Trouble Maker

Trouble Maker
Bab 60



"Nah... Aku tahu siapa orangnya" Gita menjentikkan jarinya dan sudah menemukan orang yang tepat menurutnya. Gita mengutak-atik handphone-nya dan hendak mengirimkan pesan via WhatsApp pada seseorang itu, yang ternyata adik sambungnya, Hilsa.


"Sa, aku boleh minta tolong gak sama kamu" tulis Gita.


"Selagi aku bisa, pasti aku bantu kok, kak" balasnya.


"Gini, aku mau titipkan uang aku, jumlah dua ratus juta rupiah, nanti aku jelaskan semuanya sama kamu, tentang gimana cara aku dapatkan uang ini, yang jelas aku ingin titipkan uangku ini ke kamu untuk sementara waktu, itupun kalau kamu bersedia" Gita menjelaskan maksudnya.


"Oh... Iya, kak, kalau kak Gita percaya sama aku, aku bersedia, kak, aku janji akan jaga amanah kak Gita ini dengan sebaik mungkin" katanya, yang bersedia membantu Gita.


"Makasih yah sebelumnya, Sa, kamu memang gadis yang baik hati, sama seperti mendiang ibu Riana, ya udah, aku transfer sekarang yah" tutup Gita. Hilsa membalas dengan emoticon senyum. Gita pun langsung mentransfer uang miliknya itu ke nomer rekening Hilsa.


"Sa, itu aku udah transfer uangnya" tulis Gita lagi, setelah mentransfer uang tersebut.


"Iya, kak, ada notifikasinya kok yang masuk" balas Hilsa. Gita lega, sekarang dia tidak perlu khawatir lagi, karena uang miliknya sudah aman ditangan Hilsa. Tersisa satu juta rupiah di rekeningnya untuk dia pakai belanja. Gita pun bergegas kembali ke rumah Virel. Agar Virel tidak curiga, Gita sengaja belanja di minimarket, karena tadi waktu keluar, dia izin ke minimarket.


"Eh... Git, kamu kok lama sih?" Tanya Virel, yang kebetulan tengah menunggunya di teras.


"Iya, tan, tadi antriannya cukup panjang, terus kasir yang bertugas cuma satu orang aja, jadinya lama deh" Gita beralasan. Virel mengangguk dan menerima penjelasan Gita.


"Oh iya, Git, Tante boleh lihat buku rekening kamu, gini, maksudnya pengen tahu aja penghasilan kamu berapa selama empat bulan ini kamu kerja" kata Virel. Gita menyerahkan buku miliknya itu pada Virel. Virel terbelalak dan seolah terkejut melihat isi tabungan Gita. Virel berpikir, bagaimana caranya agar isi tabungan Gita berpindah ke rekening miliknya. Gita memperhatikan gerak gerik Virel. Gita seolah bisa membaca, kalau Virel sedang merencanakan sesuatu.


"Terus ATM kamu mana? Sini, biar Tante aja yang pegang, takutnya nanti kalau kamu bawa kemana-mana, tercecer entah dimana, repot kan urusannya" Virel beralasan. Saat Virel meminta ATM-nya itu, semakin kuat dugaan Gita dari awal, kalau Virel ingin mengambil seluruh isi tabungannya. Tapi, Gita selangkah lebih cepat. Semua tabungannya sudah berpindah ke rekening Hilsa. Gita menyerahkan ATM miliknya pada Virel.


"Yes, aku udah dapat ATM Gita, dasar anak bodoh, kamu gak akan bisa nikmati uang ini" batin Virel.


"Dengan uang ini, aku bisa pakai untuk beli berlian yang aku mau, aku harus kabari jeng Indri kalau aku minat dengan berlian itu" Virel pun langsung mengirimkan pesan pada temannya tersebut.


"Oke, jeng, aku tunggu yah besok" balasnya.


"Sa, barusan aku udah transfer lagi ke rekening kamu yah" tulis Gita di pesan yang dia kirim pada Hilsa.


"Iya, kak, ada kok notif yang masuk ke aku" balas Hilsa.


Virel terlihat senang, karena sebentar lagi bisa membeli berlian yang dia inginkan. Sebelum bertolak ke rumah temannya itu, Virel ke bank terlebih dahulu untuk menarik uang di tabungan Gita.


"Kalau aku perkirakan, tabungan Gita ini berjumlah tiga ratus lima puluh juta, karena ada tambahan dari pelanggan aku yang booking Gita beberapa minggu belakangan" batin Virel kegirangan. Virel dengan percaya dirinya menuliskan jumlah nominal yang diinginkannya dan menyerahkannya pada teller untuk segera di proses transaksinya. Namun, beberapa saat, teller tersebut menyampaikan bahwa nominal dengan jumlah yang dituliskan tidak bisa dilakukan penarikan karena saldo tidak mencukupi.


"Hah! Kok bisa saldo gak cukup, padahal di buku rekening ini tertulis dua ratus juta, terus ada lagi tambahannya sekitar seratus lima puluh juta yang belum dicetak di buku ini, gimana ceritanya saldo gak cukup sih!" Protes Virel.


"Ibu tenang, saya akan print transaksi tiga bulan terakhir yang belum tercetak di buku ini, mohon tunggu sebentar yah, Bu" kata teller tersebut, mencoba menenangkan Virel. Setelah menunggu beberapa saat, teller tersebut menunjukkan transaksi terbaru yang sudah tercetak di buku rekening.


"Ibu bisa lihat disini semua transaksi yang dilakukan pada tiga bulan terakhir" katanya. Virel terkejut, semua isi tabungannya sudah dikeluarkan semua, hangat tersisa limapuluh ribu saja.


"Sial! Gita ternyata udah keluarkan semua uangnya, pantes aja Gita ngasi buku rekening dan ATM-nya begit aja, ternyata udah kosong, argh!" Gerutu Virel dalam hati. Dengan langkah lunglai, Virel berjalan keluar dari bank. Dia juga langsung mengabari temannya kalau dia tidak jadi membeli berlian darinya.


*Gagal deh dapatkan uangnya Gita itu dan beli berlian yang aku inginkan, aku juga malu banget sama jeng Indri karena tiba-tiba ngebatalin beli berliannya, ini semua gara-gara Gita!" Runtuk Virel. Dengan perasaan kesal, Virel segera beranjak kembali ke rumahnya. Kira-kira berjarak seratus meter dari bank, Virel dikejar dua motor yang mengapit di kiri dan kanan mobilnya, yang ternyata adalah penodong, membuat Virel ketakutan. Mereka memberi isyarat agar Virel menepi dan berhenti. Namun, Virel justru langsung tancap gas dan mencoba kabur dari kedua motor yang mengejarnya. Namun, saat di pertigaan jalan, Virel berhasil dikepung dan tidak bisa kabur lagi. Di depannya ada dua motor lainnya yang menghadang, sedangkan dibelakangnya juga ada dua motor yang sedari tadi mengejarnya. Mau membelok ke kiri tidak bisa karena sedang ada perbaikan jalan. Virel akhirnya menyerah, lalu turun dari mobilnya.


"Ada apa ini, apa yang kalian inginkan!" Virel menatap orang-orang yang menghadangnya itu.


"Lo gak usah banyak cingcong, serahkan saja semua barang lo, kalau lo pengen selamat!" Ancamnya. Salah satu dari mereka menodongkan pisaunya ke leher Virel. Virel begitu ketakutan, kalau orang itu melukai badannya.


"Sekali lo berteriak, lo bakal mati!" Ancam orang dibelakangnya.


"Oke.... Oke, kalian ambil semua barang aku, asal jangan apa-apakan aku" Virel akhirnya dengan sukarela semua barang miliknya diambil oleh para penodong itu. Setelah itu, Virel di dorong hingga terjatuh ke pinggir jalan. Para penodong itu pun pergi. Semua barang miliknya, mobil, handphone dan beberapa kartu ATM-nya serta kartu kreditnya yang ada di dalam tas yang dia simpan dalam mobil diambil semuanya. Untung saja, ada satu lembar uang seratus ribu di kantong celananya, yang bisa dia gunakan untuk ongkos pulang ke rumahnya.