Trapped In Love My Hot Uncle

Trapped In Love My Hot Uncle
KAU BERHARGA UNTUKKU



"Sekarang tidurlah, El."


"Ya, ya." El mengangguk dan naik ketempat tidur.


"Tidurlah dengan nyenyak." Davin menyelimuti El.


"Om, apa kau akan tetap menginap dikamarku?"


"Tentu saja."


"Tapi om tidur di sofa saja ya."


"Kenapa? Aku mau tidur di kasur."


"Tapi om aku sulit tidur jika ada seseorang berada dikasur yang sama denganku." El membuat alasan.


"Oh ya? Bagaimana nanti suamimu? Apa dia harus tidur dibawah setiap malam?" Davin menatap wajah El.


"Itu berbeda nantinya."


"Apa bedanya?"


"Pokoknya berbeda."


"Kau bahkan tidak bisa menjelaskan." Davin terkekeh.


"Menjelaskan apa?"


"Alasannya."


"Alasan apa?"


"Alasan kau tidak mengizinkan aku tidur di kasurmu."


"Hei, bukankah sudah kubilang aku sulit tidur."


"Kau bahkan selalu memintaku untuk tidur denganmu dulu."


"Huh, itu dulu, zaman batu." El mengerucutkan bibirnya.


"Apa kau hidup di zaman batu?" Davin tertawa.


"Tidak."


"Tadi kau bilang."


"Itu hanya perumpamaan."


"Oh ya? Seandainya benar kau hidup di zaman itu, aku akan berdoa untukmu."


"Kenapa?"


"Karena kau nenek moyang." Davin terbahak.


"Lalu om apa, hah?" El mendengus.


"Hei, aku manusia biasa yang hidup di masa kini."


"Kau kan yang menyebutkan sendiri bahwa kau hidup di zaman batu." Davin terkekeh.


"Sudah kubilang itu hanya perumpamaan."


"Baiklah, aku akan mengalah pada nenek moyang." Davin kembali terbahak.


"Om, aku bukan nenek moyang!" El tampak kesal.


"Ya, ya, kau bukan nenek moyang, tidak ada nenek moyang secantik dirimu yang hidup di zaman sekarang." Davin terkekeh.


"Huh." El mendengus.


"Tidurlah sekarang, aku juga akan tidur." Davin bersiap untuk naik ke atas tempat tidur.


"Om.." El berteriak kecil.


"Apa?"


"Tidur di sofa." El menujuk sofa.


"Baiklah, aku akan tidur di sofa." Davin mengalah dan beranjak menuju sofa.


El merasa lega, dia takut pria itu mengetahui detak jantungnya yang berdetak tidak karuan jika tidur bersamanya. El mulai memejamkan matanya, dia memang merasa sangat lelah setelah hampir seharian berkeliling di kebun binatang. Tidak lama El sudah tertidur dengan sangat lelap dan mulai berjalan jauh menyusuri mimpinya.


Selama beberapa saat Davin tidak bisa tidur, dia memiringkan tubuhnya menatap El yang sudah terlelap. Dia memandangi wajah polos El dengan tersenyum. Kembali bersama gadis ini adalah impian Davin dari dulu, dia tidak pernah merasa sesayang ini pada seorang gadis.


Selama ini Davin memang tidak pernah menemui El, tapi dia selalu mengawasi anak itu selama hampir 24 jam. Davin memiliki alasan tersendiri kenapa dia tidak berada di dekat gadis itu selama ini. Banyak hal yang harus diselesaikannya, hal yang dapat membahayakan El jika berada di dekatnya.


Sekarang Davin sudah meyakinkan diri untuk membuat El terus berada di dekatnya. Dia akan menjaga gadis ini karena Davin yakin gadis ini sudah menjadi target beberapa orang yang memiliki konflik dengannya. Davin sudah terlanjur membawanya kembali ke kehidupannya yang secara tidak langsung membuat El terlibat dalam masalahnya.


Davin belum bisa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi padanya kepada El. Davin berniat untuk mengatakannya suatu saat nanti pada El. Saat ini dia hanya harus melindungi dan memastikan kehidupan gadis itu selalu berjalan dengan baik. Davin tidak ingin El terluka sedikitpun, dia menginginkan agar El selalu mendapatkan kesempurnaan dalam hidupnya.


Davin benar-benar tidak bisa tidur, akhirnya dia beranjak dari sofa dan naik ke tempat tidur dengan perlahan agar El tidak terbangun. Davin merebahkan dirinya di samping El, menatap dalam pada gadis itu. Davin memeluk tubuh El dengan perlahan, dia tahu El adalah anak yang tidurnya sangat pulas, namun jika terbangun dia akan sulit untuk tidur kembali.


Davin menatap El yang berada di pelukannya, tidak ada pergerakan apapun dari anak itu menandakan dia tidur sudah sangat pulas. Davin mengeratkan pelukannya, seakan takut terlepas. Gadis ini adalah hal yang sangat berharga dalam hidupnya, dia menyadarinya sejak dulu walaupun El tidak pernah menyadari bahwa Davin sangat menyayanginya lebih dari dirinya sendiri.


Selama inI Davin melakukan hal yang terbaik untuk El walaupun tak berada di sampingnya. Davin bahkan selalu memastikan agar anak itu merasa ceria setiap hari meski Davin tahu El merasa kesepian setiap saat. Davin seakan memberikan perlindungan dari balik layar untuk El dan sama sekali tidak disadari oleh El.


"El, kau sangat berharga bagiku. Aku berjanji untuk saat ini dan seterusnya aku akan berusaha untuk terus berada disampingmu." Davin berbisik lirih di telinga El.


El terlihat bergerak, dia memiringkan tubuhnya dan tidur menyamping menghadap Davin. Davin diam tak bergerak agar El tidak terbangun dari tidurnya. Sejenak tak ada lagi pergerakan dari gadis itu. Davin memastikan gadis itu kembali tertidur sangat pulas.


Davin kembali menatap wajah yang sangat dekat di depannya. Wajah yang diciptakan nyaris sempurna tak ada cela sama sekali. Wajah imut yang dulu selalu dia tatap setiap hari kini berubah menjadi semakin cantik dan semakin dewasa. Davin tersenyum menatapnya, tak menyangka akan kembali sedekat itu dengan anak ini.


Davin mencium kening El dengan pelan, kemudian menyatukan ujung hidungnya dengan hidung El. Pandangan Davin jatuh pada bibir gadis itu, bibir kecil tipis berwarna merah muda terlihat bervolume serta sedikit terbelah di tengah. Davin tidak bisa menahan perasaannya, dia menempelkan bibirnya pada bibir gadis itu dengan lembut, hanya sekilas dan dia melepaskannya. Davin kembali mencium kening El dan memeluknya erat. Davin kemudian terlelap tanpa melepaskan pelukannya.


Tak terasa pagi hampir menjelang, Davin terbangun dari tidurnya. Dia menatap El yang masih berada di dekapannya. Gadis itu masih tertidur dengan pulasnya. Davin menatap gadis itu sebentar, dia menciumi kening El kembali. Perlahan Davin menarik tangannya dengan pelan. Melepaskan pelukannya dengan lembut pada gadis itu. Davin turun dengan sangat pelan dari tempat tidur agar tidur El tidak terganggu.


Davin keluar dari kamar El tanpa bersuara sedikitpun, dia kembali ke kamarnya. Ada sesuatu yang bergejolak dalam diri Davin, dia merasakan sesuatu yang datang tak pada tempatnya. Davin segera masuk ke kamar mandi, mengisi air hangat dalam bak dan merendam tubuhnya. Cara klasik meredam gejolak dalam diri adalah berendam dengan air dingin, namun bagi Davin merendam diri dengan air hangat sama efektifnya. Tubuhnya terasa kembali rileks dalam beberapa saat.


Hal inilah yang sebenarnya di khawatirkan Davin, dia tidak ingin jauh dari gadis itu. Tapi dia juga harus menahan segala rasa yang muncul dalam dirinya setiap berada di dekat gadis itu. Bagaimanapun dia adalah pria dewasa, tidak berbeda dengan El, gadis itu juga sudah beranjak dewasa sekarang. Mau tidak mau terkadang hal seperti ini datang secara tiba-tiba pada dirinya walaupun sebenarnya Davin tak menginginkannya.


Davin merasakan tubuhnya sudah terasa sangat rileks, dia mengganti pakaiannya dan keluar dari kamar mandi. Davin kembali merebahkan diri ditempat tidurnya, matanya masih merasa mengantuk saat ini. Dia menatap jam diatas meja samping tempat tidur, belum terlalu pagi sehingga dia bisa memejamkan matanya kembali.


...****************...