
Marni duduk sendirian di bangku di pinggir lapangan dan tidak berhentinya menangis. Hatinya begitu sakit atas apa yang diperbuat oleh Gita dan Gena. Marni sudah berusaha sebisanya untuk bersikap baik pada mereka berdua dan menerima keduanya sebagai temannya. Tapi, Gita dan Gena justru membalas kebaikannya dengan keburukan, bahkan tega memfitnahnya dan membuat dia dijauhi oleh teman-temannya. Haikal merasa kasihan pada Marni, harus menanggung akibat dari perbuatan yang sebenarnya tidak pernah dilakukan oleh Marni. Haikal berjalan menghampiri Marni dan duduk disampingnya.
"Marni, kamu jangan sedih seperti itu, aku yakin suatu saat Gita akan dapat karma atas perbuatannya itu dan biasanya pembalasannya akan lebih menyakitkan dari yang telah dia perbuat" kata Haikal dengan penuh keyakinan.
"Marni, dengerin aku yah, kamu gak boleh sedih lagi, kamu harus selalu ceria, ada aku di dekatmu dan aku akan selalu berusaha buat kamu tersenyum, okey" Haikal menatap Marni, sambil menggenggam kedua tangannya. Entah kenapa, Marni merasa nyaman tiap kali Haikal di sampingnya. Marni merasakan kebahagiaan dan secara perlahan dia menyukai Haikal, seiring dengan pertemanan mereka yang sudah terjalin sejak SMP dan seringnya mereka bersama.
"Duh.... Aku kok jadi, deg-degan gini yah, apalagi Haikal menatap aku seperti ini" batin Marni. Dari kejauhan, Gena melihat Marni dan Haikal duduk berduaan di pinggir lapangan. Gena menahan langkah Gita yang ingin ke kantin dan hendak memberitahukan sesuatu yang dilihatnya.
"Ada apa sih, Gen? Aku mau ke kantin, aku udah lapar nih" Gita sedikit kesal, langkahnya ditahan oleh Gena.
"Git, kamu lihat tuh disana" Gena menunjuk kearah lapangan. Gita mengikuti arah telunjuk Gena dan Gita melihat Marni dan Haikal yang tengah berduaan. Gita terlihat marah dan tidak suka melihat mereka berduaan.
"Ini gak bisa dibiarkan, aku gak rela Haikal dan Marni dekat seperti itu, aku akan lakukan segala cara untuk menjauhkan mereka berdua, karena hanya aku yang berhak untuk miliki Haikal" kata Gita, sambil mengepalkan tangannya, karena marah.
"Apa kita minta ibunya aja, untuk kasi tahu Marni agar menjauhi Haikal" Gena memberi usul. Gita mengangguk-anggukkan kepala, tanda dia setuju dengan usul tersebut. Mereka segera menuju kantin dan menemui ibunya Marni.
"Mau beli apa, nak?" Tanyanya, saat Gita dan Gena datang.
"Bu, tolong ibu kasi tahu anak ibu itu, si Marni, untuk menjauhi Haikal, karena Haikal itu pacar aku dan aku gak suka kalau ada cewek lain yang dekat-dekat dengan dia" kata Gita.
"Kalau Marni dekat-dekat sama Haikal kan gak apa-apa, mereka berteman satu kelas juga kan, siapa tahu aja lagi bahas pelajaran kan" jawab ibunya Marni.
"Kamu gak usah terlalu cemburu, nak, yang ada nanti malah berantakan hubungan kalian, intinya kamu harus tanamkan kepercayaan pada pasangan kamu, kalau kamu percaya sama pasangan kamu, itu baru hubungan yang sehat" ibunya Marni memberi nasehat pada Gita.
"Bu, aku itu cuma mau ibu kasi tahu ke anak ibu itu untuk jauhi Haikal, kenapa ibu malah ceramahi aku kayak gini" Gita kesal.
"Pokoknya aku gak mau tahu, ibu harus kasi tahu si Marni itu, awas aja kalau tidak, aku akan bikin ibu tidak betah di kantin ini" Gita mengancamnya, lalu Gita serta Gena pun beranjak pergi. Ibunya Marni hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap Gita itu, sambil tersenyum dan menganggapnya sebagai suatu hal yang lucu dilihatnya. Tapi, tampaknya ibunya Marni tidak ambil pusing dengan ucapan Gita tadi dan tidak ingin ikut campur dalam permasalahan Gita dengan Marni, anaknya.
Semakin hari, Nanti dan Haikal semakin dekat saja, bahkan mereka berdua cukup sering pulang bareng dan membuat Gita makin kesal melihatnya.
"Ini kok Haikal dan Marni malah makin dekat sih! Bikin kesal aja mereka itu" Gita menggeram.
"Apa jangan-jangan ibunya Marni gak ngasi tahu ke Marni lagi, makanya mereka makin dekat gitu" Gena menerka.
"Kalau dibiarkan seperti ini terus, mereka itu bisa jadian loh, Git" lanjut Gena. Gita kembali menemui ibunya Marni dan ingin menegaskan apa yang pernah disampaikannya beberapa hari yang lalu.
"Ada apa, nak? Kamu datang malah marah-marah, kita kan bisa bicarakan ini baik-baik" ibunya Marni mencoba menenangkan Gita.
"Ibu ini gimana sih, aku kan udah bilang, ibu kasi tahu Marni untuk jauhi Haikal, kenapa mereka malah makin dekat aja sekarang!" Bentak Marni. Para siswa lain yang tengah nongkrong di kantin, mengarahkan pandangannya pada Gita yang tengah memarahi ibunya Marni.
"Woy! Gita! Kamu kok malah bentak ibu Mira kayak gitu, yang sopan dong!" Salah satu siswa angkat bicara.
"Ehh...! Diam kamu! Ini bukan urusan kamu!" Gita mengarahkan telunjuknya pada siswa tersebut.
"Nak, ibu disini gak mau ikut campur sama urusan kamu dengan Marni, cukup kalian berdua saja yang selesaikan, karena ibu gak ada gak untuk mencampurinya" jawabnya. Gita makin kesal dan untuk meluapkan amarahnya, dia menjatuhkan dagangan milik ibunya Marni yang ada diatas meja ke lantai dan semuanya jatuh berantakan, lalu setelah itu Gita serta Gena pun bergegas pergi dari kantin. Para siswa yang tengah nongkrong itu, membantu ibunya Marni membereskan dagangannya yang jatuh berserakan.
"Bu, ibu gak apa-apa?" Tanya salah satu siswa untuk memastikan keadaannya.
"Ibu gak apa-apa, nak, makasih yah semua udah bantuin" katanya. Para siswa itu mengangguk.
"Loh... Bu, ibu kenapa, kok berantakan gini jualan ibu?" Tanya Marni, saat dia datang dan melihat dagangan ibunya berantakan.
"Ini ulahnya Gita, Gita yang acak-acak dagangan ibu kamu sampai jatuh berantakan tadi di lantai" celetuk salah satu siswa.
"Gita! Kok bisa!" Marni terlihat bingung.
"Jadi, barusan Gita sama Gena datang kesini dan marah-marah sama ibu kamu, diberantakin deh semuanya" jelasnya. Mendengar hal itu, Marni begitu marah dan tidak terima ibunya diperlakukan seperti itu oleh Gita.
"Aku harus samperin dia, seenaknya saja dia lakuin ini ke ibu" amarah Marni mulai meluap.
"Nak, udah, kamu gak usah samperin dia, yang ada nanti malah memperkeruh suasana dan masalahnya akan bertambah panjang" cegah ibunya, saat Marni hendak pergi menemui Gita.
"Lagian ibu juga gak apa-apa kok, mending kamu yang mengalah dan ikuti apa yang diinginkan Gita" lanjut ibunya.
"Emang apa yang dia inginkan, Bu?" Tanya Marni penasaran.
"Dia ingin, kamu jaga jarak sama Haikal, karena dia gak suka kalau kamu dekat-dekat sama pacarnya, gitu katanya" jawab ibunya.
"Dia bilang begitu ke ibu?" Haikal menyela. Ibunya Marni mengangguk. Marni tampaknya bingung memilih antara menjaga jarak dari Haikal dan menahan perasaannya ini pada Haikal demi keamanan ibunya berjualan di kantin. Tidak menutup kemungkinan Gita akan berbuat yang lebih nekat lagi atau mengabaikan apa yang diinginkan Gita dan membuat ibunya tidak nyaman karena ulah Gita. Marni berpikir, yang mana sebaiknya yang harus dia pilih.