Trapped In Love My Hot Uncle

Trapped In Love My Hot Uncle
PERDEBATAN



Ceklek.


Pintu terbuka dengan pelan, Will yang tertidur langsung terjaga dan bangkit dari sofa tempatnya tidur. Matanya menyipit menatap pada seseorang yang masuk dengan pelan kekamarnya, dia mengenali sosok itu walau di keremangan cahaya kamar. Sosok itu langsung menghampiri Will yang masih terduduk di sofa.


“Kau mengagetkanku, Vin.” Will berbicara lirih saat Davin sudah berada didekatnya.


“Hei, kenapa kau tidur dikamar yang sama dengan El?”


“Vin, aku hanya menjaganya.” Will menatap kesal Davin.


“Huh, nanti kau bisa jatuh cinta padanya.” Davin balas menatap Will.


“Jangan berbicara terlalu keras, nanti El terbangun.” Will mengusap wajahnya malas, dia sudah terbiasa dengan sikap Davin yang terkadang kekanakan seperti itu.


“Ya, ya.” Davin mengangguk, dia menatap El sekilas yang masih terlelap.


“Bagaimana keadaanmu?” Will bertanya.


“Aku baik-baik saja. Hei aku baru sadar, ada apa dengan wajah dan tubuhmu? Kau berbalut perban seperti mumi.” Davin tertawa kecil.


“Diamlah.” Will mendengus.


“Apa ini sakit?” Davin meninju pelan lengan Will yang terbalut perban.


“Awww, ini sakit bodoh.” Will mengumpat, dia meringis memegang lengannya, Davin hanya tertawa melihatnya.


“Ternyata kau sudah semakin kuat sekarang, tidak seperti bocah ingusan yang dulu lagi. Kau bisa selamat walau terluka sebanyak ini.” Davin terkekeh.


“Tentu saja.” Will terlihat kesal.


“Will, ayo bicara diluar.”


Davin berjalan dengan pelan menuju pintu diikuti oleh Will yang berjalan sedikit tertatih, badannya terasa kaku dan sangat sakit. Mereka keluar dari kamar dan berjalan dikoridor rumah, Davin terlihat sangat hafal dengan seluk beluk rumah itu, dia berjalan menyusuri rumah itu dengan santai. Will hanya mengikutinya dengan wajah yang tidak santai.


“Kau masih saja berlagak seperti pemilik rumah ini.” Will mendengus.


“Ya, bukankah apa yang menjadi milikmu juga menjadi milikku.” Davin terkekeh.


“Huh, sampai kapan kau akan terus memperbudakku?”


“Sampai kau lelah.” Davin tergelak, dia membuka pintu sebuah ruangan keluarga dan berjalan memasuki ruangan tersebut.


“Kau keterlaluan.” Will mendengus dan ikut masuk kedalam ruangan.


“Sudah lama aku tidak berkunjung kesini.” Davin menatap sekeliling ruangan tersebut.


“Ya.” Will mengangguk.


“Hmmm Will, aku ingin berterima kasih.”


“Woaaa, baru pertama kali kau berterima kasih padaku.” Will membulatkan kedua matanya.


“Untuk hari ini saja.”


“Terserahlah.”


“Kau tahu betapa berharganya El untukku?”


“Ya.” Will mengangguk, saat ini bukan hanya tubuh Will yang terasa nyeri tapi hatinya juga ikut nyeri mendengar apa yang dikatakan oleh Davin walaupun dia sudah mengetahuinya.


“Aku sungguh tidak ingin dia terluka sedikitpun, untuk itulah aku mempercayakanmu untuk menjaganya.”


“Ya.” Will kembali mengangguk.


“Tunggu sebentar lagi Will, aku akan membebaskanmu. Setelah semuanya selesai kau bisa hidup seperti biasa lagi tanpa harus mengawasi El seperti saat ini.”


“Baiklah.” Will terasa berat mengatakannya, saat ini dia bahkan ingin terus mengawasi El dan berada didekat gadis itu tanpa perintah siapapun.


“Will, setelah masalah ini selesai kau bisa kembali ke kota asalmu dan berkumpul dengan keluargamu.”


“Kau bercanda?” Will terkekeh.


“Kenapa?”


“Sejak kapan aku ingin berkumpul dengan keluargaku?”


“Belajarlah untuk berdamai dengan keadaan Will, walaupun kedua orang tuamu sangat sibuk tetapi mereka sangat menyayangimu.”


“Entahlah, aku tak tahu akan kembali kesana atau tidak.” Will mengangkat kedua bahunya pelan.


“Jangan jadi bocah liar kembali, apa kau mau meregang nyawa seperti waktu itu lagi?” Davin terkekeh.


“Itu hanya mimpi buruk.”


“Itu bukan mimpi, bodoh. Itu nyata!” Davin mengumpat Will.


“Ya, ya, jangan diteruskan membahas tentang itu lagi, kau pasti ingin memuji-muji dirimu sendiri karena telah menjadi pahlawan dadakan waktu itu.” Will mendengus.


“Itu adalah suatu kebanggaan bagiku.” Davin tergelak.


“Cih, hanya itu yang kau banggakan.”


“Tentu saja, kau bahkan bertekuk lutut dan memohon padaku saat itu.”


“Itu kulakukan bukan hanya untukku Vin, aku lebih mengkhawatirkan keadaan Jay waktu itu dibanding diriku sendiri.”


“Sepeduli itukah kau pada teman-temanmu?”


“Tentu saja, dulu hanya merekalah yang kumiliki.”


“Will, aku tahu kau bocah yang baik hati.”


“Aku bukan bocah lagi tahu.” Will mendengus.


“Will.” Wajah Davin berubah serius.


“Ya?”


“Bagaimana keadaan El saat kau menemukannya?”


“Dia tidak terluka sedikitpun?”


“Tidak sama sekali, dia bahkan disekap dikamar yang sangat nyaman. Rasanya seperti bukan penculikan.”


“Hmm, berarti benar kata pria itu.”


“Siapa?’


“Chris, aku baru saja bertemu dengannya.”


“Siapa dia?”


“Entahlah aku juga tak mengenalnya, tapi dia dalang dibalik penculikan El.”


“Sungguh?”


“Ya, dia mengatakan bahwa dia tidak akan melukai El jika aku mau memberikan satu informasi kepadanya.” Davin mengangguk.


“Informasi tentang apa?”


“Tentang keberadaan Ann.”


“Apa dia kaki tangan Ben?”


“Aku menduga dia bukan kaki tangan Ben, tapi sepertinya mereka memiliki hubungan yang dekat.”


“Apa dia tahu jika Ann masih hidup?”


“Ya, entah darimana dia mendapatkan foto Ann saat berada di pesta ulang tahun Nevan.”


“Apa? Bagaimana bissa dia mendapatkannya? Bukankah keamanan waktu itu sangat ketat?”


“Sepertinya pria itu memiliki relasi yang hebat.”


“Sepertinya iya.” Will mengangguk. “Jadi, apa kau memberitahukan keberadaan Ann kepadanya?”


“Tentu saja tidak, pria itu mengatakan bahwa Ben belum mengetahui tentang keadaan Ann.”


“Lalu?”


“Jika aku tidak memberitahukan keberadaan Ann padanya maka dia akan memberikan foto Ann pada Ben.”


“Apa kau percaya dengan ucapannya?”


“Ya, kurasa dia dapat dipercaya.”


“Jadi, apa yang akan kau lakukan setelah ini? Kurasa keadaan akan kembali kacau jika Ben benar-benar mengetahui keadaan Ann yang sebenarnya.” Will memegang pelipisnya.


“Aku masih memikirkannya, bagaimanapun aku harus mencari jalan yang terbaik.”


“Kau sepertinya perlu bertemu dan bicara dengan Ann.”


“Ya, tapi sangat beresiko jika aku menemuinya saat ini.”


“Hmm, kau benar. Jika tidak berhati-hati, bisa-bisa keberadaan Ann akan diketahui oleh mereka.”


“Kepalaku rasanya sangat pusing memikirkannya, kau tahu bahwa Ann adalah saudaraku satu-satunya Will.”


“Aku tahu.”


“Aku tidak ingin dia terluka lagi jika terlibat kembali dalam kehidupan Ben.”


“Vin, sebaiknya kau tanyakan pada Ann.”


“Tentang apa?”


“Apakah dia ingin kembali kepada Ben atau tidak?”


“Jika aku menanyakannya, kurasa dia akan menjawab iya.”


“Lalu kenapa kau menghalanginya.”


“Sebenarnya aku tidak menghalanginya.”


“Lalu apa?”


“Aku hanya mengatakan agar dia berpikir panjang tentang hal itu.”


“Hmm, sepertinya dia berpikir sangat panjang sampai hampir enam tahun lamanya.” Will tersenyum masam.


“Entahlah, dia tidak pernah membahas tentang hal itu kepadaku lagi.”


“Sebaiknya kau bicarakan lagi hal itu kepadanya, kurasa dia juga ingin kehidupannya bebas kembali dan sepertinya dia merindukan Ben.”


“Aku takut Ben akan melukainya kembali.”


“Vin, bukan Ben yang melukai Ann.”


“Ya, tapi dia tidak bisa melindunginya Will.”


“Apa kau yakin jika Ben tidak bisa melindungi Ann.”


“Ya.” Davin mengannguk, wajahnya terlihat kesal.


“Atas dasar apa?”


“Kejadian yang menimpa Ann.”


“Cih, kau bahkan tidak tahu detail kejadian yang menimpa Ann seperti apa. Lebih baik kau tanyakan terlebih dahulu pada Ann kejadian yang sesungguhnya Vin, kau jangan membuat kesimpulan sendiri.”


“Diamlah, kau cerewet sekali Will.” Davin memasang wajah kesal, menandakan dia mengalami kekalahan dalam berdebat dengan Will tapi dia sama sekali tidak ingin mengakui kekalahannya.


"Cih." Will hanya tersenyum masam menanggapi ucapan Davin.


Sesaat Davin akhirnya terdiam, dia memikirkan apa yang dikatakan oleh Will. Apa yang dikatakan Will jelas benar, Davin tidak memberi kesempatan pada Ann untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Saat itu Davin hanya terfokus menyalahkan Ben atas apa yang terjadi dan hingga saat ini hatinya keras dan terus menyalahkan Ben. Benar kata Will bahwa Davin membuat kesimpulan sendiri atas hal yang yang terjadi pada Ann tanpa memikirkan sama sekali tentang Ben.


...****************...