
Nevan sedang tidur siang, El berada disampingnya sambil bermain ponsel. Hari ini hari sabtu dan Naya masih libur, dia sengaja mengambil libur di akhir pekan karena dia tahu El tidak ada jadwal kekampus hari itu. Naya minta izin pada El untuk libur dari tugasnya karena ingin mengajak anaknya berwisata, El tentu saja dengan senang hati memberikan izin, mengingat dirinya juga tidak ada kesibukan di akhir pekan.
Ceklek, pintu kamar Nevan terbuka. Davin berjalan pelan masuk ke kamar Nevan. Entah kenapa semenjak Davin pulang dan bertemu El dia sama sekali tidak ingin jauh dari gadis itu. Davin seakan ingin melampiaskan kerinduannya pada gadis itu dengan berada didekatnya setiap waktu. Davin duduk disofa sambil menatap El yang sedang bersandar di tempat tidur sambil bermain ponsel..
"Apa Nevan baru saja tidur?"
"Ya." El mengangguk.
"El, kemarilah."
"Kenapa Om?" El menaruh ponselnya.
"Kemarilah." Davin kembali berucap.
"Baiklah." El dengan malas beranjak pelan turun dari tempat tidur.
"Duduklah." Davin menepuk permukaan sofa.
"Ada apa Om?" El duduk disamping Davin.
"Aku hanya merindukanmu." Davin tertawa dan memeluk El.
"Ssstt.. Om jangan bersuara keras-keras, nanti Nevan bangun." El berusaha melepaskan pelukan Davin.
"El, kenapa kau sama menggemaskannya dengan Nevan? aku jadi ingin terus memelukmu."
Kenapa dia memelukku setiap saat? batin El.
"Om, kenapa kau bersikap seperti anak-anak, bukankah kau sudah tua?"
"Aku bersikap seperti ini hanya denganmu, tahu." Davin tersenyum.
Hanya denganku? El.
"Mmm, benarkah?"
"Ya." Davin mengangguk-angguk."
Kau bercanda, Om.
"Om apa kau tidak akan kemana-mana hari ini?"
"Tidak."
"Apa kau tidak ada perjalanan bisnis?"
"Seminggu lagi."
"Om mau pergi kemana?"
"Ke Hongkong."
"Bolehkah aku ikut?"
"Apa kau serius?"
"Tentu saja tidak, aku hanya bercanda." El tertawa.
"Huh."
Davin melepaskan pelukannya, dia menatap dalam wajah El yang terlihat sangat cantik. Sebenarnya tak ada kata yang bisa diucapkannya lagi untuk mengungkapkan betapa rindunya dia pada gadis didepannya itu. Perasaannya pada El bukan seperti dulu lagi, ada yang berbeda tapi sulit untuk dia mengartikannya.
"El."
"Ya?"
"Setelah kuliahmu selesai, apa yang akan kau lakukan?"
"Aku akan bekerja." El tersenyum.
"Dimana?"
"Di perusahaan Arta Group."
"Arta Group?"
"Ya."
"Kenapa kau mau bekerja disana?"
"Perusahaannya cukup bagus dan aku mendapat rekomendasi dari perusahaan itu." El tersenyum bangga.
"Selain itu?"
"Tak ada." El menggeleng.
"Apa ada seseorang yang kau incar disana?"
"Seseorang apa?"
"Seorang pria yang kau sukai mungkin."
"Tidak."
"Atau seseorang yang menyukaimu?"
"Hei, Om bercanda." El terkekeh.
"Bisa saja."
"Mana aku tahu jika ada yang menyukaiku?" El mengangkat kedua bahunya.
"Kau yakin?"
"Tentu saja."
"Apa kau tidak ingin bekerja di perusahaan ayahmu?"
"Mmm, mungkin suatu saat nanti."
"Perusahaan Arta Group bahkan hanya seujung kuku di banding perusahaan-perusahaan ayahmu."
"Apa Om mengenal perusahaan itu?"
"Tentu saja." Davin terkekeh.
"Bagaimana menurutmu? apa perusahaan itu cukup bagus?"
"Bagus, tapi juga tak terlalu bagus."
"Hei, penilaian seperti apa itu?"
"Itu penilaianku."
"Mmm, penilaianmu membingungkan, Om." El terkekeh.
"El, jika kau sudah mulai bekerja nantinya, jangan terlalu cepat percaya pada siapapun."
"Kenapa?" El mengangkat kedua alisnya.
"Karena tidak semua orang bisa dipercaya."
"Bagaimana dengan Om? Apa Om bisa di percaya?"
"Tentu saja, aku bisa dipercaya seratus persen."
"Huh, membanggakan diri sendiri." El tersenyum masam.
"Om."
"Ya?"
"Berapa umur Nevan?" El sebenarnya sudah mengetahuinya dari Naya, namun dia ingin memastikan sekali lagi.
"Empat tahun kurang satu bulan."
"Mmm" El mengangguk, dia tidak bertanya lagi takut tidak bisa menghentikan rasa keingintahuannya.
"Kenapa?" Davin menatap wajah El.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin tahu." El tersenyum.
"Hmmm, apa kau merasakan kejanggalan itu?"
"Maksud Om?"
"Apa kau menikirkan antara usia Nevan dengan usia pernikahanku dengan Jessi?"
"Mmm, tidak, tidak Om." El menggerak-gerakkan tangannya.
Hei, kenapa dia bisa tahu apa yang aku pikirkan? El.
"Aku tahu apa yang ada dipikiranmu, El."
"Apa Om seorang peramal?"
"Tidak."
"Kenapa bisa tahu?"
"Terlihat dari raut wajahmu." Davin terkekeh.
"Benarkah?" El menepuk-nepuk pipinya.
"El, suatu hari nanti kau pasti akan mengetahui segalanya."
"Tentang apa?"
"Tentang semuanya."
"Aku tak mengerti." El menggeleng.
"Sudahlah, kau tidak harus tahu sekarang."
Aku kan penasaran. El
"Hmmm, apa yang terjadi antara usia pernikahan dengan usia Nevan." El akhirnya tidak bisa menahan rasa pnasarannya.
"Hanya sebuah kesalahan, El."
"Kesalahan?"
"Ya, kau tak perlu memikirkannya." Davin menatap Nevan.
"Mmm, baiklah, maafkan aku sudah menanyakan hal pribadi padamu, Om."
"Tak apa, kau berhak bertanya."
El sudah menebaknya terlebih dahulu, sudah pasti terjadi kesalahan antara Davin dan Jessi sebelumnya. Hal itu tidak penting bagi El, namun entah kenapa dia terus memikirkannya. El memilih untuk menutup mulutnya, dia berharap agar waktu saja yang menjawab rasa penasarannya. Jika dia terus bertanya tentu saja Davin akan merasa tidak nyaman.
"El." Davin menyentuh jemari El.
"Ya?"
"Besok maukah jalan-jalan denganku dan Nevan?"
"Kemana?"
"Ke tempat hiburan untuk anak."
"Boleh." El tersenyum.
"El senyummu sangat manis." Davin menatap El
"Benarkah?"
"Ya, jangan sembarangan memberikan senyum itu pada orang lain."
"Kenapa?"
"Kau bisa membuat mereka jatuh cinta hanya dengan senyumanmu."
"Kurasa tidak akan."
"Kau hanya tidak merasa."
"Lihat ini, apa kau jatuh cinta sekarang?" El tersenyum ke arah Davin, kemudian dia tertawa.
"Sudah ku bilang, jangan sembarangan tersenyum." Davin menangkup kedua belah pipi El dengan kedua tangannya.
"Hei, aku hanya menunjukkan ini padamu."
"Kau semakin menggemaskan, El."
"Om, apa kau sering mengingatku saat kita tidak bertemu?"
"Tentu saja."
"Om, apa kau senang bertemu kembali denganku?"
"Sangat." Davin mengangguk.
"Hmmm, Om bolehkah aku jujur padamu?"
"Silahkan."
"Aku juga senang bertemu kembali denganmu."
"Aku sudah tahu." Davin terkekeh.
"Maafkan aku karena setelah kau menikah, aku menjaga jarak darimu." El mengungkapkan perasaannya.
"Tak apa, aku mengerti."
"Aku merasa sedih saat kau tinggalkan."
"Aku tahu."
"Kau tahu semua?"
"Hampir semua." Davin terkekeh.
"Darimana kau tahu?"
"Semua tingkahmu bisa ku tebak semua."
"Huh, tidak mungkin." El mendengus.
Davin memeluk El, dia mengusap lembut kepala El. El menyandarkan kepalanya ke dada Davin, dia merasa jantungnya kembali berdebar tak biasa. Davin mencium rambut El dengan lembut, dia rindu aroma sampo El dulu yang sudah jelas berbeda dengan aroma sampo El yang sekarang.
"El, ini adalah permintaan maafku karena telah meninggalkanmu dulu." Davin berbicara lembut sambil terus memeluk dan menciumi rambut El.
...****************...