Trouble Maker

Trouble Maker
Bab 54



"Ki, saran aku sih, mending mulai sekarang kamu lupakan Gita aja deh, toh Gita juga gak cinta sama sekali sama kamu, yang ada kamunya yang sakit karena cintamu bertepuk sebelah tangan" Marsha memberi saran pada Kian.


"Aku tahu banget Gita itu seperti apa, setiap keputusan yang diambil itu gak akan berubah dan gak ada seorangpun yang bisa menggoyahkan keputusannya itu, kamu gak bakal bisa membuatnya merubah keputusannya" lanjut Marsha.


"Marsha, please, aku lagi pengen sendirian dan sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun, aku minta kamu pergi yah" pinta Kian. Marsha bangkit dari duduknya dan beranjak pergi dengan perasaan kesal.


...*****...


Sepanjang perjalanannya dari kampus menuju kerumahnya, Gita hanya terdiam. Baik Hilsa maupun Gena tidak ada yang berani mengajak Gita bicara, karena mereka tahu betul sifat Gita. Dia tidak bisa diajak bicara saat sedang kesal pada sesuatu atau seseorang. Hilsa dan Gena hanya menikmati alunan musik yang terputar dari radio dalam mobil. Selang beberapa menit, Gita akhirnya mulai bicara, mungkin rasa kesal dalam hatinya perlahan sudah mereda.


"Kita nongkrong di tempat biasa aja, yuk, biar aku bisa melupakan kejadian di kampus tadi, yang bikin kesal, mau kan?" Ajak Gita. Namun, tidak ada jawaban dari Hilsa maupun Gena. Gita menoleh dan melihat keduanya tertidur. Seketika ide jahil Gita muncul. Gita menginjak rem mendadak, untuk mengagetkan Hilsa dan Gena. Seketika membuat Gena dan Hilsa terbangun dari tidurnya.


"Kak, ada apa?" Tanya Hilsa yang terbangun dan terlihat sedikit panik. Gena juga ikutan panik, takut ada sesuatu hal yang terjadi.


"Gam ada apa-apa kok, aku cuma pengen ngagetin kalian berdua aja, hehehe.....!" Kata Gita sambil tertawa.


"Kamu tuh, Git, gak pernah berubah, kalau ada kesempatan, selalu aja berbuat iseng gini, dasar gadis jahil kamu, Git" omel Gena.


"Abisnya kalian berdua malah tidur mana pulas banget lagi, kan sepi jadinya, ya udah aku berbuat iseng aja" kata Gita.


Pesta yang sudah dipersiapkannya jauh-jauh hari, dimulai malam ini. Hilsa merasa sedikit khawatir. Takut ada tetangganya yang terganggu dan malah datang marah-marah ke rumah ini. Tapi, Gita meyakinkannya kalau gak itu tidak akan terjadi, karena rumahnya ini sudah dipasang peredam suara dan tidak akan terdengar sampai diluar. Mendengar hal itu, Hilsa jadi tenang dan tidak mengkhawatirkan hal itu lagi.


"Udah, pokoknya malam ini kita have fun sepuasnya dan nikmati pestanya malam ini" kata Gita. Hilsa hanya mengangguk. Satu persatu teman-teman yang Gita undang berdatangan. Gita dan juga Hilsa sudah menyediakan semua makanan dan minuman diatas meja.


"Git, makasih yah udah bikin pesta kayak gini dan undang kita semua kesini, aku senang banget" ucap salah satu teman Gita.


"Iya, sama-sama, pokoknya kamu dan teman-teman yang lain nikmati aja pesta malam ini dan kalian bebas lakukan apa saja" kata Gita dan memberikan kebebasan pada semua teman-temannya. Semua yang hadir malam itu, larut dalam suasana pesta yang sudah berlangsung selama tiga jam. Tanpa sepengetahuan Gita, ada seseorang yang datang bersama beberapa petugas keamanan untuk membubarkan pesta yang dibuat oleh Gita. Para petugas keamanan tersebut bergerak untuk membubarkan semua orang yang ada di dalam rumah Gita. Mereka semua terkejut dengan kedatangan petugas keamanan dan meminta semuanya untuk keluar dari itu. Mau tidak mau, mereka pun menurutinya dan meninggalkan rumah Gita, karena diancam oleh petugas keamanan kalau mereka tidak segera pergi.


"Pak, apa-apaan ini, kenapa bapak-bapak ini membubarkan pesta aku sih? Aku kan sudah minta izin sama bapak-bapak sebelum mengadakan pesta ini, lagian aku juga gak ganggu penghuni yang lain, karena rumah ini sudah dipasang peredam suara dan gak akan mengganggu tetangga" Gita protes pada petugas keamanan di depannya.


"Maaf, mbak Gita, kami semua hanya menjalankan perintah saja" jawabnya.


"Emang siapa yang menyuruh bapak?" Tanya Gita.


"Aku yang nyuruh!" Seorang wanita melangkah masuk ke dalam rumah.


"Tante Hanun!" Gita terkejut melihatnya.


"Jadi, tante Hanun yang nyuruh bapak-bapak tadi untuk bubarin pesta aku? Tanya Gita sekali lagi.


"Iya, emang kenapa? Kamu gak suka?" Hanun menatap Gita dengan tatapan menantang. Dari raut wajahnya, terlihat Gita begitu marah karena kesenangannya diusik oleh tantenya tersebut.


"Kamu mau marah? Mau laporin ke ayah kamu, silahkan kamu telpon" tantang Hanun.


"Kak, ini handycam yang kakak minta" Hilsa keluar dari kamar, menghampiri Gita di ruang tamu. Hilsa terkejut melihat seseorang yang ada dihadapannya.


"Kak, Tante ini siapa?" Hilsa menanyakan seseorang tersebut pada Gita.


"Dia Tante Hanun, Tante aku, adiknya ayah" jawab Gita datar.


"Kamu siapa? Kenapa kamu masih disini dan gak pergi seperti teman-teman kamu yang lain?" Hanun bertanya.


"Aku Hilsa, adiknya kak Gita, lebih tepatnya adik sambung" Hilsa memperkenalkan dirinya pada Hanun.


"Oh.... Ini toh anak sambungnya mas Yanto" Hanun memandangi Hilsa dari atas sampai ujung kaki, dengan pandangan meremehkan.


"Tante, mau apa kesini?" Tanya Gita, yang masih terlihat kesal pada Hanun.


"Terserah aku dong, ini kan rumah kakak aku, jadi, kapanpun aku mah datang, bebas dong" jawab Hanun seenaknya. Terlihat dari raut wajahnya, Gita tidak suka pada adik dari ayahnya itu. Guta masih menyimpan dendam. Dia masih ingat apa yang dilakukan tantenya itu dulu pada ibunya sampai akhir hayatnya.


"Udah, malam semakin larut, aku mau istirahat, tolong kalian bawakan barang-barang aku yah" Hanun memerintah Gita dan Hilsa.


"Udah datang seenaknya dan bubarin pesta kita, sekarang nyuruh kita bawain barangnya lagi, berlagak kayak ratu dirumah ini" Gita menggerutu.


"Kak, gak boleh gitu, Tante Hanun kan keluarga kakak, harus tetap dihormati dan harus sabar juga menghadapinya" Hilsa menasehati Gita.


"Kamu gak tahu aja, gimana perbuatan dia dan tante Yeni, adik ayah yang satunya lagi terhadap mendiang ibuku, sampai beliau meninggal" mata Gita berkaca-kaca, saat mengingat kejadian itu lagi. Hilsa mengusap punggung Gita dan menenangkannya.


Di hari-hari berikutnya, Hanun semakin semena-mena pada Gita dan juga Hilsa, selama Yanto dan Riana masih di Bali. Gita dan Hilsa cenderung dijadikan pembantu dirumah sendiri.


"Benar-benar ngelunjak ini orang, udah datang ke rumah ini seenaknya, sekarang nyuruh-nyuruh kita seperti seorang pembantu, dikiranya kita ini budaknya apa!" Gita sangat kesal dengan tingkah laku Hanun, yang semakin hari semakin menjadi-jadi.


"Ya udahlah, kak, kita kerjakan aja, daripada Tante Hanun marah-marah, gak enak di dengar tetangga, menganggu ketenangan orang-orang sekitar" kata Hilsa. Gita pun terpaksa melakukannya, walaupun sebenarnya bertentangan dengan kata hatinya.