Trouble Maker

Trouble Maker
Bab 45



Sampai detik ini, Novri masih memikirkan apa yang dikatakan Marni tempo hari dan membuatnya sedikit ragu untuk membawa hubungannya dengan Gita ke jenjang yang lebih serius.


"Apa yang dikatakan Marni itu benar atau tidak yah?" Kalau itu benar, bisa-bisa aku juga mengalami hal yang sama seperti yang pernah dialami Marni dulu" batin Novri.


"Aku gak boleh berburuk sangka dulu sebelum semua itu terbukti dan melihatnya dengan mata kepalaku sendiri" pikir Novri. Sebuah pesan lewat WhatsApp masuk. Novri membuka dan membaca isi pesan itu yang ternyata dari Gita.


"Nov, bisa kita ketemu sekarang? Aku pengen ngomong sesuatu, aku tunggu kamu di cafe biasa".


"Baru aja aku mau chat Gita, dianya udah chat duluan, ya udahlah aku temui dia aja" Novri beranjak dan bergegas menuju tempat yang dimaksud oleh Gita.


...*****...


Dua puluh menit kemudian, Novri pun sampai di tempat tersebut dan Gita sudah duduk menunggunya.


"Git, ada apa, kamu ngajak ketemuan mendadak gini?" Tanya Novri, yang sudah duduk dihadapan Gita.


"Nov, bukannya aku kepo sama urusan orang atau apa, cuma aku mau tahu aja, apa yang Marni katakan sama kamu waktu itu" kata Gita.


"Apa aku kasi tahu aja yang sebenarnya sama Gita yah? Tapi, kalau aku bilang yang sebenarnya, tidak menutup kemungkinan Gita akan memarahi Marni, malah melebar nanti masalahnya" Novri bimbang dalam hatinya.


"Nov, kok kamu diam" Gita membuyarkan lamunan Novri dan membuatnya tersadar.


"Eh...! Iya, Git, sorry, aku tadi melamun" Novri sedikit gelagapan.


"Nov, aku tanya sama kamu dan tolong kamu jawab dengan jujur, apa yang Marni katakan sama kamu?" Tanya Gita yang mulai tidak sabaran.


"Gak ada apa-apa kok, cuma masalah keluarga aja" Novri berusaha menutupi kenyataan yang sebenarnya.


"Kamu jangan bohong, Nov, aku bisa lihat dari sorot mata kamu, kalau kamu menyembunyikan sesuatu" Gita seolah tahu kalau Novri berbohong padanya.


"Apa Marni ngomongin aku yah? Jelek-jelekkan aku di depan kamu?" Tanya Gita penuh selidik.


"Oh iya, Git, aku baru ingat, nanti malam ada film baru yang tayang di bioskop, kita nonton, yuk" Novri mengalihkan pembicaraan.


"Udah deh, Nov, gak usah alihkan pembicaraan, aku gak mempan dengan hal semacam itu, aku tahu, Marni udah ngomongin yang jelek tentang aku" Gita menatap Novri tajam.


"Git, dengerin aku baik-baik, aku akan tetap pertahankan hubungan kita. Dalam keadaan apapun, gak akan pernah berubah rasa sayang aku ke kamu" kata Novri sambil menggenggam kedua tangan Gita.


"Aku jga sudah bilang ke ayah dan ibuku, bahwa aku akan melamar kamu, setelah aku wisuda tahun depan dan mereka menyetujuinya" lanjut Novri. Mendengar hal tersebut, raut wajah Gita berubah dan membuatnya tersenyum bahagia.


"Kamu serius, kan? Kamu gak lagi main-main kan?" Gita seolah masih belum percaya dengan yang didengarnya dari Novri.


"Iya, Git, aku benar-benar serius dan aku udah mantap dengan keputusanku ini* kata Novri dengan penuh keyakinan.


"Aduh....! Aku lupa lagi!" Gita seolah langsung teringat akan sesuatu.


"Aku harus jemput ayah aku di pelabuhan, setengah jam lagi sampai, ya udah yah, Nov, aku jalan sekarang, bye" Gita buru-buru beranjak pergi. Saking buru- burunya, Gita menyenggol seorang pelayan yang hendak mengantar pesanan makanan ke salah satu meja.


"Aduh... Mas! Jalan lihat-lihat dong! Gak tahu apa, aku lagi buru-buru nih!" Gita memarahi pelayan di hadapannya.


"Mbak tuh yang gak lihat-lihat, makanya kalau jalan itu pelan-pelan, lihat ini berantakan semua pesanan orang" pelayan itu berbalik marah dan melotot. Melihat hal itu, Novri langsung menghampiri dan melerai keduanya.


"Udah... Udah, mas, ini biar aku yang ganti, maafin pacar aku yah, mas" Novri membantu membereskan pecahan piring dan gelas, serta makanan yang berserakan di lantai. Melihat keadaan itu, Gita langsung pergi begitu saja.


"Gita kok bersikap seperti itu yah, udah dia yang salah, dia juga yang marah-marah dan gak mau minta maaf lagi" batin Novri sambil menggelengkan kepala.


Setelah melihat kejadian beberapa hari yang lalu di restoran, Novri sedikit mempercayai apa yang pernah dikatakan Marni padanya.


"Kok aku jadi ragu yah sekarang, setelah lihat kejadian di resto waktu itu" batin Novri. Novri mengalihkan sejenak pikirannya dan fokus dengan lukisan yang sedang dibuatnya.


"Mas Novri, ada yang mau minta tolong diajarin melukis" kata seseorang yang berdiri di depannya. Novri mengangkat wajahnya.


"Eh... Marni, kirain siapa, mana yang mau diajarin melukis?" Tanya Novri, mencari orang yang ingin diajari melukis.


"Ini, mas, yang mau diajarin melukis, namanya Haikal, dia teman SMA aku" Marni memperkenalkan Haikal pada Novri.


"Teman SMA kamu? Berarti kenal sama Gita juga dong?" Tanya Novri pada Marni.


"Bukan cuma kenal lagi, tapi, pernah pacaran malah sama Gita" celetuk Haikal.


"Kalau boleh tahu, mas Novri apanya Gita yah? Kok bisa kenal sama Gita" tanya Haikal yang terlihat bingung.


"Aku pacarnya Gita dan rencananya sih, pengen melangkah ke pelaminan, tapi, aku jadi ragu untuk nikahi dia" Novri tampak bimbang.


"Mas, aku bukannya mau menjelek-jelekkan Gita atau gimana, tapi, sebaiknya mas Novri pikir seribu kali deh kalau mau nikahi Gita, dia itu tahunya cari masalah aja, saran aku mending cari wanita lain aja, aku cuma gak mau mas Novri menyesal udah pilih Gita jadi istri mas Novri" Haikal mencoba memperingatkan Novri.


"Iya, mas, apa yang dikatakan Haikal itu benar, mas harus kenal betul dengan Gita, mengenal sifat dan kepribadiannya, kalau setelah itu, mas ternyata tetap yakin dengan keputusan sendiri, itu tergantung dari mas Novri" Marni menimpali.


"Eh... Sorry, kita kok jadi bahas Gita yah, Haikal kesini kan mau belajar melukis, yuk, Kita mulai sekarang" Novri menyiapkan peralatan lukisnya. Haikal mengikuti dengan baik setiap tahap yang diajarkan Novri padanya. Mulai dari tahap dasar sampai pada tahap akhir, menggambar sebuah objek yang ada di depannya, sebuah pot bunga.


"Oke, aku rasa sih, pelajaran kita akhiri sampai disini, dipertemuan berikutnya minggu depan, aku mau kamu buat sebuah lukisan yang menggambarkan karakter kamu dan aku mau lihat hasilnya itu minggu depan" Novri memberikan tugas pada Haikal untuk membuat sebuah lukisan.


"kamu kan tadi udah tahu kan semua tahap-tahapnya, cara-caranya seperti apa, tinggal hasilnya yang mau aku lihat, gak harus sempurna, tapi, paling tidak terlihat hasilnya" lanjut Novri. Haikal mengangguk.


"Ya udah kalau gitu, aku pamit yah, mas, makasih juga udah bersedia ajari aku melukis" Haikal berpamitan pulang pada Novri.


"Iya, Kal, aku senang bisa membantu dan berbagi ilmu dengan orang lain, semoga apa yang aku ajarkan ini bisa bermanfaat untuk kamu nantinya" harap Novri. Haikal mengangguk, lalu beranjak pergi dari hadapan Novri.