Trapped In Love My Hot Uncle

Trapped In Love My Hot Uncle
TEMPAT KENANGAN (2)



Will terus menarik tangan El dengan pelan, mereka berjalan melewati koridor sempit yang lebih mirip dengan lorong. Will dan El berhenti saat berada didepan sebuah pintu di ujung koridor, Will membuka pintu membuat mata El terbelalak.


"Woaaaaa." El tak bisa menyembunyikan kekagumannya.


Di depan mata El tampak sungai dangkal dengan air yang sangat jernih mengalir sangat indah. Sungai itu di penuhi dengan bebatuan besar maupun kecil. El kegirangan dan langsung berjalan menuju sungai, melepas alas kaki dan mencelupkan kedua kakinya.


"El, hati-hati banyak bebatuan runcing di bawah sana." Will yang berada di belakangnya mengingatkan.


"Tenanglah, air sungai ini sangat bening dan aku bisa melihat bebatuan yang membahayakan dibawah air sehingga bisa menghindarinya."


El berjalan menuju ke tengah sungai, dia duduk di atas salah satu batu besar sambil mencelupkan dan mengayunkan kedua kakinya. Will berjalan pelan menghampiri El dan ikut duduk di atas batu besar lainnya dekat dengan batu yang diduduki El.


"Kau suka?"


"Sangat." El tersenyum sambil menatap kedua kakinya di dalam air yang tersapu arus pelan sungai.


"Sungai bagian sini tidak dalam dan arusnya tidak deras sehingga aman untuk bermain."


"Oh ya?


"Ya, disebelah sana terdapat sungai yang dalam dengan arus deras." Will menunjuk ke sebelah kanan El. "Disana tempat air terjun yang tadi kita lihat, sungai ini sudah lumayan jauh dari air terjun sehingga aliran airnya tidak lagi deras kecuali dimusim hujan nanti."


"Mmm, ini indah sekali." El tersenyum memandangi sekelilingnya. "Benar katamu jika ingin melihat hal yang indah, kita harus pergi jauh dan mendatangi tempat yang belum pernah kita datangi."


"Kau hanya akan melihat tempat ini di daerah pegunungan El."


"Will, nanti aku mau kesini lagi."


"Ya, kapanpun kau mau." Will mengangguk.


El turun dari duduknya dan berjongkok mengambil beberapa batu, dia menaruh dan menyusunnya di atas batu besar membentuk seperti piramida. El berhenti saat susunan batu sudah mulai tinggi, dia tersenyum puas menatap susunan batu itu.


"Will, apa kau bisa membuat seperti ini."


"Tidak." Will menjawab.


"Huh, kau tidak hebat." El mencibir.


"Aku tak suka permainan anak kecil."


"Ini bukan permainan anak kecil, ini namanya rock balancing."


"Apa itu?"


"Itu adalah teknik menyusun batu agar seimbang."


"Oh ya, aku baru mendengarnya."


"Dulu batu batu yang tersusun seperti ini digunakan sebagian orang untuk bermeditasi, jika mereka bisa menyusun batu batu yang berbeda bentuk dan ukuran ini menjadi seimbang maka pikiran mereka dalam keadaan tenang dan bisa melakukan meditasi."


"Hmmm, begitukah, aku akan mencobanya sekarang." Will beranjak dari duduknya dan mulai mengambil beberapa batu.


Will mulai menyusun batu satu persatu, namun di susunan batu kelima selalu saja jatuh. Will berulang kali menyusun batu itu namun selalu gagal, dia juga berulang kali mengganti batu dengan batu lainnya namun tetap saja gagal. Will mengacak-acak rambutnya karena terus menerus gagal hingga akhirnya menyerah.


"Hei, apa pikiranmu sedang kacau sekarang?" El terbahak melihat Will yang kesusahan menyusun batu.


"Ya sepertinya." Will menggaruk-garuk kepalanya.


"Sudah kukatakan ini bukan permainan biasa, ini perlu teknik dan ketenangan." El terkekeh.


El menyusun batu-batu milik Will hingga membentuk susunan batu yang mulai meninggi. El tersenyum puas memandangi hasil karyanya sedangkan Will memasang wajah tak senang karena dia merasa kalah.


"Anggap saja kau hanya beruntung karena bisa menyusun batu batu itu dengan baik." Will kembali duduk di batu besar.


"Ya, aku memang selalu beruntung." El terkekeh, puas dengan kekalahan Will.


"Oh ya El, apa kau sudah meminta izin pada Om mu saat pergi tadi? Disini tak ada sinyal, orang-orang tak bisa menghubungimu. Jika ingin menghubungi seseorang kau bisa memakai fasilitas wifi di dalam vila."


"Tenang saja Will, aku sudah minta izin, kau tak perlu khawatir. Lagian tak ada seseorang yang akan mengkhawatirkanku." El terkekeh.


"Hmmm, banyak yang mengkhawatirkanmu tapi mungkin saja kau tak menyadarinya."


"Siapa menurutmu?"


"Mmm, keluargamu dan orang-orang yang menyayangimu." Will berucap sambil melempar kerikil ke dalam air.


"Menurutmu selain itu siapa lagi?" El menatap Will.


Aku, Will berucap dalam hati, dia termenung.


"Hei bocah, kenapa diam saja." El mencipratkan air ke wajah Will dengan tangannya.


"Huh, kau usil sekali, air ini sangat dingin." Will mengusap wajahnya dengan telapak tangan.


"Siapa suruh kau melamun, hari sudah mulai petang, aku takut kau kesurupan jadi aku menyadarkanmu dengan memberimu air suci." El terkekeh.


"Benar juga, matahari sudah mau tenggelam, ayo kita masuk kedalam El." Will beranjak dari duduk.


El dan Will measuk kembali kedalam Vila, menyusuri jalan yang sama hingga tiba di depan kamar Will. Will membuka pintu dan mempersilahkan El masuk kembali kekamarnya.


"El, kau mau melihat sesuatu?"


"Apa itu?"


"Kesini." Will berjalan menuju jendela besar yang tertutup tirai tebal. El mengikutinya dan berdiri disamping Will sambil menatap bingung pada tirai di depannya.


Will menyibak tirai dengan perlahan, El langsung ternganga kembali menyaksikan pemandangan indah di depan matanya. Pemandangan matahari tenggelam jelas terlihat oleh mata indahnya, apa yang dilihatnya benar-benar mirip dengan lukisan yang selama ini sering dilihatnya di televisi.


Semburat jingga benar-benar menghiasi langit. Dia sering melihat matahari tenggelam, tapi tak pernah seindah itu. Tanpa sadar El menyentuh kaca dengan jemarinya, seakan ingin meraih matahari kedalam genggamannya.


Will tersenyum kecil dalam diamnya, pertama kalinya dia melewati senja bersama seorang gadis ditempat ini. Gadis yang bahkan sedang bertahta didalam hatinya saat ini. Rasanya dia tidak ingin beranjak barang sedetik pun dari tempat itu, disamping gadis itu. Will berharap waktu dapat dihentikan untuknya dan El, berada disana berdiri didepan jendela menatap matahari yang telah selesai melakukan tugasnya hari itu.


Pertama kalinya setelah waktu yang lama, Will merasakan kembali ketenangan ditempat ini. Dulu setiap dia pergi ketempat ini, hanya kenangan pahit yang hadir di ingatannya. Kenangan dengan Josh dan Kakek, juga dengan kedua orang tuanya. Kenangan indah yang berubah dengan kesedihan setelah Josh pergi. Hari ini, pertama kalinya Will kembali tersenyum saat memandang matahari tenggelam.


Semburat jingga mulai memudar tertutup gelap yang mulai menyusup sedikit demi sedikit. Warna indah itu semakin menghilang seiring berlalunya petang, sudah saatnya malam dan bulan menggantikannya.


"Josh." Tanpa sadar Will bergumam.


"Josh?" El memandang Will yang masih menatap diam ke jendela.


Will tak menjawab, dia terus menatap keluar jendela yang sudah mulai gelap. El mendekat dan menyentuh lengan Will, dia mengerti jika Will sedang mengenang Josh. Pria itu masih tak bergeming, Will masih diam ditempatnya. El tak berkata apapun, dia menggenggam pergelangan tangan Will mencoba untuk merasakan apa yang dirasakan oleh Will.


"Aku dan Josh sering berdiri disini menatap matahari tenggelam seperti apa yang kita lakukan hari ini." Will berucap setelah diam beberapa lama.


"Ya." El mengangguk.


"Aneh bukan? Aku dan Josh sangat dekat, padahal kami sesama laki-laki. Bukankah biasanya anak laki-laki selalu bertengkar?"


"Kau tahu kenapa?" El berucap pelan.


"Kenapa?"


"Karena orang tua mendidik kalian dengan sangat baik."


"Hmmm." Will melepaskan genggaman tangan El dari pergelangannya dan kemudian menggenggam tangan mungil gadis itu dengan lembut. El hanya diam tanpa bereaksi apapun, dia membiarkan jemarinya di genggam Will agar pria itu merasa tenang.


Cukup lama Will menggenggam tangan El tanpa berkata apapun, dia hanya diam tanpa bergerak sedikitpun. Entah apa yang ada dipikiran Will, El tak ingin mengusiknya. El membiarkan Will larut dalam pikirannya sendiri. Entah kenapa El merasakan kesedihan dalam diri Will saat itu.


Setelah beberapa lama, Will melepaskan genggaman tangannya dengan pelan. Seakan baru tersadar dari mimpinya, Will tersenyum sedikit canggung menatap El. Sesaat Will bingung ingin mengatakan apa pada El yang tersenyum menatapnya.


"El maafkan aku, maaf jika kau tidak nyaman." Will berucap canggung.


"Tidak nyaman kenapa?" El pura-pura tak tahu maksud Will, dia gemas melihat tingkah Will yang tidak biasa.


"Itu." Will menunjuk tangan El yang tadi digenggamnya.


"Tak apa." El tersenyum, Will hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Tok.tok.tok


"Sebentar, aku buka pintu dulu." Suara lembut Will berucap pada El, gadis itu hanya mengangguk.


Will membukakan pintu, menampakkan seorang pelayan wanita yang nampak tersenyum di depan pintu.


"Ada apa?"


"Tuan Arthur ingin bertemu dengan tuan muda."


"Baiklah, aku akan segera menemuinya."


"Baik tuan." Pelayan itu pamit meninggalkan Will.


Will menutup kembali pintu kamar dan berjalan menghampiri El yang masih berdiri di depan jendela. El hanya diam menatap kegelapan malam yang mulai merayap diluar sana. El berbalik dan tersenyum saat Will menghampirinya


"El, aku ingin menemui Kakek Arthur terlebih dahulu, apa kau mau ikut?"


"Kakek?"


"Sahabat Kakek yang mengurus tempat ini sekarang."


"Oh ya?"


"Ya."


"Apa kau mau ikut, atau kau mau disini saja? atau kau mau kuantar ke kamarmu sendiri?"


"Tidak, aku disini saja."


"Baiklah, tunggu sebentar aku akan kembali nanti." Will berucap dan beranjak pergi keluar dari kamar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


^^^,,^^^