkesempatan untuk sekolah disini, aku harap kamu mengerti" terang Marni.
"Baiklah kalau memang itu alasannya, aku hargai keputusanmu" Haikal menerima dengan lapang dada.
"Kalau memang kita ditakdirkan untuk bersama, suatu saat, pasti akan dipersatukan dalam ikatan suci pernikahan" kata Marni. Marni pun beranjak pergi dari hadapan Haikal.
"Aku benar-benar gak tahu, apakah Marni mengatakan yang sebenarnya atau ada sesuatu yang dia sembunyikan dari aku? Marni mencari alasan untuk menutupi kejadian yang sebenarnya? Tapi, apa yang sebenarnya terjadi?" Haikal bertanya-tanya dalam hatinya.
...*****...
Haikal masih memikirkan tentang alasan Marni meminta mengakhiri hubungan mereka.
"Kal, kamu ngapain melamun gitu?" Salah satu teman Haikal, Dito, menghampirinya dan bertanya pada Haikal.
"Gak kok, Dit, gak ada apa-apa" Haikal menggeleng, mencoba untuk menyembunyikannya dari Dito.
"Udahlah, Kak, gak usah kamu sembunyikan, aku tahu banget, kamu itu lagi memikirkan sesuatu. Kita berteman udah hampir tiga tahun, jadi, aku tahu kalau kamu itu bohong" Dito sepertinya tahu kalau Haikal berbohong padanya.
"Ini soal Marni, Dit" ucap Haikal singkat.
"Marni minta putus gitu, dengan alasan pengen fokus belajar untuk ujian nasional, padahal hubunganku sama Marni belum cukup seminggu" terang Haikal. Dito hanya mengangguk-angguk.
"Cuma aku masih bertanya-tanya aja sih, masa iya alasannya karena mau fokus belajar aja, kalau cuma itu alasannya, kan bisa gak ketemuan dulu sampai ujian nasional selesai, gak harus putus gini" lanjut Haikal.
"Apa jangan-jangan ada yang ancam Marni, supaya putusin kamu dan menjauh dari kamu" Dito menerka.
"Aku juga memikirkan hal yang sama sih, Dit" Haikal pun berpikir hal yang serupa.
"Aku akan cari tahu, siapa yang ancam Marni" ucap Haikal. Haikal masih memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada Marni. Apakah yang dikatakan Marni itu, benar-benar lahir dari dalam hati ataukah karena keterpaksaan, entahlah, Haikal pun masih mencoba untuk mencari tahu.
"Git, itu Marni, tanyain aja apakah dia udah lakukan yang kamu minta atau belum" Gena menunjuk seseorang yang berjalan kearah keduanya. Gita berjalan maju ke arah Marni. Gena mengikut dibelakang Gita.
"Kebetulan nih, kamu lewat sini, gimana, kamu udah lakukan apa yang aku suruh" Gita menatap Marni, sambil melipat tangannya ke dada.
"Kamu tenang aja, Git, aku udah lakukan, sesuai dengan yang kamu inginkan" jawab Marni. Sejujurnya, dalam hatinya Marni tidak Sudi mengikuti keinginan Gita itu, tapi, mau gimana lagi, Marni hanya tidak ingin Gita melakukan hal yang aneh-aneh lagi terhadapnya dan membuatnya terancam disekolah ini.
"Good girl, kamu memang anak yang penurut yah, i like you" Gita tersenyum puas, sambil menepuk pelan pundak Marni.
"Sebagai imbalannya karena kamu sudah lakukan yang aku inginkan, nih untuk kamu! Lumayan kan buat nambah pemasukan ibu kamu, buat kebutuhan sehari-hari kamu juga" Gita memberikan tiga lembar uang seratus ribu. Dengan enggan, Marni pun menerima uang itu dari Gita.
"Perlu kamu ingat, jangan sampai ada orang yang tahu tentang hal ini, ngerti!" Gita memperingatkan Marni. Marni hanya mengangguk.
"Udah cabut sana, nanti ada yang lihat lagi" Gita mengisyaratkan pada Marni untuk segera pergi dari hadapannya. Tapi, dari kejauhan ada seseorang kejadian yang baru saja terjadi, tanpa sepengetahuan Gita maupun Gena.
"Sudah kuduga, pasti Gita biang keroknya, Gita telah mengancam Marni, kalau Marni tidak mengikuti keinginan Gita itu, Haikal harus tahu tentang hal ini" batin Dito dan segera bergegas untuk memberitahu Haikal kejadian yang sebenarnya.
Haikal langsung menghampiri Gita yang berada dalam kelas, saat tah bahwa Gita yang berada dibalik masalah ini dan membuat hubungannya dengan Marni harus berakhir begitu cepat.
"Eh... Haikal, ada apa nih, kamu kangen yah sama aku" Gita tersenyum bahagia, saat Haikal menghampirinya di kelas.
"Gak usah kepedean deh kamu, Git, kalau gak perlu aku juga gak mau samperin kamu kesini" Haikal terlihat sangat kesal.
"Mau kamu sebenarnya apa sih! Sampai kamu ancam Marni segala dan minta dia untuk putusin aku!" Haikal menatap Gita tajam. Gita terkejut mendengarnya sekaligus bingung.
"Darimana Haikal tahu soal ini yah? Apa jangan-jangan si Marni yang ngasi tahu, udah aku bilang jangan sampai ada orang yang tahu, terutama Haikal, malah di kasi tahu, awas aja kamu, Marni, kalau ketemu aku akan bikin perhitungan sama kamu" Gita kesal dalam hatinya.
"Ka... Kamu ngomong apa sih, aku gak ngerti deh" Gita berpura-pura tidak tahu.
"Udahlah, Git, kamu gak usah sandiwara dan berpura-pura seperti itu di depanku, aku tahu kalau kamu yang ada dibalik ini semua, terus kamu juga kasi Marni imbalan uang karena Marni sudah melakukan apa yang kamu mau" Haikal mengetahui semuanya, setelah Dito memberitahunya barusan. Haikal menatap Gita dan menunggu jawaban darinya.